Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Perpisahan


__ADS_3

Leo pulang ke rumah larut malam. Karena kedatangan Shasa yang tiba-tiba di kantor tadi siang, semua jadwal Leo terpaksa mundur. Leo sempat mengabari Shasa kalau dia akan pulang terlambat. Kini, asisten Haris telah mengantarnya sampai ke rumah. Sebelum asisten Haris membukakan pintu untuknya, Leo sudah turun dari mobil tanpa bicara sedikit pun dan hanya melenggang masuk dengan cepat menuju ke kamarnya.


Leo membuka pintu kamar. Kondisi kamar sudah gelap, hanya ada lampu tidur di sisi kanan dan kiri kasur yang bersinar remang-remang. Mata Leo mengitari kamar karena tidak dilihatnya Shasa di kasur. Betapa kagetnya Leo melihat Shasa tertidur di sofa sambil memegang remote tv. Leo buru-buru mendekatinya.


"Sayang, kenapa tidur di sini sih?" Gerutu Leo sendirian. Dia mengangkat tubuh Shasa dan memindahkannya ke kasur. Ditariknya selimut menutupi tubuh Shasa. Leo menatap wajah manis Shasa yang tertidur pulas.


"Aku tidak tahu apa yang dipikirkan otak cantikmu itu. Kau selalu membuatku merasa bersalah. Tadi siang aku merasa bersalah karena menyetujuimu berhenti berkarir. Dan sekarang kau membuatku bersalah karena pulang terlambat. Dia pasti bosan sepanjang malam menungguku." Leo mendesah pelan.


*****


Pagi-pagi ketika sarapan, asisten Haris sudah tiba di rumah. Yang biasanya hanya menunggu di depan rumah dari dalam mobil, kini asisten Haris sudah ada di dekat meja makan menyaksikan sepasang suami-istri di depannya menikmati sarapan.


"Asisten Haris, kau sudah sarapan?" Tanya Shasa pada asisten Haris sambil menguyah makanan di mulutnya.


"Sudah, Nyonya." Jawab asisten Haris singkat.


Shasa menyadari kalau Leo menatapnya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Shasa heran karena Leo menatapnya datar.


"Apa yang ingin kau bicarakan, Haris?" Tidak menggubris Shasa, Leo langsung bertanya pada asisten Haris.


"Saya membawa surat pengunduran diri punya Nyonya Shasa. Hari ini saya akan menyerahkannya ke tim pengembangan." Asisten Haris menyodorkan sebuah map di meja makan. Shasa langsung mengambil dan mengecek isinya.


"Tanggal pengunduran diriku minggu depan ya." Shasa mengangguk-angguk sambil melanjutkan baca suratnya. "Apa ini akan disetujui? Peraturan perusahaan memperbolehkan pengunduran diri satu bulan sejak tanggal pengajuan, kan?" Shasa menoleh ke asisten Haris.


"Anda tidak pelu khawatir, Nyonya."


"Apa ada lagi yang ingin kau bicarakan?" Sahut Leo.


"Seperti perintah Tuan, saya akan menyiapkan pesta perpisahan untuk Nyonya."


"Apa? Tidak. Aku akan menyiapkannya sendiri." Shasa menolak.


"Aku yang menyiapkan, sayang. Semua instruksinya dariku." Leo menyela.


"Sayang... Aku bisa menyiapkannya sendiri." Shasa merayu.


"Pilihannya hanya dua, aku yang menyiapkan atau pestanya diadakan di rumah. Pilih saja antara dua itu."

__ADS_1


Shasa memajukan bibirnya kecewa dengan kata-kata Leo. "Aku tidak punya pilihan." Shasa tak tertarik dengan tawaran Leo.


"Haris, aku akan menyusulmu. Tunggu saja di mobil." Perintah Leo.


Asisten Haris mengambil map surat pengunduran diri Shasa di meja dan beranjak meninggalkan Leo dan Shasa.


"Sayang." Panggil Leo.


Shasa otomatis menoleh ke arah Leo. "Ya?"


"Sejak kapan kau peduli pada Haris?"


Shasa terlihat bingung. "Peduli? Aku?"


"Kau menanyakan dia sudah sarapan atau belum." Ucap Leo datar.


Shasa yang semula menahan tawanya, melepaskan tawa terbahak-bahak.


"Sayang, aku benar-benar menyukaimu. Apalagi kalau kau sedang lucu begini." Shasa masih belum bisa berhenti tertawa. "Sudah, sudah. Kau harus berangkat kerja sekarang."


Shasa mengantar Leo sampai ke pintu depan. Leo bersiap masuk mobil, tetapi kemudian dia berbalik menghadap Shasa.


Setelah itu, Leo berangkat menuju kantor dengan mobilnya. Shasa masih berdiri di depan pintu menatap Leo yang sudah melesat jauh. Shasa menghela napas.


'Benar-benar menggemaskan. Bagaimana bisa dia terlihat begitu dewasa dan tegas di hadapan orang lain, tapi dia bertingkah seperti anak kecil di hadapanku?" Senyum Shasa mengembang mengingat Leo dalam pikirannya.


*****


Seminggu sudah berlalu sejak Shasa mengajukan pengunduran dirinya. Manajer Lim tampaknya belum bisa menerima sehingga setiap hari dia menelpon Shasa dan merayunya untuk membatalkan pengunduran dirinya.


