
Pagi-pagi sekali kepanikan sudah melanda Deva, Aisha, Sid, Aryan dan juga Dendi. Bagaimana tidak, pada saat mereka terbangun villa yang mereka tempati sudah di kepung oleh Yessi dan para anak buahnya.
Suara tembakan pistol saling bersahutan, kaca villa yang di tempati Deva sudah pecah berkeping-keping akibat terkena tembakan pistol.
"Keluarlah kalian!" Teriak Yessi dari luar.
Sedangkan di dalam villa, Aisha sudah sangat ketakutan.
"Suamiku, bagaimana ini? Mereka pasti akan menangkap kita, lakukanlah sesuatu!" Kata Aisha dengan suara bergetar dan tangis yang sudah pecah.
"Jangan khawatir, anak buahku akan segera datang dan menyelesaikan semua ini!" Deva mencoba menenangkan Aisha, sedangkan Dendi dan Aryan sudah berada di luar untuk menghadapi Yessi dan anak buahnya.
Deva membawa Aisha dan Sid keluar dari pintu belakang, mereka mengendap-endap agar tak diketahui oleh Yessi dan anak buahnya itu.
"Tuan, kami sudah datang! Anda cepat pergilah dari sini!" Sahut Reihan tiba-tiba dari belakang Deva.
"Reihan, mana Ridan?" Bukannya pergi secepatnya, Deva malah menanyakan Ridan.
"Aku disini tuan, ayo cepat! Mereka sudah tahu bahwa kita ada disini!" Seru Ridan sambil memasang mata waspadanya.
"Ridan, kau bawa Aisha dan Sid pergi dari sini! Aku akan menghadapi mereka langsung!" Perintah Deva yang membuat Aisha sangat terkejut.
"Apa maksudmu, suamiku? Tidak! Jangan lakukan ini, berbahaya!" Protes Aisha sambil menggenggam lengan Deva.
"Aisha, pergilah! Aku mohon, jangan khawatir aku akan menyusulmu nanti!" Ucap Deva dengan nada meyakinkan.
"Tidak, aku akan tetap berada disini sampai kau selesai!" Tegas Aisha.
"Aisha, berapa kali aku bilang? Jangan bertindak gegabah dan keras kepala! Pergilah, bawa Sid pergi sejauh mungkin dari sini!"
Dengan terpaksa, Aisha mengangguk. Deva menyerahkan Sid yang sedari tadi di gendongnya pada Ridan.
"Ayo, Aisha aku akan mengantarmu ke mobil!" Deva menarik tangan Aisha menuju ke arah dimana mobil sudah disiapkan.
Sesampainya di mobil, Deva memeluk Aisha dan Sid terlebih dahulu sebelum kembali ke villa yang sudah di kepung Yessi tersebut.
"Aisha, jika aku tidak selamat tolong jaga dirimu baik-baik. Pergilah ke London dengan keluargamu, menetaplah disana!" Lalu mencium kening Aisha.
"Tidak, kau tidak boleh berkata seperti itu! Aku yakin kau pasti selamat!" Lirih Aisha sambil memeluk erat Deva.
"Ridan, aku titipkan anak dan istriku padamu! Siapkanlah penerbangan ke London untuk mereka! Jika aku tidak selamat, tolong jaga mereka seumur hidupmu!" Deva menepuk pundak Ridan, sementara Ridan tidak sanggup berkata-kata lagi.
__ADS_1
"Cepat pergilah!" Aisha dan Sid memasuki mobil, sementara Ridan masih berdiri di hadapan Deva dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tuan, kau saja yang pergi bersama nona!" Deva tersenyum mendengar perkataan Ridan.
"Ridan, anggaplah ini pelunasan hutang budimu padaku saat dulu kau aku selamatkan! Maka jagalah istri dan anakku sampai titik darah penghabisan!"
Ridan memeluk Deva, ia menangis mengingat jasa Deva yang dulu menyelamatkannya dari kematian yang begitu sadis.
"Tuan, aku percaya tuhan akan selalu melindungi orang baik sepertimu! Aku berjanji padamu, akan menjaga nona dan tuan muda untukmu sampai akhir hidupku!" Deva menepuk punggung Ridan, lalu melepaskan pelukannya.
"Pergilah, jalankan tugasmu saat ini juga!" Ridan mengangguk, lalu memasuki mobilnya dan segera melajukannya.
Aisha melirik Deva, lalu meraih tangan Deva dari jendela mobil. Aisha menggenggam tangan laki-laki yang sangat dicintainya itu sekuat mungkin hingga perlahan genggaman itu terlepas karena mobil sudah melaju perlahan.
Genggaman tangan itu akhirnya terlepas, Aisha tak kuasa menahan air matanya. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam mobil. Sid memeluk Aisha dan ikut menangis, di depan Ridan juga tak kuasa menahan tangisnya.
