Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Terdiam


__ADS_3

"Aisha, kenapa kau hanya diam saja dari tadi?" Tanya Deva saat melihat Aisha hanya diam sambil memandang lurus ke samping.


"Hmmm, tidak ada." Jawab Aisha singkat, tetapi matanya masih memandang ke arah yang sama.


"Benarkah?" Kali ini Aisha menoleh pada Deva, lalu mengangguk dan langsung kembali memandang ke arah yang sedari tadi di pandangnya.


"Hmm." Deva berdehem, akan tetapi Aisha masih tidak bergeming. Tetap memandang ke samping, lebih tepatnya memandang jalanan yang padat tersebut.


Kenapa dia jadi diam seperti ini? Biasanya dia selalu ceria jika telah memeriksa kandungannya. Pasti dia menyembunyikan sesuatu. Aku harus tau apa yang dia sembunyikan saat ini. Tapi, jika aku bertanya langsung apa dia akan menjawabnya dengan jujur? Lebih baik aku bertanya pada Ema, dia pasti akan mengatakan segalanya padaku! Batin Deva.


"Aisha, nanti malam kita ke pameran malam!" Membuyarkan lamunan Aisha.


"Hah? Pameran malam? Untuk apa?" Sambil mengerutkan keningnya.


"Putra kita ingin ke pameran malam."


"Untuk apa dia ingin ke sana?" Dengan wajah penasaran.


"Aku tidak tahu, tapi sepertinya dia sangat ingin kesana."


"Baiklah, tapi jangan terlalu malam!"


"Ya, sayang."


Tak lama, mereka sampai di rumah. Saat Deva ingin membukakan pintu mobil untuk Aisha, Aisha sudah turun lebih dulu dan segera masuk ke rumah tanpa sepatah katapun ia ucapkan pada Deva.


"Ada apa dengannya? Kenapa dia jadi seperti itu? Apa aku membuat kesalahan yang tidak aku sadari?" Gumam Deva dengan perasaan yang tak menentu.


Deva lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon Dokter Ema.


"Hallo, Ema!" Ketika telepon sudah di angkat.


"Ya tuan!" Sahut Ema dari telepon.


"Bagaimana hasil pemeriksaan tadi?" Dengan ekspresi datar.


"Hah? Eum.. Baik tuan, semua baik-baik saja."


"Jangan berbohong, Ema! Aku tahu kalian menyembunyikan sesuatu dariku!" Ucap Deva meminta penjelasan.


"Tu..tuan, sebenarnya.. Janin yang di kandung bu Aisha..." Tidak meneruskan kalimatnya.


"Katakan, Ema!" Dengan nada suara yang mulai meninggi.


"Janinnya berada di posisi yang berbahaya, itu karena bu Aisha sering melakukan perjalanan jauh. Jadi kami menghimbau bu Aisha agar tidak berpergian jauh, karena bisa saja janin itu mengalami keguguran." Dengan suara yang terdengar bergetar.


"Apa? Kau jangan bercanda, Ema!"


"Aku tidak bercanda, pak. Maka dari itu kita harus segera melakukan USG pada bu Aisha!"


"Baiklah, lusa aku akan membawa Aisha untuk melakukan USG." Lalu memutus teleponnya tanpa menunggu jawaban dari dokter Ema.

__ADS_1


Deva menghela napas kasar, lalu berjalan dengan hati yang dipenuhi kekecewaan pada Aisha karena ingin menyembunyikan hal sebesar itu darinya.


"Kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku, Aisha!" Gumam Deva dengan nada kecewa.


Ia lalu bergegas memasuki rumah, sampai di kamar keadaan sudah sepi. Emosi Deva yang sudah naik tiba-tiba turun kembali melihat Aisha yang sedang melamun di atas ranjang.


Deva berjalan menghampiri Aisha, lalu duduk di kepala ranjang dan mengelus kepala Aisha. Aisha yang menyadari kedatangan Deva, segera memeluk Deva.


"Aisha, kenapa kau ingin menyembunyikan hak yang sangat penting dariku? Seharusnya kau berterus terang, jangan menyembunyikan hal kecil sekalipun dariku! Karena aku pasti akan segera mengetahuinya." Lalu mengecup kepala Aisha.


"Maaf, aku hanya tidak ingin kau khawatir."


"Justru aku akan khawatir jika melihatmu seperti tadi!"


"Maaf." Aisha hanya bisa mengatakan itu.


Pada detik berikutnya, air mata sudah turun deras membanjiri pipi Aisha. Isakan tangis mulai terdengar. Deva semakin erat memeluk Aisha.


"Sudah, Aisha. Jangan menangis! Aku disini bersamamu, kau dan bayimu akan baik-baik saja." Deva lalu menghapus air mata Aisha dan mengecup bibir Aisha singkat.


"Jika aku tiada nanti, tolong jangan salahkan bayi kita! Jaga kedua anak kita, dan jangan pernah menyakiti mereka."


