
"Dimana Aisha dan Sid? Aku tidak mau tahu! Kalian harus segera menemukan mereka!" Teriak Yessi pada saat melihat Aisha dan Sid sudah tidak ada dalam sanderaannya.
"Baik nyonya." Ucap para anak buahnya yang langsung segera pergi untuk menangkap kembali Aisha dan Sid.
"Bagaimana bisa dia melarikan diri dari sini? Pasti ada yang membantunya! Lihat saja, akan ku temukan orang yang berani membantumu itu secepatnya!" Geram Yessi sambil mengambil pistolnya.
"Aaarrrrrrrggggghhhhhh!" Teriak Yessi hingga menggema di ruangan tersebut. "Bagaimana bisa dia kabur?!" Sambil melempar pistolnya ke sudut ruangan.
"Tentu saja bisa, sudah ku bilang jangan bermain-main dengan Deva!" Sahut seorang pria tiba-tiba dari arah pintu.
"Kau?! Berani sekali kau menemuiku!" Sinis Yessi.
Pria itu mengambil pistol yang tadi di lemparkan Yessi dan mengeluarkan seluruh peluru yang ada di dalamnya.
"Apa yang kau lakukan? Berikan pistolku!" Pria itu menyisakan sebua peluru di dalam pistol Yessi, dan memberikannya pada Yessi.
"Sial! Kenapa kau mengeluarkan peluru dari pistolku?!" Geram Yessi sambil meraih pistolnya.
"Tebing XX! Itulah kesempatanmu untuk membalas dendammu!" Ujar pria itu sambil berlalu meninggalkan Aisha.
"Tunggu!" Pria itu berbalik kembali menghadap Yessi.
"Apa maksudmu? Kau pasti ingin menjebakku bukan?! Tebing XX itu lokasinya ada di Bandung, mana mungkin Aisha secepat itu berada disana?" Pria itu tersenyum sinis, dan mendekati Yessi.
"Kau tidak percaya? Lihat ini!" Sambil memperlihatkan sebuah rekaman video dari ponselnya. Di video itu, terlihat Aisha, Sid dan Deva saling berpelukan.
"Mustahil!" Yessi tak percaya dengan apa yang diperlihatkan pria itu. "Tidak mungkin dia bisa lolos dari tempat ini!"
"Coba saja kau datang langsung ke tempat itu! Jika aku benar, maka kau harus memberikan segalanya padaku! Termasuk dirimu sendiri!" Ucap pria itu sambil menatap Yessi dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Semoga saja itu tidak benar!" Sinis Yessi sambil memandang pria itu dengan tatapan ingin membunuh.
"Berdoalah nona Yessi!" Sambil berjalan menjauh meninggalkan Yessi. Sementara Yessi menatap kepergian pria itu dengan tatapan jijik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aisha, kau tidak apa-apa kan?" Air mata membanjiri pipi Deva.
"Suamiku..." Aisha memeluk Deva dengan sangat erat.
"Tuan, nona! Segeralah pergi dari sini! Karena nyonya Yessi pasti sudah mengetahui bahwa nona tidak ada ditempatnya, dan pasti akan segera mengetahui keberadaan kalian!" Ucap pria yang sedari tadi berdiri di belakang mereka sambil menggendong Sid.
"Terima kasih tuan, entah bagaimana aku bisa membalas jasamu hari ini. Tapi, aku akan berdoa semoga kau selalu dilindungi Tuhan dimanapun kau berada." Aisha mendoakan pria yang sudah hampir tua itu.
"Baiklah, tuan dan nona bawa anak kalian pergi secepatnya dari kota ini! Aku akan mengecoh nyonya Yessi sebisa mungkin!"
Deva mengambil Sid dari gendongan pria itu, tak lupa juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
__ADS_1
"Ayo, Aisha! Kita harus pergi jauh untuk sementara waktu, hingga kita punya rencana untuk membuat Yessi jera!" Mereka berjalan menuju mobil yang terparkir tidak jauh, Ketiganya memasuki mobil.
"Tuan, cepat bawa istri dan anakmu pergi!" Teriak pria itu.
Deva segera melajukan mobilnya secepat mungkin, hingga menjauh dari kota Jakarta menuju kota Bandung.
Setelah semalaman menempuh perjalanan tersebut, Deva akhirnya sampai di kota Bandung. Deva membangunkan Aisha dan Sid yang tertidur.
"Sayang, bangunlah! Kita sudah sampai!" Deva membelai lembut pipi Aisha, lalu menggendong Sid.
"Kita dimana?" Tanya Aisha dengan suara parau karena mengantuk.
"Kita di Bandung, sementara kita akan tinggal disini dulu! Hingga keadaan aman dan bisa diatasi." Aisha menatap sekelilingnya, mereka ada di sebuah Villa yang terbuat dari kayu dan berada di sebuah kawasan perkebunan yang jauh dari kota.
"Aisha, ayo masuklah dulu dan istirahatlah!" Mereka segera memasuki villa tersebut.
Di dalam villa ternyata sudah ada Aryan dan Dendi yang menyambut mereka.
"Kak Aryan, Dendi kalian disini? Tapi bagaimana bisa?" Aisha terheran.
"Sudahlah, Aisha! Jangan memikirkan dan menanyakan semua ini dulu, yang paling utama disini adalah keamananmu dulu!" Ucap Aryan sambil mengambil Sid dari gendongan Deva.
"Aisha, kau tunggu disini bersama kak Aryan dan Dendi! Aku akan memasukan mobil ke garasi belakang dulu!" Aisha mengangguk.
