Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Parkir Pagi Hari


__ADS_3

Pagi itu, di ranjang yang besar sepasang suami istri seperti sedang di mabuk cinta, sesekali mereka tertawa cekikikan.


"Aisha, kau tahu? Kau memang menggemaskan sedari kecil!" Ucap Deva sambil mencubit pipi Aisha.


"Kau juga menyebalkan sedari kecil!" Aisha membalas dengan meledek Deva.


"Kau ini, kau tidak adil! Aku memujimu, tapi kau membalasku dengan ledekan!" Rajuk Deva sambil memanyunkan bibirnya membentuk kerucut.


Plaakk


Aisha menepuk ************ Deva, hingga Deva merasa tubuhnya mulai memanas dan merasakan juniornya sudah mulai berdiri. Deva pun menatap Aisha dengan tatapan ingin menerkam, sementara Aisha tidak mengerti dengan reaksi Deva padanya.


"Kenapa? Kenapa kau memandangku seperti itu?" Sambil mengerutkan dahinya.


"Aisha, sebelumnya aku bisa menahan. Tapi..."


"Tapi apa aku tidak mengerti?" Aisha semakin bingung.


Deva menyosorkan wajahnya ke leher Aisha, lalu mencium lehernya serta menggigitnya, meninggalkan tanda kepemilikan di leher Aisha yang putih mulus nyaris tanpa lecet sedikitpun.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Aisha sambil memegang kepala Deva yang masih berada di dekat lehernya.


"Aisha, apa aku boleh parkir sekarang? Aku sudah tidak kuat!" Aisha akhirnya mengerti apa yang dimaksud suaminya itu.


"A.. Apa? Tapi ini pagi hari!"


"Memangnya kenapa jika pagi hari? Bukankah kita bebas melakukan kapanpun kita mau?" Tanya Deva dengan suara parau, lalu kembali mencium leher Aisha.


Deva terus menghujani Aisha dengan ciumannya, hingga Aisha ikut memanas dan membalas perlakuan Deva.


Kali ini ciuman Deva berpindah ke atas, menciumi wajah Aisha lalu berakhir dengan ciuman liar di bibir, dengan waktu yang lama mereka saling bertukar ciuman. Deva menghentikan ciumannya saat Aisha sudah hampir kehabisan napas.


"Bernapas, Aisha!" Bisik Deva pelan di telinga Aisha.


"Hiiya, hiiya." Balas Aisha dengan nafas tersengal-sengal.


"Hahahaha!" Deva terbahak, mendengar suara Aisha.

__ADS_1


"Kau malah mentertawakan aku!" Protes Aisha.


"Husss! Sudah, kau sudah siap?" Aisha mengangguk, lalu kali ini ia yang memulai permainan lebih dulu.


Deva mulai membidik sasarannya, hingga 30 menit kemudian Aisha sudah kelelahan, tetapi tidak dengan Deva. Ia masih belum lelah. Deva tau, bahwa saat ini ia harus membatasi permainannya tidak seperti dulu lagi. Hal ini di karenakan keadaan Aisha yang masih berbahaya dan rentan.


Aisha terlelap di samping Deva, sedangkan Deva memilih untuk mendinginkan tubuhnya yang masih belum dingin di kamar mandi.


Setelah merasa sudah normal kembali, Deva keluar dari kamar mandi. Dilihatnya istrinya masih tertidur nyenyak di bawah selimut.


Deva kembali memasuki kamar mandi, lalu membersihkan dirinya dan keluar memasuki ruang ganti pakaian. Ia memakai pakaian kerjanya lalu kembali ke kamar.


Deva menghampiri Aisha lebih dulu, sebelum berencana pergi ke kantor.


"Sayang, aku pergi dulu. Jangan lupa makan dan minum obatnya! Terima kasih untuk pagi ini!" Bisik Deva di teling Aisha.


Setelah itu, Deva bergegas pergi ke kantor. Sebelum ia keluar dari rumah, Reihan sudah lebih dulu datang ke rumahnya dan berjalan menghampirinya.


"Tuan, aku sudah mendapatkan informasi tentang laki-laki yang waktu itu membuat nona Aisha terjatuh."


"Aku sudah tau dia siapa, namanya Dendi bukan? Dan dia mantan kekasih Aisha sewaktu kuliah." Dengan wajah datar.


"Apa itu?" Kali ini Deva mengernyitkan dahinya dengan wajah meminta Reihan untuk segera memberi penjelasan.


"Kita pemilik saham terbesar di perusahaannya, Adiwijaya Group. Tuan ingat, waktu kita di London? Ada sebuah perusahaan yang hampir bangkrut, karena manager nya yang berkhianat! Anak dari CEO perusahaan itu menemui kita meminta anda membeli saham disana." Reihan menjelaskan dengan detail.


