
Hari minggu yang cerah, Aisha sibuk di dapur bersama para pelayan mempersiapkan banyak sekali makanan.
Sedangkan Deva dan Sid masih tidur di kamarnya.
"Non, sebaiknya nona duduk saja! Jangan sampai kelelahan, biar kami yang mengerjakan semuanya. Jika tuan melihat nanti kami akan dimarahi." Ucap bi Asih ketakutan.
"Kalian tenang saja, ini tidak akan lelah!"
Lalu tiba-tiba Aisha merasakan sakit di perutnya.
"Aduh!" Sambil memegang perutnya.
"Non Aisha, nona tidak apa-apa?" Tanya bi Asih sambil membawa Aisha duduk di kursi.
"Sakit, bi! Tolong ambilkan obatku di laci meja yang berada di ruang keluarga!"
"Baik, non. Tunggu sebentar!" Sambil segera berlari.
Dalam hitungan detik, bi Asih sudah kembali membawa obat yang diminta Aisha.
Dari arah tangga sudah muncul sang pemimpin rumah, dengan celana pendek dan kaos pendek serta rambut yang berantakan, akan tetapi masih terlihat tampan menawan.
Aisha secepatnya meminum obatnya, lalu menghapus air matanya yang sudah jatuh karena menahan sakit yang luar biasa di perutnya. Deva yang menyadari apa yang dilakukan Aisha, segera berlari kecil menghampiri Aisha.
"Aisha, kau kenapa? Kenapa wajahmu terlihat pucat?" Sambil memegang kedua pipi Aisha.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit pusing." Jawab Aisha berbohong.
Tentunya Deva tau bahwa Aisha berbohong.
"Jangan bohong, aku tahu kau kesakitan bukan? Sudah berapa kali aku bilang, jangan melakukan aktivitas apapun yang bisa membahayakan dirimu dan bayi kita!"
"Maaf, aku hanya ingin menyiapkan semua itu untuk teman-temanku." Sambil menunduk.
Deva pun tak tega memarahi Aisha.
"Baiklah, jangan diulangi lagi! Jam berapa teman-temanmu akan datang?" Tanya Deva tiba-tiba.
"Sebentar lagi mereka datang."
"Maaf ya, aku tidak bisa menemui mereka. Aku ada urusan penting diluar."
"Urusan apa? Apakah menyangkut kantor? Bukankah ini hari minggu, tapi kenapa kau masih masuk ke kantor?" Tanya Aisha beruntun.
"Ya, aku harus ke kantor. Ada urusan yang sangat penting dan tidak dapat di tunda. Tapi hanya sebentar saja, setelah itu aku akan kembali secepatnya!" Deva mencoba untuk tidak membuat Aisha kesal.
"Hmm.. Baiklah, tapi sebelum itu kau mandi dulu sana! Badanmu bau sekali!" Perintah Aisha.
"Bau? Huft! Ini bau yang sedap, bau perjuangan!" Sambil tersenyum nakal.
__ADS_1
"Diam kau, mandi sana!" Sambil melotot.
"Heee.. Iya, iya! Aku mandi!" Ucap Deva ketakutan saat sudah melihat Aisha melotot, jika dia tidak menurut maka sudah dapat dipastikan akan terjadi perang dunia ke 3.
Lebih baik aku menyingkir, sebelum perang Bharata Yudha ke 2 benar-benar terjadi! Batin Deva.
Deva sudah masuk ke kamar mandi. Sedangkan Aisha sedang menunggu kedatangan ketiga teman sekaligu sahabat baiknya itu.
Saat Aisha akan beranjak, bel rumahnya berbunyi. Aisha pun berjalan menuju pintu dan membukakan pintu.
"Wah, kalian sudah datang ya!" Ternyata ketiga sahabat Aisha sudah datang. "Ayo masuk!"
Setelah masuk ke rumah, mereka duduk dan bercanda di ruang keluarga. Berkali-kali mereka berbicara hingga tertawa terbahak-bahak entah membicarakan apa, hingga tidak sadar bahwa Deva sudah turun dan berjalan menghampiri Aisha.
"Aisha!" Deva memanggil Aisha yang sedang tertawa, Aisha pun menoleh.
"Aku berangkat sekarang, kau jangan kemana-mana tanpa izin dariku!" Pamit Deva.
"Baiklah, hati-hati di jalan." Sambil mengulurkan tangannya, lalu Deva menyambut uluran tangannya dan Aisha pun mencium tangan Deva.
Deva melirik teman-teman Aisha.
"Aku titip Aisha pada kalian!" Dengan wajah tanpa ekspresi.
"Baik, kak!" Jawab ketiga temannya kompak. Deva pun mencium kening Aisha lalu mengacak-acak rambut Aisha dan segera pergi tanpa melihat ekspresi Aisha yang sudah terlihat kesal sambil terkekeh.
"Dasar konyol!" Teriak Aisha.
Semuanya kembali mengobrol dan bercanda, kecuali Yessi. Sejak Deva turun, Yessi tidak berhenti tersenyum melihat Deva yang sangat menawan.
