Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Putus Asa


__ADS_3

Aisha dan Deva sudah pulang dari rumah sakit 3 hari yang lalu. Hari ini adalah hari pertama Aisha menjalani terapi agar bisa berjalan kembali.


Seorang dokter terapi sedang menerapi Aisha.


"Ayo bu, cobalah berdiri lalu berjalan!" Perintah dokter itu. Deva tersenyum melihat Aisha dari atas balkon kamar,karena Aisha di terapi di pinggir kolam renang rumah Deva.


Mula-mula Aisha berdiri lalu mulai melangkahkan kakinya akan tetapi Aisha kembali terjatuh. Sudah kesekian kali Aisha mencoba akan tetapi terus terjatuh, hal itu membuat Aisha kehilangan keyakinannya.


Deva yang melihat wajah Aisha sudah menunjukkan kesedihannya langsung turun dan berjalan menuju Aisha.


"Pak, aku harus bicara penting denganmu!" Kata dokter itu sambil membantu Aisha bangun dan duduk kembali di kursi rodanya.


"Ya, dokter ada apa?" Tanya Deva penasaran. "Bi, tolong bawa aisha ke dalam kamarnya dan buatkan makanan untuknya!" Perintah Deva pada bi Asih yang sedang berbincang dengan pengasuh Sid yang baru dipekerjakan Deva.


"Ya tuan." Lalu berbalik dan mendorong kursi roda Aisha masuk ke dalam.


"Apa yqng ingin anda bicarakan dokter?" Deva bertanya dengan hati yang berdebar-debar.


"Ini tentang keadaan bu Aisha!" Dengan kepala tertunduk.


'Glek' deva menelan saliva nya mendengar tentang Aisha.


"Sepertinya bu Aisha sangat kecil kemungkinannya untuk bisa berjalan normal kembali, dilihat dari hasilnya baru saja. Bu Aisha mungkin putus asa dan tidak yakin dengan usahanya sendiri." Dengan jelas dan detail.


Wajah Deva menampakkan raut kesedihannya setelah mendengar apa yang dikatakan dokter.


"Lalu bagaimana selanjutnya dokter? Apa ada cara lain untuk membuatnya bisa berjalan kembali?" Dengan wajah penuh harapan Deva memberanikan diri untuk bertanya.


"Aku punya satu cara mungkin tidak masuk akal akan tetapi 50% orang yang terkena lumpuh sementara berhasil menggunakan cara itu." Jawaban itu membuat Deva kembali bersemangat.


"Cara seperti apa dokter?" Deva bertanya dengan mata yang penuh harap.


"Cara ini mengandalkanmu serta keluarga terdekatnya atau orang-orang yang berada di sekitarnya. Kau harus sering membuatnya panik dan terkejut untuk membuat kakinya refleks dan langsung berdiri ataupun berjalan. Seperti contohnya kau bawa dia ke sebuah tebing dan pura-pura terpeleset lalu jatuh ke tebing. Itu akan memicu pergerakan refleks dari saraf-saranya sehingga dia tanpa sadar akan langsung berdiri dan berjalan untuk menolongmu. Tapi itu hanya contoh tidak ada salahnya kau mencoba di tempat-tempat tertentu seperti kolam renangmu itu pak!" Dokter memberi saran dan membuat Deva berfikir keras.


"Kau benar dokter. Baiklah aku akan mencobanya. Terima kasih untuk hari ini dokter" ucap Deva sambil memberi amplop pada dokter itu.


"Baiklah aku pamit untuk kembali ke rumah sakit, semoga istrimu bisa berjalan kembali secepatnya, pak Adeva!" Sambil membungkukkan badannya lalu berbalik dan pergi meninggalkan Deva sendiri di pinggir kolam renang.


Deva mulai memikirkan saran dari dokter terapi itu dan sebuah ide melintas di pikirannya.

__ADS_1


"Maafkan aku Aisha, ini semua demi kebaikanmu!" Deva bergumam sambil tersenyum lalu pergi melangkahkan kaki menuju kedalam rumah.


"Aisha!" Deva berjalan tergesa-gesa sambil matanya menerawang mengeliling mencari keberadaan Aisha.


Sampai di kamar, Deva melihat Aisha sedang menangis di atas kursi rodanya.


"Aisha, jangan menangis! Ayo ikut denganku, kita berjalan-jalan untuk menenangkan dirimu. Kita bawa Sid juga" Sambil mengelus rambut Aisha.


"Tidak, biarkan aku sendiri disini. Kau saja bawa Sid keluar bermain bersamamu!" Aisha menolak dengan suara parau akibat menangis.


"Kau tidak bisa menolak Aisha, ayo!" Deva kembali mengajak Aisha sambil mendorong kursi roda Aisha dan membawanya keluar menuju garasi.


Deva menggendong Aisha lalu memasukannya kedalam mobil setelah itu memasukkan kursi roda Aisha ke bagasi mobilnya.


"Tunggu disini aku akan mengambil Sid dulu!" Sambil berlalu meninggalkan Aisha. Aisha pun mengangguk dan memilih mengikuti kata-kata suaminya karena Aisha tahu Deva paling tidak bisa ditolak.


