Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Membahas Beberapa Kenangan


__ADS_3

Aisha dan Deva memasang wajah tegang, menunggu hasil USG dari dokter yang saat ini berada di hadapannya sedang memegang kertas.


"Bu Aisha, Pak Deva, dari hasil USG kita bisa melihat bahwa janin yang berada di rahim bu Aisha baik-baik saja. Akan tetapi, bu Aisha masih harus tetap berhati-hati! Karena jika dia terus jatuh maka bisa jadi ia akan mengalami keguguran. Saran saya juga, sebaiknya anda menyewa perawat untuk merawat bu Aisha serasa hamil!" Aisha ternganga mendengar penjelasan dokter di hadapannya itu.


"Baik, dokter. Saya setuju atas saran anda, saya akan memperkerjakan perawat khusus wanita hamil di rumah." Aisha terkejut, mendengar Deva menyetujui saran dari dokter.


"Baiklah, anda boleh pulang saat ini juga."


Deva dan Aisha pun bersalaman dengan dokter, lalu segera meninggalkan ruangan itu. Selama perjalanan pulang keduanya hening, hal itu dikarenakan mereka sedang memikirkan hal yang berbeda, dan Sid ikut di mobil yang di kendarai paman, nenek dan kakeknya.


Siapa laki-laki itu? Yang sudah berani mendorong Aisha, kenapa Aisha sepertinya pernah memiliki hubungan dengan laki-laki itu? Batin Deva bertanya-tanya.


Jika di rumah ada perawat, maka bisa dipastikan aku akan sangat bosan! Apalagi jika perawatnya selalu mengikuti kemanapun aku pergi! Itu akan membuatku seperti artis yang sedang di jaga oleh bodyguard nya! Kesal Aisha dalam batinnya.


Aisha melirik Deva, dilihatnya suaminya itu sedang fokus menatap jalanan.


"Menatap jalanan saja serius seperti itu, apalagi menatapku." Guman Aisha pelan.


"Kau bicara sesuatu, istriku?" Tanya Deva yang mendengar Aisha bergumam.


"Eh, tidak... Tidak!" Bohong Aisha.


"Baiklah." Menoleh sebentar, lalu kembali menatap lurus jalanan.


"Apa kau benar-benar akan menyewa perawat untukku?" Tanya Aisha sambil menatap Deva yang masih fokus dengan jalanan.


"Tentu saja, aku tidak ingin hal buruk menimpamu dan bayi kita lagi! Jadi untuk menjagamu, aku akan menyewa perawat untukmu!" Lalu tersenyum.


"Hmmm, baiklah." Jawab Aisha pasrah, ia sudah pasrah jika hidupnya tidak bebas lagi.


"Kenapa? Kau tidak mau? Tapi kau harus mau, itu demi kebaikan kalian!" Kata Deva seperti mengerti apa yang tadi di pikirkan Aisha.


"Ya, aku mau." Jawab Aisha dengan nada lemas.


"Aisha."

__ADS_1


"Ya, kenapa?"


"Aku boleh bertanya padamu? Tentang kejadian tadi malam!" Sambil menatap Aisha dan kedua bola mata Aisha.


"I.. Iya, me..memangnya kenapa?" Tanya Aisha dengan suara terbata-bata.


"Tapi, sebelum itu kau harus jujur tentang hal apapun padaku!" Ucap Deva penuh penekanan.


"Ba.. Baiklah, aku akan jujur. Tapi kau juga harus berjanji tidak akan marah padaku, karena semua ini diluar kesadaranku." Aisha tahu apa yang dimaksud Deva. Ya, Deva ingin menanyakan tentang Dendi.


"Siapa pria yang semalam mendorongmu hingga terjatuh? Aku melihat semuanya, dari dia menarik tanganmu dan memelukmu!" Saat Deva mengucapkan kata memelukmu, terlihat dimatanya menyiratkan tidak boleh ada yang menyentuh Aisha selain dirinya.


Aisha menghela napas pelan, lalu mulai membuka mulutnya menceritakan segalanya pada Deva.


"Dendi, namanya adalah Dendi Adiwijaya. Kakaknya Rhea, sahabatku. Dulu sewaktu aku hilang ingatan, aku pernah menjalin hubungan dengannya. Waktu itu dia kuliah bersamaku di kampus yang sama." Berhenti sejenak, Sedangkan Deva diam seribu bahasa. Antara ingin mendengarkan dan tidak tahu harus bicara apa.


"Dulu, aku dan dia pernah menjalin hubungan, tapi hubungan kami terhenti saat Dendi memutuskan untuk kuliah di London dan memegang perusahaan yang berada di London. Sejak saat itu, Dendi tidak pernah mengabariku. Bahkan, ada yang mengirim foto Dendi sedang bermesraan dengan perempuan lain. Rhea yang tahu semua ini, juga sangat marah pada Dendi. Sampai saat ini, Rhea juga masih merasa marah pada kakaknya." Jelas Aisha sambil menunduk.


