
Satu minggu dirawat di rumah sakit, Deva sudah kembali pulih dan akan segera menyusul Aisha ke London secara diam-diam. Semua itu ia lakukan bukan karena takut pada Yessi, tapi agar keberangkatannya ke London tidak tercium oleh Yessi. Selain menyusul Aisha, Deva juga ingin merencanakan cara untuk membuat Yessi jera atas perbuatannya.
"Tuan, kita berangkat sekarang?" Tanya Reihan yang melihat Deva masih berdiri saja di depan pesawat.
"Tunggu sebentar, Reihan aku ingin menelepon Aisha terlebih dahulu." Deva mengeluarkan ponselnya, lalu mencoba menelepon Aisha.
Namun Deva harus kecewa, karena teleponnya tidak di angkat oleh Aisha. Kemudian Deva mencoba untuk menelepon Aisha lagi, sebanyak 5 kali Deva mencoba menelepon Aisha. Akan tetapi tetap tidak di angkat juga.
"Ada apa ini? Apa kau marah padaku? Hingga kau tidak ingin mengangkat teleponku sama sekali?!" Gumam Deva dengan raut wajah kecewa.
Reihan yang melihat raut wajah kecewa Deva, merasa bingung.
"Tuan, ada apa?"
"Tidak ada, Reihan. Ayo kita berangkat saja sekarang!" Deva melangkahkan kakinya menaiki pesawat dengan wajah tanpa ekspresi sama sekali.
Ia masih bertanya-tanya mengapa Aisha tak mengangkat teleponnya.
Perasaanku tidak enak, apa ada yang terjadi pada mereka disana? Ah, tidak mungkin! Mereka aman di London, mana mungkin hal buruk terjadi pada mereka. Disana juga ada Aryan dan Dendi yang menjaganya!
Pesawat mulai terbang, tapi Deva masih memikirkan Aisha yang tidak mengangkat teleponnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tidak, Yessi! Lepaskan aku!"
"Aku tidak akan melepaskanmu, Aisha! Aku akan terus membuatmu menderita, aku sudah berhasil menghabisi Deva! Sekarang giliranmu dan keturunan-keturunanmu itu!" Yessi menyeringai sambil menarik tangan Aisha.
"Lepaskan dia! Atau kau akan menerima akibat dari perbuatanmu itu!" Teriak Aryan yang sudah tertangkap oleh anak buah Yessi. Bukan hanya Aryan, tapi Sid, Dendi, dan ibunya juga Ketiga saudara Aisha sudah tertangkap.
"Aryan, Aryan! Kau sudah tertangkap, tapi masih sempat mengancam! Bagaimana bisa kau memberi hukuman padaku, jika kau saja sudah tidak berdaya!" Sinis Yessi sambil berusaha mengikat Aisha di tiang rumah.
"Ikat mereka juga!" Anak buah Yessi segera mengikat mereka semua, tapi dengan cekatan, Dendi berhasil lolos dari anak buah Yessi dengan menendang bagian utamanya.
Dendi meraih pistol salah satu anak buah Yessi yang sudah ambruk dan mulai menembaki satu-persatu anak buah Yessi hingga tersisa 2 orang yang melindungi Yessi.
"Lihat, Yessi! Kau berani bermain-main dengan kami, maka kau juga akan terjebak dalam permainanmu sendiri!"
"Oh ya, kak Dendi? Kau sepertinya yakin sekali ya? Kita lihat, sampai dimana kau bisa bertahan dan menghadapiku?!" Ucap Yessi percaya diri.
__ADS_1
Yessi menodongkan pistolnya ke perut Aisha, sedangkan semua orang sudah berteriak takut jika Yessi menembakkan pistolnya pada perut Aisha.
"Tidak, Tidak Yessi! Tolong jangan lakukan itu pada Aisha dan bayinya!" Teriak ibunya Aisha histeris.
"Tidak, bibi! Tolong jangan sakiti bundaku!" Sid ikut berteriak histeris.
"Hahaha, terlambat! Kecuali kau melepaskan Deva untukku, Aisha!" Sinis Yessi sambil tertawa.
"Aku tidak akan pernah melepaskan Deva untuk wanita jahat dan licik seperti dirimu, Yessi!" Entah darimana keberanian itu datang, kali ini Aisha berani melawan Yessi.
"Wah, sudah berani melawan ya? Baiklah, Aisha! Kita lihat sampai dimana keberanianmu!" Tantang Yessi sambil memasukkan pistolnya kedalam saku.
"Ayo kita tinggalkan mereka dulu, kita lihat reaksi Deva saat datang dan melihat orang-orang kesayangannya ini menjadi tawanan kita lagi!" Yessi dan para anak buahnya segera pergi meninggalkan Aisha dan keluarganya yang masih terikat di kursi.
