
2 Jam Deva duduk termenung di depan ruangan dimana Aisha sedang terbaring lemah, bukan karena Aisha belum sadar. Akan tetapi, Deva tidak memiliki keberanian untuk menemui Aisha saat ini.
Deva kembali hanyut dalam pikirannya, sehingga tidak sadar bahwa keluarga Aisha sudah datang.
"Deva, apa yang terjadi pada Aisha?" Suara Aryan tiba-tiba membuyarkan lamunan Deva.
"Kalian sudah datang?" Tanya Deva saat sudah sadar bahwa keluarga mertuanya sudah mengelilinginya.
"Baru saja, apa yang terjadi pada Aisha?" Kali ini Resha yang bertanya pada Deva.
"Aisha jatuh dari tangga, dan mengalami pendarahan." Sambil menundukkan kepalanya.
"Apa? Pendarahan? Apa maksudnya Aisha sedang hamil lagi?!" Semuanya tampak terkejut.
"Ya. Aisha sedang hamil lagi, dan saat ini keadaannya dan janinnya sangat lemah. Bahkan dokter sudah menyarankan untuk melakukan aborsi, karena bukan hanya janin yang lemah, akan tetapi kandungannya juga mengalami komplikasi yang bisa membahayakan nyawa Aisha." Deva menjelaskan dengan wajah yang penuh kesedihan.
"Dokter benar, Nak Deva! Mungkin belum waktunya kalian memiliki anak lagi, akan tetapi keputusan ada di tanganmu dan Aisha sendiri." Kali ini Pak Lucas yang membuka suara.
"Saya sudah mengambil keputusan, pak. Saya sudah memutuskan untuk melakukan aborsi pada Aisha, karena saya tidak ingin kehilangan Aisha. Mungkin seorang anak kami bisa memilikinya lagi, akan tetapi aku tidak akan bisa hidup tanpa Aisha." Deva mengatakannya dengan wajah yang penuh kesedihan.
"Kau benar, Nak! Lalu, kenapa masih belum dilakukan? Bukankah lebih cepat akan lebih baik?" Ucap ibunya Aisha sambil mengelus kepala Deva.
"Masalahnya, aku takut Aisha tidak setuju. Dokter bilang semua tindakan ini harus disetujui juga oleh Aisha sendiri." Sambil kembali menundukkan kepala.
"Lalu kenapa tidak kau tanyakan pada Aisha, sekarang? Pergilah, dan berikan Sid padaku! Temuilah Aisha, dan katakan padanya semua itu!" Perintah Aryan sambil mengambil Sid yang masih tertidur di gendongan Deva.
"Baiklah" Lalu berbalik dan melangkah gontai memasuki ruangan Aisha.
Dilihatnya Aisha sedang tertidur dengan wajah pucat. Deva mendekati Aisha, lalu duduk di sebelah ranjangnya dan mengusap kepala Aisha lembut.
Merasa ada yang mengusap kepalanya, Aisha terbangun lalu tersenyuk ketika melihat Deva sudah berada di sampingnya.
"Su.. Suamiku." Lirih Aisha dengan suara lemah.
"Aisha, maaf... Ini semua karena aku, aku yang telah membuatmu dalam keadaan seperti ini! Aku seharusnya tidak memarahimu!" Lalu mendekap Aisha dan mengecup keningnya sambil menitikkan air mata.
__ADS_1
"Tidak, seharusnya aku tidak mempermainkanmu. Sebenarnya, i..itu, aku hanya berbohong padamu, ka..karena kau sibuk di kantor dan selalu pulang malam, jadi aku merasa kau mencampakkanku." Air mata mulai keluar dari kedua pelupuk mata Aisha.
"Tidak apa-apa sayang, kau pantas melakukan itu! Aku sadar akan kesalahanku, seharusnya aku berada disimu saat keadaanmu yang seperti itu! Tapi aku memang bodoh, lebih mementingkan pekerjaanku!
Maaf Aisha, maafkan aku istriku sayang!"
"Maafkan aku juga, seharusnya aku mengerti kesibukanmu." Lirih Aisha sambil menggenggam tangan Deva.
"Aisha!" Dengan suara bergetar.
Aisha menoleh lalu menatap Deva, Aisha bisa melihat dengan jelas dimata Deva terdapat rasa takut dan kesedihan.
"Suamiku, ada apa? Kenapa seperti sedang ketakutan? Apa ada sesuatu?" Tanya Aisha beruntun.
"Aku... A.. Aku.." Sambil tergagap.
"Ada apa?!" Dengan penekanan.
"Ada hal yang ingin ku sampaikan padamu, ini tentang bayi kita yang saat ini berada di dalam kandunganmu." Sambil menggenggam tangan Aisha dengan sangat erat dan menempelkannya di keningnya sendiri.
"Apa maksudmu, suamiku? Aku tidak mengerti! Tolong berkatalah yang jelas!" Dengan hati yang sudah berdebar-debar.
