
Tidak terasa sudah 2 tahun Aisha dan Deva menikah.
Setelah kehadiran Sid dalam kehidupan mereka, jarang terjadi hal-hal yang menyedihkan. Mereka selalu bahagia. Hal itu membuat orang-orang yang tidak menyukai mereka, semakin membenci mereka.
Malam itu Deva belum pulang dari kantor karena pekerjaan yang sangat banyak. Sementara di rumah, Aisha sudah kewalahan karena hari sudah larut malam akan tetapi Sid masih belum tidur. Bahkan bi Asih juga sudah kewalahan mengasuh Sid yang super aktif itu.
"Sid sayangnya bunda, ayo tidur! Kemarilah minum susu, ini sudah larut malam!" Bujuk Aisha pada Sid yang sedang mengacak-acak kamar Aisha hingga kamar Aisha berantakan seperti kapal pecah.
"Ayayayayayah." Ucap Sid sambil menunjuk pintu kamar.
"Apa?" Tanya Aisha sambil melihat ke arah yang ditunjuk Sid.
"Yayayah." Kata Sid sambil terus menunjuk ke arah pintu.
"Oh ayah ya? Ayah belum pulang masih bekerja di kantor!" Balas Aisha sambil menggendong Sid membawanya menuju ranjang tidur Aisha.
Sid pun menangis ketika di dudukkan di ranjang.
"Dududuh... Sayang kenapa kau menangis?" Tanya Aisha sambil menyusui Sid. Akan tetapi Sid menolaknya dan terus memanggil-manggil Deva sang ayah.
"Yayah huuu... Yayayah!" Ucap Sid lagi.
"Baiklah, bunda telepon ayah ya?" tanya Aisha sambil bergegas mencari ponselnya.
Aisha kebingungan mencari ponselnya yang seingatnya disimpan di meja riasnya. Sementara Sid sudah turun dari ranjang dan mulai berjalan keluar dari kamar.
Tak lama Aisha menemukan ponselnya di laci dan segera menelepon Deva.
"Hallo suamiku!" Kata Aisha pada suaminya di telepon.
"Ya hallo sayang, ada apa?" Tanya Deva.
"Kau masih di kantor ya?" Tanya Aisha.
"Aku sedang di dalam perjalanan pulang, memangnya kenapa? Apa kau butuh sesuatu? Atau Sid ingin sesuatu?" Deva menebak-nebak.
"Tidak, aku tidak ingin sesuatu, tapi Sid belum tidur juga dan malah memanggil-manggil dirimu, aku minta kau harus cepat sampai! Aku dan Bi Asih sudah sangat lelah." Jelas Aisha.
"Memangnya kenapa dia belum tidur juga?" Tanya Deva heran.
"Mungkin dia tidak terbiasa tidur tanpamu!" Balas Aisha merasa yakin.
"Mana dia aku ingin berbicara padanya!" Kata Deva.
"Dia ada dibelaka-..." Aisha tidak menyelesaikan kata-katanya karena pada saat ia menoleh Sid sudah tidak ada di kamarnya.
"Dimana?" Tanya Deva kembali.
"Tadi dia dibelakangku, tapi sekarang kenapa tidak ada? Tunggu aku akan melihatnya keluar!" Sambil menoleh kesana kemari mencari Sid.
Aisha pun segera bergegas keluar dari kamarnya. Ia menelusuri setiap ruangan di lantai atas akan tetapi tidak ada. Lalu bermaksud turun kebawah dan iapun menemukan Sid sedang berjalan mendekati tangga.
"Suamiku, aku menemukannya!" Sambil berjalan mendekati Sid.
__ADS_1
akan tetapi sebelum Aisha sampai, Sid sudah mulai menuruni tangga dan tiba-tiba...
'bruukk'
kaki Sid terpeleset lalu jatuh dan terguling-guling di tangga.
"Siiiiiiddd!" Teriak Aisha sambil berlari menuju tangga dan menuruni tangga lalu menangkap Sid yang masih berguling-guling di tangga. Aisha pun memeluk Sid dengan sangat kencang, dan kini Aisha sendiri yang tidak bisa menahan keseimbangannya yang masih berada di atas tangga. Aisha pun terjatuh dengan Sid di pelukannya dan berguling-guling hingga ke lantai dasar.
'braaakk'
tubuh Aisha terbentur tembok yang menjadi pembatas ruangan, kepalanya membentur ujung kemari hingga membuatnya berdarah.
"Aaahh...!" Pekik Aisha sambil memeluk Sid. Sid menangis di pelukan Aisha dengan pelipisnya yang juga berdarah.
Ponsel yang dipegang Aisha masih tersambung dengan telepon ke ponsel Deva. Aisha yang sangat kesakitan akhirnya pingsan, sedangkan Sid masih menangis dengan sangat kencang mungkin karena kesakitan.
Dari dapur bi Asih berlari mendengar teriakan Aisha.
"Nona!" Teriak bi Asih lalu segera menggendong Sid dan menghampiri Aisha. Bi Asih melihat ponsel Aisha yang masih tersambung pada Deva. Lalu mendengar Deva memanggil-manggil Aisha di telepon itu.
