Ikatan Cinta Masa Kecil

Ikatan Cinta Masa Kecil
Debat Lagi dan Lagi!


__ADS_3

Aisha telat bangun. Kemarin dia dan Deva baru kembali ke Jakarta. Karena lelah Aisha pun terlambat bangun, dan mendapati Deva sudah tidak ada di sampingnya.


Kedua orang tua dan keempat saudaranya sudah kembali ke rumahnya. Kini tinggalah dia di rumah bersama Sid dan para pelayan di rumah itu.


(Untung bukan kini tinggal aku sendiri. Kan bisa sambil tarik sis semongko! wkwkwk)


Aisha melihat ponselnya laku membuka pesan, ternyata ada pesan dari sahabatnya saat mereka kuliah.


Setelah membalas pesan teman-temannya, Aisha beranjak menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Aisha turun ke bawah untuk sarapan karena perutnya sudah kelaparan. Sampai di dapur Aisha mencari keberadaan putra sulungnya. Matanya menerawang mencari Sid, tapi tak bisa menemukannya.


Bi Asih yang memerhatikan Aisha tampak mencari sesuatu, segera menanyakannya.


"Non Aisha, apa butuh sesuatu?"


"Eh, bi Asih! Membuatku terkejut saja!. Eum.. Anu bi, dimana Sid?" Tanya Aisha gelagapan.


"Tuan muda? Dia sudah berangkat ke sekolah nona!"


"Sekolah?" Sambil berfikir keras.


"Ya, tuan sudah mendaftarkan tuan muda sekolah melalui pendaftaran online." Jelas bi Asih.


Kenapa tidak memberi tahuku! Dasar suami menyebalkan!


"Nona, duduklah. Dan minumlah susunya." Sambil menyodorkan segelas susu ke hadapan Aisha.


"Eh, bi! Sid ke sekolah sendiri saja?"


"Tidak, nona. Tuan Deva membawa Tuti untuk menunggu tuan muda sekolah." Tuti adalah pengasuh Sid sedari kecil. Umurnya tidak berbeda jauh dengan bi Asih.


"Oh, baiklah." Sambil mengangguk lalu meminum susu yang diberikan bi Asih sampai habis.


Setelah menghabiskan susunya, Aisha segera beranjak pergi menuju kamarnya. Tapi pada saat akan melangkah, bi Asih menghentikannya.


"Eh, non Aisha mau kemana? Nona belum sarapan!"


"Nanti saja, bi. Saya ingin istirahat kembali." Jawab Aisha.


"Baik, non. Jika non Aisha butuh sesuatu panggil saja bibi atau yang lainnya."


Sore harinya, Deva sudah pulang lebih awal. Hal itu karena ia ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya itu.


"Eh, kau sudah pulang? Cepat sekali!" Ucap Aisha sambil mencium tangan suaminya dan hendak membawakan tas kerja Deva, tapi Deva segera menjauhkannya.

__ADS_1


"Ya, aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganmu.


"Kenapa?" Dengan wajah bingung.


"Biar aku saja, ayo!" Sambil menarik tangan Aisha menuju kamar.


"Kau istirahat saja, jangan banyak berjalan! Nanti kau bisa kelelahan. Besok aku akan membelikan kursi roda untukmu!" Kata Deva sambil membawa Aisha duduk di ranjang.


"Hah?! Untuk apa?" Sambil membelalakkan matanya.


"Agar kau tidak harus berjalan kesana kemari! Jadi kau tidak akan kelelahan." Jawab Deva sambil tersenyum.


"Kau tidak waras!" Ketus Aisha.


"Kau ini, Aisha! Aku ini perhatian padamu, kenapa kau malah menyebutku tidak waras?!" Sambil menunjuk kening Aisha.


"Aku memang tidak boleh terlalu kelelahan, tapi buka berarti aku tidak boleh berdiri dan berjalan! Dulu saat aku lumpuh kau ingin aku berjalan kembali, dan sekarang saat aku sudah bisa berjalan kembali kau malah menyuruhku duduk di kursi roda!"


"Tapi dulu kau itu tidak sedang hamil! Sekarang kau sedang hamil dengan keadaan yang berbeda jadi kau harus menuruti perkataanku untuk saat ini!" Tegas Deva.


"Tidak akan!"


"Harus!" Tegas Deva kembali.


"Tapi itu akan membuatku merasa risih dan bosan!" Protes Aisha.


"Ayah, Bunda sudah cukup! Berisik!" Sid datang dari arah pintu, lalu mencoba melerai perdebatan kedua orang tuanya yang konyol itu.


"Sid, kau main saja! Ayah dan Bundamu sedang sibuk!"


Sid pun hanya bisa menepuk jidatnya dan menggelengkan kepalanya, setelah itu meninggalkan kedua orang tuanya yang masih saja berdebat.


"Kenapa kau mengusir Sid?!" Tanya Aisha.


