Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Ulang Tahun Tak Terlupakan


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu Deva, akan tetapi tidak bagi Aisha dan Sid. Mereka sedari pagi mengacuhkan Deva, hingga Deva berangkat ke kantorpun mereka bersikap biasa saja pada Deva.


"Aku berangkat, Aisha!" Aisha mengangguk, lalu mencium punggung tangan Deva.


"Kenapa masih berdiri seperti patung disana, yah?" Sahut Sid yang baru turun dari tangga.


"Eh, tidak, ayah pikir kau akan berangkat bersama ayah ke sekolah?!"


"Tidak, yah. Hari ini aku libur, karena guru-guru sedang rapat." Jawab Sid sambil menoleh pada Aisha.


"Baiklah, ayah berangkat. Jaga bunda dan adikmu baik-baik!" Sid mengangguk.


Deva berangkat dengan diliputi rasa kecewa di hatinya, bagaimana bisa istri dan anaknya seperti tidak peduli bahwa ini adalah hari ulang tahunnya.


Apa mereka lupa? Jahat sekali! Biasanya Aisha selalu mengingatnya, dan jadi yang pertama memberi ucapan selamat ulang tahun untukku. Ah sudahlah, seperti anak kecil saja!


Deva memasuki mobilnya, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan ia tak henti-hentinya memikirkan Aisha dan Sid yang sikapnya seperti tidak ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya.


"Ah, seperti anak kecil saja! Aku ini sudah tua! Kenapa harus memikirkan masalah ulang tahun segala?!" Rutuk Deva pada dirinya sendiri. Deva menambah kecepatan mobilnya, hingga ia sampai di kantor secepat mungkin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah Aisha dan Sid tertawa terbahak-bahak, mereka menertawakan sikap Deva saat akan berangkat ke kantor.


"Sid, kau lihat ayahmu? Dia sepertinya sedih!"


"Iya, bunda. Wajah ayah lucu sekali tadi!" Timpal Sid sambil tertawa.


"Sid, kau siapkan segalanya bersama para pelayan dan Bi Asih ya? Bunda ingin membungkus kado yang semalam dulu!" Tanpa menunggu jawaban dari Sid, Aisha segera berjalan menuju kamarnya.


Sampai di kamar, Aisha mengeluarkan kotak berisi jam tangan yang waktu itu di belinya.


"Maaf suamiku, aku hanya berpura-pura. Dan semoga ini kado yang akan membuatmu selalu mengingatku seumur hidupmu." Gumam Aisha sambil menatap pada jam tangan itu.


Aisha mengeluarkan secarik kertas dan sebuah bolpoin dari dalam laci, lalu menuliskan sesuatu di kertas itu.


*Dear, suamiku.


Selamat ulang tahun, semoga umurmu panjang dan sehat selalu tentunya. Maaf, aku hanya bisa memberikan ini untuk hadiah ulang tahunmu. Semoga kau menyukainya. Jika kau melihat jam tangan ini, kau pasti akan tau alasan mengapa aku memberikan hadiah jam tangan ini untukmu.


Aisha*


Aisha membaca kembali tulisannya, ia tersenyum dan kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan Deva, ia mengingat bayang-bayang masa kecilnya saat bermain dengan Deva.


"Hanya kau, dan selalu kau, tidak akan tergantikan." Lirih Aisha sambil memeluk jam tangan itu. Kemudian Aisha menyimpan kembali jam tangan itu di atas meja riasnya, dan keluar dari kamar untuk membantu persiapan pesta ulang tahun Deva.

__ADS_1


"Bunda, kenapa lama sekali? Ayo bantu aku!" Sid menarik tangan Aisha dan membawanya duduk di sofa.


"Apa yang harus bunda bantu?" Tanya Aisha sambil merangkul Sid.


Sid menyerahkan sebungkus balon, Aisha pun terbelalak melihatnya.


"Apa maksudmu bunda harus meniup semua balon ini?!" Tanya Aisha tak percaya, Sid mengangguk. "Anakku sayang, lebih baik bunda mendekorasi seluruh ruangan ini daripada harus berurusa dengan balon-balon ini!"


Sid tergelak, ia tahu ibunya itu takut dengan balon.


"Baiklah, bunda! Tolong bungkuskan kadoku saja!" Ucap Sid sambil terkekeh, Aisha bernapas lega.


Malam harinya, seluruh persiapan sudah selesai. Bahkan mereka sudah menyiapkan drama untuk mengejutkan Deva.


"Sid, dan yang lain bersiaplah di posisi masing-masing! Aku akan meneleponnya dulu!" Semuanya mengangguk, dan mulai mengatur posisi masing-masing.


Aisha mengeluarkan ponselnya, lalu menelepon Deva.


"Hallo, Aisha? Ada apa?" Sahut Deva dari telepon.


"Deva! Tolong, tolong aku!" Seru Aisha dengan suara histeris.


"Apa? Ada apa Aisha? Apa terjadi sesuatu?" Terdengar suara Deva mulai panik.


"Cepatlah pulang sekarang juga! Ini sangat darurat!" Aisha mematikan teleponnya dan segera bersembunyi.


Terdengar suara pintu terbuka, dan suara seseorang masuk ke dalam.


