
Mobil Shasa mendarat di lobby apartemen. Dia menginjakkan kakinya kembali di depan gedung elit yang tinggi menjulang menghiasi langit. Sebuah senyum terpancar dari wajah Shasa. Dia mulai melangkah masuk ke dalam apartemen. Lita dan Niko mengawalnya dari belakang. Ketiganya dibawa menggunakan lift menuju lantai apartemen Leo.
Ting!
Pintu lift terbuka. Sudah lama sekali Shasa tidak menyusuri koridor apartemen ini. Lita membukakan pintu apartemen untuk Shasa. Di dalam ingatannya, teringat Pak Yo yang selalu menyambutnya di depan pintu ketika Shasa pulang kerja. Begitu juga wangi khas apartemen ini masih dapat diingat harumnya di benak Shasa.
Semenjak Shasa dan Leo pindah ke rumah Keluarga Gusta, beberapa pelayan masih dipekerjakan untuk merawat apartemen ini. Hanya saja, beberapa barang di sana ditutupi dengan kain-kain besar agar tidak berdebu. Leo masih menyukai apartemen ini. Sebelum kedatangannya kembali dari luar negeri, Komisaris Gusta sudah memerintahkan seorang desainer interior profesional untuk menata apartemen ini sesuai selera Leo. Di samping itu, bagi Shasa, apartemen ini adalah tempat pertama dia tinggal bersama lelaki asing yang secara hukum, sah sebagai suaminya. Rasa yang awalnya biasanya itu, tumbuh menjadi cinta lewat apartemen ini.
Shasa melangkah ke ruang tengah. Dia teringat saat-saat dia menghabiskan waktu menertawakan acara komedi di televisi, berguling-guling di sofa, atau sekedar memakan camilan sambil berselancar dengan ponselnya. Tak jarang Shasa juga mengajak beberapa pelayan untuk menemaninya menghabiskan waktu di sana. Melihat itu, perlahan Leo mencoba meluangkan waktunya di malam hari untuk menemani Shasa membunuh waktu senggang mereka, hingga di ruang tengah ini lah mereka berdua asyik membahas sesuatu hal yang sedang manjadi buah bibir publik atau sekedar bertukar pikiran satu sama lain.
“Nyonya, apa kau ingin duduk?” suara Lita mengalihkan khayalan Shasa tentang kejadian di masa lalu yang sedang dia kenang.
“Ah, tidak, Lita. Aku masih asyik menikmati suasana di sini. Sudah lama sekali aku tidak mengunjungi apartemen ini.” Bola mata Shasa mengitari seisi apartemen. “Apa Leo pernah ke sini lagi semenjak kami pindah?”
“Setahuku, Presdir Leo tidak pernah datang ke sini semenjak kepindahannya. Hanya saja, Presdir Leo masih beberapa kali meminta asisten Haris untuk memastikan apartemen ini tetap terawat.” Jawab Lita.
Seulas senyum kembali muncul di bibir Shasa. Dia melangkah lagi menuju ruang makan, tempat olahraga, dan teras terbuka di apartemen itu.
“Lita, rasanya tidak banyak yang berubah di apartemen ini. Tanaman-tanamannya pun masih terawat dengan baik.” Kenang Shasa.
“Presdir Leo tidak mengijinkan untuk merubah apapun di apartemen ini.” Ucap Lita.
__ADS_1
Ya, sepertinya Leo tidak ingin mengubah kenangan apapun yang terjadi di apartemen ini.
“Niko, kenapa kau diam saja dari tadi?” Shasa menyadari kehadiran Niko yang sejak tadi tidak berkata-kata sedikit pun.
“Nyonya, apa kau menginginkan sesuatu dengan datang kembali ke apartemen ini? Atau mungkin ada barang yang ingin kau ambil?” tanya Niko.
Shasa membalikkan badannya menghadap Niko yang berjarak beberapa meter darinya.