"Karena dia tidak tahu apa-apa!"


"Tentu saja tahu! Tanyakan padanya, apa dia akan bosan bila seharian disuruh duduk di kursi roda, padahal kakinya masih normal dan bisa berjalan!" Kata Aisha.


"Tidak usah bertanya padanya, ini untukmu dan bayi kita!" Ucap Deva tak mau mengalah.


"Ya Tuhan!" Keluh Aisha sambil menepuk jidatnya.


"Kenapa? Apa kau pusing?" Tanya Deva khawatir sambil menghampiri Aisha.


"Ya! Pusing karena perintah konyolmu itu! Sudah keluar sana! Aku pusing berdebat denganmu!" Sambil mengibas-ibaskan tangannya sebagai isyarat untuk menyuruh Deva keluar.

__ADS_1


"Huh! Ku kira benar-benar pusing!" Ketus Deva.


"Aku benar-benar pusing! Pusing karena kelakuan dan perintahmu yang konyol itu!" Balas Aisha.


"Kau selalu saja mengataiku!"


"Jika tidak ingin di katai bersikaplah yang benar! Jangan konyol!"


"Aku tidak konyol!" Ketus Deva.


(Author pusing sama debat mereka. Dasar yayang Deva konyolnya kebangetan masa Aisha gak boleh jalan kaki sedikitpun, tega banget sih jadi suami. Sayang sih sayang tapi gak segitunya juga kaleeeee! Yuk ah capcus lanjut!)


"Suamiku!"


"Ya, sayang."


"Kau tidak bosan?" Sambil duduk di sofa.


"Bosan apa?" Dengan wajah bingung.


"Berdebat terus seperti ini setiap saat? Kita hanya diam kalau saling berjauhan, malah saat jauh aku selalu merindukanmu. Tapi kenapa jika dekat, kita malah seperti musuh bebuyutan? Tiada hari tanpa debat!"


"Sayang, siapa yang suka berdebat seperti ini? Aku juga tidak suka! Tapi, aku rasa debat inilah yang membuat kita saling merindukan saat jauh sedikit saja!" Sambil berjongkok di hadapan Aisha lalu menidurkan kepalanya di pangkuan Aisha.


"Sayang, jika aku sudah tiada nanti jangan berdebat dengan siapapun lagi ya? Kasihan yang berdebat denganmu, pasti tidak akan bisa mengalahkanmu!"


"Apa? Cukup Aisha, jangan pernah mengatakan kata tiada lagi!" Sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir Aisha.


"Kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu!" Tegas Deva.


"Tapi, jika aku benar-benar tiada bagaimana?"


"Sekali lagi kau mengatakan kata itu, aku akan menarik telingamu! Aisha, dengar! Jangan katakan kata-kata seperti itu, kau tahu? Aku tidak bisa hidup tanpamu. Cukup sudah 17 tahun kita berpisah waktu itu! Sekarang kita tidak boleh berpisah lagi. Jika kau tiada, maka aku juga akan ikut tiada!" Kata Deva sambil membelaik kedua pipi Aisha.


"Suamiku, jika aku tiada kau tidak boleh ikut tiada bersamaku! Kau harus melakukan sesuatu untukku! Sesuatu yang menjadi simbol cinta kita, jika aku tidak bisa bertahan maka pertahankan dan jagalah hidupmu beserta simbol cinta kita yang ada. Sid dan bayi ini akan selalu menjadi simbol cinta kita. Tolong jaga mereka jika aku sudah tiada lebih dulu darimu!" Sambil menitikkan air mata.


"Aisha, kau tidak akan kemanapun. Kau tidak boleh pergi sebelum aku menyuruhmu pergi!" Lalu memeluk dan mengecup kening Aisha.


Aisha pun menangis di dalam pelukan Deva.


"Maaf suamiku, maaf jika aku sering membuatmu kesal, marah, jengkel, lelah dan emosi. Maaf jika aku sering mengejekmu dan mengataimu! Aku minta maaf jika aku belum bisa membuatmu bahagia dan aku minta maaf jika aku tidak becus mengerjakan hak dan kewajibanku sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anakmu!" Lirih Aisha disertai tangisnya.


"Aisha, salah itu wajar. Tapi belajarlah dari kesalahan. Aku juga meminta maaf jika aku sering mengacuhkanmu dan menyakiti hatimu. Aisha, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Semua bisa melakukan kesalahan termasuk kita. Kita manusia biasa yang tak luput dari kesalahan." Sambil menghapus air mata Aisha.


Merekapun berpelukan, hingga Aisha tertidur di pelukan Deva. Deva pun menggendong Aisha dan memindahkan Aisha tidur di ranjang. Setelah menidurkan Aisha, Deva berbaring di sebelah Aisha lalu menyusul Aisha tertidur..

__ADS_1


Selamat malam guys, selamat membaca. jangan lupa like,coment dan vote serta kasih rate juga yaa!!!


__ADS_2