Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Kau Kuat, Aisha!


__ADS_3

Rencana telah siap, Deva dan para anak buahnya kini dalam perjalanan menuju mansionnya yang didalamnya menjadi tempat penyekapan Aisha beserta keluarganya.


"Atur posisi kalian sebaik mungkin, jangan sampai kita lengah!" Perintah Deva pada Reihan di dalam teleponnya.


Sampai di depan mansion Deva, disana masih terdapat para anak buah Yessi dengan posisi yang sama menjaga mansion Deva.


Deva memberi isyarat pada anak buahnya untuk maju satu persatu mengecoh anak buah Yessi.


Cara itu berhasil, anak buah Yessi kini berkumpul di hadapan Deva.


"Ayo, tangkap dia!" Teriak salah satu anak buah Yessi pada temannya untuk menangkap Deva.


"Serang mereka!" Teriak Reihan dari balik gerbang mansion. Terjadilah aksi saling menyerang, hingga anak buah Yessi ludes dihabisi anak buah Deva yang jumlahnya 2 kali lipat dari anak buah Yessi.


Darah bercucuran dimana-mana, membuat Deva berbinar senang dan kagum pada anak buahnya yang sangat kuat. Namun, ada rasa bersalah dihatinya.


Maaf Aisha, aku sudah berjanji padamu untuk tidak menghabisi siapapun lagi dengan anak buahku. Tapi, ini semua aku lakukan demi dirimu, aku tidak akan bisa jika terjadi hal yang buruk padamu!


Deva menyeringai, melihat mayat-mayat yang tergeletak di tanah dengan darah segar yang masih bercucuran dari luka di tubuh mereka.


Setelah puas, Deva memberi perintah pada anak buahnya.


"Sebagian, bereskan semua ini! Dan yang lainnya ikut aku untuk membereskan yang di dalam!" Lalu berjalan memasuki mansion.


Yessi yang melihat Deva, dalam hatinya perlahan muncul rasa takut. Ternyata Deva tidak selemah yang ia kira sebelumnya, ia baru mengetahui sisi lain dari Slaven Adeva Rafandi yang sebenarnya.


"Tidak, ini tidak mungkin! Sebelum dia benar-benar menghabisiku dengan cara sadis, sebaiknya aku melarikan diri dari sini!" Gumam Yessi dengan suara bergetar.


Dengan tubuh bergetar ketakutan, Yessi melangkah menuju pintu utama.


"Tidak semudah itu kau melarikan diri dari sini, sayangku!" Ucap Deva yang sudah duduk dengan bertumpang kaki di atas sofa.


Langkah Yessi terhenti, ia berbalik dan terkejut melihat Deva bersama para anak buahnya sudah berada disana.


"Ka... Ka... Kau!" Ucap Yessi dengan suara bergetar dan wajah yang sudah pucat karena ketakutan.


"Ya, Yessi sayangku! Apa kabarmu? Sudahkah kau melihat segalanya yang kami lakukan di luar tadi? Atau belum? Jika belum, ayo kita ulangi!" Seringaian Deva kembali muncul, dan membuat tubuh Yessi semakin bergetar.


"Apa? Sekarang aku yang akan mengulanginya padamu!" Deva sedikit terkejut, melihat ternyata Yessi masih memiliki nyali untuk melawannya.


Yessi berlari menuju ruangan dimana Aisha dan para keluarganya disandera, Deva mengikutinya dari belakang dan terkejut melihat keadaan Aisha dan keluarganya.


"A.. Aisha!" Aisha membuka matanya yang sudah sembab, lalu tersenyum sambil menangis pada Deva.

__ADS_1


"Kau datang juga, tolong kami!" Ucap Resha di samping Aisha.


"Suamiku, tolong kami!" Air mata kembali jatuh membasahi pipi Aisha.


"Tenanglah, aku akan menolong kalian! Dan aku akan segera membereskan wanita jahat dan gila ini!" Ucap Deva sambil melangkah, namun langkahnya terhenti saat Yessi menodongkan pistol pada perut Aisha.


"Mendekatlah, atau riwayatnya akan tamat!" Ancam Yessi semakin menodongkan pistolnya pada perut Aisha.


"Tidak! Jangan pernah berani menembakkan pelurumu pada Aisha, atau kau akan menemui ajalmu saat ini juga!" Deva balik mengancam.


Di belakang kursi, tangan Aisha sudah berhasil terlepas dari ikatan tali yang diikatkan Yessi.


Aisha memberi isyarat pada Deva untuk segera menyerang Yessi, namun Yessi mengetahuinya dan segera menyandera Aisha dengan menarik tangan Aisha, lalu menodongkan pistol itu kembali di kepala Aisha.


"Aisha!" Seru Deva sambil mengangkat pistolnya dan mengarahkannya pada Yessi.


"Jangan mendekat, atau akan kutembak Aisha sekarang juga!"


"Aisha, tidak! Jangan habisi putriku!" Seru ibunya Aisha yang baru sadar dari pingsannya dengan suara lemah.


"Hentikan Yessi! Dia itu adalah sahabatmu, apa kau tidak ingat? Saat kalian kuliah, kalian selalu tertawa dan menangis bersama jika salah satu ada yang senang ataupun sedih!" Dendi mengingatkan Yessi pada persahabatannya dengan Aisha.


Tapi, hati Yessi sudah dipenuhi dengan api dendam sehingga membuatnya tetap bertekad untuk membalaskan dendamnya pada Deva.


