
“Nyonya, anda tidak boleh ke sana.” Lita berucap dengan tegas.
“Kenapa? Apa Leo menyembunyikan seseorang di kantornya sehingga aku tidak boleh ke sana?” Shasa bertanya lagi.
“Bukan seperti itu, Nyonya. Presdir Leo tidak suka jika anda berkeliaran ke luar rumah, apalagi dengan kondisi kehamilan anda yang sudah besar seperti ini.”
“Aku hanya ingin makan siang dengannya. Tidak lebih dari itu. Aku juga pernah dengar kalau kantor Leo sangat aman untuk ku kunjungi.”
“Kalau begitu, aku akan memberitahu Presdir dulu. Bisa saja Presdir ada rapat di luar, kan?” Lita sudah mengeluarkan ponselnya.
“Lita, kau ini bagaimana. Aku akan memberikan Leo kejutan dengan kedatanganku siang ini. Kalau kau memberitahunya, itu tidak akan jadi kejutan sama sekali.” Protes Shasa. “Lama-lama, kau sama merepotkannya dengan Leo.” Shasa menyilangkan tangannya di depan dengan sedikit kesal.
‘Anda yang akan membuat kerepotan baru jika memaksa keluar rumah seperti ini, Nyonya.’ Sahut Lita dalam hati.
“Begini saja. Kalau kau khawatir aku kenapa-kenapa, suruh saja Niko ikut bersama kita. Niko kan sudah jadi jimat keamanan orang-orang di rumah ini.”
“Niko pasti sibuk dengan pekerjaannya, Nyonya.”
“Dari mana kau tahu?”
Deg. Lita sadar kalau dia harus menghentikan obrolan ini sebelum kelepasan berbicara. Semalam saat di kamar Lita, Niko memberitahunya kalau hari ini dia akan seharian menemani Komisaris Gusta dalam rapat akuisisi perusahaan baru yang akan dihadiahkan untuk cucunya nanti.
“Lita, hubungi saja Niko sekarang.” Shasa sudah mulai merengek.
“Nyonya, aku akan siapkan mobil untuk mengantar anda ke kantor Presdir. Anda tunggu saja di sini. Aku akan segera memanggil anda kembali jika mobilnya sudah siap.”
Senyum senang muncul di wajah Shasa. Akhirnya Lita menyerah dan terpaksa menuruti keinginan Shasa. Lalu, Shasa pun bersiap mengganti pakaiannya di kamar, sedangkan Lita langsung menghubungi seseorang dari ponselnya. Bukan menghubungi supir, justru Lita menghubungi asisten Haris.
“Haris, Nyonya akan datang ke kantor.” Ucap Lita singkat tanpa sapaan pembuka sama sekali.
“Apa? Kapan?” asisten Haris cukup kaget mendengarnya. Dia langsung sedikit berlari ke ruangan Leo.
“Kami sedang bersiap untuk berangkat. Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk mencegahnya. Presdir Leo pasti akan memarahiku karena membawa Nyonya ke luar rumah.”
“Kau ulurlah waktu. Oke?” Asisten Haris menutup teleponnya. Dia mengetuk pintu ruangan Leo dan masuk ke dalam. Asisten Haris menyadari betapa Shasa akan merepotkannya jika datang ke kantor. Komisaris Gusta telah memerintahkan semua asisten pribadi dan pelayan untuk menjaga Shasa dengan ketat menjelang persalinannya.
“Tuan.” Asisten Haris memberi hormat pada Leo.
“Ya?” Leo masih fokus membaca dokumen di mejanya
__ADS_1
“Nyonya Shasa sedang menuju ke sini.”
“Apa?!” Leo menaikkan nada bicaranya. Otomatis dia menatap asisten Haris sekarang. “Bukankah sudah aku bilang untuk tidak membawanya ke luar rumah?”
“Lita sudah melarangnya, Tuan. Tapi, Nyonya tetap bersikeras ingin ke sini.”
“Siapkan mobil. Aku akan pulang.”
Asisten Haris langsung meninggalkan ruangan Leo. Dia bergegas menghubungi supir untuk bersiap di lobby.
Sementara itu, Lita berusaha mengulur waktu. Meskipun supir sudah siap di depan rumah, Lita menunda beberapa saat untuk masuk memberitahu Shasa.
Ternyata, Shasa sudah berjalan ke depan rumah dengan langkah tak sabar. “Lita, kenapa lama sekali?” Shasa sudah berdiri di depan pintu. Shasa berjalan mendekati Lita.
‘Aduh, melihatnya berjalan seperti itu saja, sudah membuatku sesak karena dia harus membawa-bawa perut besarnya itu ke mana-mana. Kenapa dia tidak terlihat pengap ya dan masih berpikir untuk berjalan-jalan ke luar rumah?’ Batin Lita.
“Ayo kita pergi sekarang.” Shasa langsung menyelinap masuk ke dalam mobil. Lita menghela napasnya berat. Namun, dia tidak punya pilihan lain selain ikut masuk ke mobil juga.
