Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Membongkar Jati Diri


__ADS_3

Hari ini Deva berniat untuk jujur pada Aisha tentang siapa dirinya dan mengapa bisa ditakuti oleh banyak orang.


"Aisha" Deva memanggil Aisha yang sedang duduk di sofa yang berada di kamarnya.


"Ya, suamiku. Ada apa? Mengapa kau terlihat pucat seperti itu? Apa kau sedang sakit?" Tanya Aisha sambil membawa Deva duduk di ranjang.


"Tidak, aku hanya ingin menceritakan sesuatu padamu!" Sambil memegang tangan Aisha dengan erat.


Apa dia akan menceritakan semua yang ingin ku ketahui saat ini?


"Ceritakanlah." Ucap Aisha lirih.


"Tapi berjanjilah padaku, bahwa jika kau sudah mengetahui semuanya, kau tidak akan pergi dariku!" Dengan wajah yang sendu dan semakin mempererat genggaman tangannya pada tanga Aisha.


"Baiklah." Aisha menjawab dengan jantungnya yang sudah berdebar sangat kencang.


"Aisha, aku tidak akan menutupi apapun lagi dari dirimu. Tentang siapa diriku, dan semua yang kau lihat tempo hari. Maka dari itu dengarkanlah baik-baik!" Berhenti berbicara lalu menghela nafas panjang. "Aku adalah seorang Mafia,bahkan aku adalah pimpinannya!" Ucap Deva dengan suara bergetar dan kepala tertunduk.


Sinar keterkejutan yang amat sangat membayang di kedua bola mata Aisha. Wajahnya pias seketika, seolah yang barusan didengarnya bagaikan petir yang menyambar. Aisha menyeka dahinya yang tiba-tiba berpeluh.


"Kapan? Sejak kapan kau menjadi mafia?" Tanya Aisha dengan wajah tak percaya.


Deva masih tertunduk.


"Sejak kau meninggalkanku." Dengan suara pelan.


Aisha menghela nafas panjang. Ternyata dugaannya benar. Suaminya adalah seorang Mafia bahkan dialah pemimpinnya.


Aisha pun membalikkan badannya dan pergi menuju kamar tamu. Deva mengikui Aisha dibelakangnya.


"Aisha, apa kau marah dengan kenyataan ini?" Sambil mensejajarkan langkahnya dengan Aisha.


Aisha tidak menjawabnya. Air mata sudah membanjiri pipinya. Sampai di depan kamar tamu Aisha masuk dan hendak menutup pintunya, namun di tahan oleh Deva.


"Aisha, tolong jangan lakukan ini! Dulu aku melakukannya karena aku ingin mengisi hari-hariku saja!" Sambil memeluk Aisha.


"Tolong,untuk saat ini tinggalkan aku sendirian! Aku hanya ingin sendiri." Sambil menangis.


Deva pun mengalah dan mundur beberapa langkah dari pintu kamar tamu.

__ADS_1


Aisha menatap Deva dengan mata yang masih mengeluarkan air matanya. Aisha pun menutup pintu kamar dengan cukup keras.


Deva mengacak rambutnya kesal,frustasi dan merasa bodoh.


"Bagaimana aku bisa jadi seorang Mafia dan masuk ke Geng Mafia waktu itu? Dasar tidak berguna!" Umpatnya pada diri sendiri.


Di dalam kamar Aisha masih menangis di samping ranjang sambil terduduk.


Seperti bendungan yang tanggulnya jebol, air mata Aisha keluar dengan begitu derasnya.


"Bagaimana kau bisa menjadi bagian dari orang-orang seperti itu Deva?!" Lirihnya sambil terus menangis.


Tepat pada saat itu ponsel di sakunya berdering. Aisha mengambilnya lalu melihat layarnya. Tampak nama kakak sulungnya Aryan yang tertera di layar ponselnya. Aisha menghapus air matanya lalu mengangkat telepon itu.


"Hallo,kak! Ada apa meneleponku?" Sambil masih menghapus air matanya dengan tangan yang tidak memegang ponsel.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin memberitahumu bahwa ayah dan ibu menyuruhmu untuk datang ke rumah!" Jawab Aryan.


"Kapan?" Dengan suara yang serak.


"Jika bisa besok saja. Tapi Aisha, kenapa suaramu seperti itu? Apa kau sedang sakit? Jika sedang sakit besok tidak perlu datang,lain kali saja kau datang!" Dengan nada khawatir.


"Baiklah, sampai bertemu besok! Sudah dulu, aku masih banyak pekerjaan!" Sambungan telepon sudah terputus. Aisha menjatuhkan ponselnya ke lantai, lalu kembali menangis sekencang mungkin hingga ruangan kamar bergema.


