
Deva kembali terbangun pada tengah malam. Ia merasa ada sesuatu yg panas ditangannya. Deva membuka matanya lalu segera memeriksa sesuatu yg membuat tangannya panas,akan tetapi Deva tidak menemukan apapun ditangannya.
Kemudian deva mencoba memegang kening aisha dan tangan aisha.
"Ya tuhan! panas sekali" seru deva masih memegang kening aisha.
Deva pun segera keluar dari kamar dan turun ke dapur mengambil air hangat untuk mengompres aisha. Tak lama deva kembali ke kamar lalu segera mengompres aisha dengan handuk kecil.
Aisha tiba-tiba mengigau seperti orang yg sedang ketakutan.
"tidak! tidak! jangan siksa aku,ampunilah aku! jangan bunuh suamiku...ampunilah kami!" kata aisha.
"Sayang! sayang ada apa? bangunlah ini aku!" seru deva seraya menepuk-nepuk pipi aisha.
"sakit..sakit.. jangan pukul aku! kasihani aku dan bayiku!" kata aisha lagi membuat deva terkejut.
"Apa dia bilang? sakit?" gumam deva.
Deva pun merasa bingung karena aisha terus mengigau kesakitan.
"Apa yg telah terjadi padanya sebelum aku sampai di gudang itu? apa mereka telah...?" deva tidak menyelesaikan kalimatnya lalu langsung menyibakkan selimut yg menutupi tubuh aisha.
Deva terbelalak dan terkejut melihat kaki aisha yg dipenuhi lebam seperti seseorang yg sudah dipukul oleh benda keras. Deva kemudian memeriksa bagian tubuh aisha lainnya. Deva melihat tangan aisha,tangannya merah bekas tali yg mengikatnya. Deva kembali memeriksa tubuh aisha kemudian berpindah ke wajahnya dan menyibakkan rambut yg menutupi wajah aisha.
"Ya ampun Aisha! apa mereka menyiksamu?"pekik deva terkejut melihat bekas tamparan di pipi aisha dan melihat sudut bibir aisha yg lebam.
Deva merasa sangat panik dengan keadaan aisha,iapun memutuskan memanggil dokter pribadinya.
Deva menelepon reihan untuk segera membawa dokter pribadinya ke apartemen aisha.
"Hallo!" ucap deva setengah berteriak.
"Ya tuan,hallo. Ada apa?" tanya reihan dengan nada suara serak karena sedang tidur ketika di telepon deva.
"Cepat bawa dokter pribadiku ke apartemen aisha saat ini juga!" perintah deva tak berpikir terlebih dahulu bahwa ini sudah sangat malam.
"Apa?" ucap reihan terkejut dengan perintah deva.
"Jangan banyak tanya!" bentak deva lalu memutus teleponnya membuat reihan merutukinya kesal.
__ADS_1
Setengah jam kemudian tibalah reihan dengan membawa dokter ke apartemen aisha.
"Dokter,cepat periksa istriku!" perintah deva pada dokter itu dengan wajah datar.
"Baik tuan..hoammzz" ucap dokter itu sambil menguap dan memasang wajah malas.
Deva menatapnya tajam membuat dokter itu ketakutan. Deva kemudian menoleh pada reihan yg sedang bersandar di tembok dengan wajahnya yg terlihat mengantuk serta kantung mata yg hitam karena beberapa malam ini deva selalu memberinya tugas yg membuatnya begadang.
Dokter selesai memeriksa aisha lalu mengeluarkan salep dan dioleskan pada kaki,tangan,serta wajah aisha yg terluka dan lebam.
"Dokter,bagaimana keadaannya?" tanya deva dengan wajah datar.
"Dia mungkin mengalami trauma dan semua luka yg berada di tubuhnya itu karena pukulan benda keras,akan tetapi lebih baik esok anda membawanya ke rumah sakit saja. Aku juga sudah mengoleskan salep pada luka-lukanya agar cepat hilang.Dia juga demam tinggi akibat luka-luka di tubuhnya. " jelas dokter itu membuat deva terkejut. "Baiklah kalau begitu antarkan aku pulang" ucap dokter itu.
"Sebentar dokter,bagaimana keadaan bayi kami?" tanya deva dengan nada cemas.
"Oh bayi kalian,keadaannya baik-baik saja tidak ada tanda-tanda berbahaya pada kehamilannya. Akan tetapi lebih baik kau membawanya ke rumah sakit agar pemeriksaannya lebih lengkap" kata dokter itu memberi saran.
