
2 jam sudah berlalu, Deva menyudahi rapatnya dan bergegas kembali ke kantor.
Orang-orang yang berada disana seketika segera menghampiri Deva, dan satu-persatu menghalangi Deva yang berjalan menuju ke ruangannya.
"Siang pak Deva, saya ingin menanyakan sesuatu pada anda!" Ucap Karin yang baru keluar dari lift dan berjalan menghampiri Deva.
"Siang, Karin. Apa pertanyaan itu penting?"
"Ya pak, ini menyangkut kantor ini!" Deva antusias dan memasang pendengarannya tajam untuk mendengar apa yang akan ditanyakan Karin tentang kantornya.
Buatlah pak Deva sibuk disana, sampai ruangan ini selesai diubah! Nyonya Aisha, bagaimana caranya? Kau telah membuatku masuk ke kandang singamu itu!
Karin menelan salivanya, melihat Deva yang menunggunya untuk bertanya.
"Karin, kenapa kau diam? Cepat! Waktuku tidak banyak!" Tegur Deva yang membuat Karin terperanjat.
"Pak, sebelum itu kita duduk disana! Pertanyaannya banyak, ini dari calon klien baru kita! Jika anda tidak menjawabnya maka kita akan kehilangan klien baru kita pak." Ujar Karin berbohong.
"Biarkan saja!" Ketus Deva.
Pak anda memang tidak bisa di alihkan! Apa sehebat itu? Hingga bapa bisa mencium bau perubahan di ruangan anda secepat ini?!
"Karin!" Tegur Deva dengan suara keras.
Karin terperanjat, lalu segera menunduk.
"Pak, tahun berapa perusahaan ini di bangun?" Tanya Karin asal.
"Tahun 1990, memangnya kenapa?"
"Ini pertanyaan dari klien baru kita, em... Maksudku calon klien baru kita!" Karin tergugup, Deva pun menatapnya dengan curiga.
Karin menunduk, lalu tiba-tiba ponselnya berdering.
"Ah, sebentar, pak! Saya mengangkat telepon dulu dari calon klien baru kita!" Lalu menjauh dari Deva, untuk mengangkat telepon yang sebenarnya dari Aisha.
"Hallo, nyonya! Bagaimana? Sudah selesai? Syukurlah, baik nyonya saya akan menyuruh pak Deva ke ruangan sekarang juga!" Karin menghela napas dalam dan merasa lega, mendengar bahwa perubahan ruangan Deva sudah selesai.
Karin kembali menghampiri Deva dan duduk di depan Deva yang sedari tadi duduk disana sambil memainkan ponselnya.
"Pak, klien kita menyuruhku untuk tidak menanyakan pertanyaan tadi pada anda. Dia bilang dia sudah tahu seluruh sejarah kantor dan bisnis anda."
"Baiklah, kembalilah bekerja!" Titah Deva sambil berdiri, lalu berlalu meninggalkan Karin yang sudah berkeringat dingin sedari dia mengalihkan perhatian Deva agar tidak masuk ke ruangannya dulu.
Deva menaiki lift khusus untuk orang-orang besar di perusahaan ini, tepat di lantai 10 dimana ruangannya berada, Deva keluar dari lift lalu berhenti ketika melihat pintu ruangannya yang catnya berubah dari warna hitam menjadi cokelat.
"Hah? Siapa yang sudah berani mengubah cat pintu ruanganku ini?!" Deva bertanya-tanya sambil terus menatap pintu dengan cat barunya itu.
Perasaannya mulai tidak enak, ia pun segera membuka pintu ruangannya dan segera masuk.
__ADS_1
Ceklek...
Pintu terbuka, lalu Deva masuk kedalamnya. Seketika Deva terkejut, lalu menatap sekeliling ruangannya.
"Apa ini benar-benar ruanganku? Siapa yang berani mengubahnya menjadi seperti ini?!" Teriak Deva.
Deva kembali menatap sekeliling ruangannya, seluruh ruangannya telah berubah total, dari warna cat hingga tata letak barang-barang disana, dari tidak ada bunga di atas meja sekarang setiap meja terletak bunga menghiasi meja itu di atasnya. Matanya berhenti, ketika melihat seorang wanita sedang berdiri menghadap jendela yang berada di ujung ruangan itu.
"Siapa kau? Apa kau yang telah berani mengubah ruanganku?" Wanita yang sebenarnya adalah Aisha itu, tidak menjawab. Ia hanya tersenyum masih dengan posisi yang sama.
"Apa kau tuli dan bisu? Kenapa kau tidak mendengar dan menjawab pertanyaanku?! Dan ya, siapa yang telah mengizinkanmu masuk ke ruanganku?!" Emosi Deva sudah mulai naik.
"Apa istri dari pemilik ruangan ini sendiri tidak boleh masuk ke ruangan ini?" Aisha membalikkan tubuhnya, lalu mulai membuka suara.