"Untuk apa aku mengingatnya, Aisha sudah merebut Deva dari kakakku! Hingga kakakku gila dan tiada! Maka Deva juga akan kehilangan orang yang dia sayangi, seperti aku kehilangan kakakku!"


"Devaaaaaaaaa.....!" Aisha memegangi dadanya yang sudah mengeluarkan darah, Deva segera menangkap Aisha yang sudah hampir terjatuh ke lantai.


"Aisha, tidak! Aisha, bertahanlah! Kita akan ke rumah sakit!"


"De.. Deva, se... Sela.. Mat.. Kan, Ba... Bayi... Ki.. Kita!" Ucap Aisha terbata-bata sambil meraih tangan Deva dan meletakkannya di perut Aisha.


Sementara di Yessi yang masih tersadar, meraih pistolnya yang terjatuh setelah menembak Aisha. Tangan sebelahnya lagi memegangi perutnya yang tertembak, lalu mengarahkan pistolnya pada Sid yang ikatannya sudah dilepaskan oleh Reihan.


Dalam hitungan detik, Yessi menembakkan peluru itu tepat. Peluru itu tepat mengenai perut Sid.


"Ayaaaah, Bundaaa!" Teriak Sid, lalu Sid tergeletak tak sadarkan diri.


"Sid!" Seru Deva sambil melepaskan Aisha dan meraih Sid.


"Tidak anakku, kau pasti kuat! Bertahanlah!" Tangis Deva pecah, ia meraih kedua orang yang sangat disayanginya itu.


Aisha yang masih tersadar ikut menangis.

__ADS_1


"Si... Sid, ti.. Ti.. Tidak!" Setelah itu Aisha ikut tak sadarkan diri.


"TIDAAAAAAAAKKKKKKKKKKK......!!!" Teriak Deva. Deva meletakkan Sid dan Aisha ke lantai, lalu meraih pistolnya dan menoleh pada Yessi yang sudah terduduk bersandar di dinding sambil tersenyum bangga.


"Kau bangga, Yessi? Kau bangga bukan sudah menghabisi istri dan anakku? Sekarang terimalah ini sebagai hadiah atas pencapaian yang kau raih! Menghabisi sahabatmu sendiri dan juga anaknya yang tidak bersalah!" Deva mengarahkan pistolnya tepat ke kepala Yessi, lalu menembakkannya berkali-kali hingga Yessi tewas mengenaskan.


Setelah itu, Deva kembali berbalik pada Aisha dan segera menggendongnya.


"Kalian, cepat bawa mereka semua ke rumah sakit!" Perintah Deva pada anak buahnya.


Reihan menggendong Sid yang sudah tak sadarkan diri. Yang lainnya membantu keluarga Aisha yang sudah lemas karena mendapat siksaan bertubi-tubi dari Yessi sebelum kedatangan Deva.


"Aisha, aku mohon! Bertahanlah! Kau pasti kuat! Jangan tinggalkan aku, berjanjilah padaku untu bertahan! Demi aku, Sid dan bayi kita yang akan lahir ini!" Deva berlari menggendong Aisha menuju mobilnya.


Setelah sampai di mobil, anak buah Deva membukakan pintu mobilnya dan Deva meletakkan Aisha di kursi penumpang belakang.


"Kalian, bereskan semuanya! Dan makamkan wanita itu secara layak, ingat jangan sampai berita ini tercium media dan publik!" Deva segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit, dengan kecepatan tinggi Deva menempuh jalanan London yang masih kosong saat malam hari itu.


Sesekali Deva melirik ke belakang, darah semakin banyak yang keluar dari tubuh Aisha.


"De.. Deva..." Lirih Aisha dengan setengah sadar.


"Ya, Aisha! Bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit! Aku yakin kau dan bayi kita akan baik-baik saja!" Ucap Deva dengan suara bergetar karena menahan tangis.


"Se.. Selamatkan, Ba.. Bayi kita!" Lirih Aisha lemah.


"Aisha, kau dan bayi kita pasti akan baik-baik saja!" Aisha kembali tak sadarkan diri, karena darah yang semakin banyak keluar.


Hingga tiba di rumah sakit, Deva segera memanggil beberapa perawat yang berjaga di luar.


"Perawat! Tolong istriku!" Para perawat itu segera membawa blankar (maaf kalo salah penulisannya ya!) dan membantu Deva meletakkan Aisha di atasnya.


Aisha segera dibawa menuju ruang tindakan, sedangkan Deva menunggu di luar dengan seluruh tubuh yang mulai terasa lemas.


"Aisha, kenapa semua ini terjadi padamu! Bertahanlah Aisha! Kau pasti kuat!" Lirih Deva sambil menangis dan terduduk di lantai.


Ia tak lagi memedulikan mata yang memandangnya dengan pandangan miris melihat Deva memakai pakaian yang dipenuhi darah dari istri dan putranya.


Di sisi lain, Reihan yang membawa Sid tiba di rumah sakit. Seketika Deva kembali bangkit dan menghampiri putranya yang sudah tak sadarkan diri itu.


"Sid, bertahanlah nak! Ayah yakin kau dan ibumu pasti kuat! Kalian harus kuat!" Setelah putranya di bawa masuk ke ruang tindakan, Deva kembali terduduk lemas.


Ujian macam apa ini Tuhan? Kau menguhukum istri dan anakku karena kesalahanku?

__ADS_1


**Wah gimana nih nasib Aisha dan Sid? Apa mereka akan selamat? Kasihan ya Deva!


Jangan lupa Like dan Vote yaaa**!!!


__ADS_2