
Malam sudah tiba, Aisha, Deva dan Sid sedang dalam perjalanan menuju pameran malam yang diadakan di Taman XX.
"Sid, kau ingin membeli berapa banyak pakaian? Jangan terlalu banyak, ya!" Deva memulai obrolan diantara mereka.
"Lumayan banyak, yah. Memangnya kenapa?"
"Nanti ayah bisa bangkrut!" Sambil terkekeh.
Plaakk
Aisha memukul kening Deva, sehingga Deva meringis kesakitan.
"Aw, kenapa kau memukulku!" Sambil mengelus keningnya yang merah.
"Kau pelit sekali! Hartamu banyak, mana mungkin bangkrut dengan membeli pakaian murah 1 kodi saja!" Kesal Aisha.
"Yeee, kita harus berhemat Aisha!" Sambil membalas pukulan Aisha dengan menjewer telinganya.
"Yah, bun! Jangan mulai berdebat, lihat itu! Kita sudah dekat pameran malam!" Sambil menunjuk ke arah pameran malam yang sudah tidak jauh lagi.
Deva menghentikan mobilnya di parkiran, lalu membukakan pintu untuk Aisha dan Sid. Mereka segera turun, lalu memasuki area pameran malam.
"Yah, ayo cepat!" Ucap Sid antusias.
"Sebentar, bundamu tidak bisa berjalan dengan cepat!" Sambil memegang tangan Sid yang hendak berlari.
"Aku tunggu disini saja, aku akan duduk disana! Kalian pergi saja." Aisha menunjuk sebuah bangku yang tidak jauh darinya.
"Tapi, Aisha kau akan sendirian disana!" Ucap Deva tak suka.
"Tidak apa-apa! Aku ini sudah dewasa, tidak akan ada yang bisa menculikku! Cepat pergilah, atau anakmu itu akan marah!"
"Baiklah, hati-hati ya! Jangan bicara dengan sembarangan orang!" Lalu mengacak-acak rambut Aisha.
"Kau ini, seperti aku anak kecil saja!" Aisha mencibir Deva.
"Hehe." Deva terkekeh.
"Cepat, sana!" Ketus Aisha.
"Ya, baiklah! Kau tunggu disana jangan kemana-mana! Oh ya, ini belilah makanan untuk mengisi perutmu!" Sambil menyodorkan 5 lembar uang seratus ribuan.
Aisha menerimanya, lalu mengangguk. Deva segera membawa Sid untuk membeli apa yang akan dibelinya.
Setelah Deva dan Sid pergi, Aisha segera melangkah menuju bangku yang tidak jauh darinya dan duduk disana.
"Aisha, apa kabar?" Ucap seseorang tiba-tiba yang ternyata sudah berada di samping Aisha.
Aisha tidak bergeming, ia tertegun mendengar suara itu.
Suaranya? Aku seperti mengenalnya!
Aisha menoleh, lalu tercengang dengan seseorang yang sudah berdiri di sampingnya sambil tersenyum menatapnya. Yang berdiri disampingnya adalah seorang pria. Ya, pria dengan tinggi sekitar 175 cm, wajahnya tampan, hidungnya mancung, kulitnya putih mulus tanpa cacat sedikitpun. Mungkin jika ada manusia yang sempurna, dia pantas di katakan laki-laki yang sempurna.
"Kau?" Ucap Aisha dengan wajah datar.
"Ya, apa kabar?" Tanya pria itu lagi.
__ADS_1
Tanpa menjawab pertanyaan laki-laki didepannya, Aisha segera membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya untuk menyusul Deva. Tapi langkahnya terhenti, saat pria itu meraih tangan Aisha dan menahannya hingga Aisha berbalik tepat dihadapannya.
Saat ini posisi Aisha dan pria itu sangat dekat, hingga jarak diantara mereka mungkin hanya sekitar 10 cm.
"Lepaskan tanganku!"
"Tidak!" Jawab pria itu dengan tangan yang sudah mencengkeram tangan Aisha dengan sangat kuat.
"Lepaskan tanganku! Atau kau akan menyesal!" Ancam Aisha dengan nada suara yang meninggi.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu!" Lalu menarik Aisha hingga Aisha masuk kepelukannya.
"Lepaskan! Atau aku akan memanggil suamiku!" Aisha kembali mengancam pria yang sudah memeluknya tersebut.
"Suami? Kau bercanda, Aisha! Hahaha."
"Aku tidak bercanda! Dan aku tidak pernah bercanda!" Dengan nada suara tinggi.
"Kau bohong, Aisha!" Lalu tergelak.
Aisha sekuat tenaga mencoba melepaskan pelukan pria itu. Tapi, Aisha tetaplah seorang wanita yang kekuatannya lemah jika dihadapkan dengan seorang pria.
Pada detik berikutnya, Aisha menggigit bahu pria itu. Pria itu mengerang kesakitan, lalu tanpa sengaja tangannya refleks mendorong Aisha hingga terjatuh ke tanah.
"Aaaaaa..." Teriak Aisha.
Bruuukk
Aisha sudah terduduk di tanah, ia memegangi perutnya yang tiba-tiba sakit.
