
Niko memasuki kamar inap Lita. Selang oksigen masih terpasang di hidungnya. Jarum infus pun menusuk punggung tangannya. Lita masih belum membuka mata. Niko menatap setiap titik wajah Lita. Dia terlihat lelah di dalam tidurnya.
Kamar Lita dijaga ketat. Niko menugaskan beberapa pengawal di depan kamar Lita. Di dalam ruangan yang cukup besar ini, Niko memerhatikan setiap tetes infus yang masuk ke tubuh Lita. Niko seolah menunggu Lita tersadar dari tidurnya.
Niko cukup lelah bolak-balik hotel dan rumah sakit. Lebih lelah lagi karena habis mengeluarkan energi apinya yang sulit dijinakkan. Lebih lebih lebih lelah lagi ketika melihat Lita di depannya bisu seperti ini.
'Lebih baik kau berbicara terus atau memarahiku, Lita. Setidaknya aku tahu kalau kau masih hidup dan baik-baik saja.' batin Niko.
Niko duduk di kursi samping tempat tidur Lita. Dia beristirahat sejenak dengan menundukkan kepalanya, berusaha menenangkan pikirannya.
Sementara itu, Shasa sudah dibawa kembali pulang oleh Leo. Meskipun awalnya Shasa ngotot ingin menemani Lita di rumah sakit, tetapi dokter menyarankannya untuk beristirahat di rumah. Shasa sudah bersandar di kasur dengan lengan Leo sebagai bantalnya.
"Kau pasti ketakutan sekali tadi." Leo berbicara dengan penuh kekhawatiran di wajahnya.
Shasa hanya mendesah pelan. Leo mengelus-elus perut Shasa yang sudah semakin membesar.
"Aku tidak akan membiarkan lagi orang lain menyentuhmu dan anak kita. Atau orang itu akan kehilangan bagian tubuhnya."
"Sayang... Jangan bicara seperti itu." Shasa mengelus dada Leo. "Anakmu nanti ketakutan. Yang penting aku dan anakmu baik-baik saja kan." Shasa mencoba membuat Leo tenang. "Apa terjadi sesuatu antara kau dan orang itu sehingga dia berani mengacau kita?"
"Dia melakukan penggelapan uang perusahaan. Dia juga melakukan pelanggaran kode etik bisnis. Perusahaan mulai menemukannya baru-baru ini. Kau ingat kenapa kita pulang lebih cepat saat berlibur ke luar negeri beberapa waktu lalu? Itu karena perbuatan kotornya sudah mencuat dan aku harus segera menyelamatkan reputasi perusahaan. Papa menyuruhku untuk menjebloskannya ke penjara, tetapi dia memohon kepadaku untuk tidak melakukannya. Karena dia memberiku alasan yang bisa ku pertimbangkan, akhirnya aku memutuskan untuk memecatnya dan meminta mengembalikan semua yang dia dapat dari perbuatannya. Mungkin, sejak itu dia marah padaku."
"Apa alasannya waktu itu?" Tanya Shasa penasaran.
"Dia bilang, anaknya akan malu jika memiliki ayah seorang mantan narapidana. Aku rasa aku tidak bisa menyakiti anaknya. Tapi hari ini, dia menyakiti anakku, maka tidak ada lagi ampun untuknya." Leo menatap Shasa. "Kau tahu betapa marahnya papa mendengar kejadian ini, sampai-sampai papa mengambil semua fasilitas yang diberikan perusahaan padanya? Saat dia dipecat, aku masih membiarkannya menikmati fasilitas yang pernah diberikan dan aku anggap itu sebagai kompensasi terakhir atas masa kerjanya di perusahaan. Dia tidak tahu saja seberapa kejamnya papa membalas orang yang mengusik kehidupannya. Mungkin setelahnya, mereka hanya akan mengemis di pinggir jalan."
"Sayang... Hari ini aku juga lihat betapa panik dan marahnya Niko tadi. Dia seperti bukan manusia. Dia memang kaku dan dingin, tetapi baru kali ini aku melihatnya seperti pembunuh berdarah dingin." Ungkap Lita.
"Niko berkali-kali lebih kejam daripada papaku. Dia tidak akan melepaskan orang yang mengganggu hidupnya dan orang-orang yang dilindunginya. Pilihannya hanya dua, orang itu menang dari Niko atau orang itu lenyap di tangan Niko. Aturan utamanya adalah Niko tidak pernah kalah."
