Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Kecelakaan Dendi


__ADS_3

Braak


Mobil Dendi tertabrak sebuah truk besar, yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Mobil itu berguling-guling hingga akhirnya terbalik dan mulai keluar percikan api dari mobil yang didalamnya ada Dendi.


Di dalam mobil, Dendi sudah tidak sadarkan diri. Darah segar mengalir dari pelipisnya. Orang-orang yang melihat kecelakaan itu sudah berkumpul mengelilingi mobil yang di dalamnya masih terdapat Dendi yang tidak sadarkan diri. Beberapa orang mencoba mengeluarkan Dendi dari dalam mobil.


"Ka Dendi!" Seru Rhea yang baru tiba di tempat kecelakaan itu, tadinya ia hanya penasaran melihat orang-orang yang sedang berkerumun disana. Hingga ia turun dan melihatnya sendiri, begitu melihat mobil yang sudah terbalik itu Rhea sangat shock.


"Kak, Kak Dendi!" Teriak Rhea sambil berlari menuju Dendi yang sedang di keluarkan dari dalam mobil oleh beberapa orang.


"Nona, tolong menjauhlah! Kami akan berusaha mengeluarkannya dulu dari dalam mobil!"


Rhea menjauh, ia menangis saat melihat Dendi sudah berhasil di keluarkan dari dalam mobil yang sudah ringsek dan mulai terbakar itu.


"Kakak!" Teriak Rhea sambil menghampiri Dendi yang sudah tak sadarkan diri.


Tak lama, mobil ambulance datang. Mereka segera membawa Dendi kedalam ambulance untuk di bawa ke rumah sakit. Begitu juga dengan Rhea, ia ikut di dalam ambulance untuk menemani kakaknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Lihat, kita berhasil menyingkirkannya! Hahaha, dia bermimpi untuk melindungi Deva dan Aisha! Tapi, bahkan dia tidak mampu melindungi dirinya sendiri." Sinis Yessi pada beberapa orang yang sedang duduk bersamanya.


"Kau memang hebat, nona Yessi! I Like!" Puji seorang pria yang duduk di sampingnya sambil mengelus bahu Yessi yang terekspos.


"Tentu saja, dan lihat saja! Aku pasti akan mendapatkan Adeva!" Sinis Yessi.


"Lalu, selanjutnya bagaimana?"


"Kita mulai dari orang-orang yang dia sayangi, Aisha dan putranya! Aku akan menggunakaj mereka sebagai alat, agar Deva tak punya pilihan lain selain memilihku." Sambil memainkan sebuah pisau buah yang tajam.


"Kau yakin?" Tanya pria di sebelahnya lagi dengan tatapan merendahkan.


"Tentu saja, memangnya kenapa?" Tanya Yessi dengan nada sinis.


"Dulu kau pernah berusaha menyakiti Aisha dan menculiknya, tapi dalam hitungan menit kau sudah gagal! Bahkan Deva bisa dengan segera mengetahui pelakunya!" Kali ini pria itu yang berkata dengan nada sinis, sedangkan Yessi membisu.


"Lebih baik kau menyerah, Yessi! Jangan pernah mengejar hal yang tidak ingin di kejar olehmu!" Lanjut pria itu sambil mengambil pisau yang berada di tangan Yessi.


"A.. Apa kau bilang? Menyerah? Tidak! Aku tidak akan menyerah! Deva harus membayar apa yang telah dia perbuat pada kakak dan keluargaku!" Bentak Yessi.


"Memangnya apa yang Deva lakukan? Dia mencelakai kakakmu? Tidak, bukan!" Kata pria itu dengan nada santai.


"Kau tahu, dia sudah membuat kakakku menjadi gila dan ingin mengakhiri hidupnya! Semua itu karena dia meninggalkan kakakku!"


"Lalu kenapa kau yang menginginkannya sekarang? Bukankah kakakmu sudah tiada?!" Tanya pria itu sambil menatap Yessi dengan tatapan menyelidik.

__ADS_1


"Ka.. Karena aku... Tidak akan pernah membiarkannya bahagia!" Jawab Yessi tergagap.


"Benarkah? Bukan karena kau memang benar-benar menginginkannya kan?"


"Apa? Kenapa aku harus menginginkan orang yang sudah membuat kakakku tiada? Hahaha, kau sepertinya mulai tidak waras!" Sinis Yessi.


"Terserah! Tapi aku tau, kau menginginkannya!" Kata pria itu sambil berlalu meninggalkan Yessi.


Tidak, aku tidak menyukainya! Yessi, ingatlah! Tujuanmu adalah menghukum Deva dan Aisha!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aisha, kau kenapa? Kenapa menangis seperti itu? Apa terjadi sesuatu padamu?" Tanya Deva dengan penuh kepanikkan, melihat Aisha yang sudah menangis saat dirinya pulang dari kantor.


"De.. Deva, i.. Itu!" Sambil menunjuk belakang sofa.


