Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Jebakan!


__ADS_3

Beberapa orang pria mulai menyusup ke rumah Deva, sedangkan yang lainnya mengalihkan perhatian para anak buah Deva yang berjaga di depan gerbang.


Beberapa pria penyusup itu memasuki rumah Deva tanpa di curigai anak huah Deva, karena penampilan yang sama seperti anak buah Deva. Mereka mulai mencari kamar Deva, pada saat menemukan sebuah pintu yang terdapat nama Adeva, mereka langsung mengetuk pintu kamar tersebut.


"Tuan, tuan! Mohon maaf saya mengganggu, ada sesuatu yang harus saya katakan! Ini sangat penting!"


Tak lama pintu terbuka.


"Ada apa? Siapa kau? Berani sekali mengganggu tidurku!" Bentak Deva penuh kemarahan.


"Tuan, tuan muda tidak ada di kamarnya! Kami sudah mencari ke seluruh ruangan, tapi tidak bisa menemukannya!"


"Apa? Kau jangan bercanda!" Bentak Deva kembali.


"Tuan, kami tidak bercanda. Jika tuan tidak percaya, tuan bisa melihatnya di kamarnya langsung!" Sambil menunjuk pintu kamar Sid.


Deva pun segera melangkahkan kaki menuju kamar Sid dengan wajah panik, takut apa yang dikatakan pria itu benar.


Sementara pria yang baru saja berbicara pada Deva langsung menggerak-gerakkan tangannya memberi isyarat pada beberapa pria lainnya yang bersembunyi di balik lemari untuk memasuki kamar Aisha.


"Cepat, bawa dia ke tempat yang sudah disiapkan nona Yessi!" Perintah pria yang tadi berbicara dengan Deva.


Kedua pria itu segera masuk ke kamar Aisha dan membawa Aisha yang sedang tertidur keluar. Aisha terbangun dan terkejut saat mendapati dirinya tengah di gendong dua orang pria berbadan kekar dan tidak ia kenali.


"Siapa kau?!" Tanya Aisha dengan wajah yang sudah ketakutan.


Pria itu tidak menjawab, malah menggendong Aisha dan membawanya keluar rumah.


Aisha pun meronta-ronta dan berteriak meminta tolong pada Deva.


"Devaa...... Suamiku! Tolong aku!"


Aisha terus berteriak sekeras mungkin agar terdengar oleh Deva. Tapi, pria lainnya membius Aisha dengan sapu tangan yang sudah ditetesi obat bius, sehingga Aisha tak sadarkan diri. Mereka membawa Aisha pergi menuju keluar.


Pada saat mereka keluar, tampak hampir 30 orang berdiri dengan berjajar rapi disana, mengepung mereka.


"Kau pikir kau bisa membodohiku?!" Ucap Deva tiba-tiba dari belakang mereka. "Tangkap dia!" Sambil memberi isyarat pada anak buahnya.


Anak buah Deva langsung menangkap para penyusup itu, dan Deva merebut Aisha dari tangan salah satu penyusup itu.


"Berani sekali kau menyentuh istriku! Lihat saja, aku akan membuatmu tidak bisa menyentuh apapun lagi!"


"Tuan, harus kami apakan mereka?" Tanya salah satu anak buah Deva.


"Bawa dia pada Reihan dan Ridan, mereka tahu apa yang harus dilakukan terhadap para penyusup bodoh ini!"

__ADS_1


"Baik, tuan." Lalu menyeret para penyusup itu keluar dari lingkungan rumah Deva.


Deva membawa Aisha kembali menuju kamarnya. Sesampainya di kamar Deva menidurkan Aisha di ranjang dan mulai membangunkan Aisha.


"Aisha, bangun!" Sambil menepuk-nepuk pipi Aisha pelan.


Aisha tak kunjung bangun, hal itu membuat Deva cemas. Deva menoleh pada meja di sebelah tempat tidurnya, terdapat segelas air disana. Deva mengambil air itu lalu mencipratkan air itu dengan tangannya ke wajah Aisha, sampai akhirnya Aisha terbangun.


"Suamiku, tadi ada...-"


"Aku tahu Aisha, jangan khawatir! Mereka sudah diurus anak buahku." Potong Deva sambil menutup mulut Aisha.


"Siapa mereka? Kenapa mereka ingin membawaku?" Dengan wajah ketakutan.


"Aku tidak tahu, tapi aku akan segera mencari tahu." Jawab Deva berbohong. Padahal ia sudah tahu pelakunya yang tak lain adalah teman Aisha sendiri, Yessi.


"Baiklah." Sambil memeluk Deva.


"Kau tidurlah kembali, jangan khawatir lagi! Aku harus pergi sekarang."


