Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Serba Salah!


__ADS_3

Pagi itu, seperti tidak ada kesempatan bagi Deva untuk bersantai sedikitpun, Aisha terus meminta hal-hal yang diluar pengetahuan Deva.


"Cepatlah, suamiku!" Rengek Aisha dengan air mata yang hampir menetes.


"Tapi, dimana aku harus mencarinya?" Dengan wajah bingung.


"Tentu saja di orang yang menjualnya! Begitu saja kau tidak tahu!" Sambil melipat kedua lengannya di dada.


"Heuh! Baiklah, tunggu disini! Aku akan keluar mencari makanan itu! Tapi sebelum itu, aku mohon jangan seperti ini lagi, Aisha! Biarkan aku istirahat, walaupun hanya 1 jam." Sambil memasang wajah memelas yang sangat terlihat menyedihkan.


Bagaimana Deva tidak memelas seperti itu? Sudah 2 hari mereka berada di Bandung, selama itu pula Aisha terus membuat Deva pusing dengan memintanya mencari makanan yang sudah sangat susah untuk dicari. Semalam bahkan Deva tidak tidur sama sekali, bukan karena mencari makanan. Akan tetapi Aisha yang tidak memperbolehkan Deva tidur sama sekali.


"Ya sudah!" Dengan nada ketus.


Tanpa basa-basi, Deva segera meluncur untuk mencari makanan yang dipinta Aisha. Setelah Karedok Leunca, kali ini Aisha meminta makanan bernama Awug.


Deva mencari ke sekeliling tempat, sampai sore hari ia baru menemukan makanan itu. Dengan langkah gontai, ia berjalan memasuki Villa.


"Kau darimana saja?" Tanya Aisha dengan nada sinis.


"Kau masih bertanya aku darimana?" Kali ini Deva merasa jengkel dan tidak bisa menahan kejengkelannya lagi. "Aisha! Aku dari pagi mencari apa yang kau inginkan, dan saat aku pulang hari sudah sore seperti ini kau bukannya menyambutku! Kau malah berbicara dengan nada tinggi padaku? Kau ngidam wajar saja! Tapi tolong hargai aku dan hormati aku sebagai suamimu!" Deva mengungkapkan kekesalannya.


"Kau tahu Aisha? Saat kau meminta ingin ke Bandung, aku sangat lelah! Sangat, sangat lelah! Tapi karena aku sangat menyayangi dan mencintaimu, juga demi bayi kita aku berusaha menuruti keinginanmu! Kenapa kau selalu membuatku berada di posisi serba salah? Hah?! Jika aku tidak menuruti keinginanmu, kau pasti akan sedih dan pasti aku yang disalahkan. Tapi saat aku menuruti keinginanmu, kau masih menyalahkan aku juga! Kau ini sebenarnya menginginkan semua itu atau hanya mempermainkan aku Aisha?! Lihatlah, kau bertanya aku dari mana bukan? Lihat ini! Aku membelikanmu makanan yang kau inginkan ini! Tapi kau sama sekali tidak menghargaiku! Bahkan kau pasti tidak akan memakannya juga!" Sambil menyodorkan bungkusan kresek hitam ke arah Aisha, lalu bergegas menaiki tangga dan masuk ke kamar dengan perasaan yang bercampur aduk.


Aisha tertegun dengan kata-kata Deva. Ia menyesali perbuatannya pada Deva. Yang sebenarnya hanya ingin menjahili Deva, harus berakhir dengan kemarahan Deva padanya.


Ya Tuhan, aku pasti sudah keterlaluan! Apa yang telah kulakukan ini? Bukankah ini benar-benar salah? Aku sudah mempermainkan Deva, suamiku sendiri. Aku menyesal, seharusnya aku tidak mempermainkannya dan memancing timbulnya masalah antara kami.


Aisha sudah menangis dan menyesali apa yang telah diperbuatnya pada Deva. Dengan perasaan bersalah Aisha menaiki anak tangga untuk menyusul Deva yang sudah masuk ke kamar.


Pada saat menaiki tangga, Aisha tidak memperhatikan sebuah bola tennis yang berada di tengah-tengah anak tangga tersebut dan menginjaknya.

__ADS_1


Sid yang baru masuk ke rumah sehabis bermain melihat bola tennis yang sudah akan di injak Aisha.


"Bundaaa! Awas, ada bola disana!" Teriak Sid dengan suara sekeras mungkin.


Akan tetapi semua sudah terlambat, Aisha menginjak bola itu hingga tergelincir dan jatuh di lantai dasar.


"Aahhh, tolong!" Ringis Aisha


"Bundaa!" Sid menghampiri Aisha yang sudah kesakitan memegangi perutnya sambil berguling kesana-kemari.


