Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Sid Tidak Ingin Punya Adik!


__ADS_3

Hari ini Deva berencana membawa Aisha ke rumah sakit untuk diperiksa sesuai saran dari dokter Ema.


"Aisha, cepat sedikit! Hari ini aku harus sudah berada di kantor jam 9, karena ada urusan yang sangat penting!" Ucap Deva pada Aisha yang masih sibuk menyisir rambutnya yang basah.


"Sebentar! Kau berisik sekali!" Ketus Aisha.


"Ya Tuhan, dari tadi kau belum selesai juga dan hanya bilang sebentar! Sudah 15 menit kau menyisir rambut, dan masih bilang sebentar! Lihat! Sudah jam 8 lebih 15 menit!" Sambil menunjukkan jam tangannya pada Aisha.


"Heuh! Baiklah, ayo cepat!" Sambil berjalan dan memaki Deva dalam hatinya.


Dasar suami tidak sabaran! Lihat saja nanti! Aku akan membalasmu! Hahahaha...


Deva mengikuti Aisha di belakangnya.


"Aisha, apa kau sedang memakiku di dalam hatimu?" Aisha membelalakkan matanya.


Bagaimana dia bisa tahu?!


"Tidak! Ayo cepat, bukankah tadi kau yang meminta cepat!"


"Tunggu! Apa kau tidak akan membawa Sid?!" Deva mengingatkan Aisha.


Aisha berhenti melangkah lalu berbalik menghadap Deva.


"Ya sudah, cepat bawa dia!" Perintah Aisha.


Deva berjalan menuju kamar Sid, tak lama Deva kembali sambil membawa Sid berjalan dengan menggandeng tangannya.


"Ayah, kita akan kemana?" Sambil menarik-narik jas yang di pakai Deva.


"Kita akan ke rumah sakit, Sid!"


"Untuk apa? Apa ayah dan bunda sakit?" Dengan wajah khawatir.


"Nanti kau akan tahu, ayo cepat!" Sambil menarik tangan Sid menuju Aisha yang sudah menunggu di dalam mobil.


Selama perjalanan tak sepatah katapun keluar dari mulut Aisha serta 2 lelaki berwajah mirip itu. Ketiganya sibuk dalam pikiran masing-masing.


"Nda!" Sid memulai pembicaraan.


"Ya, sayang. Ada apa?"


"Untuk apa kita ke rumah sakit? Apa ayah dan bunda sakit?"


"Sid, sebelum menjawab pertanyaanmu, kau harus menjawab pertanyaan ayah lebih dulu!" Sambil fokus menyetir mobil.


"Iya yah."


"Sid, apa kau ingin punya adik?" Deva bertanya sambil menoleh sebentar pada Sid, setelah itu kembali menatap jalanan.


"Aku tidak mau yah!" Dengan wajah datar.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak mau, sayang?!" Aisha menatap Sid dengan raut wajah heran.


"Tidak, ya tidak!" Dengan nada tinggi.


"Tapi kenapa, Sid?" Kali ini Deva yang bertanya.


"Aku tidak ingin punya adik, yah! kata temanku, nanti aku tidak disayang ayah dan bunda lagi!" Ucap Sid dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Deva menoleh pada Aisha lalu memberi isyarat untuk meyakinkan Sid bahwa yang dikatakan temannya tidak benar.


"Sid, sayang! Apa yang dikatakan temanmu tidak benar. Ayah dan bunda akan tetap menyayangimu. Bagi kami, kau adalah anugerah terindah yang di berikan Tuhan untuk kami. Ayah dan bunda tidak akan membedakan kalian, kalian akan sama-sama menjadi kesayangan ayah dan Bunda." Aisha berusaha meyakinkan Sid.


"Tapi bunda, bagaimana kalau adik nakal? Bagaimana kalau nanti adik merusak mainanku?" Sid kembali bertanya.


"Tidak akan Sid, jika adikmu nakal nanti bunda akan menasehatinya. Dan jika adik merusak apapun yang milikmu, bunda dan ayah akan menggantinya!" Aisha kembali meyakinkan Sid.


"Benar yah, nda?"


"Ya, Sid. Ayah akan memberikan apapun yang kau mau, asalkan Sid menerima adik jika punya adik nanti!" Deva meyakinkan Sid.


Sid pun mengangguk.


"Oke, yah."


Tak lama, mereka sudah sampai di rumah sakit.


Ketiganya langsung masuk karena sebelumnya sudah membuat janji dengan dokter Ema.