"Aisha, dimana kau? Aku sudah pulang!" Teriak Deva sambil berjalan mencari Aisha. Sedangkan Aisha mulai mengeluarkan tangisannya.


"Aisha? Kau kah itu? Ada apa? Kenapa kau menangis?!" Tampak suara Deva mulai panik.


Deva kesana kemari, berusaha untuk menghidupkan lampu ruangan. Tapi nihil, ia kebingungan.


Sementara Aisha terus mengeluarkan tangisnya, Deva mendekati suara tangisan itu. Dan meraba-raba, sampai ia begitu dekat lalu mendekap Aisha yang sedang pura-pura menangis itu.


"Aisha, ada apa? Kenapa kau menangis?"


"A.. Aku, hiks... Sid!"


"Ada apa dengan anak kita? Apa terjadi sesuatu padanya?" Deva kembali panik.


"Di... Dia, itu, Di.. Dia." Deva semakin panik, ia pun segera mengambil ponselnya dan menghidupkan lampu ponselnya untuk menerangi ruangan. Deva berlari menaiki anak tangga menuju ke kamar Sid.


"Sid, kau dimana? Apa terjadi sesuatu padamu?" Teriak Deva sambil menghidupkan lampu kamar Sid.

__ADS_1


Tidak ada siapa-siapa di kamar Sid. Deva turun kembali kebawah, lalu tercengang ketika melihat apa yang saat ini dilihatnya.


"SELAMAT ULANG TAHUN!!!" Seru semua orang sambil tersenyum padanya.


Deva menghela napas panjang, yang tadinya ia sudah panik sekarang berubah kesal, bagaimana tidak kesal? Istri dan anaknya sendiri sudah membuatnya panik setengah mati.


"Aishaaaaa!" Teriak Deva sambil memelototi Aisha. Aisha terkekeh, dan segera menghampiri Deva lalu memeluknya.


"Selamat ulang tahun, suamiku. Aku mencintaimu, maaf membuatmu panik!" Deva mencubit pipi Aisha, dan menciumnya gemas.


"Kau ini! Lihat itu, banyak orang disana!" Protes Aisha sambil menunjuk orang-orang yang sedang menatap mereka. Tampak keluarga Aisha juga berada disana.


"Selamat ulang tahun, ayah! Aku menyayangi ayah." Ucap Sid memberi selamat pada ayahnya sambil menghampirinya dan menyerahkan sebuah kotak berisi kado padanya.


"Terima kasih anakku, terima kasih banyak." Sid meraih kotak kado itu, lalu meletakannya di atas meja, setelah itu memeluk putra sulungnya itu penuh cinta.


"Mana kadomu, Aisha?" Sambil merangkul istri dan anaknya itu.


"Tunggu, aku akan mengambilnya dikamar kita!" Aisha berjalan menuju kamarnya, dan memasuki kamarnya.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara barang pecah disusul teriakan Aisha.


"Devaaaaaaa...." Deva menoleh ke arah kamar, dan menatap semua orang. "Tolooooonnnnggg.... Deva, tolong aku!" Kembali terdengar teriakan Aisha dari dalam.


Tanpa berkata-kata, Deva segera berlari menuju kamarnya, diikuti semua orang yang berada disana.


"Aisha, kau dimana? Jangan bercanda lagi!" Teriak Deva sambil memasuki kamar, namun tak kunjung ada jawaban dari sang pemilik suara yang dicarinya.


Dari luar kamar kini terdengar teriakan, bukan teriakan Aisha. Akan tetapi teriakan Sid.


"Ayaaahhhh, tolong......!" Semua orang menoleh, dan langsung keluar dari kamar.


"Sid!" Seru Deva saat melihat Sid sudah di sandera seorang pria yang wajahnya tertutup.


Pria itu mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah suara yang berisi rekaman.


"Hallo, Adeva! Apa kabar? Kau masih mengingatku? Tentu saja ingat, bukan?! Selamat menikmati kue ulang tahunmu, tenang saja aku juga sudah menyiapkan kado untukmu! Kado yang akan selalu kau ingat, jadikanlah malam ulang tahunmu ini adalah ulang tahun yang tak akan terlupakan seumur hidupmu! Tenang saja, Aisha dan Sid akan baik-baik saja bersamaku. Selama kau tidak melibatkan penjaga jeruji besi! Selamat ulang tahun Slaven Adeva Rafandi!" Pria itu memasukan kembali ponselnya pada sakunya.


Deva berusaha mengambil Sid dari tangan pria itu, tapi gagal karena pria itu mengeluarkan pisau dan meletakkan pisau itu di leher Sid.


"Datanglah, atau istri dan anakmu akan berakhir!" Ancam pria itu sambil berjalan mundur membawa Sid pergi.


Tanpa pikir panjang Deva menyusulnya, namun terhalang karena tiba-tiba ada asap yang memenuhi ruangan itu.


**Wah Aisha dan Sid diculik, akankah Deva menemukan istri dan anaknya? Kira-kira siapa yang menculik mereka ya??? Ikuti terus kisahnya yaa..

__ADS_1


Jangan lupa Like, Coment dan Vote. Selamat membaca**!!!


__ADS_2