Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Hanya Bunga Tidur Saja!


__ADS_3

Aisha sedang berada di dapur bersama bi Asih, ia sedang menyiapkan makanan untuk suaminya. Agar saat Deva terbangun dan merasa lapar, makanan sudah siap.


Selesai memasak, Aisha bergegas menuju kamar dengan tujuan untuk membersihkan dirinya. Namun ia mengurungkan niatnya saat mendengar teriakan Deva yang memanggil-manggi namanya.


"Tidaaaakkkkkk...... Aishaaaaaaa, jangan pergi! Jangan meninggalkanku! Aishaaaaaa...!" Teriak Deva.


Aisha yang mendengarkan teriakan Deva, segera memasuki kamarnya dan menghampiri Deva.


"Suamimu, kau kenapa?!" Sambil menyodorkan air minum pada Deva.


Deva meminum air tersebut, setelah itu segera memeluk Aisha.


"Suamiku, sebenarnya kau kenapa?" Aisha kembali bertanya setelah melihat Deva sedikit tenang.


"Tidak, Aisha. Aku hanya mimpi buruk." Masih memeluk Aisha.


"Suamiku, mimpi itu jangan terlalu dipikirkan! Itu hanya bunga tidur. Sudah, tenanglah! Mimpi itu tidak mungkin terjadi!" Sambil mengelus kepala Deva.


"Kau benar, tapi entah kenapa mimpi itu seperti membuatku ketakutan. Padahal aku tidak pernah menanggapi mimpi seburuk apapun dengan serius." Melepaskan pelukan Aisha, lalu bersandar di bahu Aisha.


"Mungkin kau kelelahan, jadi membuatmu memikirkan mimpi itu. Sudahlah, sekarang cuci wajahmu dan setelah itu kita sarapan. Ini sudah jam 9 pagi, aku takut perutmu sakit jika terlambat sarapan!" Sambil beranjak, tapi Deva menarik tangan Aisha sehingga kembali duduk di sisi Deva.


"Aisha, berjanjilah! Jangan pernah pergi jauh dariku!"


Aisha tersenyum, lalu mengangguk.


"Ayo cepat cuci wajahmu, aku menunggumu di ruang makan!" Deva pun melepaskan tangan Aisha dan membiarkannya pergi.


Ya Tuhanku, tolong lindungilah dia.


Deva menatap punggung Aisha hingga menghilang di balik pintu. Setelah itu, dia beranjak menuju kamar mandi. Tapi sebelum ia memasuki kamar mandi, ponselnya berdering.


Deva memutar kembali badannya dan melangkah untuk mengambil ponsel itu, lalu mengangkatnya.


"Hallo. Ya baiklah, nanti siang aku akan ke rumah sakit." Lalu memutuskan panggilannya.


Setelah selesai menerima panggilan telepon, Deva kembali menuju kamar mandi. Hingga seseorang menarik pakaiannya dari belakang.


"Yah, yah!" Membuat Deva terkejut dan menoleh, tapi tidak ada siapapun di belakangnya.


"Aku disini, yah!"


Deva menoleh kebawah.


"Sid, kau membuat ayah terkejut! Ada apa?" Sambil berjongkok di hadapan Sid.


Sid memberi isyarat pada ayahnya untuk mendekatkan telinganya ke mulut Sid.


"Nanti siang kita jalan-jalan yah!" Sambil menoleh kesana kemari.

__ADS_1


"Kemana? Tapi, kau kan sekolah!"


"Pelan-pelan yah bicaranya! Nanti ada yang dengar!" Masih berbisik di telinga sang ayah.


"Iya, maaf! Kemana? Kau kan sekolah!" Kali ini Deva berbicara dengan suara pelan seperti yang diminta Sid.


"Ke Pameran malam! Iya, maksudku pulang sekolah!" Sambil mengerucutkan bibirnya.


Deva pun tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Sid.


"Kenapa ayah tertawa?!" Sambil melipat lengannya di dada dan mengerucutkan bibirnya lagi.


"Sid, pameran malam itu artinya pameran di malam hari! Dan kau ingin kesana pulang sekolah?!" Lalu kembali tertawa.


"Ooo... Begitu yah, hehe" Sid pun terkekeh.


"Baiklah, nanti malam kita ke pameran malam! Sekarang pergilah sekolah! Nek Asih yang mengantarmu, kan?"


"Iya, yah." Sid mengulurkan tangannya, lalu disambut oleh Deva. Kemudian Sid mencium tangan ayahnya, tak lupa berpamitan terlebih dahulu.


"Yah, aku pergi dulu! Ayah jangan lupa nanti malam kita pergi ke pasar malam!" Deva mengangguk, lalu Sid berbalik dan berlari kecil keluar dari kamar Deva.


"Dasar konyol, dia memang keturunanku!" Gumam Deva sambil tersenyum geli dan menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu memasuki kamar mandi.


Tak lama, ia sudah keluar dari kamar mandi lalu bergegas turun untuk menemui Aisha di ruang makan.


Aisha terkejut karena Deva sudah berada di belakangnya.


"Apa? Kau ini membuatku terkejut saja!" Sambil mengelus-ngelus dadanya.