Deva kembali membawa Sid, Aisha pun tersenyum dan menyambut Sid untuk duduk pangkuannya.


"Una!" Sid tersenyum dan menyambut uluran tangannya dengan sangat antusias.


"Iya sayang, kesayangan bunda." Sambil menghujani Sid dengan ciuman dari kening hingga pipi gembulnya.


"Kau selalu mengganggunya suamiku, jadi dia akan selalu membalasmu yang jahil dan konyol itu!" Ledek Aisha.


"Aisha, kali ini aku diam saat kau meledekku! Akan tetapi lihat saja jika kau sudah sembuh nanti aku akan memberimu hukuman!" Dengan wajah dan senyuman nakal.


"Hmmm." Aisha hanya berdehem lalu memalingkan wajahnya dan mulai terfokus pada Sid kembali.


Deva yang menyadari bahwa aisha kembali sedih segera mempercepat laju mobilnya dengan hati yang diselimuti perasaan bersalah.


Tak lama Deva sudah sampai di sebuah sungai yang airnya sangat deras.


"Sungai? Untuk apa kita ke sungai ini?" Tanya Aisha heran


"Dengar Aisha aku akan menceritakan alasan mengapa aku mengajakmu kesini. Tapi sebelum itu aku harus menurunkanmu dulu!" Sambil mengambil Sid dan menurunkannya di tanah. Setelah itu mengambil kursi roda dan menurunkan Aisha lalu mendudukkan Aisha di kursi rodanya.


Deva mengambil Sid lalu kembali meletakkannya di pangkuan Aisha. Kemudian Deva mendorongnya mendekati sungai.


Lalu Deva berhenti tepat di sisi sungai. Aisha mulai merasa ada sesuatu yang sedikit mengganjal.

__ADS_1


Kenapa Deva melakukan ini? Apa dia berusaha mengakhiri hidupku karena keadaanku yang cacat saat ini? Tapi kenapa dia menyewa dokter terapi jika dia ingin menghabisiku sekarang ini?


"Aisha, kenapa kau terlihat ketakutan? Aku tidak berniat membunuhmu, aku hanya ingin bermain air di sungai itu!" Sambil terkekeh melihat wajah Aisha yang sudah panik dan ketakutan.


"Heuh? Tidak, aku hanya takut melihat airnya yang sangat deras." Dengan wajah yang merasa bersalah karena sudah meragukan Deva.


"Oh begitu ya, kalau begitu kau tunggu disini bersama Sid." Aisha mengernyitkan dahinya bingung.


"Memangnya kau akan kemana? Jangan bilang jika kau..." Aisha tak menyelesaikan ucapannya melihat Deva sudah tersenyum konyol padanya.


"Aku ingin mandi di sungai ini!" ujar Deva membuat Aisha terkejut dan membuka mulutnya dengan lebar.


"Hah? Apa kau bilang?!" Tanya Aisha merasa tak yakin dengan ucapan Deva.


"Aku ingin...Mandi di sungai ini" Sambil berbisik di telinga Aisha disertai senyuman konyolnya lagi.


"Kau sudah-..." Sebelum aisha menyelesaikan ucapannya Deva sudah membuka bajunya dan hanya tinggal memakai celana pendek lalu masuk kedalam air sungai dan meloncat-loncat sambil tertawa seperti anak kecil "Tidak waras!" Aisha melanjutkan ucapannya yang tadi hendak diucapkan.


"Lihat Aisha! Seru sekali" Sambil menciprat-cipratkan air ke arah Aisha.


"Dasar konyol!" Ledek Aisha.


"Apa? Aku tidak dengar!" Sambil keluar dari dalam air sungai dan berjalan menghampiri Aisha yang masih memegang Sid di pangkuannya. Deva duduk di depan Aisha dan tersenyum.


"Aisha, aku hanya ingin melihatmu tersenyum seperti biasa sebelum kejadian itu." Sambil menggenggam kedua tangan Aisha.


"Tapi kau tidak harus melakukan hal konyol seperti itu!" Ketus Aisha.


"Waktu kita masih kecil bukankah kau sering bermain di sungai yang berada di bandung bersamaku dan teman-temanmu?" Kata Deva mengingatkan Aisha kembali pada masa kecil mereka.


"Tapi itu dulu saat kita berumur 8 tahun! Sekarang ini kau sudah menjadi seorang ayah dari 1 anak, apa kau tidak malu diperhatikan para pengunjung disini?" Kata Aisha sambil melirik ke semua sisi yang terdapat banyak sekali orang.


"Hmm... Kau benar juga, jika begitu aku akan mengajak Sid untuk bermain air bersamaku!" Lalu mengambil Sid dari pangkuan Aisha dan membawanya menuju sungai.


"Heii...! Awas jika dia kedinginan dan sakit setelah pulang dari sini!" Ketus Aisha.


Akhirnya hari itu deva habiskan dengan bermain di sungai bersama Sid. Sedangkan aisha hanya menonton kekonyolan suami dan anaknya itu dari pinggir sungai sambil sesekali tertawa.


Selamat membaca!!!

__ADS_1


__ADS_2