
Aisha sudah bangun lebih dulu dari tidurnya. Wajahnya terlihat lesu dan matanya sembab karena semalaman menangis. Walaupun sudah bangun akan tetapi tubuhnya masih berada di dekapan Deva sang suami yang masih tertidur pulas. Aisha enggan mengakhiri pelukan itu. Entah mengapa Aisha saat ini begitu sangat ingin bersama dengan Deva hari ini.
"Kau sudah bangun?" Ucap Deva tiba-tiba dengan nada serak khas bangun tidur.
"Ya." Sambil memeluk Deva yang sudah terduduk. "Apa hari ini kau bisa bersamaku seharian?" Tanya Aisha agak ragu.
"Maaf Aisha, aku tidak bisa. Banyak meeting penting dengan klien besar dan para pemilik saham. Maaf aku tidak bermaksud menolakmu." Ucap Deva lembut sambil bangun dan memegang pipi Aisha dengan kedua tangannya.
"Tidak apa-apa. Lain kali saja jika kau tidak sibuk." Ucap Aisha dengan senyuman dan dengan hati yang sebenarnya kecewa.
"Baiklah, aku mandi dulu." Kata Deva sambil turun dari ranjang lalu mengambil handuknya dan segera memasuki kamar mandi.
Aisha terduduk dan termenung di tempat tidur. Entah mengapa hatinya tidak mengizinkan Deva jauh darinya sedikitpun hari ini. Rasanya seperti akan ada sesuatu yang terjadi. Tapi Aisha mencoba menepis pikiran negatifnya jauh-jauh dan mulai berusaha berdiri lalu duduk di kursi rodanya.
Tak lama Deva sudah selesai mandi dan keluar dari kamar mandi lalu memasuki ruang ganti untuk memakai baju. Selesai memakai pakaian Deva menghampiri Aisha yang sedang terlihat melamun di kursi rodanya sambil menatap ke luar jendela.
Deva menepuk pundak aisha dan membelai rambut aisha.
"Kau marah padaku,Aisha?" Sambil memegang dagu Aisha lalu mengecup bibir ranum Aisha.
Aisha terkejut lalu menatap Deva. "Tidak. Kau sudah selesai?" Tanya Aisha sambil menoleh pada Deva.
"Ya. Kau sedang memikirkan apa? Aisha, serius kau tidak marah? Aku berjanji setelah meeting selesai aku akan segera pulang." Sambil mendorong kursi roda Aisha menuju arah yang terdapat sofa.
Deva kemudian duduk di sofa itu menghadap Aisha. Deva menidurkan kepalanya di pangkuan Aisha.
"Aisha, berjanjilah padaku!" Kata Deva membuat Aisha mengernyitkan keningnya kebingungan.
"Berjanji apa? Kenapa tiba-tiba kau mengatakan hal seperti itu?" Tanya Aisha penasaran .
Deva pun mendongakan kepalanya lalu menggenggam tangan Aisha.
"Jangan melakukan tindakan bodoh seperti tadi malam lagi, jika kau mencoba melakukan hal itu lagi aku akan mengakhiri hidupku juga!" Ancam Deva.
__ADS_1
"Maaf suamiku, semalam aku hanya emosi dan kecewa dengan keadaanku yang cacat seperti ini. Aku berjanji padamu tidak akan melakukan hal itu lagi!" Ucap Aisha sambil mulai mengeluarkan air matanya.
"Baiklah Aisha, aku pergi kekantor dulu. Jangan menungguku, mungkin aku akan pulang larut malam. Pekerjaanku sangat banyak di kantor!" Kata Deva sambil beranjak lalu mengambil tasnya dan mendorong kursi roda Aisha menuju keluar kamar. Sesampainya di luar deva mencium kening Aisha dan kembali berpamitan pada Aisha lagi.
"Aku berangkat!" Pamit Deva. Aisha pun mengangguk lalu mengulurkan tangannya. Deva menyambut uluran tangan Aisha, Aisha mencium punggung tangan suaminya. Deva kembali mengecup kening Aisha. Deva mulai berjalan menuju mobil,akan tetapi tangannya masih di pegang Aisha.
Aisha merasa berat dan entah kenapa tidak ingin melepaskan tangan suaminya itu. Akan tetapi Deva terus berjalan hingga tangan mereka saling terlepas, Deva kembali menoleh pada Aisha sambil tersenyum lalu memasuki mobilnya dan melambaikan tangannya sebelum melajukan mobil itu.
Aisha tersenyum sambil mengeluarkan air matanya, Aisha merasa senyuman itu seakan firasat buruk.
Mobil Deva sudah menghilang dari hadapannya akan tetapi Aisha masih berada di teras rumah sambil menatap mobil Deva sampai menghilang.
"Ya Tuhan, semoga ini hanya angan-angan saja. Ya Tuhan, berikanlah lindunganmu pada suamiku dimanapun dia berada" Gumam Aisha mendoakan Deva.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Di dalam perjalanan Deva sedang tersenyum sambil tangannya terfokus menyetir.
