Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Nama


__ADS_3

Niko meninggalkan ruangan Komisaris Gusta. Hari ini menjadi hari yang begitu padat bagi Niko karena dia harus mengurus semua akuisisi perusahaan yang telah direncanakan Komisaris Gusta untuk cucunya kelak. Niko sudah bisa membayangkan betapa repotnya dia nanti ketika sang bayi yang ditunggu-tunggu seisi rumah ini hadir.


Niko berjalan kembali menuju ke kamarnya. Seharian ini, Niko tidak istirahat sama sekali. Setelah tadi sore tiba di rumah pun, Komisaris Gusta langsung mengajaknya berdiskusi lagi mengenai beberapa hal.


Lita melihat Niko yang sedang berjalan menyeberangi rumah utama ke arah belakang paviliun. Dia mengintip dari balik jendela kamarnya. Entah kenapa, Lita penasaran kapan Niko kembali karena sejak tadi dia tidak melihatnya di rumah. Padahal, dia tidak ada niatan menemui Niko. Dia hanya ingin memastikan bahwa Niko telah kembali ke rumah.


Niko sudah hampir dekat dan melewati kamar Lita. Lita buru-buru menutup gorden jendelanya agar Niko tidak menyadari kalau Lita mengintip sejak tadi. Sementara itu, Niko berhenti tepat di depan pintu kamar Lita. Dia terdiam sejenak. Dia berpikir apakah dia boleh menemui Lita sebentar. Namun, kemudian dia melangkah melewati kamar Lita.


Setelah tiba di kamar dan mandi serta ganti pakaian, Niko bersandar di kasurnya. Dia mengambil ponsel dan mengecek beberapa pekerjaan untuk besok. Dia terdiam sebentar. Kemudian, dia menelepon seseorang dari ponselnya.


“Halo.” Suara di seberang sana menyapa Niko.


“Lita.” Ternyata Lita yang ditelepon oleh Niko.


“Ya, Niko. Ada apa?”


Niko memutar otaknya. Dia sebenarnya tidak tahu ingin bicara apa pada Lita.


“Niko?” Lita memanggil kembali.


“Ah, Lita, aku ingin memberitahumu kalau Komisaris Gusta berencana memberi hadiah kejutannya pada saat penyambutan kembalinya Nyonya Shasa dari rumah sakit setelah persalinan.”


“Lalu?” Lita belum mengerti arah pembicaraan Niko.


“Aku harap kau merahasiakan hal ini dari Nyonya sampai waktunya tiba.”


“Ah… baiklah.” Jawab Lita singkat.


“Lita, aku rasa kau akan semakin sibuk setelah Nyonya melahirkan nanti.”


“Kenapa? Rasanya, Presdir Leo akan memperkerjakan seorang penjaga bayi khusus untuk anaknya nanti.”


“Keperluan Nyonya Shasa juga akan semakin banyak saat anaknya lahir. Komisaris Gusta sudah memerintahkan untuk tidak melewatkan satu hal pun yang dibutuhkan Nyonya Shasa. Kau harus mempertimbangkan kembali jika ingin kembali ke apartemenmu.”


“Oh… jadi maksudmu, aku tidak harus mempertimbangkan kembali rencanaku untuk pulang ke apartemen minggu ini? Jika memang Nyonya membutuhkanku nanti setelah dia bersalin, tidak menutup kemungkinan aku akan tinggal lagi di sini.”

__ADS_1


‘Tidak semudah itu memang mempengaruhi keputusan Lita.’ Batin Niko. Dia sangat mengetahui betapa tegas dan kerasnya Lita terhadap dirinya sendiri. Mendengar rencana Lita untuk kembali lagi ke apartemennya minggu ini, mengganggu pikiran Niko untuk mencari cara agar membuatnya tetap tinggal di rumah Keluarga Gusta.


“Ya, sebetulnya, kembali lagi ke keputusanmu. Pertimbangkan saja apakah lebih merepotkan tinggal di sini atau di apartemenmu.” Usul Niko.


“Apa kau sedang memintaku untuk tinggal di sini agar bisa berdekatan denganmu?” tanya Lita curiga.


“Kalau iya, kau akan melakukan apa?”


Pertanyaan dari Niko membuat keduanya menggantung terdiam. Kalau obrolan ini diteruskan, bisa panjang ke mana-mana. Lita tak bisa menjawabnya karena dia ragu untuk jujur tentang perasaannya, sedangkan Niko masih terdiam menunggu jawaban Lita dengan harap-harap cemas.


*****


“Haris, apa kau tidak bisa mendatangkan saja mereka ke sini?” Leo sedang serius membicarakan pekerjaannya dengan asisten Haris di kantor.


“Akan sulit, Tuan. Mereka juga memiliki jadwal yang padat. Tidak mudah membawa mereka dari luar negeri ke sini. Usul dari mereka, lebih baik rapatnya dilakukan lewat panggilan video.”


“Jika rapatnya lewat panggilan video, akan repot bernegosiasi dengan mereka. Di sisi lain, aku tidak mungkin meninggalkan Shasa sendirian di saat-saat menjelang kelahirannya.”


“Berdasarkan catatan dokter, estimasi tanggal kelahiran Nyonya Shasa masih sekitar 3 minggu dari hari ini, Tuan. Kalau kita mempercepat pertemuannya, anda bisa kembali satu minggu sebelum Nyonya melahirkan.”


