
"Hallo, Reihan! Bagaimana?" Dengan hati yang sudah dikuasai emosi yang besar, Deva menanyakan Dendi pada Reihan.
"Tuan, pada saat kami sampai disana dia sudah pergi." Deva menghela napas kasar mendengar apa yang di katakan Reihan.
"Baiklah, tidak apa-apa. Cari tahu saja semua informasi tentang dia dan apa hubungannya dengan Aisha!" Lalu menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Reihan.
Deva kembali melajukan mobilnya menuju sebuah taman yang tidak jauh dari rumah sakit. Sampai di taman itu, Deva bermaksud untuk turun. Tapi niatnya diurungkan kembali pada saat Deva teringat pada Aisha yang sedang terbaring di rumah sakit.
Ck, sial! Istriku sedang terbaring di rumah sakit, kenapa aku malah jalan-jalan disini! Deva merutuki dirinya sendiri di dalam hati.
Dengan terburu-buru, Deva memutar balik mobilnya menuju Rumah sakit XX. Hingga di tengah perjalanan ia melihat seorang pria menghentikan mobilnya secara tiba-tiba.
"Apalagi ini?! Kurang ajar sekali orang itu, menghentikan mobil sembarangan!" Deva segera turun dari mobil, lalu berjalan menghampiri mobil yang berhenti di depannya.
"Hei, apa kau tidak tahu peraturan lalulintas?! Kenapa kau berhenti di tengah jalan sembarangan!" Teriak Deva sambil memukul-mukul pintu mobil itu dengan sangat keras.
Tidak ada yang turun, emosi Deva sudah sampai di puncaknya. Deva menendang pintu mobil itu dengan kaki kirinya, sehingga menimbulkan goresan di warna merah mulus mobil itu.
"Turun kau!" Bentak Deva sekali lagi.
Tapi masih tidak ada yang keluar, Deva menghela napas kasar. Ia mencoba meredam emosinya sekuat mungkin, ia menundukan tubuhnya mencoba mengintip ke dalam kaca mobil yang tertutup.
Matanya membelalak, ketika melihat sepasang wanita dan pria sedang melakukan hal yang tidak senonoh di jok belakang penumpang mobil.
Shit! Pantas saja tidak ada yang menyahut sedikitpun!
Deva menegakkan kembali badannya, apa yang dilihatnya baru saja membuat tubuhnya bergetar panas. Lalu sesuatu di bawahnya terasa menegang.
Sial! Sial! Dan selalu sial! Kenapa aku harus melihat adegan yang membuatku jadi seperti ini! Tuhan, aku telah berdosa melihatnya barusan! Gerutu Deva di dalam hatinya.
Deva pun kembali menuju mobilnya, sebelum memasuki mobilnya Deva melihat seorang petugas malam yang sedang patroli keliling.
"Pak! Kemarilah!" Petugas itu menoleh mendengar Deva yang memanggilnya.
"Ya, ada apa pak? Apa anda mengalami masalah?" Petugas itu bertanya pada Deva.
"Ya, pak! Saya mengalami masalah! Lihat itu, pak!" Sambil menunjuk ke mobil yang masih berhenti di depannya.
"Mobilnya menghalangi, aku jadi tidak bisa melajukan mobilku! Tolong kau urus mobil itu dan juga manusia yang di dalamnya!" Petugas itu mengangguk, lalu segera melangkah menuju mobil yang ditunjukkan Deva.
Deva masuk ke dalam mobilnya, lalu memperhatikan setiap gerak dari petugas itu. Berkali-kali petugas itu mengetuk kaca mobilnya sambil berteriak, tapi tidak ada yang menyahut atau keluar seorangpun.
Deva memutuskan untuk turun kembali dari mobilnya dan menghampiri petugas itu, Deva kembali mengintip dari kaca mobil itu.
Dilihatnya, pasangan itu masih asyik memadu kasih. Dunia serasa bagaikan milik mereka berdua.
"Pak, maaf tolong ambilkan sesuatu yang bisa membuka pintu mobil ini di dalam bagasi mobilku!" Petugas itu mengangguk, lalu segera berjalan menuju mobil Deva.
Tak lama petugas itu kembali membawa beberapa alat yang mungkin bisa digunakan untuk membuka pintu mobil yang berada di hadapan mereka saat ini. Lalu petugas itu menyodorkan sebuah alat pada Deva, Deva meraihnya dan mencoba membuka pintu mobil itu.
__ADS_1
"1... 2... 3...!" Ceklek.
Pada hitungan ketiga, pintu mobil itu terbuka. Sepasang orang di dalam itu, langsung menoleh menghentikkan aktivitas panasnya. Dengan wajah terkejut mereka segera menutupi tubuh masing-masing dengan pakaian yang berserakan.
"Shit!" Umpat Deva kesal.
"Kalian berani sekali berbuat seperti itu di jalanan! Apa kalian tidak malu?!" Petugas itu memarahi mereka.
"Ma.. Maaf pak! Kami hanya..." Ucap wanita yang berada di dalam mobil itu dengan suafa bergetar menahan malu.
