Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Mencari Aisha


__ADS_3

Asap sudah hilang dari dalam rumah, semua yang berada di rumah terbatuk-batuk akibat pengaruh asap tersebut.


Deva mulai menelepon anak buahnya untuk mencari keberadaan Aisha.


"Hallo, cepat cari keberadaan Aisha secepat mungkin!" Deva mematikan telepon, lalu memasuki kamarnya.


Tepat di dekat lemari, sebuah kotak kecil tergeletak disana. Deva mengambilnya dan membukanya, isinya adalah sebuah jam tangan dan sebuah selembar surat.


Deva membuka surat itu dan membacanya, air matanya jatuh ketika membacanya.


"Ya Tuhan Aisha, ini adalah kado yang luar biasa. Tapi kau malah diculik saat aku membuka kado darimu ini!" Deva menyimpan kembali kado dari Aisha, lalu keluar dari rumah dan segera melajukan mobilnya untuk mencari keberadaan Aisha.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bagaimana, Aisha? Apakah kado dariku untuk suamimu itu luar biasa?"


"Yessi, kau keterlaluan! Kenapa kau melakukan ini, hah?!"


"Ikat dia! Dan tutup mulutnya itu!" Perintah Yessi pada anak buahnya yang menahan Aisha.


Anak buah Yessi mengikat Aisha di sebuah kursi, lalu menutup mulut Aisha dengan sebuah kain hingga Aisha tak bisa bicara lagi.


"Dengar, Aisha! Ini adalah tempatku, kau tidak diizinkan untuk bicara sebelum aku mengizinkannya!" Ucap Yessi sambil mengelus-elus rambut Aisha.


"Kau jahat sekali, Aisha! Karenamu, Deva meninggalkan kakakku dan membuatnya tiada! Kau tidak memikirkan penderitaanku kehilangan kakakku, kau merebut Deva darinya! Dan lihat ini, bahkan kau sedang mengandung lagi anaknya? Dasar wanita tidak tahu diri!" Yessi mencengkram dagu Aisha dengan sangat kuat, hingga Aisha kesakitan dan mulai menangis terisak-isak.


"Aisha, aku juga punya kejutan untukmu! Kau pasti akan sangat menyukainya!" Yessi menyeringai, lalu menepukkan tangannya sebanyak dua kali sebagai isyarat untuk anak buahnya.


Pintu terbuka, dua orang pria bertubuh kekar menyeret Sid masuk. Aisha terkejut dan menangis melihat Sid juga diculik.


"Bunda...." Sid menangis, lalu menghampiri Aisha yang diikat.


Yessi melepaskan kain yang menutup mulut Aisha.


"Sid, kau baik-baik saja, anakku?" Sid memeluk Aisha. "Dimana ayah? Apa dia baik-baik saja?"


"Ayah baik-baik saja, bunda. Dia pasti akan segera datang, dia akan menyelamatkan kita bunda!"


Plaakk


Yessi menampar pipi Sid dengan tamparan yang begitu keras, sehingga membuat Sid terjatuh dan tersungkur ke lantai.

__ADS_1


"Sid!" Teriak Aisha histeris. "Yessi, jangan sakiti dia, sakiti aku saja! Dia masih kecil, dia tidak tahu apapun!"


"Apa? Aku tidak dengar! Oh ya, aku akan menyakiti dirimu! Tentu saja, aku bahkan juga akan menyakiti suamimu! Menyakitinya hingga dia merasakan apa yang kakakku rasakan! Kehilangan orang yang sangat dia cintai, bahkan orang itu akan benar-benar hilang dari dunia ini!" Yessi menyeringai, sedangkan air mata semakin deras keluar.


"Jangan menangis Aisha, air matamu berikanlah pada suamimu! Dia yang akan menangisimu!"


"Yessi, aku mohon jangan lakukan ini! Kau boleh menyakitiku, tapi jangan sakiti anakku dan juga suamiku. Aku mohon maafkanlah dia!" Lirih Aisha dalam tangisnya.


"Maaf? Ini dia, aku memberimu maaf!"


Plaak


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Aisha, hingga sudut bibir Aisha mengeluarkan darah dan Aisha tak sadarkan diri.


"Kau lemah sekali, ini baru permulaan Aisha! Sebentar lagi kau akan mendapatkan lebih dari ini!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah semalaman Deva mencari Aisha dan Sid, tapi ia masih belum bisa menemukan keberadaan Aisha dan Sid.


Hari ini dia masih mencari Aisha, kesana kemari mencoba menemukan dua sosok yang sangat berarti di hidupnya.


"Dimana kalian? Apa kalian baik-baik saja?" Gumam Deva bertanya pada dirinya sendiri.