"Aisha, maaf!" Sambil berusaha membantu Aisha berdiri.
"Jangan coba-coba menyentuhku!" Sambil menepis lengan pria itu yang berusaha membantunya.
Tapi pria itu tetap berusaha menolong Aisha, hingga tanpa ia sadari seseorang sudah berjalan mendekatinya dari arah belakang.
Orang itu menarik kerah baju pria itu, tangannya sudah mengepal dan melayangkan tinju padanya.
Bug
Sebuah tinju melayang tepat mendarat di pipi pria itu, hingga pria itu terhuyung jatuh dan tersungkur di tanah.
"Berani sekali kau menyentuh istriku!" Bentak orang yang ternyata adalah Deva.
Sid yang sudah kembali bersama Deva segera menghampiri Aisha dan memeluknya.
"Bunda tidak apa-apa?" Tanya Sid.
Aisha mengangguk, lalu membalas pelukan Sid.
Sementara Deva masih terlihat sangat emosi, ia kembali meraih kerah baju pria itu dan menghujaninya dengan tinjuan yang membabi buta hingga sudut bibir pria itu berdarah dan wajahnya dipenuhi lebam akibat pukulan Deva.
"Suamiku, sudah cukup!" Aisha melerai Deva yang kembali akan memukul pria itu.
Deva mengepalkan tangannya sambil menatap pria itu dengan tatapan ingin membunuh.
"Kau berani menyentuh istriku, bahkan membuatnya jatuh dan kesakitan! Itu balasan yang belum setimpal!" Ucap Deva masih dengan tatapan ingin membunuh.
__ADS_1
Setelah itu, Deva merapihkan pakaiannya yang sudah berantakan dan segera menghampiri Aisha yang masih terduduk di tanah sambil memegangi perutnya.
"Aisha, kau tidak apa-apa?"
"Sakit, perutku sakit!" Ringis Aisha.
"Ayo, kita ke rumah sakit! Tunggu sebentar, aku akan membereskan semua ini dulu!" Sambil mengeluarkan ponselnya dan menelepon Reihan.
"Hallo, Reihan! Kau dimana? Cepatlah datang ke pameran malam di taman XX! Aku ada tugas yang harus kau selesaikan, secepatnya!" Lalu memutuskan sambungan teleponnya dan menggendong Aisha.
Deva menggendong Aisha menuju mobilnya yang terparkir lumayan jauh dari sana.
Sid mengikuti di belakang Deva, dengan tangan yang membawa dua buah kresek hitam besar berisi pakaian yang tadi dibelinya bersama ayahnya.
"Sid, tolong ayah! Hubungi nenek dan kakek dengan ponsel ayah! Suruh mereka untuk segera ke rumah sakit XX!" Ucap Deva sambil memasukkan Aisha kedalam mobil.
"Ya, ayah!"
Sid segera mengambil ponsel yang berada di saku ayahnya, lalu menghubungi kakeknya.
Deva segera melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, karena ingin segera tiba di rumah sakit. Untung saja, tidak jauh dari lokasi taman tempat pameran malam itu ada sebuah rumah sakit besar. Deva menghentikan mobilnya di parkiran rumah sakit itu. Lalu turun dan menggendong Aisha yang masih meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Suamiku, sakit!" Ringis Aisha.
"Aisha, bertahanlah! Kita sudah di rumah sakit!"
Deva membawa Aisha memasuki rumah sakit, tak lama datang beberapa perawat membawa kursi roda.
"Suster! Kemarilah, tolong istriku!" Teriak Deva.
Perawat itu menoleh, lalu segera mendorong kursi roda itu menuju Deva sambil berlari.
Deva mendudukan Aisha di kursi roda itu, lalu perawat itu mendorong Aisha menuju ruang UGD.
"Pak, anda tunggu disini. Kami akan memeriksa pasien." Ucap perawat itu saat sampai di depan pintu UGD.
Deva dan Sid duduk di kursi yang berada di depan ruang UGD. Dari arah pintu rumah sakit, ayah dan ibunya Aisha beserta saudara-saudara Aisha sudah datang.
"Deva, ada apa? Apa yang terjadi pada Aisha?" Tanya Aryan dengan nafas tersengal-sengal.
"Ceritanya panjang, aku minta kalian tunggu Aisha disini! Aku akan membereskan orang yang sudah membuat Aisha berada disini! Aku titip Sid juga bersama kalian!" Lalu Deva segera pergi tanpa menunggu jawaban dari keluarga Aisha yang sudah bertanya-tanya.
"Nak, apa yang sudah terjadi pada ibumu?" Tanya pak Lucas pada Sid.
"Aku tidak tahu, kek. Tadi bunda sudah terduduk di tanah sambil kesakitan, disana ada seorang laki-laki berusaha memegang tangan bunda. Lalu ayah memukulnya." Sid menjelaskan sambil mengingat-ingat.
Deg...
Ibunya Aisha menoleh pada pak Lucas. Pak Lucas menggeleng tanda tidak tahu.
**Bersambung...
Siapakah pria yang menghampiri Aisha tadi?...
Tetap ikuti ceritanya, jangan lupa Like+Vote+Rate 5!!!
Selamat membaca**...
__ADS_1