Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Hujan Malam


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Shasa bergegas pulang karena pekerjaannya telah selesai dan di ruang kerjanya pun hanya tersisa dia seorang.


Saat Shasa beranjak keluar kantor ke arah parkiran, hujan mulai turun. Dia tidak mungkin menunggu hingga hujan berhenti karena malam semakin larut. Shasa menerjang hujan dengan skuter kesayangannya. Dia bahkan tidak mengenakan jas hujan karena tertinggal di apartemen lamanya.


Sudah terguyur hujan, sial pula. Skuter Shasa mati di tengah jalan. Mau tidak mau, Shasa mendorong skuternya minggir ke tepi jalan.


"Ah sial! Kenapa kau malah mogok sih!" Shasa memaki-maki skuternya. Dia berteduh di halte bus tepat di sisi jalan. Shasa berusaha mengeluarkan ponsel dari ranselnya. "Ah sial! Kenapa kau mati juga sih! Aku lupa mengisi baterainya tadi." Shasa mengacak-acak rambutnya yang sudah basah terguyur air hujan.


"Kalau sudah begini, aku mau minta tolong ke siapa? Sudah malam, hujan, orang-orang pasti tidak ada yang keluar." Shasa sudah ingin menangis saja karena kesal dengan kesialan ganda yang dialaminya ini.


Tubuh Shasa sudah kedinginan. Dia meringkuk memeluk lutunya. Tiba-tiba ada lampu mobil yang menyorot ke arahnya. Pengemudi mobil itu turun dan membuka payung, kemudian berjalan ke arah Shasa.


"Kamu?" Shasa kaget melihat Leo sudah ada di depannya.


"Apa yang kau lakukan disini? Kenapa tidak menghubungiku? Apa kau ingin mati?" Leo memarahi Shasa. Leo sudah cukup frustasi menunggu Shasa yang tak kunjung pulang. "Ayo pulang." Leo melingkarkan lengannya di bahu Shasa dan membawanya masuk ke mobil.


Leo yang juga sudah menyusul masuk ke dalam mobil, meletakkan payungnya di kursi belakang.


"Skuterku bagaimana?"


"Sempat-sempatnya kau menanyakan skuter kuno itu di saat seperti ini." Leo tambah memarahi Shasa. Namun Leo mengambil ponselnya dan menelpon asisten Haris. Leo memintanya mengurus skuter Shasa yang mogok.


Leo menoleh ke arah Shasa. Dia melihat Shasa yang kedinginan.


"Kau pasti kedinginan." Leo membuka mantelnya dan meletakkan di depan badan Shasa. Kemudian Leo menarik sabuk pengaman di sisi Shasa dan memakaikan sabuk itu kepada Shasa. Jarak mereka begitu dekat hingga Shasa tak berani bernapas. "Aku akan nyalakan pemanasnya." Setelah itu, Leo melajukan mobilnya begitu cepat menuju apartemen.


Pak Yo sudah menunggu Leo dan Shasa di depan pintu bersama pelayan wanita bernama Vina. Melihat Shasa yang basah kuyup, Vina langsung menyelimuti Shasa dengan handuk dan menggiringnya menuju kamar.

__ADS_1


"Saya akan siapkan air hangat dan madu untuk nona, Tuan." Pak Yo meninggalkan Leo dan bergegas menuju dapur. Leo yang sudah cukup lega, langsung masuk ke kamarnya.


*****


Pagi itu, Leo keluar dari kamar dan mencari Pak Yo. Para pelayannya yang sudah datang, begitu heran karena Leo tidak menuju ke ruang olahraganya.


Pak Yo menghampiri Leo.


"Bagaimana keadaannya semalam?"


"Setelah mengganti pakaiannya, nona langsung istirahat, Tuan. Sepertinya saat ini, nona masih tidur." Mata Leo tak bisa lepas menatap pintu kamar Shasa.