Namun, tanpa sadar pistol Yessi jatuh dari sakunya tepat di kaki Aisha.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perjalanan yang memakan waktu panjang membuat Deva lelah, hingga sesampainya di London ia tidak langsung ke mansionnya untuk segera menemui Aisha. Ia lebih memilih menginap terlebih dahulu di hotel bersama Reihan.
"Tuan, sebaiknya anda istirahat dulu."
Di kamar, Deva tidak bisa terpejam sedikitpun. Padahal seluruh tubuhnya terasa lelah dan sakit, tapi pikirannya terus melayang pada Aisha. Hatinya pun gelisah.
"Aisha, sedang apa kau disana? Kenapa tidak mengangkat teleponku?" Gumam Deva sambil meraih ponselnya yang diletakkannya di atas meja.
Deva mencoba menelepon Aisha kembali, kali ini diangkat tapi ia terkejut mendapati jawaban dengan suara yang berbeda.
"Hallo Adeva, apa kabar?"
"Kau?!" Deva tersentak, posisi yang semula berbaring kini ia langsung terduduk sambil membelalakkan matanya.
"Kau pikir aku percaya bahwa kau sudah tiada? Harusnya waktu itu aku tidak langsung pergi, tapi harusnya aku memastikanmu tiada atau tidak?!" Sinis Yessi di dalam telepon.
"Kau tidak akan bisa melihatku tiada, karena sebelum aku tiada kau dulu yang akan tiada!"
"Kau akan tiada saat melihat kejutan besar dariku untukmu besok!" Sambil tertawa sinis.
"Lihat saja, jika kau berani menyakiti Aishaku, aku akan memberimu hal yang tidak akan kau lupakan untukmu seumur hidup! Aku akan memberimu kehidupan yang sangat buruk, hingga kau akan lebih memilih mati daripada bertahan hidup seperti itu!" Ancam Deva.
__ADS_1
"Up to you!" Deva mematikan sambungan teleponnya, karena tidak ingin lagi mendengar ancaman-ancaman dari Yessi.
Sial! Ternyata dia tahu dimana Aisha saat ini, aku harus segera menemui Aisha! Eh, tidak! Dia memegang ponsel Aisha, apa dia sudah? Owh, Shit!
Amarah mulai menguasai hati dan pikiran Deva, tanpa memikirkan lagi lelah yang melanda tubuhnya, Deva membereskan barang-barangnya dan bergegas meninggalkan hotel.
Sebelum pergi, ia tak lupa mengabari Reihan terlebih dahulu lewat telepon.
"Hallo!" Jawab Reihan dengan suara serak khas bangun tidur.
"Aku harus pergi sekarang ke mansion, kau siapkan seluruh anak buah kita!"
"Heuh? Jika kau akan pergi mengapa berpamitan dan memberi tugas dulu padaku, bodoh!" Jawab Reihan dengan nada suara yang sama.
"Reihan! Siapa yang kau sebut bodoh?!" Bentak Deva dengan suara yang menggelegar di telinga Reihan.
Reihan terperanjat, ia hampir saja melempar ponselnya. Ia sangat terkejut dan takut.
"Eh, Tu.. Tuan, maaf! Aku tadi terbawa mimpi, jadi a.. Aku.!" Reihan menggigit bibir bawahnya, tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Deva di telepon.
"Siapkan anak buah kita semuanya, sekarang juga! Atau aku akan memotong gajimu!" Telepon langsung Deva matikan.
Deva memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, lalu segera pergi menuju rumah Aisha secepatnya.
Dalam perjalanan ia tak henti-hentinya memikirkan dan mengkhawatirkan Aisha.
Aisha, apa kau baik-baik saja saat ini? Tunggu aku, aku akan segera datang untuk menyelamatkanmu!
Deva memukul setirnya, lalu menambah kecepatan mobilnya.
1 jam barulah ia sampai di depan mansionnya, tapi saat hendak turun ia terkejut mendapati seluruh anak buah Yessi sedang berjaga di depan mansionnya. Iapun mengurungkan niatnya untuk turun, dan melajukan mobilnya kembali menuju tujuan yang belum tentu.
"Sial! Ternyata mereka sudah berada di mansionku! Sekarang aku harus memulai rencana itu, atau nyawa Aisha akan terancam dalam bahaya yang lebih besar!" Gumam Deva sambil melajukan mobilnya menuju sebuah gudang kosong yang tidak jauh dari mansionnya.
Tampak disana sudah ada Reihan dan anak buahnya yang kurang lebih berjumlah 50 orang sudah berbaris rapih menyambutnya.
**Kira-kira apa ya rencana Deva untuk menyelamatkan Aisha dari sanderaan Yessi?
Selamat Membaca jangan lupa Like Dan Votenya**!!!
__ADS_1