
3 bulan sudah deva mengadopsi Fanny si gadis kecil anak william sang musuhnya.
Fanny sendiri kini sudah akrab dengan deva dan aisha serta orang-orang di rumah deva. Aisha juga sudah sembuh dari trauma nya. Aisha sangat menyayangi fanny saking sayangnya aisha selalu memanjakan fanny.
"Fanny,kemarilah" ucap deva sambil memainkan ponselnya.
"Iya paman" ucap fanny dengan suara cadel.
"mulai sekarang panggil aku ayah dan panggil dia bunda" ucap deva sambil menunjuk aisha yg duduk disisinya. "Dan bayi di perut bunda itu adalah adikmu. Mulai sekarang namamu adalah Fanny Deevasha Rafandi." kata deva.
"Iya ayah. Baiklah" ucap fanny dengan suara yg membuat deva gemas.
"Sekarang fanny main dengan bibi asih. Ayah harus bicara penting dengan bunda" kata deva sambil memberi kode pada bi asih untuk membawa fanny bermain di luar. Bi asih pun segera menggendong fanny keluar.
Sepeninggak bi asih aisha dan deva masih diam duduk di sofa. Deva mengelus-elus perut aisha.
"Jagoan ayah sebentar lagi keluar ya? jangan nakal ya di perut bunda!" ucap deva lalu mencium perut aisha yg sudah terlihat seperti balon yg akan meletus.
"Iya ayah juga tidak boleh nakal pada bunda!" jawab aisha membuat deva ternganga.
"Memangnya aku nakal bagaimana aisha?" tanya deva dengan wajah datar.
"Jangan pura-pura tidak tahu!" ketus aisha sambil beranjak berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya meninggalkan deva.
"Hei aku nakal seperti apa?" gumam deva bertanya pada dirinya sendiri. Lalu pergi menyusul aisha. "Tunggu aisha aku ingin bicara penting denganmu!" teriak deva sambil berlari kecil.
Deva pun sampai di kamar aisha dan duduk dengan nafas tersengal-sengal.
"Kau ingin bicara apa? cepat,jangan bercanda!" ketus aisha
"Tentang fanny" ucap deva dengan wajah serius.
"Memangnya kenapa dengan fanny?" tanya aisha segera duduk di sisi deva.
"Apa kau tulus menerimanya di keluarga kecil kita sebagai anak kita?" tanya deva sambil menggenggam tangan aisha dan dengan raut wajah yg serius.
"Apa aku pernah tidak tulus mencintaimu?" kata aisha bertanya balik pada deva.
"Tidak pernah,bahkan kau selalu tulus dalam hal apapun aisha" jawab deva dengan senyuman yg menghangatkan hati aisha.
"Jadi,kau pasti tahu jawaban dari pertanyaanmu itu kan?" tanya aisha.
"Aku tahu,tapi aku hanya ingin mendengarnya langsung dari mulutmu" kata deva seraya tersenyum kembali.
__ADS_1
"Baiklah,akan ku katakan. Deva suamiku yg sangat aku sayangi dan sangat aku cintai, aku tulus menerima fanny di kehidupan kita,jika kita tidak menerima fanny maka fanny harus kemana di umur yg masih kecil seperti itu? Dia tidak bisa jadi korban dendam orang tuanya. kita harus menolong fanny dan memberinya kasih sayang,jika tidak mentalnya bisa terganggu dan akan mempengaruhi kehidupannya di masa kecilnya ini. Lagipula fanny anak yg baik,dan dia bisa menemaniku seharian dirumah saat kau bekerja. Jadi aku benar-benar tulus menerimanya di kehidupan kita ini sebagai anak kita. Jangan pernah membuat fanny bersedih dengan asal-usulnya. Dia sudah menjadi anak kita dan akan kita besarkan penuh kasih sayang layaknya pada anak kandung kita ini yg akan lahir nanti" jelas aisha membuat deva terharu.
"Aisha,kau memang istri yg sangat baik. Terima kasih kau telah datang dalam kehidupanku dan membuatku beruntung memilikimu" puji deva lalu memeluknya.
"Sudah jadi kewajibanku untuk menuruti segala kata-katamu dengan ketulusan hati" ujar aisha membuat deva sangat bangga pada aisha.
"Ayo kita keluar,hari ini jadwal pengecekkan kandunganmu bukan?" tanya deva.
"Ah iya,aku lupa! untung saja kau ingat. Ayo!" ajak aisha
"Setelah ini kita jalan-jalan" ajak deva.
"Tentu,ajak fanny juga. Agar dia tidak bosan di rumah!" seru aisha.
Mereka bertigapun pergi menuju rumah sakit untuk memenuhi jadwal pemeriksaan kehamilan aisha.