Karena melihat Yessi yang tersenyum sendiri, Aisha, Farah dan Rhea pun saling memandang bingung.
"Ada apa dengannya?" Tanya Aisha pada kedua temannya yang sama-sama bingung.
"Aku tidak tahu." Jawab Rhea.
Aisha pun menggoyang-goyangkan tangannya di hadapan wajah Yessi.
Yessi pun tersadar dari lamunannya.
"Yessi! Kau sedang memikirkan apa?" Tanya Rhea sambil menatap Yessi dengan sorot mata curiga.
"Eh,.. Eumm.. Tidak ada!" Ketus Yessi.
"Jangan bilang kau sedang memikirkan Kak Deva? Ingat! Dia adalah suami sahabat kita yang manis ini, suaminya Aisha!" Farah memperingatkan.
"Kenapa kalian jadi menuduh Yessi? Sudah, ayo kita makan dulu!" Aisha melerai prasangka negatif Farah dan Rhea terhadap Yessi.
"Ayo!" Ucap Rhea dan Farah bersamaan.
__ADS_1
"Kalian duluan saja, aku ingin ke kamar mandi dulu. Aisha, dimana kamar mandi?"
"Kamar mandinya di sebelah ruang makan, ayo nanti aku tunjukkan!" Sambil berjalan menuju arah ruang makan.
Merekapun berjalan ke arah yang sama bersamaan karena letak kamar mandi berada di sebelah ruang makan.
Aisha, Farah, dan Rhea masuk ke ruang makan. Sedangkan Yessi masuk ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Yessi memutar keran air dan membiarkan air mengalir.
"Lihat saja, Aisha! Aku pasti berhasil menggantikan posisimu di hidup Deva! Jika aku tidak berhasil, maka aku juga akan membuatmu tidak bisa bersama dengan Deva lagi! Aku sudah muak berpura-pura baik di depanmu, kau sudah berani memiliki Deva. Maka kau juga akan merasakan akibatnya! Sayang sekali rencana waktu itu malah dilakukan untuk Deva! Semua karena kebodohan anak buah si*lan itu! Seharusnya kau yang waktu itu jatuh ke jurang dan mati!" Sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
"Yessi! Kau sudah selesai belum? Kenapa lama sekali?! Cepat, kita makan! Aisha sudah kelaparan!" Teriak Rhea dari luar sambil menggedor pintu kamar mandi.
"Ya, sebentar!" Jawab Yessi dengan wajah kesal. "Lihat saja, Aisha! Aku akan membuat perhitungan denganmu!" Gumamnya penuh keyakinan.
Yessi mematikan keran air dan keluar dari kamar mandi. Lalu berjalan dan duduk di kursi yang bersebelahan dengan Aisha.
"Bi, tolong sajikan makanannya untuk teman-temanku!" Perintah Aisha pada bi Asih yang sedari tadi berdiri di belakangnya.
Bi Asih pun mulai menyajikan makanan pada teman-teman Aisha, akan tetapi malah membiarkan piring Aisha kosong. Aisha pun terkejut.
"Bi, kenapa tidak mengisi piringku juga?" Tanya Aisha yang sudah agak kesal dan heran.
"Tunggu sebentar, non." Sambil berbalik menuju tempat memasak dan kembali dengan membawa mangkuk yang entah berisi apa.
Bi Asih mengambil piring kosong yang berada di depan Aisha, lalu meletakan mangkuk yang dibawanya baru saja yang ternyata berisi Sayur Asam kesukaan Aisha.
"Nona, tuan tadi menyuruh bibi memberikan ini untuk non Aisha, Tuan sendiri yang memasaknya."
Aisha pun tersenyum senang, dia bahagia, sangat bahagia. Tentu saja, kenapa tidak? Aisha bahagia karena Deva begitu memperhatikannya dan menjaganya dengan baik.
"Terima kasih, bi!" Ucap Aisha sambil mengambil sebuah sendok lalu mengambil sayur itu dan mencobanya.
"Wah, enak sekali!" Puji Aisha.
"Aisha, kau sangat beruntung! Kak Deva sampai memasak sendiri sayur itu untukmu! Uuuhhh so sweet!" Puji Farah.
Aisha, Rhea dan Farah pun tertawa bersamaan, kecuali Yessi yang sudah menahan emosi.
Bi Asih kemudian kembali berjalan menuju dapur dan kembali dengan sepiring buah-buahan, lalu kembali menyajikannya untuk Aisha.
"Nona, tuan bilang kau harus banyak makan buah-buahan. Karena bagus untukmu dan bayimu, kau juga harus menghabiskannya."
"Baik, bi." Sambil tersenyum.
Merekapun segera memakan makanan yang sudah disajikan dengan lahap, kecuali Yessi yang menatap Aisha penuh kebencian.
**Wah ada apa ya dengan Yessi? Kalian penasaran gak? Kalo penasaran ikuti terus ya Kisah Aisha dan Deva!
__ADS_1
Selamat membaca**!!! jangan lupa bantu like sama vote yaa.. Ajak yang lain baca juga biar cepat naik levelnya 🤣🤣🤣