
Aisha menjerit sekeras mungkin, bahkan ia sudah menangis histeris mendengar kabar bahwa Deva tertembak oleh Yessi.
"Tidaaaaaaaaak! Deva itu tidak mungkin!" Teriak Aisha.
"Aisha, ada apa? Kenapa kau menangis?" Ucap Resha yang baru memasuki kamar Aisha, dan melihat Aisha sudah menangis.
"Kakak, kita harus segera kembali ke Bandung!"
"Tapi ada apa, Aisha?!" Aisha semakin menangis histeris, dan membuat Resha kebingungan.
"De.. Deva! Dia tertembak oleh Yessi!"
"Apa?!" Resha terbelalak begitu juga Ibunya Aisha yang baru masuk ke kamar Aisha.
"Kakak, kita harus segera kembali ke Bandung! Aku harus menemui Deva! Aku harus melihat keadaan Deva sekarang!"
"Aisha, tapi penerbangan hanya ada besok pagi!"
"Ada apa? Aisha, kau kenapa?" Tanya Aryan yang baru datang.
"Kakak, kita harus kembali ke Bandung! De.. Deva tertembak oleh Yessi!"
"Apa? Deva tertembak?!" Dari arah pintu Dendi membelalakkan matanya terkejut.
Aisha mengangguk.
"Tapi, bagaimana bisa kita kembali ke Indonesia saat ini? Anak buah Yessi pasti sudah mencari kita!" Ucap Dendi sambil menunduk.
"Aku tidak peduli, aku saat ini hanya ingin melihat keadaan Deva!"
"Aisha! Jangan keras kepala, kau tahu kenapa kita dikirim kesini? Karena Deva tidak ingin kau berada dalam bahaya lagi! Sekarang kau ingin masuk dalam bahaya Yessi lagi? Kau tidak berfikir, kenapa suamimu bisa sampai tertembak begitu?! Itu semua karena Deva sangat menyayangi dan mencintaimu, dia ingin melindungimu dari berbagai macam bahaya besar maupun kecil!
Dan kau akan membuat perjuangan juga pengorbanan Deva sia-sia?! Dengar Aisha, disana ada Reihan! Dia sudah seperti adiknya Deva, percayalah Reihan pasti akan menjaga Deva!" Aryan mencoba meyakinkan Aisha.
"Tapi Deva pasti sangat membutuhkanku saat ini kakak! Mengertilah! Aku tidak bisa membiarkan suamiku dalam keadaan seperti itu tanpa aku disisinya!" Aisha tetap bersikeras, sedangkan semua orang tak habis pikir mengapa Aisha keras kepala sekali.
"Aisha! Sekali ini saja kau mengerti!" Nada bicara Aryan mulai meninggi, kala menghadapi Aisha yang sangat keras kepala itu.
__ADS_1
"Aryan! Cukup!" Ibu mereka menghentikan adik kakak yang hampir bertengkar itu.
"Aisha, kakakmu benar! Sekarang ini belum aman, Yessi pasti masih mencari keberadaan kita. Dan Deva pasti akan baik-baik saja, Reihan pasti akan sangat menjaga Deva!" Aisha menatap ibunya, lalu ibunya memeluknya.
"Ibu, kenapa ini semua terjadi padaku dan keluarga kita? Apa kesalahan kita, sehingga kita harus merasakan semua ujian ini?" Lirih Aisha dalam pelukan ibunya.
"Bahkan kita harus kehilangan ayah, jika ini adalah hukuman dari dosa-dosaku, mengapa tidak aku sendiri saja yang dihukum? Kenapa kalian harus ikut dihukum juga?"
"Aisha, semua sudah takdir jalan hidup kita. Percayalah, jika tuhan memberi kita kesulitan maka setelah itu pasti akan ada kemudahan. Jika saat ini kita menderita, semoga penderitaan kita ini cepat berganti dengan kebahagiaan yang besar dalam hidup kita!" Ibu Alia atau ibunya Aisha kembali menasehati Aisha.
"Aisha, istirahatlah sekarang! Jangan memikirkan hal yang buruk, kau sedang hamil. Berdoalah agar Tuhan segera memberi Deva kesembuhan dan keselamatan, percayalah pada Tuhan! Pasti Dia akan mengabulkan doa-doamu!" Aisha mengangguk, Aryan segera meraih Aisha dan membantunya tidur di ranjangnya.
"Maafkan aku Aisha, seharusnya aku tidak membentakmu tadi."