“Aku akan diskusi dulu dengan Shasa dan dokter. Jika kondisinya memungkinkan, kau bisa langsung siapkan keberangkatanku ke luar negeri.”


Leo mengambil ponsel dan menghubungi dokter Sam.


“Sam, bisakah kau datang ke rumahku nanti malam? Kau harus membawa dokter kandungan Shasa juga. Ada yang ingin aku bicarakan perihal Shasa.”


“Ah, baiklah. Aku akan datang ke rumahmu sekitar jam 8 malam.” Dokter Sam diam sejenak. “Leo, Shasa baik-baik saja kan?” dokter Sam penasaran dengan alasan Leo memanggilnya. Bahkan, dokter kandungan Shasa juga diminta ikut.


“Hei, apa yang kau pikirkan? Tentu saja dia baik. Aku menjaganya dengan ketat.” Leo malah terdengar mengomel menjawab pertanyaan dokter Sam.


Dokter Sam menyeringai. “Astaga, aku hanya bertanya, Leo.”


“Aku tutup teleponnya.” Leo langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Dokter Sam hanya mengutuk penelepon yang mengubunginya. “Aku hanya bertanya padahal. Kenapa dia sensitif sekali seperti dia yang sedang hamil. Ish!”

__ADS_1


Pekerjaan dadakan Leo membuatnya pusing karena dia harus pergi ke luar negeri untuk menyelesaikannya. Proyek yang cukup besar untuk ekspansi ke luar negeri, tidak bisa dengan mudah dia lewati begitu saja. Namun, dia juga merasa tidak mungkin untuk meninggalkan Shasa dengan kondisi kehamilannya yang kian membesar.


Apalagi ketika Leo mengingat janjinya untuk mengajak Shasa ke luar rumah di akhir pekan nanti. Bisa jadi, rencananya ini gagal. Dia tidak sampai hati mengatakannya pada Shasa. Terutama, Leo tidak pernah luput dari janjinya pada Shasa walau sedikit pun.


Leo memikirkan berapa banyak orang yang harus dikerahkan untuk mengawasi Shasa ketika nanti dia tidak ada. Dia bahkan berpikir untuk meminta bantuan pada mama dan papanya untuk menggantikan dirinya mengawasi Shasa. Sungguh berat bagi Leo untuk pergi dalam kondisi begini.


*****


Shasa berjalan ke luar paviliunnya menuju rumah utama. Dari kejauhan, Shasa melihat Komisaris Gusta dan Nyonya Sofia sedang asyik entah membicarakan apa. Semakin dekat, semakin Shasa mendengar suara-suara perdebatan antara kedua mertuanya ini.


“Ma… Pa… sedang apa?” tanya Shasa penasaran sambil memegang perutnya.


“Sayang… sini duduk, jangan berdiri seperti itu.” Nyonya Sofia menyambut Shasa dan menggiringnya untuk duduk di sofa.


“Mama dan Papa sedang apa sih?” tanya Shasa lagi.


“Ini lho, mama sama papa lagi cari nama untuk anakmu nanti. Tapi papa ini seleranya kuno.” Ungkap Nyonya Sofia agak kesal.


“Mana mungkin kau mengatakan sebuah nama dengan arti yang bagus itu kuno. Tidak ada istilah kuno dalam penggunaan nama. Kau saja yang berlagak keren.” Balas Komisaris Gusta tak mau kalah.


“Nama pemberianku lebih kekinian. Rainer. Itu nama yang akan aku hadiahkan untuk cucu pertamaku.”kata Nyonya Sofia dengan bangga.


“Rainer itu artinya prajurit yang bijak. Kau pikir cucuku hanya akan menjadi prajurit? Dia akan menjadi raja, bukan prajurit.” Balas Komisaris Gusta.


“Kenapa kau menilainya hanya dari kata-kata prajurit? Aku berharap dia akan menjadi seseorang yang bijak di kemudian hari. Seseorang yang selalu bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Dia akan menjadi seorang pengambil keputusan yang dicintai semua orang.”


“Nama dariku lebih bagus. Kau tidak menganggap anak itu sebagai anugerah Tuhan? Itulah kenapa aku ingin menamainya Theo, karena dia adalah anugerah Tuhan untuk keluarga kita. Rumah kita ini terlalu sepi sejak dulu. Kehadirannya akan menjadi anugerah untuk kita semua. Tidak hanya untuk kedua orang tuanya, tetapi juga untukku, untukmu, dan untuk seisi rumah ini, bahkan negara dan bangsanya.”


“Hahaha… Mama, Papa, nama yang kalian ingin berikan pada anakku sungguh bagus semua. Namun sayang, aku dan Leo sudah memutuskan nama untuknya.” Ucap Shasa melerai Nyonya Sofia dan Komisaris Gusta.


“Apa?” ucap Nyonya Sofia dan Komisaris Gusta berbarengan.


“Iya. Aku dan Leo sudah berdiskusi untuk memberinya nama yang menggambarkan anakku nanti. Mama dan Papa tidak perlu berdebat memutuskan nama untuk cucu kalian. Yang pasti, dia akan membawa nama Keluarga Gusta di setiap langkah kakinya, terlepas dari nama apapun yang akan aku dan Leo berikan untuknya.” Jelas Shasa dengan tenang.


Kedua mertuanya Shasa ini termenung diam dengan kata-kata Shasa. Ternyata, percuma berdebat sejak tadi, Leo dan Shasa sudah memutuskan nama untuk cucunya.

__ADS_1


*****


Bersambung..


__ADS_2