"Aisha? apa yang terjadi? Aisha? Hallo?!" Panggil Deva.
"Tu..tuan! Cepatlah pulang! Nona dan tuan muda terjatuh dari tangga!" Kata bi Asih.
"Apa?" Pekik Deva terkejut. "Baik bi, aku sudah dekat dan akan segera datang!" Kata Deva.
Tak lama Deva sudah masuk ke rumah dan terkejut mendapati anak dan istrinya sudah terluka.
"Aisha! Sid!" Lalu segera menghampiri Aisha dan menggendongnya.
"Pak supir! Cepat kemarilah!" Panggil Deva pada supir sekaligus satpam yamg sedang berjaga di pos dekat gerbang rumah Deva. "Cepat, kau bawa mobilnya menuju rumah sakit!" Perintah Deva.
Supirpun segera masuk dan menyetir mobilnya menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit beberapa perawat segera membawa Aisha dengan blankar.
Aisha pun segera dibawa ke ruang UGD untuk di tangani. Deva mengambil Sid dari gendongan bi Asih dan membawanya menuju ruangan dokter untuk diobati dan diperiksa lukanya.
"Bibi, tunggu saja disini! Jika ada apa-apa dengan Aisha, panggil aku di ruangan dokter itu!" Sambil menunjuk ruangan yang di maksudnya.
"Baik tuan."
Deva pun segera pergi membawa Sid, karena darah dari pelipisnya terus saja keluar.
Sesampainya di ruang dokter, Sid segera di obati dan di periksa.
"Dokter, tolong periksa anakku! Dia terjatuh dari tangga!" Perintah Deva.
"Baik pak, tidurkan dia disana!" Sambil menunjuk blankar. "Bapak duduklah! Aku akan segera mengobati dan memeriksanya!" Lalu segera menghampiri Sid dan memeriksa serta mengobati lukanya.
15 menit kemudian dokter sudah selesai memeriksa dan mengobati Sid.
"Dokter, bagaimana keadaan anakku?" Dengan nada khawatir.
__ADS_1
"Tenang saja, tidak ada yang serius dan lukanya hanya luka biasa. Aku sudah memberinya obat untuk mengurangi rasa sakitnya dan mengurangi demam yang disebabkan lukanya. Mungkin besok dia sudah sembuh." Jelas dokter itu membuat Deva sedikit tenang.
"Baiklah dokter, terima kasih banyak." Sambil kembali menggendong Sid.
"Ya sama-sama." Balas dokter itu disertai senyuman.
Deva pun membawa Sid keluar dari ruangan dokter, untuk kembali melihat keadaan Aisha.
"Bi, bagaimana Aisha?" Tanya Deva kembali cemas.
"Bibi belum tahu, tuan! Dokter masih menanganinya." Balas bi Asih.
"Bagaimana mereka bisa jatuh seperti itu?" Tanya Deva tak percaya dan penasaran dengan apa yang terjadi pada istri dan anaknya itu.
"Bibi tidak tahu, tuan. Mungkin tuan harus menanyakannya pada nona Aisha jika nona sudah sadar."
"Iya, bibi benar."
Tak lama seorang dokter keluar dari UGD.
"Dokter, bagaimana keadaan istriku?" Dengan nada khawatir.
"Anda keluarganya?" Dokter itu bertanya balik.
"ya, aku suaminya."
"Begini pak, karena benturan yang cukup keras di punggungnya kita harus melakulan rongent pada punggungnya!" Jelas dokter itu.
"Baik dokter, lakukanlah apa yang menurutmu baik bagi istriku." Balas Deva masih dengan nada yang sangat khawatir.
"Ya baiklah, saya akan melakukan yang terbaik bagi istri anda." Kata dokter itu.
"Apa aku bisa menemuinya?" Sambil menoleh ke ruang UGD dimana terdapat istrinya yang terbaring tak berdaya.
"Ya silahkan." Ucap dokter itu sambil berlalu pergi.
"Bi, ayo kita lihat Aisha!"
Ketiganya pun masuk ke ruangan UGD untuk melihat Aisha. Sesampainya disana Sid menangis dengan kencang.
"Anak ayah jangan menangis lagi, ayah tahu kau sedih melihat bunda sakit kan? Tenang saja bundamu akan baik-baik saja!" Bujuk Deva agar Sid berhenti menangis.
"Na.. Una, huuuuu... Hiks.. Hiks
" Tangisan Sid malah semakin kencang.
"Sid, jangan menangis, itu berisik! Nanti bunda terganggu!"
Sid pun berhenti menangis. Deva pun memberikan Sid pada bi Asih dan menyuruh bi Asih untuk membawa Sid pulang lebih dulu.
"Bi, bawa Sid pulang lebih dulu bersama supir. Aku akan disini dulu, menemani aisha. Besok bawalah dia kembali kesini." Perintah Deva.
Bi asih pun mengangguk dan membawa Sid pergi. Kini tinggal Deva yang menemani Aisha yang masih belum sadar.
__ADS_1
Selamat membaca!! maaf membuat para readers yg baik hati seperti kalian menunggu. hehehe!!!jangan lupa like,coment dan votenya yaaa!!!