Ya Tuhan, ujian macam apa ini? Mengapa harus seperti ini? Kenapa keluargaku selalu ditimpa masalah yang bertubi-tubi? Ya Tuhan, lindungi suamiku.
Tangis Aisha semakin deras, Sid sudah tertidur karena lelah.
"Ridan, apa kita akan langsung ke bandara?"
"Apa kita tidak bisa menunggu Deva? Dan melakukan penerbangan yang sama?" Tanya Aisha penuh harap.
"Tidak, nona. Tuan berpesan agar secepatnya mengantar anda ke london demi keamanan anda dan tuan muda!" Jawab Ridan dengan nada sendu.
Aisha melirik ke belakang, berharap ada Deva yang sudah menyusulnya untuk pergi bersama ke londong. Tapi sosok itu tidak ada disana.
"Ya Tuhan, lindungilah dia." Doa tak henti Aisha ucapkan untuk laki-laki bergelar suami yang sangat ia cintai itu.
"Ayo, nona." Sekali lagi Aisha melirik ke belakangnya, mencari sosok yang tak kunjung muncul. Dengan langkah gontai, Aisha memasuki pesawat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kau ternyata punya nyali yang sangat tinggi juga ya? Jika kau punya dendam padaku, maka urusannya hanya denganku saja! Tidak perlu melibatkan orang yang tidak mengetahui apapun!"
"Tidak bisa, Slaven Adeva Rafandi! Apa yang aku rasakan, kau juga harus merasakannya! Kau membuat kakakku gila dan tiada, maka kau juga akan merasakan bagaimana rasanya orang yang sangat kau sayangi tiada dengan sangat mengenaskan!" Sinis Yessi sambil menodongkan pistolnya.
"Yessi! Ingatlah sebelum kau menembak, ingat kembali apa yang sudah aku katakan kemarin!" Teriak seorang pria yang sudah ditahan oleh Reihan.
"Kau!" Tunjuk Deva sambil mendekati pria itu.
__ADS_1
"Ya, Adeva! Kau masih mengingatku? Hahaha, aku tau kau pasti akan lupa!" Ujar pria itu sambil tertawa sinis.
"Pantas saja, ayah tidak pernah mau menerimamu! Ternyata kau memang penjahat kejam yang tega membantu menghabisi ayah kandungnya sendiri!" Deva berbicara dengan nada tinggi sambil menunjuk-nunjuk wajah pria itu.
"Diam kau, anak manja!"
"Manja? Aku memang dimanja, tapi itu pantas aku dapatkan! Kau tidak pantas dimanja! Penjahat sepertimu hanya pantas untuk dihukum!" Deva meraih pistol dari tangan salah satu anak buahnya, lalu mengarahkan pistol itu ke kepala pria dihadapannya.
Dor...
Suara tembakan terdengar, pria di hadapan Deva terjatuh dan tergeletak dengan dada yang sudah bersimbah darah.
Dor...
Pada detik berikutnya terdengar lagi suara tembakan, tapi yang membuat heran adalah Deva sendiri tidak menembakan lagi pelurunya.
Braak
"Tuan, Tuan Deva!" Deva tergeletak di tanah, Reihan segera meraih tubuh Deva.
"Hahaha, sudah ku bilang Deva! Jika tidak Aisha maka dirimu!" Yessi tertawa terbahak-bahak sambil melempar pistolnya, lalu pergi meninggalkan Deva dan Reihan.
"Re.. Reihan!" Lirih Deva dengan napas yang sudah hampir tidak berhembus lagi.
"Tuan, bertahanlah! Kita akan ke rumah sakit!"
"Ti.. Tidak, Reihan! To... Tolong Lindungi A.. A.. Aisha dan S... S... Sid!" Ucap Deva terbata-bata, lalu tersenyum pada Reihan dan menepuk pipi Reihan.
"Tuan, tidak! Tuan, kau pasti bisa bertahan! Tuan, ingatlah nona Aisha dan tuan muda pasti sudah menunggumu di London!" Reihan memberi kode pada anak buahnya untuk membantu membawa Deva ke mobil.
Sampai di dalam mobil, Reihan menidurkan Deva di pangkuannya.
"Tuan, bertahanlah! Aku mohon bertahanlah! Kau sudah seperti malaikat penyelamatku, bahkan bagiku kau adalah kakakku! Tuan, bertahanlah aku bahkan belum bisa membalas jasa-jasamu!"
"Re.. Reihan, ji.. Jika aku mati, to.. Tolong lindungi A.. Aisha!" Napas Deva semakin tidak berarturan, darah yang keluar dari punggungnya yang terkena tembakan semakin banyak.
Perlahan mata Deva tertutup, ia tak sadarkan diri lagi.
"Tuan!" Reihan menepuk-nepuk pipi Deva, mencoba menyadarkan Deva kembali.
End 😭😭😥 Tapi Boong! 🤣🤣🤣🤣 Jangan lupa Vote dan Likenya yaa.. Selamat membaca!!!
__ADS_1