Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Di Acuhkan


__ADS_3

Sudah 2 minggu Aisha tidak bisa berjalan, terapi yang dilakukannya tidak pernah membuat Aisha bisa berjalan lagi seperti semula. Aisha masih tetap kesana kemari menggunakan kursi roda.


Hal itu membuat Aisha jengkel dan putus asa seperti di awal ia mendengar kenyataan bahwa dirinya tidak bisa berjalan untuk sementara.


Bahkan Aisha juga merasa sangat sedih karena semenjak Aisha tak bisa berjalan deva selalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Mereka sangat jarang bertemu. Hal itu terjadi karena Deva selalu bangun lebih pagi dari Aisha dan selalu pulang larut malam yang tentunya Aisha sudah tertidur.


Aisha merasa diacuhkan oleh Deva dan hatinya terasa begitu sakit. Bahkan malam ini waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam akan tetapi Deva masih belum kembali dari kantor.


Aisha sengaja menunggunya di depan pintu karena ingin meminta penjelasan mengapa Deva seperti menjauhinya.


30 menit kemudian...


waktu sudah menunjukan pukul 10.30 malam akan tetapi Deva masih belum pulang juga,kini yang Aisha pikirkan adalah takut terjadi sesuatu pada Deva.


Aisha pun memutar roda kursi rodanya menuju kamar dan mengambil ponselnya lalu menelepon Deva.


3 kali Aisha memanggilnya tak kunjung ada jawaban selalu berada di luar jangkauan. Aisha pun menangis lalu memutuskan untuk tidur. Aisha mencoba berdiri, ia bisa berdiri akan tetapi saat mencoba berjalan ia malah terjatuh seperti saat pertama kali turun dari blankar rumah sakit.


"Mengapa hidupku seperti ini?" Sambil menangis." Lebih baik aku mati saja daripada harus menderita seperti ini! Aku akan mengakhiri segalanya, hidupku serta penderitaanku ini!" Sambil menjambak rambutnya sendiri dan mengacak-acaknya hingga berantakan.


Aisha melempar ponselnya ke arah kaca meja riasnya hingga membuat kaca riasnya pecah berkeping-keping. Lalu Aisha meraih sebuah serpihan kaca itu dan hendak memotong nadinya.


Belum sempat pecahan kaca itu menyentuh pergelangan tangannya seseorang menahannya dan membuat Aisha mendongakan kepalanya.


"Apa yang kau lakukan Aisha?!" Bentak orang yang ternyata adalah Deva yang baru saja pulang dengan penuh kemarahan. Deva meraih pecahan kaca yang di pegang Aisha lalu membuangnya ke sembarang tempat.


"Aku tidak ingin hidup lagi, biarkan aku mati saja!" Sambil berteriak dan menangis kembali.


"Apa? Aku tidak akan pernah membiarkanmu melakukan ini! Kau tidak punya kesempatan untuk mengakhiri hidupmu Aisha!" Bentak Deva kembali sambil membangunkan Aisha dan mendudukannya kembali ke kursi roda.


"Tidak! Biarkan aku mati saja! Hidupku sudah tidak ada gunanya lagi! Kau bahkan sudah tidak mencintaiku lagi!" Dengan suara yang bergetar.


Deva merasa sangat emosi ketika Aisha sudah mulai meragukan cintanya dan menyebutnya sudah tak mencintai Aisha lagi.

__ADS_1


"Apa yang membuatmu mengatakan hal itu Aisha?!" tanya Deva disertai bentakan.


"Kau pikir saja sendiri!" Bentak Aisha. Aisha menunduk lalu menyandarkan kepalanya di dada Deva dan menangis sejadi-jadinya.


"Aisha! Dengarkan aku baik-baik! Aku selalu mencintaimu! Jika aku tidak mencintaimu lagi,untuk apa aku selalu berusaha membuatmu bisa berjalan lagi? Untuk apa aku selalu mempertahankan hidupmu? Aku bahkan tidak bisa melihatmu menangis sedikitpun! Jika aku bisa tidak mencintaimu, mungkin selama kau pergi meninggalkanku dulu aku sudah menikahi wanita lain! Apa kau memikirkan semua itu?" Sambil memeluk Aisha.


"Maaf!" Lirih Aisha sambil kembali menangis tersedu-sedu.


Deva menghela napas panjang. "Maafkan aku juga Aisha!" Ucap Deva sambil memeluk Aisha dan mengusap punggung Aisha.


"aku pikir kau sudah tidak mencintaiku lagi karena kau beberapa hari ini seperti menghindar dariku!" Kata Aisha sambil menunduk.


"Aisha, kenapa kau berpikir bahwa aku menghindar darimu?" Tanya Deva.


"Karena..." Aisha tidak meneruskan ucapannya karena malu dan merasa bersalah sudah meragukan cinta dan kasih sayang deva yang sangat besar baginya.