Dokter Ema segera mengusapkan gel di perut Aisha, lalu meletakan alat dan memutar-mutarkannya di perut Aisha.


Di layar monitor muncul sebuah gambar yang memperlihatkan ada janin yang belum terbentuk sempurna dan masih kecil.


"Lihat bu Aisha, selamat! Kau sedang hamil! Usia kandunganmu sudah menginjak 4 minggu!" Seru dokter Ema.


"Apa? Coba katakan sekali lagi, Ema?!" Seru Deva tak percaya.


"Pak, bu Aisha sedang hamil lagi! Sudah menginjak 4 minggu!" Dokter Ema mengulangi kata-katanya.


Deva melirik Aisha dan Sid. Aisha tersenyum bahagia, sedangkan Sid terlihat murung.


"Sid, kenapa kau sedih? Lihat! Kau akan memiliki adik bayi yang menggemaskan sepertimu!" Deva mengelus kepala putra pertamanya itu penuh kasih sayang.


"Iya, yah." Dengan anggukkan kecil.


Setelah selesai memeriksa Aisha, merekapun kembali pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Deva langsung berpamitan pada Aisha dan Sid.


"Sayang, aku pergi dulu ke kantor. Istirahatlah! Jika ingin apa-apa, hubungi aku saja. Atau kau bisa menghubungi Reihan dan Ridan!" Lalu mengecup kening Aisha dan mengecup kening Sid yang masih terlihat murung.


"Sid, ayah pergi dulu. Jaga bunda dan adik diperut bunda baik-baik!" Sambil mengelus kepala Putra sulungnya itu.


Sid hanya mengangguk, lalu meninggalkan Aisha dan Deva masuk ke dalam.

__ADS_1


"Aisha, bujuk dia! Sepertinya dia masih tidak mau menerima bahwa dia akan punya adik!" Sambil memandang Sid yang sudah masuk ke rumah.


"Iya, suamiku. Kau tenang saja, aku akan membujuknya."


Deva pun segera memasuki mobilnya lalu melambaikan tangan dan melajukan mobilnya.


Aisha membalas lambaian tangan itu hingga mobil Deva menghilang. Setelah itu menyusul Sid yang sudah masuk ke kamarnya.


Dilihatnya Sid sedang duduk di ranjangnya sambil menunduk.


"Sid!" Aisha menghampiri Sid lalu mengelus kepala Sid dengan lembut.


"Bunda." Sid menoleh lalu kembali menunduk. Tak lama Tubuhnya berguncang-guncang, isakan mulai terdengar dari mulut Sid.


Sid memeluk Aisha,dan menangis di pelukannya.


"Sid tidak ingin punya adik, nda!" Lirih Sid dalam tangisnya.


"Sid, kau tidak boleh begitu! Kenapa Sid tidak ingin punya adik?" Aisha mendekap Sid.


"Nanti ayah dan bunda tidak akan menyayangiku lagi!" Sambil melepaskan pelukannya dan terisak-isak.


"Itu tidak benar, Sid!"


"Bunda bohong!" Sambil terisak-isak kembali.


"Tidak, sayang!" Aisha kembali memeluk Sid.


"Lalu bagaimana, nda?!" Sid berhenti menangis lalu menghapus air matanya.


"Sid, nanti kau akan ada teman bermain saat sedang di rumah! Dan saat kalian besar nanti, Kau yang akan menjaga adikmu! Melindunginya dari bahaya, dan nanti adikmu akan bangga punya kakak sepertimu!" Aisha kembali mencoba meyakinkan Sid.


"Benarkah?"


"Ya, sayang!" Sambil mengangguk penuh keyakinan.


"Baik, bunda! Tapi..." Sid menghentikan kata-katanya.


"Tapi apa, nak?" Dengan wajah bertanya-tanya.


"Sid mau adik perempuan, nda!"


"Doakan saja, Sid. Semoga Tuhan memberimu Adik perempuan." Sambil kembali memeluk Sid dan mengecup kening Sid penuh kasih sayang.


"Sekarang, Sid bermain di taman ya? Nek Asih akan menemani Sid! Bunda akan membuat cemilan untukmu dulu, ya?!"


"Ya, bunda." Sambil turun dari tempat tidur, lalu pergi keluar.


Aisha tersenyum sambil menatap Sid sampai menghilang.


Setelah itu Aisha segera bergegas menuju dapur untuk membuat cemilan untuk Sid.

__ADS_1


Selamat Malam All! Selamat Membaca, jangan lupa bawa Like,Coment dan Vote ya!!Terima kasih!!


__ADS_2