Saat sedang terfokus menyetir tiba-tiba saja sebuah mobil menghadangnya dan berhenti tepat di depan mobil Deva. Deva begitu terkejut lalu menginjak pedal rem mobilnya mendadak sampai kepalanya terbentur setir mobil dan berdarah, akan tetapi Deva tidak kehilangan kesadarannya dan hanya meringis kesakitan.
Deva memegangi keningnya dan melihat darah ditangannya.
Tak lama 2 orang turun dari mobil itu dan berjalan menghampiri mobil Deva lalu menggedor-gedor pintu mobil Deva.
"Keluar kau!" Teriak salah seorang pria itu. Deva masih santai di dalam mobilnya sambil mengelap darah yang keluar dari keningnya dengan tissue yang berada di dalam kotak penyimpanan mobilnya itu.
"Hei keluar kau pecundang!" Teriak pria itu kembali sambil masih menggedor-gedor pintu mobil Deva.
Deva pun mulai terpancing emosinya dan membuka pintu mobilnya lalu keluar. Sebelum seluruh tubuh Deva keluar dari mobilnya salah satu pria itu sudah menarik kerah baju Deva dan menghantam Deva dengan pukulan tangan-tangan kekarnya sampai Deva tersungkur di tanah. Kemudian pria yang satunya lagi menelepon seseorang.
"Nyonya, kami sudah melakukan perintahmu dan sudah membuatnya terkulai lemas. Selanjutnya apalagi?" Kata pria itu. "Baik nyonya aku akan membawanya ke tempat itu!" Lanjut pria itu lalu memberi kode pada temannya untuk memasukan Deva kedalam mobil yang dikendarai Deva.
Mereka memasukan Deva ke dalam mobil Deva lalu salah satu pria itu menyetir mobil Deva menuju sebuah tebing dan menghentikannya tepat di pinggir tebing yang curam itu. Pria itu turun dari mobil Deva, tak lama pria yang satunya lagi sampai disana dan turun menghampiri pria yang tadi membawa Deva. Mereka mendorong mobil Deva hingga hampir terjatuh dan meninggalkannya.
__ADS_1
Di dalam mobil deva mulai tersadar dan mulai menyadari posisi mobilnya yang berada di pinggir tebing dengan posisi yang jika Deva bergerak sedikit saja maka mobil itu akan jatuh kedalam jurang tebing yang curam itu.
Deva mulai pasrah dengan keadaan lalu pelan-pelan membuka pintu mobilnya saat pintu terbuka mobil Deva mulai mundur dan terus mundur hingga 'braakk' mobil sudah terguling-guling jatuh kedalam jurang tebing itu hingga mengeluarkan asap.
'Duaaarrrr' mobil itu meledak. Akan tetapi Deva tidak berada dalam mobil itu. Kini posisi Deva jauh lebih sulit untuk selamat, tangannya hanya memegang ujung daratan tebing. Deva ingin meminta tolong akan tetapi jalanan itu sangat sepi hingga sebuah tangan menggapai tangannya.
Deva mendongakkan kepalanya keatas lalu tersenyum melihat orang yang menggapai tangannya itu.
"Aisha! Bagaimana bisa kau ada disini?" Tanya Deva sambil memegang tangan Aisha dengan sangat erat.
"Itu tidak penting! Ayo aku mohon peganglah tanganku dengan sangat erat. Jangan melepaskan tanganku, aku akan berusaha menarikmu hingga naik ke atas!" Kata Aisha sambil menangis.
****************
Di rumah Aisha merasa sangat mencemaskan Deva. Aisha berniat menelepon Deva akan tetapi sebuah pesan Whatsapp lebih dulu datang.
"Nomor siapa ini?" Gumam aisha bertanya-tanya. Aisha pun membuka pesan itu dan terkejut melihat mobil Deva berada di sisi tebing yang sangat curam dan tinggi.
Aisha pun menangis dan menggerakan kursi rodanya menuju keluar lalu menghentikkan sebuah taksi dan supir taksi itu turun lalu membantu Aisha masuk ke dalam taxi.
Aisha menghentikkan mobilnya di tempat yang dikatakan orang pengirim pesan misterius itu. Supir taxi membantu Aisha turun dan duduk di kursi roda. Aisha membayar taxi itu dan setelah itu taxi itu sudah menjauh meninggalkan Aisha.
Aisha melajukan kursi rodanya menuju tebing itu akan tetapi terkejut saat mendapati disana ada sebuah mobil yang sudah terbakar dan meledak.
Aisha menangis tersedu-sedu. Ia mendekati pinggir tebing itu hingga tak sengaja melihat sepasang tangan sedang memegang pinggiran tebing.
apakah itu Deva?
Aisha pun menjalankan kursi rodanya menuju pinggir tebing itu dan turun dari kursi rodanya lalu melihat kebawah ternyata benar itu adalah Deva. Aisha memegang sepasang tangan itu.
"Aisha? Bagaimana kau bisa ada disini?" Tanya Deva sambil memegang erat tangan Aisha dengan sangat erat.
**Bersambung...
__ADS_1
Selamat membaca**!!