Aisha merasa akan ada petir yang menyambarnya saat ini juga.
"Dokter bilang kandunganmu sangat lemah dan mengalami komplikasi, dan akan berbahaya jika kau tetap mempertahankan kandunganmu. Jadi, dokter bilang kau harus melakukan aborsi. Aku mohon Aisha, kau harus setuju. Aku tidak siap jika kau harus mempertaruhkan nyawamu!" Dengan wajah memelas.
"Apa?!" Aisha terkejut bukan main mendengar penjelasan Deva.
Air mata sudah membanjiri matanya. Dadanya terasa sesak. Tangisnya pun pecah. Dari luar sudah masuk keluarga Aisha ke dalam ruangan tempatnya di rawat.
"Aisha, Deva benar! Semua demi keselamatanmu!" Pak Lucas menghampiri Aisha dan memeluknya.
"Tidak, ayah! Itu tidak boleh terjadi!"
"Aisha, aku tau ini berat! Aku juga merasa berat dengan keputusan ini! Di satu sisi calon bayi kita, dan disisi lain dirimu! Aku tidak bisa membuatmu menderita, aku tidak bisa kehilangan dirimu!" Dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Tidak! Aku akan mempertahankan bayi ini, suamiku!"
"Aisha! Cobalah mengerti!" Ucap Aryan sambil menghampiri Aisha.
"Tidak, aku yakin semuanya akan membaik! Bayi ini akan lahir, meskipun aku harus mengorbankan nyawaku! Bayi ini suci! Dia akan lahir! Dia akan lahir!" Tegas Aisha.
"Aisha!" Dengan suara membentak, Deva mengguncang tubuh Aisha.
"Suamiku, dia tidak punya kesalahan apapun! Kenapa dia tidak boleh lahir? Hanya Tuhan yang berhak menentukan segalanya, termasuk menentukan bayi ini akan lahir atau tidak! Jika bayi ini tidak boleh dilahirkan, maka hari ini juga dia tidak akan berada di rahimku lagi!" Ucap Aisha dengan penuh keyakinan disertai ketegaran yang besar.
Semua yang berada di ruangan tertegun mendengar kata-kata Aisha yang memang sepenuhnya sangat benar.
"Jika memang takdirku mati karena mempertahankan bayi ini, itu karena sudah takdir dari Tuhan! Bu, ibu juga seorang ibu! Pasti ibu akan sangat terpukul juga, bila ibu harus kehilangan anak ibu bahkan sebelum dia lahir! Maka dari itu, aku tetap pada keputusanku, bayi ini akan lahir! Aku akan mempertahankan kandunganku!" Dengan suara yang tegas.
"Baiklah, jika memang itu keputusanmu. Ayah dan Ibu serta saudaramu tidak bisa melarangmu." Semuanya mengangguk sambil tersenyum.
"Suamiku, aku mohon! Percayalah, semua akan baik-baik saja. Berdoalah selalu dan yakinlah pada Tuhan!" Aisha membujuk dan meyakinkan Deva akan keputusannya.
"Baiklah!" Sambil mengangguk lalu memeluk Aisha dan mengecup kening Aisha penuh kasih sayang.
Saat semua sedang asyik berbicang, datanglah seorang dokter dengan dua perawat ke ruangan Aisha.
"Bagaimana, pak Deva dan Bu Aisha? Bagaimana keputusan kalian?" Tanya dokter itu yang tentu saja Aisha sudah mengerti kemana arah pertanyaan itu.
"Dokter, aku dan istriku sudah mengambil keputusan. Kami akan mempertahankan bayi ini!" Tegas Deva dan diangguki Aisha.
"Baiklah, saya tidak bisa memaksa anda. Bu Aisha, hanya satu saran dariku.
Kau harus selalu menjaga kesehatan dan emosimu. Kandunganmu selain lemah juga berbahaya karena komplikasi yang ada pada kandunganmu. Perbanyaklah istirahat, jangan sampai kelelahan apalagi mengerjakan dan mengangkat hal yang berat. Itu sangay berbahaya bagi dirimu dan juga bayimu. Kami juga akan membantu dengan memberi anda resep obat untuk penguat kandungan. Pak Deva, ambilah! Anda bisa mengambilnya di apotik rumah sakit!" Sambil menyerahkan secarik kertas berisi resep obat untuk Aisha.
"Untuk saat ini, bu Aisha akan dirawat dalam beberapa hari sampai kami pastikan keadaannya sudah stabil! Setelah itu, baru bu Aisha diperbolehkan untuk pulang. Baiklah, jika tidak ingin ada yang bertanya saya pamit untuk kembali ke ruangan saya."
"Baik dokter, tidak ada. Terima kasih!" Sambil mengambil secarik kertas yang diserahkan dokter itu.
"Sama-sama pak Deva, baiklah jika ada apa-apa panggi saja saya!" Deva mengangguk, lalu dokter itu segera berlalu kembali ke ruangannya.
__ADS_1
Selamat membaca ya!!!