"Siapkan sarapanku." Pak Yo cukup kaget dengan perintah Leo ini. Tak biasanya dia melewatkan waktu olahraga pagi. "Siapkan juga sarapan untuknya." Pak Yo memberi hormat dan menuju ke dapur untuk memberikan instruksi pada para koki.


Setelah Leo selesai sarapan, Shasa tak kunjung keluar dari kamarnya. Vina sempat membangunkan Shasa, tapi tidak ada respon. Leo yang tak sabar, menghampiri kamar Shasa dan menggedor-gedor pintu kamarnya.


"Shasa! Kau sudah bangun? Buka pintunya!" Leo masih terus menggedor-gedor pintu kamar Shasa.


"Kau baik-baik saja?"


Brukkk. Belum sampai menjawab pertanyaan Leo, Shasa sudah ambruk pingsan di dada Leo.


"Shasa!" Leo berteriak panik hingga membuat semua pelayan di rumahnya juga panik.


Leo menggendong Shasa. "Telpon Haris! Minta dia untuk memanggil Sam kesini! Cepat!" Leo memberi perintah ke Pak Yo sambil membawa Shasa yang ada dalam dekapannya masuk ke kamar Leo.


Dengan hati-hati Leo meletakkan Shasa di atas ranjang. Leo menempelkan tangannya ke dahi Shasa, kemudian berpindah ke pipi dan juga lehernya.

__ADS_1


"Panas! Badannya panas sekali!" Leo menepuk-nepuk pipi Shasa. "Shasa, kau dengar aku?" Shasa!"


Seisi rumah di pagi itu menjadi panik tak karuan. Asisten Haris tiba lebih dulu ke apartemen Leo. Dia langsung masuk ke kamar dan melihat Leo yang masih memegangi tangan Shasa di sisi ranjang. Tak lama, dokter Sam tiba dan langsung masuk ke kamar Leo.


"Sam, cepat periksa dia!"


"Tenang, kau jangan panik dulu." Dokter Sam mencoba menenangkan Leo. "Kau minggir dulu dan lepaskan tangannya. Bagaimana aku bisa memeriksanya kalau kau disitu terus." Protes dokter Sam. Leo pun bergerak, masih tak jauh dari sisi ranjang.


Setelah memeriksa beberapa saat, dokter Sam menoleh ke arah Leo yang tak melepaskan pandangannya dari Shasa.


"Leo, dia harus diinfus. Suhu tubuhnya terlalu tinggi. Kita harus turunkan demamnya."


"Lakukanlah."


Dokter Sam mulai menyiapkan botol infus beserta jarumnya. Saat ingin menusukkan jarum infus ke tangan Shasa, dia terlihat sedikit meringis.


"Sam, apa yang kau lakukan? Kau tidak lihat dia meringis?" Leo bertanya dengan nada tinggi.


"Hei, kau tenanglah. Aku menusukkan jarum infus, wajar kalau dia sedikit meringis."


Leo masih panik. Melihat keadaan Shasa ini, dia merasa bersalah dan gagal menjaganya.


Setelah infus selesai di pasang, dokter Sam memberitahu Leo tentang obat-obatan untuk Shasa. Leo terlihat mengangguk sesekali. Ketika keadaan sudah mulai tenang dan Shasa sepertinya sudah tertidur pulas, Leo meminta semua orang untuk keluar dari kamarnya.


"Haris, aku tidak akan ke kantor hari ini. Uruslah yang bisa kau urus. Aku akan memeriksa dokumen dari rumah. Kabarkan aku kalau ada apa-apa." Perintah Leo tepat sebelum asisten Haris keluar.


"Baik, Tuan." Asisten Haris menundukkan kepalanya memberi hormat dan menutup pintu kamar. Kini hanya ada Shasa yang terbaring lemas di ranjang dengan infus terpasang di tangannya dan Leo yang tidak sedetik pun mengalihkan pandangannya dari Shasa di sisi ranjang.

__ADS_1


*****


bersambung...


__ADS_2