"Pergi kemana? Tapi ini masih malam, suamiku!" Sambil melepaskan pelukannya dan menatap Deva dengan tatapan antara bingung dan penasaran.


"Aku harus mengurus para penyusup tadi, jika tidak maka aku tidak akan tahu siapa dalang di balik semua kejadian tadi yang menimpamu!"


"Aku ikut!"


"Tidak, aku ingin ikut! Aku juga ingin tahu kenapa orang itu berusaha menculikku!" Sambil memegang tangan Deva dan menatapnya penuh keyakinan.


"Tapi kau harus berhati-hati dan tetaplah berada disisiku, jangan menjauh dariku sedikitpun!" Lalu menghela napas pelan.


"Baiklah, aku janji padamu."


"Ayo, ganti bajumu dulu! Aku akan menunggu di mobil." Lalu bergegas turun menuku garasi.


Setelah sampai di garasi, Deva tidak memasuki mobilnya melainkan menelepon seseorang terlebih dahulu.


"Hallo, Ridan! Siapkan pengawalan terketat, istriku akan ikut bersamaku!"


"Apa? Tuan, bukankah itu sangat berbahaya?!" Tanya Ridan di telepon dengan penuh kekhawatiran.


"Tidak apa-apa, siapkan saja penjagaan untuknya! Jangan sampai ada yang bisa menyakitinya, lagipula sudah waktunya dia tahu segalanya! Aku takut, semakin lama dia akan semakin merencanakan hal berbahaya pada istriku dan anakku." Ucap Deva dengan suara penuh penekanan.


"Baik, tuan!"


"Tunggu, apa Reihan sudah menemukan lokasi wanita itu?" Tanya Deva berhati-hati dan sedikit berbisik, karena melihat Aisha sudah berjalan menghampirinya.

__ADS_1


"Sudah, tuan. Reihan sedang menuju ke lokasi wanita itu untuk menjalankan rencana kita."


"Baiklah, sudah. Kau ikuti Reihan, aku akan segera kesana. Jangan lupa kirimkan titik lokasinya padaku!" Lalu memutus telepon tanpa menunggu jawaban dari Ridan.


"Kau sudah siap?" Tanya Deva saat mengetahui Aisha sudah berada di sampingnya.


"Ya, aku sudah siap." Sambil mengangguk.


"Sebelum kau mengetahui segalanya, aku minta kau merekamnya saat semuanya sedang berlangsung!"


"Untuk apa?"


"Untuk bukti ke kantor polisi, agar dia mendapat hukuman dari yang berwajib saja." Jawab Deva dengan wajah meyakinkan sambil membukakan pintu mobil untuk Aisha.


Aisha mengangguk, lalu memasuki mobil. Diikuti Deva yang juga segera memasuki mobil dan duduk di kursi pengemudi.


Deva mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi, karena masih malam jadi membebaskan Deva untuk berkendaran dengan kecepatan tinggi karena jalanan sepi.


Di tengah perjalanan, ponsel Deva berdering dan tertera nama Reihan di layar ponselnya.


"Aisha, bisa kau angkat telepon itu untukku? Lalu keraskan suaranya!" Pinta Deva sambil menoleh pada Aisha. Aisha mengangguk, lalu meraih ponsel Deva dan mengangkat teleponnya.


"Hallo, tuan!" Sahut Reihan dari dalam telepon.


"Ya, ada apa? Aku sedang dalam perjalanan menuju kesana!"


"Kami sudah menangkap orang itu beserta para anak buahnya, dan ada kabar terbaru yang akan membuat anda mungkin terkejut!"


Deva mengerutkan keningnya dan penasaran dengan kata-kata Reihan.


"Ada apa memangnya?"


"Ternyata dia di bantu oleh mantan adik iparmu yang bernama Davine alias Rama!"


"Apa?!" Deva terkejut mendengar itu dan langsung seketika menginjak pedal remnya membuat kepala Aisha sedikit shock dan memegangi perutnya karena takut terbentur.


"Maaf, maaf Aisha!" Aisha pun mengangguk dan tersenyum.


"Bagaimana bisa, bukankah dia sudah kita bereskan?" Kembali berbicara dengan Reihan di telepon.


"Aku tidak tahu, tuan. Tapi tolong secepatnya anda datang kemari!"


"Baiklah, aku sebentar lagi sampai di sana!" Sambil memberi isyarat pada Aisha untuk mematikan teleponnya.


Deva kembali melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah dipersiapkan.

__ADS_1


**Bersambung...


Sekali lagi author mohon dukungan kalian ya, jangan lupa like, comment dam vote!!! Terima kasih**!!!


__ADS_2