Dari arah atas Deva sudah berlari menuruni tangga karena terkejut mendengar teriakan Aisha. Saat sampai di lantai dasar, begitu terkejutnya Deva mendapati Aisha yang sudah tergeletak di lantai sambil meringis kesakitan dan kaki dipenuhi darah. Disebelahnya Sid yang sudah menangis.


"Aisha!" Seru Deva sambil membangunkan Aisha dan memeluknya. "Sid, apa yang terjadi pada bundamu?" Sambil menoleh pada Sid.


"Bu.. Bunda jatuh dari tangga karena injak bola, yah!" Sid menjawab sambil menangis tersedu-sedu.


"Aisha, bertahanlah! Kita akan segera ke rumah sakit!" Sambil menggendong Aisha dan membawanya keluar, lalu memasukkannya ke dalam mobil.


"Sid! Ikutlah, dan ini! Tolong hubungi kakek lucas untuk segera datang ke bandung!" Sambil menyodorkan ponsel pada Sid untuk menelepon ayahnya Aisha.


Tak lama, mereka sampai di rumah sakit XX. Deva kembali menggendong Aisha, sampai beberapa perawat yang melihat kedatangan Deva dengan menggendong Aisha langsung membawa sebuah blankar.


"Suster, tolong segera tangani dia!" Ucap Deva sambil meletakkan Aisha di blankar yang di bawa beberapa perawat tadi.


"Sakit... Suamiku, tolong aku! Perutku sakit sekali!" Lirih Aisha dengan suara lemah.


"Aisha, bertahanlah! Kau akan baik-baik saja."


Blankar mulai di dorong menuju ruang gawat darurat.


Sampai di depan pintu, seorang perawat mencegah Deva untuk masuk.

__ADS_1


"Pak, anda tunggu disini saja! Kami akan segera menangani pasien!"


Deva pun terdiam lalu duduk bersama Sid yang sedari tadi mengikutinya di belakang.


Sid memeluk Deva, Deva pun membalas pelukannya.


"Yah, Bunda pasti baik-baik saja!" Sid mencoba menyemangati dan menghibur Deva.


Deva pun tersenyum lalu mengecup pipi gembul Sid.


"Sid, anak ayah yang paling pintar! Terima kasih!" Lalu mendekap Sid.


Maaf Aisha, jika aku tak memarahimu maka semua tidak akan terjadi. Aku khilaf, seharusnya aku sabar. Tapi aku malah memarahimu. Aku memang laki-laki paling bodoh, yang hanya bisa membuatmu menderita.


Deva menitikkan air matanya. Hatinya gelisah, takut, serta khawatir. Saat ini Deva hanya bisa memeluk Sid, karena dengan seperti itu membuatnya sedikit kuat.


Sid sendiri sudah tertidur di pangkuan dan pelukan Deva, hingga tak lama seorang dokter keluar dari ruangan dimana Aisba sedang ditangani. Deva berdiri sambil menggendong Sid dan menghampiri dokter itu.


"Dokter, bagaimana keadaan istriku? Dia sedang hamil, apa istri dan bayiku baik-baik saja?" Dengan wajah panik.


"Pak, istri anda sangat lemah, begitu juga dengan kandungannya sangat lemah dan mempunyai komplikasi yang mengharuskan kami melakukan aborsi terhadap janinnya. Jika tidak, maka akan membahayakan nyawa istri anda. Apa anda setuju? Jika anda setuju, kami akan segera melakukan operasi. Akan tetapi, kami juga harus menanyakan keputusan pasien terlebih dahulu. Tapi, saran kami sebaiknya anda membujuk pasien untuk menyetujuinya!"


Saran dokter membuat Deva bimbang dan tidak tau harus memutuskan apa. Ia sangat menginginkan bayi itu, disisi lain dia sangat mencintai Aisha dan tidak ingin kehilangan Aisha. Akan tetapi mau tidak mau Deva harus memutuskan yang terbaik.


"Dokter, aku menyetujui aborsi untuk istriku." Dengan penuh keyakinan Deva memberikan keputusannya.


"Baik, pak. Kami hanya tinggal menunggu keputusan dari pasien sendiri. Saat sudah melewati masa kritisnya anda boleh menemuinya dan menanyakan keputusan itu padanya!" Sambil berbalik dan berlalu.


Deva menghela napas panjang lalu melihat Aisha dari balik jendela di ruangan dimana Aisha sedang terbaring lemah tak berdaya.


Ya Tuhan, cobaan seperti apa ini? Mengapa Engkau menghadapkanku pada ujian dengan pilihan yang sulit?! Di satu sisi aku ingin anugerah malaikat kecil keduaku dari-Mu. Disisi lain nyawa wanita yang sangat aku cintai. Keduanya sangat berharga bagiku. Ya Tuhanku, tolong beri aku kekuatan untuk semua ini.

__ADS_1


Deva kembali duduk di kursi tunggu, lalu mengusap punggung Sid yang sedari tadi masih tidur di gendongannya.


Selamat Membaca!!


__ADS_2