“Niko, untuk mensyukuri apa yang kita miliki sekarang dan memahami arti semua itu, kadang kita perlu melihat kembali apa yang terjadi dahulu. Bukan untuk meratapi, tetapi untuk mengingat kembali sejauh apa kita sudah berjalan dan apa saja yang pernah kita lalui untuk mendapatkannya.” Shasa tersenyum. “Dengan cara inilah aku mengingat orang yang aku sayangi dan dengan cara inilah aku semakin mencintai orang itu. Kita kadang lupa perjuangan yang sudah dilewati sampai-sampai kita mengabaikan betapa pentingnya dia di hidup kita. Aku berdiri di hadapanmu sekarang ini, karena ada jejak kaki Leo di setiap langkahku. Aku ke sini bukan untuk mencari sesuatu. Aku tidak perlu mencari lagi, karena aku sudah memilikinya.”
Niko dan Lita terpaku menatap Shasa. Ini pertama kali bagi Niko dan Lita menyaksikan betapa besarnya rasa cinta Shasa pada Leo.
Shasa tertawa kecil. “Orang yang sedang rindu memang benar-benar berbahaya, kan? Kalian sampai kehabisan kata-kata untuk membalas kata-kataku.”
“Kembalilah ke titik nol dimana kalian berada sebelumnya. Kalian akan tahu, mana yang berharga, mana yang tak boleh kau lepaskan.” Shasa meninggalkan Niko dan Lita di teras depan dan melangkah masuk kembali.
Niko dan Lita bertemu tatap. Keduanya saling memandangi tanpa kata.
*****
Shasa menyusuri rak-rak buku di kamar Leo. Dia rindu sekali dengan aroma kertas dari buku-buku Leo. Shasa mencoba duduk di sofa panjang dan menengadahkan kepalanya ke langit.
__ADS_1
'Sayang, aku ingin anak-anak kita nanti mengetahui semua cerita tentang kita, tentang apartemen ini, tentang rak-rak bukumu, tentang atap yang memperlihatkan langit ini.’ Batin Shasa.
"Lita, dulu aku sangat takut tidak bisa membalas kasih sayang yang besar itu. Aku takut aku tidak mampu membahagiakannya. Tapi, di kamar ini, aku menyadari kalau Leo hanya ingin kehadiranku. Aku tetap bernapas dan setia di sisinya, itulah yang dia butuhkan dariku." Shasa tersenyum bahagia mengenang sekali lagi tentang Leo.
Shasa memandangi lagi rak-rak buku Leo. Tak lama, dia mengerutkan dahinya. Pandangannya tertuju pada sebuah kotak di antara buku-buku itu. Dia beranjak dari sofa dan menggapai kotak berwarna coklat muda itu. Shasa membuka kotak yang berukuran sedang dengan kedua tangannya.
“Wah…” Shasa terperangah melihat isi kotak itu. “Sejak kapan Leo menyimpan foto-fotoku? Kenapa dia tidak pernah memberitahuku?” Shasa bertanya-tanya sendiri.
Foto-foto itu diambil secara tidak sadar entah oleh siapa. Ada foto saat awal mereka ke luar kota bersama, ada juga foto sewaktu di taman hiburan, bahkan juga ada foto sewaktu Leo menggendong Shasa menyusuri kebun teh.
Shasa tiba-tiba diam. Ada sebuah foto di paling bawah dari tumpukan foto-foto itu. Seorang gadis kecil tertawa sambil memegang sebuah boneka di tangannya. Tawanya terlihat sangat lebar, tetapi ada setitik air mata di pelupuk matanya seolah-olah memperlihatkan bahwa gadis ini baru saja menangis. Shasa bertanya-tanya siapa gadis kecil ini. Leo jelas-jelas anak tunggal. Dia tidak mungkin memiliki adik atau kakak perempuan kan?
“Nyonya?” Lita memanggil Shasa.
“Lita, apa kau mengenal gadis ini?” tanya Shasa sambil menyodorkan selembar foto.
Lita berpikir keras. “Maaf Nyonya, aku tidak tahu.” Jawab Lita sambil mengembalikan foto itu lagi. “Tapi Nyonya…” Shasa mengalihkan pandangannya lagi ke Lita. “Aku rasa, gadis kecil itu mirip denganmu.”
“Aku?” Shasa meyakinkan kembali gadis di foto itu. “Aku tidak ingat masa kecilku. Aku pun tidak punya foto-foto masa kecilku.”
“Gadis itu adalah anda, Nyonya.” Suara Niko mengejutkan seisi kamar itu. Terlebih, Shasa yang tiba-tiba jantungnya berdegup kencang mendengar pernyataan Niko barusan.
__ADS_1
*****
Bersambung…