"Aisha, boleh aku bertanya lagi?" Aisha mengangguk.


"Apa maksudmu? Kenapa kau berbicara hal seperti itu?"


"Jawab saja, Aisha! Kau dulu juga pasti mencintai Dendi, sekarang Dendi sudah kembali! Apa kau menyesal menerimaku, menikah denganku, bahkan kau sering mengalami masalah setelah menikah denganku, apa kau menyesal hidup bersamaku? Hidup bersama teman masa kecilmu ini!" Tanya Deva dengan perasaan yang mulai kecewa.


Aisha menggeleng, lalu menyandarka kepalanya di tangan Deva.


"Suamiku, aku tidak pernah menyesal kembali padamu. Teman sekaligus cinta masa kecilku, kau yang membuat ingatanku kembali. Aku sangat mencintaimu, aku dan Dendi hanya sebuah kesalahan. Bahkan dia yang sudah membuat perusahaan ayahku sempat bangkrut, lalu kau datang dan hadir kembali di hidupku. Seperti malaikat, kau membantu perusahaan ayahku menjadi stabil kembali! Kau juga yang membuatku mengingat segalanya, kenangan kita, cinta kita. Aku lebih dari bahagia bersamamu. Jika ada yang sempurna di dunia ini, maka itu adalah hidupku, hidupmu, hidup kita saat ini. Sempurna!"


Deva terenyuh mendengarkan kata-kata yang di ucapkan Aisha, ia menghentikan mobilnya di depan sebuah mansion berukuran besar.


"Kenapa berhenti disini?" Tanya Aisha heran saat mobil Deva sudah terparkir di halaman mansion itu.


"Aisha, sebelum aku menjawab pertanyaanmu aku ingin kembali bertanya padamu!"


"Kau banyak bertanya, ya! Cerewet!" Sambil menarik hidung Deva.

__ADS_1


Deva mencebikkan mulutnya, lalu menunduk tepat di hadapan leher Aisha. Deva menggigit leher Aisha, hingga Aisha meringis kesakitan.


"Kau ini! Banyak protes, jawab saja pertanyaanku!" Cibir Deva.


"Baiklah!" Ketus Aisha.


"Tatap mataku, Aisha! Kau benar tidak menyesal menikah denganku?"


"Deva, suamiku! Aku bersumpah, aku tidak pernah menyesal menikah denganmu. Aku bahagia, sangat bahagia menjadi istrimu, menjadi bagian dari hidupmu!" Teriak Aisha.


Deva memeluk Aisha.


"Lalu sekarang, jawab pertanyaanku! Kenapa kau membawaku kesini?!" Aisha memperhatikan mansion di hadapannya ini, sangat luas bahkan jika dibandingkan dengan rumah Deva yang mereka tempati saat ini, mansion ini 3x lipat lebih luas dari rumah mereka.


"Ini mansion milik kita, dulu ini milik ayah dan ibuku. Semenjak ayah meninggal, mansion ini dikosongkan. Mama pindah ke London bersama aku dan Susan. Lalu 7 tahun yang lalu kami kembali ke Indonesia, tapi kami menempati rumah lain. Alasannya karena mama selalu teringat ayah di mansion ini, kadang jika sudah ingat mama tidak pernah bisa tidur, dan hal itu menyebabkan mama jadi sering sakit. Jadi, kami membeli rumah yang kita tempati sekarang!" Aisha mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Lalu?"


"Aku berencana mengajakmu pindah ke mansion ini, tentunya dengan seluruh anggota rumah kita. Jarak dari rumah ini ke kantor sangat dekat, jadi jika kau merindukanku, kau bisa datang kesana sesuka hatimu! Apa kau setuju?" Tanya Deva sambil mengedipkan sebelah matanya pada Aisha.


"Ya, aku setuju. Agar aku juga bisa mengawasimu, melihat apa saja yang kau lakukan di kantor." Mata Deva berbinar mendengar apa yang di katakan Aisha.


"Kau tidak keberatan kan?" Deva kembali bertanya.


Aisha menggeleng, Deva pun merangkulnya dan mencium keningnya.


"Supaya jika aku kepanasan, aku bisa pulang ke rumah untuk segera mendinginkannya!" Goda Deva disertai senyuman nakal.


Plaakk


Aisha memukul tangan Deva, Deva tertawa melihat wajah Aisha yang sudah memerah seperti kepiting rebus.


"Sudah akan punya anak dua, tapi masih pandai menggoda!" Sambil menarik hidung mancung Deva.


Deva terkekeh, lalu mereka tertawa bersamaan.

__ADS_1


Selamat Membaca!!! Yang gak malam tahun baruan, mari merapat! Kita sama! Jadi mendingan baca novel aja!!! Jangan lupa like!!!


__ADS_2