"Aisha, gantilah bajumu di kamar! Setelah itu kembalilah kesini untuk makan malam!" Aisha mengangguk lagi, dan segera memasuki kamarnya. Disana ternyata sudah ada pakaiannya, yang sudah dibawakan Aryan.
Setelah selesai berpakaian, Aisha kembali menuju ruang tamu dimana ada Aryan dan Dendi yang sudah duduk menunggunya. Sementara Sid sudah ditidurkan di kamar lain.
"Aku sudah tahu, kak. Pasti tentang ayah bukan?" Tanya Aisha dengan suara pelan.
Aryan mengangguk, sementara Dendi tidak berbicara sepatah katapun sedari tadi.
"Apa yang terjadi pada ayah, kak?" Aisha mulai terisak dan menangis.
Aryan memeluk Aisha, ikut menangis mengingat kepergian ayahnya. Lalu melepaskan pelukannya dan mengelus kepala Aisha.
"Kau tahu Aisha? Saat kau diculik malam itu, ayah sangat sedih dan terkejut. Dan semalaman dia terus memikirkanmu hingga terkena serangan jantung, lalu dia pergi selama-lamanya." Lirih Aryan.
Tangis Aisha semakin menjadi, saat mengetahui bagaimana ayahnya bisa meninggal. Saat itu juga, Deva yang baru kembali dari garasi langsung memeluknya.
"Maaf, ini semua karena aku." Lirih Aisha.
"Semua sudah takdir, Aisha! Jangan bersedih lagi!" Kali ini Dendi ikut bersuara.
"Sekarang kau tidurlah, istirahatkan dirimu! Kau pasti lelah, mengingat keadaanmu dan bayi kita. Masuklah ke kamar, lalu istirahatlah. Aku akan menyusul." Aisha mengangguk, lalu berjalan memasuki kamar yang sudah disiapkan.
Setelah Aisha memasuki kamarnya, Deva duduk di samping Aryan dengan wajah yang penuh kebingungan.
__ADS_1
"Deva, bagaimana bisa ada seseorang yang mengantarkan Aisha padamu disana?" Tanya Aryan dengan wajah penuh tanda tanya.
Deva menceritakan kembali segalanya, hingga Aryan dan Dendi membelalakan matanya terkejut mendengar cerita Deva.
Flashback
Deringan ponsel membuyarkan lamunan Deva, namun Deva tidak meliriknya sama sekali. Ia kembali melamunkan istri dan anaknya yang sudah 3 hari diculik.
Hingga pada deringan ketiga Deva mengangkat telepon itu.
"Hallo, tuan! Datanglah ke jalan XX, aku akan membawa istri dan anakmu ke hadapanmu!"
"Siapa kau? Jangan coba-coba membohongiku, atau aku akan melenyapkanmu!" Ancam Deva.
"Tuan, percayalah padaku! Kau harus datang, jika tidak maka kau akan menyesal dan kehilangan istrimu untuk selamanya!"
"Apa maksud-..." Telepon dimatikan, Deva ragu dengan ucapan penelepon itu. Namun hatinya menyuruhnya untuk percaya.
Sebelum berangkat, Deva menelepon Aryan dan Dendi untuk pergi ke Bandung membawa beberapa keperluan mereka dan juga Aisha serta Sid. Deva berdikir jika memang penelepon itu akan membawa Aisha padanya, makan untuk sementara Deva akan membawa Aisha dan Sid pergi ke Bandung hingga suasana aman kembali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nona, nona!" Aisha terkejut, ketika mendapati pria yang kemarin memberinya makan kembali menemuinya.
"Nona, ayo cepat! Tuan Deva sudah menunggu anda! Kita harus pergi secepatnya, sebelum nyonya Yessi kembali!" Pria itu segera menggendong Sid, namun Aisha masih terduduk disana.
"Apa kau bisa dipercaya? Aku takut, kau hanya menjebakku untuk mencelakain Deva."
"Nona, aku mohon! Percayalah padaku, aku tulus untuk membantumu! Cepat nona, atau nyonya Yessi akan segera datang dan kau akan mendapat siksaan lagi darinya!" Aisha segera berdiri, dan mengendap-endap keluar dari gudang kosong itu.
Setelah berhasil keluar, pria itu membawa Aisha masuk ke dalam taxi yang sudah disiapkan olehnya.
Sepanjang perjalanan Aisha tak berhenti berdoa dan berharap, bahwa ia akan benar-benar bertemu dengan suaminya itu. Hingga sampai di lokasi, Aisha sangat terharu.
Di depannya seorang pria yang sangat dirindukannya sedang berdiri membelakanginya, Aisha menghampiri lelaki itu lalu memeluknya.
"Deva, suamiku!" Laki-laki itu terpaku, air matanya keluar. Deva berbalik, tangisnya pecah saat melihat wanita yang begitu ia rindukan itu.
Deva memeluk Aisha dengan sangat erat, bahkan berkali-kali menciumi kening dan pipi Aisha. Lalu Deva menoleh ke belakang Aisha, seorang pria sedang menggendong Sid anaknya.
"Ayah, aku merindukan ayah!" Deva mengambil Sid dan menggendongnya.
"Ayah juga merindukan kalian!"
Deva mengembalikan Sid pada gendongan pria itu dan kembali menghampiri Aisha.
"Aisha, kau tidak apa-apa kan?" Air mata membanjiri pipi Deva.
__ADS_1
Flashback end.
Maaf ya kemarin tidak up, maklum banyak urusan! Selamat membaca jangan lupa like dan vote ya, like itu gratis loh!!!