Diluar kamar, Deva merasa gelisah karena Aisha tak kunjung keluar dari kamar. Kondisi ruangan yang senyap mengantarkan kesenduan. Ruang yang biasa berisik dengan tawa anaknya yang sedang bermain dengan Aisha mendadak senyap. Sid bermain di luar bersama Bi Asih,sehingga membuat seluruh ruangan di rumah itu menjadi sunyi dan mencekam membuat Deva tambah gelisah. Deva berjalan menuju pintu kamar dan menempelkan telinganya ke pintu itu. Masih senyap, seperti tidak ada orang didalamnya.


Deva menghembuskan nafas kasar. Kemudian Deva mencoba membuka pintu kamar.


Ceklek


Pintu terbuka, sedangkan yang membuka pintu hanya tertegun.


Pintunya tidak dikunci? Ya Tuhan, jika tau seperti ini kenapa aku tidak mencoba membukanya sedari tadi! Tapi mungkin dia akan marah, karena tadi dia bilang ingin sendiri. Sekarang aku akan berusaha meminta maaf pada Aisha!


Deva mengumpati dirinya sendiri di dalam hatinya, lalu masuk ke dalam kamar dan menghampiri Aisha yang masih menangis sambil terduduk di lantai di sisi ranjang.


"Aisha" sambil mendekap Aisha.


"Lepaskan Deva!" Dengan sedikit membentak dan mendorong tubuh Deva menjauh darinya.

__ADS_1


"Aisha, aku mohon jangan seperti ini! Aku minta maaf Aisha, semua ini karena aku ingin mengisi kekosongan saat kau jauh dariku! Aku melakukannya agar tidak ada wanita lain masuk dalam kehidupanku." Deva berusaha membujuk Aisha. "Aku mohon Aisha, tolong maafkan aku! Aku berjanji, aku bersumpah demi dirimu dan demi Sid anak kita, aku akan meninggalkan dunia Mafia!" Sambil memegang kedua pundak Aisha.


Aisha mulai memikirkan kata-kata Deva lalu menatap mata Deva. Aisha melihat kesungguhan di mata Deva dan berencana untuk memberikan maaf pada Deva.


"Deva, suamiku. Aku tidak ingin egois, aku tidak bisa meninggalkanmu hanya karena kenyataan seperti ini. Maka dari itu, aku mohon tepati janjimu! Keluarlah dari dunia Mafia, karena kau pasti tahu jika itu sangat berbahaya. Bahkan bukan hanya berbahaya untuk dirimu sendiri, bisa berbahaya juga untuk orang-orang yang berada di dekatmu!" Sambil menyatukan kedua tangannya memohon pada Deva.


Deva meraih kedua tangan Aisha dan menggenggamnya, lalu mengangguk dan memahami kata-kata yang di ucapkan Aisha.


Deva pun segera memeluk Aisha.


"Maafkan aku Aisha, ini aku lakukan demi dirimu." Sambil mendekap Aisha dengan sangat erat.


"Aku tahu, suamiku. Tapi jalan yang kau ambil itu salah, kau tahu bahwa itu jalan yang tidak baik! Jadi, aku minta kau menepati janji yang kau ucapkan tadi. Berhentilah jadi seorang Mafia!" Sambil melepaskan dekapan Deva dan menatap Deva dan sekali lagi meminta kesungguhan Deva.


"Ya, aku berjanji. Tapi aku mohon jangan pernah seperti tadi lagi! Aku tidak bisa melihatmu seperti itu!" Sambil mengelus rambut Aisha lalu mengecup keningnya dengan sangat lembut.


Dari arah pintu tiba-tiba Sid berlari menghampiri Aisha dan Deva.


"Sid! Kau kemari, Nak!" Seru Deva sambil berdiri dan menghampiri Sid yang sedang berlari ke arahnya dan Aisha, lalu menggendong Sid dan membawanya pada Aisha.


"Unaa.. Yayayayah.." Ucap Sid sambil bertepuk tangan dan tertawa entah karena apa.


"Aisha, kenapa Sid tertawa tanpa alasan seperti itu?" Sambil menyerahkan Sid pada Aisha.


"Aku tidak tahu!" Ketus Aisha.


"Kau kan ibunya,Aisha!" Balas Deva tak kalah ketusnya.


"Jika aku ibunya memang kenapa?" Sambil mendelik tajam pada Deva.


"Bukannya seorang ibu lebih tau isi hati anaknya?" Deva kembali bertanya sambil tersenyum jahil pada Aisha.


"Kau ini! Bukankah dia darah dagingmu juga?! Jadi seharusnya kau juga bisa tahu isi hatinya! Apalagi Sid juga seorang laki-laki sepertimu!" Ketus Aisha membuat Deva menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hehehe, kau benar juga!" Deva tersenyum kikuk mendengar jawaban dari Aisha yang memang ada benarnya juga dan tidak mampu membalas kata-kata Aisha lagi.


**Sebenarnya author belum selesai merevisi tapi karena ada yang nungguin up nya, akhirnya author up 1 episode buat malam ini...


Selamat membaca**!!!

__ADS_1


__ADS_2