"Kau menghalangi jalanku, waktuku jadi terbuang sia-sia!" Emosi Deva kembali naik.
"Ma.. Maaf tuan!" Wanita itu sudah lebih pucat, karena ketakutan.
"Maaf? Tidak ada maaf, kalian ikut saya sekarang! Dan pakai pakaian kalian terlebih dahulu!" Bentak petugas itu.
"Terima kasih, pak atas bantuan anda." Deva mengangguk.
"Cepat singkirkan mobil kalian!" Perintah Deva pada kedua pasangan itu.
Deva masuk ke mobilnya, lalu merebahkan diri sejenak sambil menunggu mobil yang menghalangi itu tidak menghalanginya lagi.
Sial, karena mereka badanku jadi panas begini! Dasar pasangan tidak tahu malu! Deva masih mengumpat kesal di dalam hatinya.
Setelah mobil di hadapannya melaju, Deva mulai melajukan mobilnya juga menuju ke rumah sakit.
30 menit perjalanan, akhirnya Deva sampai di rumah sakit. Ia segera turun dan masuk ke rumah sakit itu.
"Aku ada sedikit urusan dengan orang yang membuat Aisha jadi berada di rumah sakit ini." Jawab Deva.
"Lalu bagaimana? Apa sudah selesai?" Kali ini pak Lucas yang baru keluar dari ruangan Aisha bertanya pada Deva.
"Belum, pak. Sebelum pengawalku sampai disana dia sudah pergi. Tapi orang-orangku sedang mencari informasi tentang dia."
"Baiklah, semoga cepat di temukan. Kau temuilah Aisha, dia sedang menunggumu dari tadi!" Perintah pak Lucas sambil menunjuk ruangan yang di tempati Aisha.
Deva mengangguk, lalu segera menuju ruangan itu.
"Darimana saja?" Tanya Aisha saat melihat Deva masuk ke ruangannya.
"Mencari orang yang mendorongmu sampai jatuh tadi."
"Kenapa lama sekali?" Aisha kembali bertanya.
Deva menghela napas kasar, lalu menghampiri Aisha dan duduk di dekat kaki Aisha.
"Di perjalanan ada mobil yang tiba-tiba berhenti dan menghalangi mobilku."
"Apa? Lalu kau baik-baik saja?" Aisha bangun, lalu memeriksa wajah dan tangan Deva dengan wajah panik.
__ADS_1
"Aisha, cukup! Sudah!" Deva memegang tangan Aisha.
"Aku hanya memeriksamu, aku takut kau kenapa-kenapa!"
"Tidak, aku baik-baik saja. Lagipula mobilnya itu berhenti karena..." Deva menghentikan ucapannya.
"Karena apa?" Aisha mulai penasaran.
"Didalamnya ternyata ada pasangan yang sedang berbuat yang tidak baik." Ucap Deva sambil membayangkan apa yang dilihatnya tadi.
"Hah?!" Aisha terkejut.
"Ya, dan aku mencoba mengetuk pintu mobilnya tapi tidak ada yang membukanya. Untung saja ada petugas malam yang sedang berkeliling, lau kami membukanya dengan alat-alat yang ada di mobilku." Deva menceritakan kejadian tadi dengan wajah yang datar.
"Dan kau tahu, Aisha? Melihat itu membuatku jadi tegang!"
"Tegang bagaimana?" Aisha mengerutkan dahinya.
"Sudahlah, jangan di bahas! Atau aku tidak bisa menahannya dan akan segera melahapmu disini!" Lalu Deva terkekeh.
"Kau ini! Pikiranmu selalu memikirkan hal itu saja!" Ketus Aisha.
"Sudahlah sayang, bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Deva sambil tertawa.
"Dokter bilang aku baik-baik saja, dan tadi dia melakukan USG padaku. Sebentar lagi hasilnya akan keluar."
"Syukurlah jika tidak terjadi apa-apa padamu! Aku sudah sangat gila saat melihatmu kesakitan dan terduduk di tanah tadi!" Ucap Deva, lalu mengecup kening Aisha.
"Tapi Aisha, siapa laki-laki yang tadi mendorongmu hingga terjatuh itu?"
Deg...
"Di.. Dia.." Aisha tergagap tak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Deva.
"Dia siapa?" Deva kembali bertanya.
Aisha mematung, dihadapannya Deva menanti jawaban dari Aisha.
"Hmm.. Sudahlah, tidak apa-apa jika kau tidak ingin menjawab sekarang. Tapi jika kita sudah pulang kau harus memberitahu aku! Dan..."
Aisha bernapas lega, lalu mengerutkan dahinya pada saat Deva tersenyum nakal.
"Dan apa?" Tanya Aisha pura-pura tidak mengerti.
"Nanti kau akan tahu." Deva terkekeh.
**Bersambung...
Gak bosan author mengingatkan kalian buat jangan lupa tinggalkan Like,coment dan Vote ya...
__ADS_1
Karya author udah kontrak loh, jadi bantu Author yaa...
Terima kasih, selamat membaca**!!!