Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Kritis


__ADS_3

Dokter keluar dari ruang tindakan, dengan wajah panik.


"Dimana keluarga dari pasien?" Deva segera menghampiri dokter itu.


"Dokter, apa yang terjadi? Bagaimana keadaan istriku?" Tanya Deva dengan suara yang sudah sangat bergetar daj ketakutan.


"Keadaan pasien sangat lemah, kita harus segera melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru dari dadanya!" Jelas dokter itu.


"Lakukan dokter! Aku minta lakukan apapun yang terbaik untuk istriku! Tolong selamatkan istriku!"


"Baiklah, kami akan segera melakukan operasinya!" Deva mengangguk lemah, ia terduduk di lantai.


"Tapi Pak." Deva mendongakan kepalanya, lalu kembali berdiri dengaj kaki bergetar.


"Ada apa dokter?" Tanya Deva dengan perasaan yang sudah sangat khawatir.


"Selain peluru, kami juga harus segera mengeluarkan bayi kalian dengan cara operasi caesar. Apakah anda setuju?"


"Sudah aku bilang, lakukan apapun yang terbaik untuk istriku!" Bentak Deva sambil memegang kerah jas dokter itu.


"Baiklah, pak. Kami akan berusaha yang terbaik untuk istri anda." Dokter memasuki kembali ruang tindakan, tak lama pintu terbuka dan keluarlah Aisha yang tak sadarkan diri di atas blankar yang didorong oleh beberapa perawat.


"Aisha!" Deva mendekati Aisha, para perawat menghentikkan blankar itu untuk memberi kesempatan pada Deva menemui Aisha sebentar.


"Aisha, bangunlah! Kau pasti kuat, kau adalah wanita yang kuat! Bangunlah, demi aku, dan anak-anak kita!"


"Pak, maaf tapi kami harus segera melakukan operasi pada istri anda! Karena keadaannya semakin lemah!" Deva menjauh dan mempersilahkan para perawat itu membawa Aisha ke dalam ruang operasi.


Dari kejauhan, Deva melihat Aisha dengan tatapan sendu.


Aisha, bertahanlah! Aku bisa gila jika kehilanganmu lagi! Cukup 17 tahun kita terpisahkan. Kau sudah berjanji padaku hidup dan menua bersamaku, ingatlah janji suci kita saat pernikahan kita.


Bayang-bayang kebersamaannya dengan Aisha kembali terlintas di hati Deva, seakan dunia akan berakhir hari ini.


Begitu indahnya kebersamaan itu, kebersamaan keluarga kecil Deva. Dimana ada Dirinya, Aisha, Sid dan calon bayi kecil mereka yang selalu membuat Aisha meminta hal-hal yang tidak masuk akal pada Deva.


Deva tersenyum mengingat semua kekonyolannya pada Aisha, ia kembali tersenyum mengingat bagaimana manjanya Aisha pada dirinya yang selalu memeluknya dulu saat ia hendak berangkat ke kantor.

__ADS_1


Indah, sangat indah!


Air matanya keluar, tapi itu bukan tanda lemah. Itu adalah air mata tanda cinta, cintanya pada Aisha.


Dadanya mulai bergemuruh dan sesak, air mata mulai keluar deras dari matanya membanjiri pipinya. Tubuhnya berguncang-guncang, isakkan tangis mulai keluar dari mulutnya.


"Deva, suamiku sayang!" Tiba-tiba seseorang mengelus punggungnya dan membelai pipinya yang sudah banjir air mata.


Deva mendongakkan kepalanya, dihadapannya, ia benar-benar tak percaya sedang melihat sosok yang sedang ditangisinya itu sedang berjongkok dihadapnnya.


"Aisha!" Deva segera berdiri, begitu juga Aisha. Deva segera memeluk Aisha, lalu melepaskan pelukan itu.


"Aisha, kau?"


"Ya, kemarilah! Peluklah aku sepuasnya, ini adalah pelukan terakhirku untukmu. Setelah ini kau harus terbiasa tanpa kehadiranku, perjalanan hidupku telah selesai! Aku harus kembali, aku telah memenuhi kewajiban dan hakku sebagai istrimu dan ibu untuk anak-anak kita."


"Tidak, Aisha! Kau tidak akan kembali kemanapun! Kita akan kembali ke rumah kita, dimana ada aku, kau dan anak-anak kita!" Deva memandang sosok wanita dihadapannya yang begitu ia cintai tersebut.


Penampilannya sangat berbeda, dengan gaun putih yang panjang hingga menutupi mata kakinya, wajah yang sangat cerah dan bercahaya. sedang tersenyum padanya.


Deva meraih kedua tangan Aisha, dan menggenggam erat tangan itu di dadanya.