Tuhan, hukuman apa yang kau beri padaku? Jika Kau ingin menghukumku atas kesalahan yang aku perbuat di masa lalu, lalu mengapa Kau tidak menghukumku sendiri saja? Ya Tuhan, tolong lindungilah istri dan anakku.


Air mata Deva sudah tak terbendung lagi, ia menghentikkan mobilnya di dekat sebuah danau yang sering mereka datangi pada saat awal pernikahan.


Deva duduk di sebuah bangku yang terdapat di danau itu.


"Aishaaaaaaaaaa.....!" Deva berteriak sekeras mungkin, lalu melempar sebuah batu ke danau itu. "Aaaaarrrrrrrrrggggggghhhh!..." Deva kembali berteriak hingga suaranya bergema.


Dia kembali duduk di kursi, memikirkan dimana dia harus mencari Aisha. Hingga sebuah telepon membuyarkan lamunannya.


"Hallo. Bagaimana?"


"Tuan, seseorang kembali mengirim surat ancaman ke rumah anda! Mertua anda yang menerimanya, dan saat ini pak Lucas mengalami shock berat hingga terkena serangan jantung!"


"Apa? Baiklah, aku akan segera datang! Dibawa ke rumah sakit mana dia sekarang?" Tanya Deva dengan wajah lesu.


"Rumah sakit XX, tuan!" Deva menutup teleponnya dan segera memasuki mobilnya, lalu melajukannya dengan kecepatan tinggi. Hingga tak butuh waktu lama baginya untuk tiba di rumah sakit.

__ADS_1


"Ayah, bagaimana keadaanmu?" Tanya Deva pada Pak Lucas yang ternyata sudah sadar.


"Deva, ayah baik-baik saja. Bagaimana Aisha? Apa kau sudah bisa menemukannya?" Lirih Pak Lucas dengan suara lemah. Deva menggeleng, pak Lucas langsung memegangi dadanya yang sakit dan merasa sesak.


"Ayah, jangan khawatir! Aku akan segera menemukan Aisha." Deva mencoba menenangkan pak Lucas.


"To.. Tolong.. Ja.. Jaga dia, Deva!" Ucap pak Lucas terbata-bata.


Tiba-tiba napas pak Lucas menjadi tidak beraturan, tangannya memohon pada Deva.


"Tidak, ayah! Kau tidak boleh pergi! Apa yang akan ku katakan nanti pada Aisha jika kau pergi? Dia pasti akan sangat sedih! Ayah, aku mohon! Kau adalah ayahku, aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain dirimu!" Alat di samping berbunyi, Deva sangat panik. Ibunya Aisha masuk ke dalam dan segera memeluk pak Lucas sambil menangis histeris.


Deva memanggil dokter, dokter segera memeriksanya.


"Tolong kalian keluar dulu, kami harus melakukan tindakan pada pak Lucas!" Deva membawa ibunya Aisha keluar.


Tak lama, dokter keluar.


"Dokter, bagaimana keadaan ayah mertuaku?" Tanya Deva dengan wajah khawatir.


"Maaf, beliau sudah meninggal." Deva tercengang, sedangkan ibunya Aisha sudah jatuh pingsan. Aryan, Resha, Risya, dan Rasya yang baru datang langsung menangis mendengar kabar kepergian ayah mereka.


Dokter dan beberapa perawat membawa ibunya Aisha yang pingsan, sedangkan Deva dan ke empat saudaranya Aisha masih menangis disana.


"Ya Tuhan, cobaan apalagi yang kau berikan ini? Kenapa harus Aisha dan keluarganya? Ini kesalahanku, seharusnya kau menghukum aku saja!" Ucap Deva sambil terduduk lemas di lantai.


Aryan merangkul Deva dan memeluk adik iparnya itu.


"Maafkan saya, saya sudah membuat keluarga anda menderita." Ucap Deva pada Aryan.


"Tidak, Deva. Semua ini sudah takdir, bangkitlah! Kita harus menemukan dan membalas orang yang sudah membuat keluarga kita seperti ini!" Aryan mencoba menyemangati Deva.


Deva berdiri, dan mengepalkan tangannya.


"Yessi Atmadja! Kau akan mendapatkan balasan atas semua perbuatanmu ini!"


"Jadi pelakunya adalah Yessi?" Tanya Aryan tak percaya.


Deva mengangguk. Aryan ikut emosi.


"Kalian temani ibu, aku dan Deva akan mengurus ayah!" Perintah Aryan pada ketiga adiknya.

__ADS_1


Sedia tissue sebelum membaca! Selamat membaca yaaa! Jangan lupa Like, coment dan vote!


__ADS_2