"Cukup Aisha, kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu! Sudah ku bilang, aku tidak memberimu hak untuk mengatakan hal seperti itu! Kau dan aku akan bersama-sama membesarkan kedua anak kita!" Sambil menyimpan jari telunjuknya di bibir Aisha.


"Suamiku..." Aisha kembali menangis dan memeluk Deva.


"Aisha, jangan mengatakan hal seperti itu lagi! Aku tidak akan sanggup jika harus kehilanganmu. Jika kau pergi, bagaimana denganku? Dengan anak-anak kita? Jadi kau tidak akan mengatakan hal seperti itu lagi!" Sambil membelai kedua pipi Aisha.


"Bunda, Ayah." Ucap Sid yang tiba-tiba sudah berada di ambang pintu kamar Deva dan Aisha.


"Kemarilah, anak ayah!" Sambil mengulurkan kedua tangannya.


"Bunda kenapa menangis?" Tanya Sid sembari melangkah menghampiri ayah dan ibunya itu.


"Tidak ada, Sid. Bunda tidak menangis, tadi mata bunda kemasukan debu sewaktu membersihkan kamar." Jawab Aisha berbohong.


"Mana bunda? Apa sudah tidak perih lagi? Biar aku yang meniup mata bunda, biar debunya keluar." Sambil naik ke ranjang lalu mendekati Aisha.


"Ini dia, ayo tiup sayang." Sambil membelalakkan mata sebelah kirinya.


Sid meniup mata Aisha dengan cepat.


"Sudah, debunya sudah keluar! Terima kasih, sayang!"


"Ya bunda, sama-sama." Sambil duduk di pangkuan Deva.


Sid menoleh pada Deva sebentar, lalu mulai kembali bertanya.


"Yah, kita jadi pergi ke pameran malam kan?"


"Tanyakan pada bunda, ayah takut bunda kecapekan!" Sambil menunjuk Aisha.

__ADS_1


"Ya, sayang. Kita akan pergi ke pameran malam! Tapi, Sid ingin membeli apa di pameran malam?"


"Aku mau beli baju dan celana banyak, boleh kan yah?" Tanya Sid sambil tersenyum dengan senyuman yang menggemaskan membuat Deva mencubit pipi Sid.


"Untuk apa kau membeli pakaian banyak-banyak? Bukankah pakaianmu sudah banyak?" Tanya Aisha dengan nada heran.


"Yah, tadi di sekolah aku lihat anak seumur denganku di pinggir jalan. Kasihan, bajunya sobek-sobek. Jadi aku mau kasih sama temanku."


"Wah, anak ayah ternyata baik hati ya dan penolong!"


"Ternyata anak bunda punya hati yang baik, ya!"


Aisha dan Deva memuji Sid, yang meskipun masih kecil tapi hatinya sangat baik dan selalu menolong orang-orang yang kesusahan.


"Yah, boleh kan?" Tanya Sid kembali.


"Tentu, anakku!" Jawab Deva dengn senyuman bangga pada Sid.


"Ya sudah, aku main dulu ya, yah!" lalu turun dari ranjang dan keluar dari kamar ayah dan ibunya itu.


"Lihat itu, anak kita punya hati sebaik dirimu Aisha." Sambil menatap Sid hingga menghilang di balik pintu.


"Apa?"


"Ya, dia memang sangat baik hati. Seperti ibunya ini! Tidak sepertiku, yang selalu menghemat." Ucap Deva disertai senyuman jahil.


"Kau hemat atau pelit? Kekayaanmu besar tidak akan habis jika membeli lima buah mobil sport! Tapi kau selalu menolak meminjamkan uangmu pada tetanggamu itu!" Ledek Aisha.


"Aisha, jika tetangga kita tidak seperti itu aku akan meminjamkannya!" Deva mencubit hidung Aisha.


"Aw, sakit!"


"Aisha, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu!" Deva mengeluarkan ponsel dari saku jasnya lalu memperlihatkan sebuah foto pada Aisha.


"Darimana kau dapat foto itu? Bukankah itu hanya ada di ponselku?!" Sambil merebut ponsel Deva.


"Aku memindahkan memori ponselmu ke ponselku!" Deva tersenyum jahil.


Aisha lalu mengambil bantal dan memukulkannya pada Deva berkali-kali.


"Aisha, cukup, cukup!"


"Tidak, aku akan terus memukulmu! Kau ini menyebalkan!"


"Bukan aku, tapi author yang menyebalkan!"


"Iya, author yang menyebalkan! Memberiku suami yang berwatak menyebalkan dan konyol seperti dirimu!"


"Ayo Aisha, lempar author dengan bantal sebanyak mungkin!"


**Hahaha, author kan gak sengaja maaf ya yayang Deva dan Bebeb Aisha.

__ADS_1


Author hari ini up 2 episode aja ya, jangan marah! Author masih sibuk juga merevisi bab sebelumnya yang banyak titik kesalahannya.


Selamat Membaca jangan lupa selalu like setiap episodenya dan Vote Author biar masuk ranking vote...! Biar author juga dapet surat kontrak ya**!!!


__ADS_2