"Tidak, Aisha! Katakan padaku bahwa kau akan tetap bersamaku! Kau sudah berjanji padaku, bahwa kita akan membesarkan anak-anak kita bersama! Tetaplah bersamaku Aisha!"


"Kita masih tetap bersama, suamiku! Aku bahkan selalu bersamamu, disini! Di dalam hatimu, aku akan selalu ada untukmu!" Aisha menunjuk dada Deva.


"Tidak, Aisha! Kau akan bersamaku di dalam hatiku juga di kehidupanku!"


"Maaf sayang, tapi aku harus kembali!" Aisha mulai melangkah mundur, lalu perlahan menjauh dari Deva. Tangannya masih di genggam erat Deva.


Perlahan juga Aisha menghilang dari hadapannya, mula-mula menjadi sinar yang terang. Saat sinar itu menghilang, Aisha sudah tidak ada di hadapan Deva.


"Aishaaaa....!" Teriak Deva membuat suaranya bergema di ruangan itu.


"Deva, ada apa? Aisha masih didalam!" Seru Aryan yang baru selesai diobati oleh dokter. Saat melihat dan mendengar Deva berteriak, ia langsung menghampiri Deva.


Deva merasa kebingungan, jelas tadi Aisha berada di hadapannya. Beberapa menit ia terdiam, membuat Aryan bingung. Namun Deva sadar, dan menganggap yang baru saja terjadi hanya bayang-bayangnya saja.

__ADS_1


"Permisi, dimana orang tua dari seorang pasien anak yang tertembak?!" Ucap seorang dokter dari arah belakang Deva.


"Aku ayahnya, dokter! Bagaimana keadaannya?"


"Pak, kami sudah mengeluarkan pelurunya. Tapi pasien mengeluarkan banyak darah, golongan darahnya sangat langka, dan bank darah kami kehabisan golongan darah tersebut! Apakah disini ada yang golongan darahnya sama sedang pasien?"


"Darahnya sama dengan darahku!" Ucap Deva mengingat pada saat ada tes golongan darah di sekolah Sid, ia tahu bahwa Sid memiliki golongan darah yang sama dengannya.


"Baiklah, pak! Ayo cepat, kita harus segera mengambil darahmu!" Deva segera mengikuti dokter itu menuju ruang pendonoran darah, setelah selesai ia menemui Sid terlebih dahulu.


"Sid, kau pasti kuat! Maafkan ayah, yang membuatmu dalam keadaan seperti saat ini!" Deva mencium kening Sid dan mengusapnya lembut.


"A.. A... Ayah." Lirih Sid membuat Deva tersenyum.


"Ayah disini, kau sudah bangun? Cepatlah sembuh anak ayah, setelah kau dan bunda sembuh ayah berjanji akan menuruti semua keinginanmu!" Sid mengangguk lemah, lalu kembali terpejam.


"Sid, bangun! Dokter ada apa dengan anakku? Kenapa dia memejamkan matanya lagi?!" Deva kembali panik, sementara dokter yang sedari tadi berada di belakang Deva segera memeriksa Sid.


"Keadaannya masih lemah, karena tekanan darahnya masih sangat rendah. Tenang saja, setelah darahnya mulai normal kembali dia akan sadar." Deva menghela napas lega mendengar bahwa Sid akan baik-baik saja.


"Mohon anda biarkan pasien beristirahat, agar keadaannya cepat stabil!"


Deva mencium kening putranya sekali lagi, lalu mulai meninggalkan ruangan putranya untuk kembali ke depan ruang operasi dimana saat ini Aisha tengah berjuang antara hidup dan mati.


1 jam mereka menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruangan operasi dengan wajah lesu.


"Dokter, bagaimana istriku?" Deva segera memburu dokter itu dengan menanyakan keadaan Aisha.


"Maaf pak, kami berhasil mengeluarkan peluru dari dada istrimu. Tapi..." Ucapan Dokter itu terhenti.


"Kau harus memilih, menyelamatkan istrimu atau bayimu? Kami menemukan komplikasi pada kehamilannya, selain itu keadaan istrimu dan janinnya sangat lemah. Kami hanya bisa menyelamatkan satu diantara keduanya. Jadi tolong berikan keputusanmu secepatnya!"


Penjelasan dokter membuat Deva bak tersambar petir, ia bingung dengan pilihan yang diberikan dokter. Ia sangat menginginkan bayinya, tapi ia juga sangat mencintai Aisha.


**Wah gimana nih? Kira-kira Deva akan menyelamatkan Aisha atau bayi mereka? Tetap ikuti kisahnya, ya!!!


Selamat membaca jangan lupa like dan vote**!!!

__ADS_1


__ADS_2