"Karena apa?" Tanya Deva sambil menggenggam tangan Aisha.


"Karena aku pikir kau malu memiliki istri yang cacat seperti diriku ini!" Ucap Aisha sambil masih menunduk.


"Maaf, aku hanya tidak ingin kau malu mempunya istri yang cacat sepertiku." Sambil kembali menangis.


"Aku akan lebih malu jika aku tidak bisa menjagamu dan menjadi penyebabmu melakukan percobaan bunuh diri seperti tadi, Aisha! Aku sangat malu jika orang menyebutku tidak bisa menjagamu dan tidak pernah memerhatikanmu sehingga kau mengakhiri hidupmu!" jelas Deva.


"Maaf, aku tidak bermaksud seperti tadi.. Aku hanya...-" Sebelum Aisha menyelesaikan ucapannya Deva sudah menyimpan jari telunjuknya di bibir Aisha sebagai isyarat agar Aisha berhenti bicara.


"Cukup!" Tegas Deva.


Aisha pun mulai diam.


"Ayo, sekarang istirahatlah! Aku akan mandi dulu!" Sambil berdiri lalu membantu Aisha membaringkan diri di tempat tidurnya.


Setelah Aisha berbaring di ranjang Deva segera mengambil handuk dan memasuki kamar mandi.

__ADS_1


Akan tetapi aisha masih belum bisa tertidur. Aisha masih takut jika Deva benar-benar menghindarinya karena keadaannya yang cacat seperti itu.


Tak lama Deva sudah selesai mandi dan keluar dari kamar mandinya menggunakan sehelai handuk yang hanya menutupi pinggang hingga lututnya.


Deva memasuki ruang ganti pakaian yang berada dikamarnya itu lalu mulai mengganti pakaiannya. Setelah selesai ia menghampiri Aisha yang dilihatnya sedang melamun.


Deva menepuk pundak Aisha sehingga membuat Aisha terkejut.


"Aisha..." Sambil berjongkok di hadapan Aisha dan menggenggam kedua tangan Aisha.


"Ah ya ampun, kau mengejutkanku! Ada apa?" tanya Aisha sambil menggenggam tangan Deva.


"Kenapa kau melamun?" Tanya Deva menyelidik.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya memikirkan apa Sid sudah tidur atau belum." Aisha berbohong lalu membuang pandangannya ke arah jendela. Tentunya Deva tahu jika istrinya itu sedang berbohong.


"Jangan berbohong, Aisha!" sambil mengarahkan pandangan Aisha untuk menatapnya.


"Tidak ada, sudahlah! Ayo kita tidur!" Sambil menaikan selimutnya hingga menutupi tubuhnya dan menyisakan kepalanya lalu pura-pura memejamkan matanya.


Deva yang masih tak percaya hanya menuruti Aisha dan mengikutinya untuk tidur.


Deva menarik tubuh Aisha pelan lalu mendekapnya didalam pelukannya dengan sangat erat seolah menunjukkan bahwa Aisha tidak akan pernah bisa pergi hidupnya lagi.


Aisha sendiri tak ingin jauh sedikitpun dari Deva bahkan baginya pelukan Deva seolah menjadi candu dalam dirinya yang selalu merindukan pelukan itu setiap saat.


"Aisha, kau hanya milikku dan aku milikmu. Kau tidak akan pernah bisa pergi dari kehidupanku. Kau akan tetap bersamaku. Kita akan membesarkan Sid dan anak-anak kita nantinya bersama-sama. Aku berjanji, aku akan segera membuatmu bisa berjalan seperti semula!" Lalu mencium kening Aisha dan memejamkan matanya hingga tertidur pulas.


Aisha yang sebenarnya belum tidur dan mendengar kata-kata Deva kembali menangis. Aisha membelai wajah Deva lalu mencium pipinya dengan sangat lembut.


Maaf, maaf, maaf, maafkan aku suamiku! Aku sudah banyak mengecewakanmu, bahkan aku bisa-bisanya meragukan cinta dan kasih sayangmu yang sangat besar dan tulus untukku. Istri macam apa aku ini? bahkan aku ingin mengakhiri hidupku tanpa memikirkan perasaanmu sedikitpun, aku juga tidak memikirkan bagaimana nasib putraku sendiri jika aku tiada! Aku memang seorang ibu dan istri yang buruk sekali. Seharusnya aku mati dari dulu!


Aisha pun membalas pelukan suaminya itu dan mulai memejamkan matanya hingga menyusul Deva yang sudah masuk ke alam mimpi lebih dulu.

__ADS_1


Hallo para pembaca setia, udah pada like,coment dan vote belum? kalo belum cuss yuk langsung like,coment dan vote. Selamat malam dan...


Selamat membaca!!!


__ADS_2