Deva tersenyum, lalu menyeringai licik.


"Segera atur pertemuan dengan Dendi!" Perintah Deva masih dengan seringai liciknya.


"Baik, tuan. Jika begitu, mari tuan! Hari ini anda ada pertemuan penting dengan CEO perusahaan World Music jam 10 pagi."


Deva memasuki mobilnya, kali ini yang mengendarai mobilnya adalah Reihan. Sepanjang perjalanan Deva tak berhenti menyeringai, sambil memikirkan sesuatu di otaknya untuk membalas perlakuan Dendi pada Aisha.


...****************...


"Pak, besok CEO dari SAR Entertainment Group ingin bertemu dengan anda jam 9 pagi! Apa anda ingin menerima pertemuan ini?" Tanya seorang wanita pada Dendi yang sedang duduk di kursi kerja ruangannya.

__ADS_1


"Ya, terima saja. Katakan padanya aku akan datang."


"Baik, pak." Lalu wanita itu menuliskan sesuatu di agenda yang di pegangnya.


"Apa ada lagi? Jika tidak ada kau boleh pergi!"


"Tidak ada, pak. Baiklah!" Sambil membungkuk sebentar lalu meninggalkan Dendi yang sudah menyandarkan tubuhnya di kepala kursi.


Dendi memejamkan matanya, larut dala pikirannya sendiri.


Aisha, aku masih tidak percaya bahwa kau sudah menikah! Apa alasanmu menerima laki-laki lain? Apa kau dijodohkan dan terpaksa menerimanya?


Lalu Dendi membuka matanya, dan berdiri, lalu berjalan menuju ke dekat jendela. Dari sana ia bisa melihat pemandangan jalanan kota Jakarta yang tidak jauh dari kemacetan.


"Aku pikir, kau akan menungguku dan saat aku kembali sekarang kau akan menjadi orang pertama yang senang dengan kedatanganku selain orang tuaku. Tapi aku tidak menyangka bahwa saat aku datang, kau menyambutku dengan memberi luka pada hatiku. Apa alasanmu, Aisha?" Dendi bergumam sendiri.


"Karena Aisha mencintai orang yang saat ini menjadi suaminya!" Ucap seseorang dari arah belakang Dendi tiba-tiba dengan suara lantang.


Dendi menoleh, lalu terkejut melihat Rhea sudah berada di belakangnya.


"Rhe.. Rhea? Kau ada disini?!"


"Ya, aku disini. Aku ingin memberitahu sekaligus mengingatkan hal penting padamu!" Sinis Rhea pada Dendi.


"Ada apa?" Tanya Dendi dengan suara pelan.


"Aisha sudah menikah, dia sudah punya seorang anak yang sudah berumur 5 tahun. Dan juga anak yang masih berada di rahimnya yang baru berumur 3 bulan. Jadi, berhentilah memikirkan Aisha! Jangan pernah mengganggunya lagi! Dia sudah bahagia, dia mencintai bahkan sangat mencintai laki-laki yang saat ini menjadi suaminya!" Jelas Rhea dengan kata-kata penuh penekanan.


"Apa maksudmu? Bagaimana bisa dia mencintai pria itu?" Tanya Dendi tak percaya.


"Suaminya adalah teman masa kecilnya, laki-laki yang Aisha cintai sedari kecil! Kau itu tidak punya kedudukan di hati Aisha! Bahkan kau dulu bisa dekat dengannya, hanya karena Aisha hilang ingatan! Jadi sekarang ini berhentilah memikirkan bahwa Aisha tidak bahagia! Dia sudah bahagia! Sangat bahagia." Tegas Rhea, lalu keluar dari ruangan Dendi dan membanting pintunya dengan sangat keras.


Dendi tertegun mendengar penjelasan Rhea tentang Aisha, lututnya terasa lemas, kakinya bergetar. Meskipun dia seorang laki-laki, tapi dia juga manusia. Memiliki hati yang bisa merasakan kesedihan, kekecewaan dan sakit jika seperti ini. Laki-laki juga manusia, yang memiliki mata yang juga bisa mengeluarkan air mata jika merasakan kesedihan yang teramat besar.


Dendi tak mampu lagi berdiri, ia terduduk di lantai ruangannya dengan lutut yang menahan tubuhnya ke lantai. Matanya mengeluarkan air mata, air mata kesedihan dan kekecewaan.


"Jadi itu memang benar? Kau hanya menerimaku karena kau waktu itu tidak bisa mengingat apapun, Aisha?" Lirih Dendi dengan penuh kekecewaan.

__ADS_1


Tadinya gak akan up tapi takut di kasih surat cinta sama admin...


Please, kerja samanya ya buat para readers. Like, coment dan vote...Selamat membaca!!!


__ADS_2