Mereka pun melesat ke luar rumah diikuti beberapa mobil pengawal di belakangnya. Lita sudah menunggu kabar dari asisten Haris, tetapi tak kunjung muncul juga.
Tiba-tiba ponsel Shasa berdering. Lita menerka-nerka siapa yang meneleponnya.
“Halo, sayang.” Shasa menyapa Leo lewat ponselnya.
“Ah… aku baru saja ingin ke kantormu.”
“Kenapa tidak memberitahuku?”
“Tadinya aku ingin memberi kejutan untukmu.”
“Pulanglah. Makan siang bersamaku di rumah.”
Seketika itu juga, Shasa pasrah kembali lagi ke rumah. Padahal, dia sudah begitu senang akan menghirup udara di luar rumah hari ini. Bahkan, dia sudah berencana untuk menemui Tira nanti. Sekarang, semua rencananya gagal.
Setelah mobilnya mendarat kembali di rumah, Shasa turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam. Leo sudah menunggu di meja makan yang sekejap sudah tersaji berbagai makanan di sana. Shasa melangkah mendekati Leo.
“Kenapa kau memiliki banyak ide dan rencana sih? Seharusnya kau istirahat saja, santai-santai di rumah.” Sindir Leo.
Shasa mendengus kesal dengan pelan. Dia langsung duduk di kursi meja makan tanpa membalas kata-kata Leo tadi.
__ADS_1
Melihat Shasa yang kesal, Leo mencoba menghiburnya. “Memangnya kau ingin apa, sayang? Pasti kau ingin sesuatu kan sampai berencana datang ke kantorku?” Leo diam sejenak. “Aku akan mengajakmu ke luar rumah nanti, tapi tidak sekarang. Mungkin akhir pekan ini atau akhir pekan berikutnya.”
Dengan wajah manja, Shasa menatap Leo. “Janji ya, kau akan mengajakku jalan-jalan?”
“Iya, sayang. Ayo kita makan dulu sekarang.” Leo tersenyum tipis melihat Shasa. Leo sangat gemas melihat wajah Shasa yang manja dan pandai merengek itu.
Mereka pun mulai menikmati makan siang mereka. Suasana sudah mencair. Keduanya kini mengobrol dengan santai.
“Sayang, tadi pagi aku membaca beberapa artikel tentang persalinan. Sepertinya aku tertarik untuk melahirkan di rumah saja secara privat. Rasanya akan lebih romantis.” Ucap Shasa dengan antusias.
Leo mendengus. Dia menghentikan makannya. “Bisa-bisanya kau berpikir hal romantis saat melahirkan, sedangkan aku sibuk mencari cara yang paling aman untukmu.”
“Maksudku begini. Melahirkan di rumah ditemani suami dan orang-orang terdekat bisa menciptakan situasi yang lebih santai dan intim. Itu bisa mengurangi ketegangan sang ibu yang akan melahirkan.”
“Lebih berisiko jika di rumah. Kalau di rumah sakit, semuanya bisa lebih mudah saat kau butuh hal-hal lain diluar perkiraan.”
“Itu karena kau berpikir aneh-aneh tentangku. Coba kau berpikir sedikit lebih positif.”
“Terserah kau mau bilang apa. Pokoknya kita konsultasikan saja dengan dokter cara yang terbaik dan paling sesuai dengan kondisimu.”
Shasa sudah malas untuk menanggapi Leo lagi. Dia hanya memanyunkan bibirnya karena tak berhasil membuat Leo menyetujui keinginannya.
*****
Asisten Haris menghampiri Lita yang baru saja menyelesaikan makan siang di belakang paviliun Leo.
“Lita, wajahmu terlihat lebih segar dari biasanya.” Goda Niko.
Lita menatap asisten Haris dengan sinis.”Kenapa kau menyedihkan sekali sih? Aura ke-jomblo-anmu terlihat sekali dari caramu mengatur makan malam untukku dan Niko.”
Niko tersenyum-senyum puas. “Tapi… ternyata berujung indah kan? Tidak hanya makan bersama, bahkan kalian juga… “ asisten Haris menggantung kalimatnya dengan wajah menggoda.
'Sial! Apa dia memasang cctv di depan kamarku dan Niko? Atau dia mengirim orang untuk membuntutiku? Kurang ajar!’ batin Lita.
Lebih baik tidak usah diteruskan obrolan ini. Lita berusaha memukul bahu asisten Haris, tetapi dia malah menghindar sambil tertawa cekikikan.
“Tidak perlu khawatir. Aku tidak akan membocorkannya pada siapa-siapa. Bersikap baiklah padaku, Lita.” Asisten Haris masih tak henti tertawa.
Lita terlihat kesal. ‘Lihat saja, akan aku adukan kau pada Niko!’ Lita mengutuk asisten Haris dalam hati. ‘Tunggu, kenapa aku jadi menyebut nama Niko bahkan berniat berlindung padanya? Ish! Menyebalkan!’ Lita pun meninggalkan asisten Haris dengan kesal.
__ADS_1
*****
Bersambung…