"Baiklah anda boleh pulang" ucap deva sambil memasang senyum tipis.
Deva melirik reihan lalu memberi isyarat padanya untuk mengantarkan dokter itu pulang.
"Mari dokter,saya akan mengantarkan anda pulang" kata reihan.
Deva kemudian teringat anak perempuan kecil yg dibawanya ke rumah ini.
'Dimana anak itu? kenapa aku tidak melihatnya?' batin deva.
Deva segera keluar dari kamar lalu mencari ajak itu.. Kemudian dia mendekati kamar bi asih,terdengar tangisan anak kecil disana.
"Aku ingin pulang..Ayaaahhh...huhuhu...hiks..hiks!" lirih anak itu.
"Ternyata dia disini! aku pikir dia kabur" gumam deva. lalu mengetuk pintu kamar bi asih.
Pintu pun dibuka oleh bi Asih. Terlihat anak itu sedang menangis di atas ranjang bi asih.
"Tuan,dari tadi dia menangis terus ingin pulang pada ayahnya" kata bi asih.
Deva pun tak berkata apa-apa hanya mengangguk pada bi asih lalu masuk ke kamarnya dan mendekati gadis kecil yg manis itu.
__ADS_1
"Paman,aku ingin pulang caja... aku ingin beltemu ayah.. tolong antalkan aku!..huuuu hiks ..hiks" ucap anak itu sambil terus menangis,membuat deva tersenyum geli karena anak itu belum bisa berbicara dengan benar sehingga memberi kesan lucu bagi siapapun yg mendengarnya berbicara.
"Tidak,kau akan tinggal disini bersamaku!" ucap deva lembut namun penuh penekanan.
"Tidak paman,aku ingin pulang. hiks...hiks" lirih anak itu.
"Dengar nak,ayahmu sudah tiada" tegas deva.
Anak itu semakin menangis dengan kencang membuat seluruh rumah bergema.
"Ayaaahhhh" teriak gadis kecil itu."paman jahat!" kata gadis itu.
Deva pun memberi isyarat pada bi asih untuk mengurus anak itu dan segera berlalu dari kamar itu menuju kamar aisha.
Sesampainya dikamar ia terkejut mendapati aisha sedang terduduk sambil memeluk lututnya di pinggir ranjang dengan tatapan mata yg ketakutan.
"Aisha,sedang apa kau disana?" tanya deva.
Aisha tak menjawab,ia hanya berdiri dan berlari memeluk deva lalu menangis.
"Sayang,ada apa? apa yg sebenarnya terjadi padamu?" tanya deva sambil memeluk aisha.
"tidak..tidak! tolong aku suamiku! dia akan memukulku dan ingin membunuh bayiku!" ucap aisha dengan tubuh yg bergetar dan ketakutan.
"Siapa maksudmu?" tanya deva bingung.
"Di..dia! dia yg mengikatku!" jawab aisha masih dengan suara bergetar.
Deva langsung mengetahui bahwa aisha ketakutan karena disiksa oleh william.
"Tenang saja sayang,itu tidak akan terjadi lagi. Tidak akan ada yg memukulmu lagi. Ayo istirahatlah,aku ada bersamamu untuk menjagamu!" ucap deva sambil menyeret aisha menuju ranjangnya dan menidurkannya. Tak lama aisha sudah tertidur begitu juga dengan deva.
Di kamar lain gadis kecil itu juga sudah tertidur di pelukan bi asih.
Sejak hari itu aisha menjadi trauma tinggal di apartemen dan kembali pulang ke rumah deva. Fanny si gadis kecil juga sudah tidak pernah menangis lagi ingin pulang ke ayahnya yg telah dihabisi deva.
Keduanya sudah terbangun pukul 9 pagi deva berencana libur ke kantornya untuk menemani aisha. Aisha masih dalam keadaan yg saka sering ketakutan. Deva rencananya akan membawa aisha ke rumah sakit untuk di periksa.
Sepanjang perjalanan aisha seperti mayat hidup,ia tidak berbicara sepatah katapun. Matanya memandang kosong ke depan. Deva yg melihatnya merasa bersalah karena urusan luar membuat aisha menjadi seperti ini.
__ADS_1
Di jok belakang terdapat bi Asih dan Fanny si gadis kecil yg sudah tidak menangis lagi.
Selamat membaca!!!