Sejak pengunduran diri Shasa tersebar di kantornya, banyak yang membicarakan perihal Shasa dan kehidupan barunya. Tak sedikit yang membicarakan Shasa dari sisi yang kurang baik dan tidak enak didengar.


"Tentu saja dia mengundurkan diri. Suaminya konglomerat. Tidak perlu repot-repot memikirkan uang, dia sudah mendapatkannya dengan mudah."


"Suaminya pasti melarangnya bekerja. Mana mungkin seorang presdir punya istri yang merupakan pegawai biasa di perusahaannya sendiri. Dia pasti malu."


"Dia sudah sombong ya sekarang. Tidak mau lagi repot-repot bekerja dan hanya tinggal bersantai-santai menghabiskan harta suaminya."


Tira sampai kesal mendengarkan semua celotehan yang tidak enak itu. Berkali-kali Tira membela Shasa di depan orang-orang yang membicarakannya di belakang. Tira berpikir kalau orang-orang itu hanya iri pada Shasa yang bisa begitu beruntung mendapat lelaki sempurna seperti Leo. Sudah tampan, kaya pula.

__ADS_1


Tira dan teman-teman dekat Shasa tidak pernah mengatakan pada Shasa orang-orang yang menggunjing dirinya. Dia takut Shasa akan menjadi kepikiran dengan omongan orang.


Hari ini teman-teman kantor yang satu tim dengan Shasa, akan makan malam bersamanya di salah satu restoran yang dipilihkan Leo.


Manajer Lim, Tira, dan teman-teman satu tim Shasa memasuki restoran mewah yang mereka pun tidak akan rela membayar harga satu porsi makanan di sini. Mereka diantar oleh pelayan restoran ke sebuah ruangan khusus yang di depannya berjajar beberapa orang dengan pakaian hitam dan rapi. Mereka adalah pengawal Shasa yang menjaganya selama di restoran itu.


Teman-teman Shasa memasuki ruangan khusus. Shasa sudah menunggu di dalam.


"Halo! Selamat datang!" Shasa menyambut teman-temannya dengan antusias.


Mereka langsung menghampiri Shasa. Semuanya rindu karena sudah cukup lama tidak bertemu Shasa. Shasa menyalami mereka satu per satu. Kemudian, semuanya duduk di kursinya masing-masing. Mereka menikmati makanan mewah yang diantarkan para pelayan. Beberapa dari teman-teman Shasa juga mengambil foto makanannya dan membagikan gambar tersebut ke akun sosial media mereka.


Setelah selesai makan mereka mengobrol dengan santai dan tertawa bersama. Shasa memperhatikan teman-temannya satu per satu. Tak terasa, begitu banyak kenangan yang mereka miliki bersama. Melihat mereka yang se-menyenangkan ini membuat Shasa sedikit sedih karena harus berpisah dari mereka. Empat tahun bukan waktu yang singkat. Susah, senang, sedih, marah, kesal, kecewa telah dihadapi Shasa selama berkarir di kantornya. Teman-temannya ini sudah seperti keluarga bagi Shasa.


Namun, hidup akan terus berjalan. Ada yang datang dan ada yang pergi. Di setiap siklus kehidupan manusia sering kali ada kejutan-kejutan yang tidak bisa disangka-sangka. Ada pilihan-pilihan yang harus dihadapi. Dan hari ini, Shasa telah menetapkan pilihan hidupnya.


'Aku tidak menghentikan mimpiku. Aku hanya membangun mimpi baru yang lebih berharga daripada mimpi-mimpiku sebelumnya.' batin Shasa sambil tersenyum memandangi wajah bahagia teman-temannya malam ini.


*****


Epilog:


Semua orang bersiap meninggalkan ruang makan. Setelah makan malam mewahnya, mereka berpelukan dengan Shasa di hari terakhirnya sebagai pegawai XY Group.


Mereka berjalan bersama menuju lobby restoran. Shasa memicingkan matanya melihat sebuah mobil yang dia kenali terparkir di depan lobby. Benar saja, orang yang ditebak-tebak Shasa sebagai pemilik mobil itu keluar dari mobilnya. Teman-temannya terkejut melihat Leo berdiri di depan lobby.


"Kalian bersenang-senang?" Tanya Leo dengan ramah pada teman-teman Shasa.


"Tentu saja, Tuan. Terima kasih atas makan malamnya hari ini." Balas manajer Lim pada Leo.


"Jangan berterima kasih padaku. Istriku yang mengundang kalian." Sahut Leo tersenyum sambil melirik Shasa.


"Teman-teman, aku pamit duluan ya. Terima kasih sudah makan malam bersamaku. Pastikan kita tetap menjaga hubungan baik setelah ini." Shasa mengucapkan salam perpisahan pada temannya.


Leo menarik tubuh Shasa dan membawanya masuk ke mobil. Leo tersenyum pada teman-teman Shasa sebelum meninggalkannya.


Di dalam mobil, Leo berbicara pada Shasa. "Kau tidak berpisah dengan mereka. Kau hanya tidak bekerja bersama mereka lagi. Tetapi, mereka tetap teman-temanmu." Shasa tersenyum menatap Leo. Dia melingkarkan lengannya di tubuh Leo sepanjang perjalanan mereka pulang menuju ke rumah.


*****

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2