"Maaf, maaf. Tadi dokter meneleponku, dia bilang hari ini jadwalmu mengecek kandunganmu, benarkah itu?" Sambil melipat kedua tangannya di dada dan bersender di ambang pintu.


"Astaga! Benar, aku lupa! Seharusnya hari ini, jam 10!" Lalu menepuk keningnya.


"Baiklah, aku akan mengantarmu hari ini! Ayo cepat, kita selesaikan sarapannya dan segera pergi ke rumah sakit."


Aisha segera menyajikan makanan ke piring yang berada di hadapan Deva, lalu menyajikan untuk dirinya sendiri. Mereka makan dengan suasana hening, hanya ada dentingan sendok yang beradu dengan piring.


Tak lama, Deva sudah menghabiskan makanannya.


"Aku mengganti baju dulu, kau selesaikan sarapanmu! Aku akan menunggumu di bawah!" Sambil mengacak-ngacak rambut Aisha yang terurai panjang.


"Kau ini!" Protes Aisha sambil mengerucutkan bibirnya.


Deva terkekeh sambil berlalu menuju kamarnya.


30 menit kemudian, Aisha sudah memasuki mobil yang didalamnya sudah terdapat Deva yang sedang menunggunya dengan wajah datar.


"Lama sekali!" Protes Deva.

__ADS_1


Aisha tersenyum jahil pada Deva.


"Sudah cepat! Atau kita akan semakin lama berada di mobil ini karena berdebat!" Aisha mencibir Deva.


"Baiklah!" Sambil menghidupkan mesin mobil, lalu segera melajukannya.


30 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Deva turun terlebih dahulu, lalu memutari mobil dan membukakan pintu untuk Aisha. Setelah itu mereka langsung memasuki rumah sakit dan menemui dokter Ema tanpa perlu menemui resepsionis rumah sakit, karena sudah ada janji sebelumnya.


"Selamat pagi, bu Aisha dan Pak Adeva." Sapa dokter Ema dan dokter Niken yang sedang bersama dokter Ema.


"Selamat pagi dokter Ema dan dokter Niken." Aisha dan Deva membalas sapaan kedua dokter itu.


"Baiklah, kita akan langsung melakukan pemeriksaan kandungannya. Silahkan bu Aisha berbaring di sana! Pak Adeva, mohon maaf anda keluar dulu! Setelah pemeriksaan selesai kami akan menyuruh anda masuk kembali." Kata dokter Niken.


Deva mengangguk, lalu keluar dan duduk di kursi untuk menunggu.


Dokter Niken memeriksa Aisha, sedangkan dokter Ema mencatat hasil pemeriksaan.


"Bu Aisha, apa kau sering berpergian jauh?" Tanya dokter Niken sambil masib memeriksa perut Aisha.


"Beberapa kali dalam sebulan ini, aku berpergian jauh. Dan terakhir, aku menemani suamiku ke tempat yang lumayan jauh." Jawab Aisha hati-hati.


"Setelah ini kau tidak boleh berpergian jauh terlebih dahulu, kau tahu bukan kondisi kandunganmu kali ini berbeda dengan saat kau mengandung Sid. Bayimu berada di posisi berbahaya, jika terguncang lagi sedikit saja maka bisa dipastikan kau akan mengalami keguguran!" Aisha terkejut dengan apa yang dijelaskan dokter Niken, ia merasa bersalah karena telah membahayakan nyawa bayinya.


"Baik, dokter. Setelah ini aku tidak akan berpergian jauh lagi." Sambil turun dari blankar dan duduk di kursi yang berhadapan dengan meja dokter Ema.


"Dokter, tolong jangan beritahu hal ini pada suamiku! Aku takut dia akan semakin khawatir padaku dan menyuruhku untuk aborsi lagi!" Pinta Aisha sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan wajahnya.


"Baiklah, bu Aisha. Tapi ingat pesanku baik-baik, jangan sering berpergian jauh dan mengerjakan hal yang berat! Banyaklah istirahat dan minum terus obat yang aku berikan! Bulan depan kembalilah kesini, kita akan melakukan USG pada kandunganmu!"


"Baik dokter, terima kasih banyak." Dokter Niken dan dokter Ema mengangguk, lalu mempersilahkan Deva kembali masuk.


"Bagaimana istri dan bayiku?" Dengan wajah penasaran.


"Sejauh ini keduanya baik-baik saja, kau hanya harus sering memperhatikannya. Seperti memberinya minum susu ibu hamil dan buah-buahan." Jelas dokter Niken.


"Baiklah, terima kasih! Kami pamit pulang dulu."


"Terima kasih kembali pak Adeva!"


Deva dan Aisha pun keluar dari ruangan dokter Ema.


Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara, Deva fokus menatap jalanan sambil menyetir. Sedangkan Aisha termenung sambil memikirkan kata-kata dokter Niken yang menjelaskan keadaan bayinya saat ini.


**Bersambung...


Jangan lupa like dan vote ya!! Author butuh dukungan kalian!!!


Selamat Membaca**!!!

__ADS_1


__ADS_2