"Tidak apa-apa kak, kau memang benar. Harusnya aku mengerti dan tidak keras kepala." Aryan tersenyum, lalu menyelimuti Aisha yang sudah berbaring di ranjang.
Satu persatu meninggalkan Aisha yang sudah mulai terlelap dalam tidurnya, hingga suasana kamar itu sangat hening.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Dokter, bagaimana keadaannya?" Tanya Reihan pada seorang dokter yang baru keluar dari ruangan operasi.
Reihan menghela napas lega, karena orang yang sudah seperti kakaknya itu ternyata masih hidup.
"Baiklah dokter, apa aku bisa menemuinya?" Dokter mengangguk, lalu berpamitan pada Reihan.
"Jika begitu, saya pamit kembali bekerja." Setelah diangguki Reihan, dokter segera berlalu dari hadapan Reihan.
Sementara Reihan mulai memasuki ruangan ICU karena Deva untuk sementara akan di tempatkan di ruangan ICU hingga keadaannya stabil.
"Tuan, cepatlah bangun dan sehat kembali! Nona Aisha pasti sudah sangat mengkhawatirkan keadaanmu disana. Maafkan aku tuan, aku memberi tahu nona tentang hal ini! Karena aku tidak ingin nona Aisha tahu dari wanita jahat itu!" Ucap Reihan saat sudah berada di samping Deva yang tengah berbaring tak berdaya.
"Re.. Reihan." Reihan.
Mendengar suara Deva, Reihan tersenyum senang.
"Tuan, aku disini."
__ADS_1
Deva tersenyum melihat Reihan yang begitu senang ketika dia tersadar.
"Tunggu, tuan! Akan ku panggilkan dokter!" Reihan beranjak, lalu keluar untuk memanggil dokter. Tak lama, Reihan kembali bersama dokter yang tadi menangani Deva.
Dokter langsung memeriksa keadaan Deva.
"Ini sangat ajaib, tadi keadaannya sangat lemah. Bahkan dapat dipastikan dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi, tapi sekarang keadaannya sudah mulai membaik!" Ucap dokter itu membuat Reihan sangat bersyukur dengan keadaan Deva saat ini.
Setelah selesai memeriksa Deva, dokter keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Reihan bersama Deva.
"Reihan." Lirih Deva dengan suara lemah.
Reihan mendekati Deva, dan duduk di samping Deva.
"Ya tuan, anda butuh sesuatu?" Deva menggeleng.
"A.. Aisha." Ucap Deva sambil berusaha bangun, namun ditahan oleh Reihan.
"Nona sudah aman di London, begitu juga tuan muda dan keluarga nona." Jawab Reihan mengerti apa yang Deva ingin dengar, Deva tersenyum mendengarnya.
"Terima kasih."
"Tidak masalah tuan, saat ini kau istirahatlah dulu untuk memulihkan dirimu." Deva mengangguk, lalu memejamkan matanya kembali bukan untuk tertidur tapi untuk memikirkan Aisha yang pasti saat ini sudah sangat mengkhawatirkannya.
Aku merindukanmu Aisha, biasanya disaat aku seperti ini kau yang akan menjaga dan menemaniku. Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Keadaan saat ini membuatku muak. Lihat saja, aku akan membalas wanita gila itu yang telah membuatmu menangis!
Deva tersenyum meskipun matanya terpejam, hal itu membuat Reihan yang sedari tadi memperhatikannya merasa bingung bahkan ketakutan.
Kenapa dia tersenyum? Hih, apa di tempat ini banyak setan? Ah tidak, tidak! Meskipun ada setan kenapa seorang Reihan harus takut pada setan? Jika berhadapan dengan mafia besar aku bisa, mana mungkin aku takut pada setan! Reihan terkikik sendiri, Deva yang mendengar itu membuka matanya.
"Ada apa? Kenapa kau tertawa sendirian?" Tanya Deva dengan suara yang masih lemah sambil mengkerutkan dahinya.
"Eh, eum tidak tuan!" Jawab Reihan gelagapan.
Deva semakin bingung, jelas tadi ia mendengar kikikkan Reihan.
Dasar aku gila, kenapa harus memikirkan setan?! Dan kau setan, jika kita bertemu aku akan membalasmu, karena telah membuatku menjadi konyol di hadapan tuan Deva! Kesal Reihan dalam hatinya.
__ADS_1
Setan kok di pikirin sih Reihan? Dasar gila 🙄🤣 Selamat membaca ya untuk para readers, jangan lupa like dan vote nya 🤣