"Ada apa Aisha? Katakanlah!" Kata Deva sambil memeluk Aisha yang menangis dan ketakutan.


"I.. Itu.." Aisha kembali menunjuk belakang sofanya, Deva pun segera mendekati arah yang ditunjuk Aisha.


"Tidak ada apa-apa disini, Aisha." Ucap Deva sambil kembali menghampiri Aisha yang masih ketakutan.


"Ti... Tidak mungkin!" Bantah Aisha, sambil memberanikan diri untuk menghampiri sofa.


"Memangnya apa yang terjadi, Aisha? Katakanlah!"


"Aisha, mungkin kau berhalusinasi saja! Tidak mungkin ada yang mengirim benda seperti itu ke rumah kita! Terlebih lagi kita ini sudah tinggal di mansion utama! Saat ini tidak ada yang mengetahui bahwa kita pindah kesini!"


"Kau tak percaya padaku? Aku mohon, percayalah! Aku benar-benar mendapat kiriman seperti itu tadi!" Aisha meyakinkan Deva.


"Tapi mana, Aisha? Disini tidak ada apapun! Ayo, sekarang lebih baik kau istirahat saja! Mungkin kau kelelahan jadi berhalusinasi." Deva menuntun Aisha menuju kamarnya, tetapi Aisha menghentikkan langkah Deva.


"Kau saja, aku tidak ingin istirahat!"


"Baiklah, kau sudah makan?" Aisha menggeleng, Deva pun menuntun Aisha menuju ruang makan yang terletak di samping dapur dengan ruangan terpisah.


Sesampainya di dapur, Deva menyuruh Aisha duduk di kursi. Sedangkan Deva sendiri meninggalkan Aisha dan berjalan hendak ke dapur.


"Kau mau kemana?" Tanya Aisha sambil menarik lengan Deva.


"Aku akan ke dapur, menyiapkan makanan untukmu. Kau duduk, diam saja disini!" Sambil menepuk kepala Aisha pelan.


"Baiklah, cepat! Aku takut sendirian disini!"


"Huft. Istriku kenapa jadi penakut seperti ini?!" Gumam Deva sambil berjalan menuju dapur.

__ADS_1


"Aku mendengarnya!" Teriak Aisha dari ruang makan.


Deva bergidik ngeri, dan langsung memasuki dapur. Tak lama, Deva kembali membawa sepiring mie untuk Aisha.


"Taraaa... Lihat apa yang aku buat untukmu!" Seru Deva sambil menyodorkan sepiring mie itu pada Aisha.


Aisha berbinar dan langsung menyantapnya. Namun, ia merasa tidak mampu menelan makanan yang sudah berada di dalam mulutnya.


Ya ampun, rasanya ini seperti mie garam.



Aisha segera meminum segelas air di hadapannya, sedangkan Deva masih tersenyum melihat Aisha makan.


"Bagaimana rasanya? Enak kan?" Sambil tersenyum manis pada Aisha.


"Ya, sangat enak. Terima kasih!"


"Benarkah? Sama-sama, sayang!"


Deva pun penasaran dengan rasa makanannya, lalu mengambil garpu yang sedang di pegang Aisha dan mencoba makanannya.


"Hoeek... Rasanya tidak enak sekali! Bagaimana bisa kau menelannya?!" Tanya Deva.


Aisha hanya tersenyum, sedangkan Deva segera menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Beberapa menit kemudian, ia kembali dan segera membuang makanan yang dibuatnya.


"Eh, kenapa kau membuangnya?" Tanya Aisha heran.


"Kenapa kau bertanya? Aku tidak ingin kau memakan makanan yang akan membuatmu keracunan itu! Bisa-bisa anak kita yang ada di perutmu mendadak keluar!" Deva meringis, sambil mengelus perut buncit istrinya.


Aisha tertawa, lalu mencubit pinggang Deva.


"Aw! Sakit Aisha!" Deva kembali meringis.


"Kau lucu sekali! Mana bisa bayi mendadak keluar karena rasa makanan yang asin?" Aisha kembali tertawa, Deva terkekeh lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Bukan aku yang lucu, tapi author yang ngaco!"


"Kau benar, suamiku! Dia juga selalu membuat naskah yang isinya balas dendam padamu! Harusnya kita serang dia bersama-sama!" Aisha mengepalkan lengannya dan memukupkannya pada telapak tangan yang satunya lagi.


**Author : Maaf ya, Aisha dan Deva! Author minta maaf banget, habisnya gimana lagi? Author kan belum punya suami jadi kurang tau caranya bikin naskah romantis yang bikin para readers baper, kalo author udah nikah nanti insya Allah author bikin adegan romantis buat kalian yaa...


Aisha : Huft! Kasian ya


Deva : Deritamu thor!

__ADS_1


Author : Hmmm 😥


Maaf ya author lagi males up beberapa hari ini, liat penghasilan yang sungguh mengenaskan! Jangan lupa like,vote, coment**!


__ADS_2