"A.. Aisha? Ja.. Jadi kau yang?!" Deva menatap Aisha dengan tatapan shock. Shock karena ia tadi sudah bertanya pada wanita yang dikira orang lain itu sambil berteriak-teriak dan mengatainya bisu juga tuli.
"Ya, aku yang sudah mengubah ruangan jelekmu itu menjadi indah seperti ini!" Ucap Aisha datar.
"Ka.. Kau?" Deva tergagap, apalagi Aisha sudah menatapnya dengan tatapan tajam.
"Apa? Kau mau mengataiku lagi?! Ayo cepat! Setelah kau mengataiku bersiaplah mendapat ciuman sandalku yang indah ini!" Deva langsung membelalak, dan mendekati Aisha lalu merangkul Aisha.
"Tidak, sayang! Ruangan ini indah sekali, terima kasih!"
"Hmmm.." Aisha hanya berdehem, lalu duduk di kursi kerja Deva yang baru dibelinya tadi.
"Ya, kau terlalu pelit! Sampai kursi sudah seperti batu pun tidak kau ganti! Pelit boleh, tapi jangan sampai membuat diri sendiri tidak nyaman!" Aisha mencibir Deva.
Deva terkekeh, mendengar cibiran Aisha.
"Hehehe, maaf sayang! Kau memang bijak!" Puji Deva sambil mencium pipi Aisha.
Aisha menyandarkan kepalanya di dada Deva, masih dengan duduk di pangkuannya.
Deva kembali mencium Aisha, kali ini di bagian keningnya.
"Terima kasih sayang, kau telah mengubah ruangan ini menjadi indah. Seindah cinta kita."
"Kelak semua ini yang akan selalu mengingatkanmu padaku, jika aku sudah tidak berada disisimu, bersamamu!" Lirih Aisha sambil mengeratkan pelukannya pada Deva.
"Aisha, kau akan selalu berada disisiku, bersamaku. Hanya maut yang akan memisahkan kita." Balas Deva.
"Aku berharap begitu, suamiku. Jangan sampai ada yang memisahkan kita selain maut!"
Deva mendekap Aisha erat di dadanya, dengan waktu yang cukup lama. Aisha memejamkan matanya, menikmati setiap detik kenyamanannya di dalam Dekapan Deva. Lima menit, sepuluh menit, hingga 15 menit mereka saling menikmati kenyamanan masing-masing. Hingga pada detik berikutnya.
"Tuan, anda ada....-" Reihan membalikkan tubuhnya, lalu kembali melangkah keluar.
"Maaf, pak! Saya tidak tahu!" Lalu menutup pintunya.
__ADS_1
Deva dan Aisha terlonjak kaget, hingga mereka berdiri dan menempatkan dirinya masing-masing dalam posisi berjauhan.
Aisha duduk di sofa, sedangkan Deva masih duduk di kursi kerjanya sambil membuka laptop dan menggerakkan jemarinya diatas keyboard laptopnya.
Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu dari luar, Deva menoleh pada Aisha. Dilihatnya Aisha sedang membaca majalah yang ada di meja.
"Masuklah!"
Pintu terbuka lebar, Reihan masuk dan melangkah mendekati Deva dengan kepala menunduk.
"Reihan, lain kali ketuk pintu seperti barusan jika ingin masuk ke ruanganku!" Tegur Deva.
"Ba.. Baik tuan, maaf tadi aku terburu-buru!" Jawab Reihan dengan tergagap.
"Ya, kali ini aku memaafkanmu!"
Tuan, salah siapa bermesraan di kantor! Bukankah kantor itu tempat bekerja! Kenapa kau malah menjadikan ruangan kantormu ini tempat bermesraan dengan istrimu! Reihan merutuki Deva di dalam hatinya.
"Tuan, sore ini jadwal anda untuk rapat dengan seluruh staf dan karyawan kantor ini!" Reihan membaca agendanya, memberitahu jadwal Deva.
"Baiklah, ada lagi?"
"Tidak ada, tuan." Sambil menggeleng.
"Kau boleh pergi!" Usir Deva tanpa menoleh pada Reihan.
Reihan bergegas pergi dari ruangan Deva.
Deva menoleh pada pintu yang sudah tertutup rapat, lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri pintu. Sampai di depan pintu Deva mengunci pintu itu rapat-rapat.
Setelah itu, ia menghampiri Aisha yang sudah menatapnya dari sofa.
"Aisha, kita lanjutkan yang tadi!" Ucap Deva sambil tersenyum ke arah Aisha.
"Kau ini, selalu saja berbuat konyol! Tidak tahu malu, di tempat kerja malah menggoda istri!" Celetuk Aisha.
Deva terkekeh, lalu duduk di samping Aisha dan menyandarkan kepalanya pada bahu Aisha. Sejenak Deva menghilangkan rasa lelahnya dengan bersandar di bahu nyaman istrinya itu.
**Bersambung, author mau minta votting dari kalian.
Novel ini bikin bosan gak sih?
Lanjut atau End bentar lagi?
Pembaca setia, mari komen!
Selamat membaca!! Jangan lupa Like nya ya**!!!!
__ADS_1