__ADS_1
"Ah, sayang... Aku baru menyadari, bagaimana Niko dan para pengawal bisa ada di tempat yang sama dan di waktu yang bersamaan pula denganku? Apa mereka mengikutiku?"
Leo terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Shasa. Tidak mungkin kan dia mengatakan kalau Komisaris Gusta memang mengirim Niko dan pengawal-pengawalnya untuk mengikuti Shasa selama berada di luar rumah?
*****
Lita menggerakkan tangannya. Sayup-sayup matanya mulai terbuka. Lita masih mengatur napasnya. Dia melihat ke sekeliling ruangan dan mulai menyadari dia ada di mana. Dia mengangkat sedikit tangannya dan melihat jarum infus tertusuk di sana. Tak sengaja tangan Lita menyenggol lengan seseorang yang tertunduk di sampingnya. Orang itu langsung bangun dan melihat ke arah Lita dengan penuh cemas.
"Lita, kau sudah sadar? Apa kau tidak apa-apa?" Niko terbangun dari tidurnya.
Lita hanya diam dan menatap Niko. "Sejak kapan kau ada di sini?"
"Apa penting menanyakan itu sekarang?"
Lita memejamkan matanya sebentar dan membukanya lagi. "Apa Nyonya baik-baik saja?"
"Dia baik-baik saja. Tuan Leo sudah membawanya kembali."
"Kau pikir, kau sudah diijinkan untuk pulang?" Tanya Niko dingin.
"Aku sudah jauh lebih baik, tidak perlu berlama-lama di rumah sakit."
"Kau tidak perlu pulang ke apartemenmu. Sementara ini, kau bisa tinggal di rumah Komisaris Gusta. Nyonya yang memintanya."
"Nyonya? Nyonya siapa?"
"Nyonya Shasa. Dia sangat mengkhawatirkanmu tadi. Tapi karena dokter menganjurkannya untuk istirahat, Tuan Leo memaksanya pulang."
"Aku akan bilang pada Nyonya kalau aku akan kembali ke apartemen." Lita mencari-cari sesuatu di atas meja. "Dimana tasku?"
__ADS_1
"Istirahatlah dulu. Setelah dokter mengijinkanmu pulang, aku akan memberikan tasmu. Aku tahu, kau mencari ponselmu kan? Pilihannya cuma dua. Satu, aku berikan ponselmu, tapi aku menginap di sini. Dua, ponselmu akan aku simpan sampai dokter mengatakan kau pulih dan aku akan keluar dari sini sekarang. Pilih saja."
Lita mendengus. Bisa-bisanya dia bernegosiasi dengan orang sakit. Lebih tepatnya, bernegosiasi pada korban percobaan pembunuhan.
"Kau pasti tahu, keselamatanmu adalah keselamatan Nyonya Shasa. Kalau kau dalam bahaya, begitu juga dengan dia. Meskipun aku sudah menangkap siapa yang berusaha melukaimu, tidak menutup kemungkinan akan ada penjahat-penjahat lainnya. Sampai situasi bisa aku kendalikan, kau harus tetap aman demi Nyonya." Ucap Niko. Sejenak, dia menatap mata Lita. Kemudian, dia pun meninggalkan Lita sendirian di kamar itu.
"Ish... Memang kau siapa bisa mengendalikan seisi dunia ini? Dasar menyebalkan!" Gerutu Lita memaki Niko yang sudah melenggang keluar dan lenyap dari pandangan Lita.
*****
Epilog:
Setelah lega melihat Lita telah sadar dan keluar dari kamar inap Lita, Niko mengeluarkan ponselnya dari saku jas.
"Halo, Niko. Bagaimana kondisi Lita? Apa ada kabar darinya?" Shasa langsung bertanya tanpa aba-aba.
"Lita sudah siuman, Nyonya. Dia sedang beristirahat sekarang."
"Ah, begitu... Syukurlah."
"Nyonya, menurut anda, apakah lebih baik Lita pulang ke apartemennya atau sementara ini Lita tinggal di rumah? Aku ingin tanya pendapat anda."
"Sebaiknya dibawa ke rumah saja. Akan lebih aman untuknya dan lebih mudah juga bagiku untuk melihatnya."
"Baiklah. Aku akan mengatakannya pada Komisaris Gusta." Niko pun mematikan teleponnya.
'Hei, apa dia hanya memanfaatkanku untuk mencari alasan agar Lita dibawa ke rumah? Dasar lelaki gengsian!' Shasa memaki layar ponselnya, mengutuk Niko yang sudah puas mendapatkan apa yang dia inginkan.
*****
__ADS_1
bersambung...