Sesampainya di rumah sakit mereka menunggu terlebih dahulu di ruang tunggu karena dokter niken sedang sibuk memeriksa pasien yg lain.
Ditengah menunggu itu fanny mulai banyak bertanya,terkadang fanny menanyakan hal yg membuat deva tertawa seperti saat menanyakan kenapa perut aisha membesar .
"Una."(maksudnya bunda) ucap fanny memanggil aisha.
"ya sayang ada apa?" tanya aisha sambil mengelus rambut fanny.
"Fanny sayang,didalam perut bunda ada adik bayi" deva menjawab pertanyaan fanny.
Akan tetapi jawaban dari deva masih tidak membuat fanny berhenti bertanya dan malah menanyakan hal yg sangat lucu hingga membuat deva tertawa sampai terpingkal-pingkal.
"Ayah,kalo di elut una ada adik bayi altinya una makan bayi?" tanya fanny membuat deva tertawa.
"Tidak sayang" ucap deva sambil tertawa.
"Ayah napa tawa? una... jawab !" ucap fanny sambil cemberut karena deva tidak berhenti tertawa juga.
"Fanny sayang,kalau ingin tahu nanti tanya dokter ya? dokter bisa jawab pertanyaan fanny!" seru aisha sambil mendudukkan fanny di bangku tunggu.
Tak lama nama aisha pun di panggil. Ketiganya pun segera masuk.
"Hallo bu Aisha,kita bertemu lagi. Ayo kita langsung periksa bayinya." ucap dokter niken.
Aisha pun segera naik ke blankar dan dokter niken segera memeriksa aisha. Sedangkan Deva menggendong fanny sambil menyaksikan pemeriksaan itu.
"Wah bayinya sangat sehat,berat badannya 2,5 kg panjangnya sudah mencapai 48 cm" seru dokter niken"Detak jantungnya juga sangat normal!" lanjutnya.
__ADS_1
Setelah pemeriksaan selesai kini fanny mulai bertanya dengan pertanyaan yg sama saat tadi diluar,kali ini fanny bertanya pada dokter niken.
"Oktel,oktel!" panggil fanny pada dokter niken membuat dokter niken menoleh lalu berjongkok.
"Ya gadis kecil ada apa?" tanya dokter niken.
"Kata ayah una elutnya becal kalena ada adik bayi di dalamnya!" kata fanny membuat dokter niken tersenyum.
"Ya ayah benar sayang!" angguk dokter niken.
"altinya una makan adik bayi ya? makanya adik bayi ada di dalam elut una?" tanya fanny dengan ekspresi yg lucu membuat dokter niken tertawa geli.
"Bukan begitu gadis kecil,bundamu tidak makan adik bayi. Tapi bundamu membuatnya dengan ayahmu. tidak berapa lama lagi adik bayi akan keluar dari perut bundamu!" jelas dokter niken.
"buatnya pake apa oktel?" tanya fanny semakin penasaran membuat aisha melirik deva dan memberi isyarat untuk membuat fanny berhenti bertanya.
"Fanny sayang,ayo kita pulang. Bukankah kita akan jalan-jalan? nanti ayah belikan fanny es krim,mau kan?" tanya deva.
"Yeee,,,holeeee!!! ayo ayah cepat!" seru fanny antusias membuatnya lupa pertanyaannya pada dokter niken.
"Baik dokter,kami pamit dulu. Terima kasih!" pamit aisha sambil bersalaman dengan dokter niken.
"Ya bu aisha,sampai jumpa di pemeriksaan berikutnya." balas dokter niken.
Deva,Aisha dan Fanny pun segera keluar dari rumah sakit dan menuju parkiran untuk mencari mobil mereka.
Deva berencana membawa fanny dan Aisha ke mall untuk membeli perlengkapan bayi lagi serta perlengkapan fanny.
Karena jarak dari rumah sakit ke mall cukup jauh,hal itu membuat fanny lelah dan tertidur sepanjang perjalanan.
Pada saat sampai di mall aisha membangunkan fanny,merekapun segera memasuki mall dan mulai berbelanja semua yg dibutuhkan.
"una,una! fanny mau es krim!" seru fanny.
"Eh ayo suamiku kita makan es krim dulu. Kebetulan aku juga sudah kepanasan!" ajak aisha.
"Ayo!" ajak deva segera membawa Fanny dan Aisha menunu kedai es krim.
Merekapun menikmati es krim yg dipesannya sesuai selera masing-masing. Setelah itu kembali berbelanja kebutuhan hingga menjelang malam mereka baru pulang.
**Kebablasan ngetik deh author!!
Selamat membaca**!
__ADS_1