
Pesta telah usai. Kesan dari pesta itu masih membekas di hati semua orang yang menghadirinya. Hari demi hari pun bergulir cepat. Perut Shasa semakin membesar, semakin cepat juga waktu baginya untuk melahirkan.
"Sayang, jangan berangkat dulu. Tunggu aku." Leo menghubungi Shasa menggunakan ponselnya. Dia jalan terburu-buru keluar dari kantornya. Asisten Haris sedikit berlari mengikutinya dari belakang.
"Kalau kau masih sibuk, harusnya tidak perlu dipaksakan. Lita akan menemaniku hari ini." Ucap Shasa sambil berjalan keluar dari kamarnya.
Hari ini adalah jadwal Shasa untuk mengecek kandungannya ke dokter. Usia kandungannya sudah memasuki bulan ke delapan. Dia harap-harap cemas menanti hari ini karena dokter akan melakukan USG untuk melihat jenis kelamin sang bayi.
Leo yang harus bekerja hari ini, jadi tidak fokus karena ingin menemani Shasa ke rumah sakit. Dia memadatkan semua jadwalnya sehingga bisa pulang cepat dan menyusul Shasa. Tentu saja, asisten Haris menjadi kerepotan memajukan semua jadwal Leo.
Setelah debat sengitnya dengan Leo di telepon, Shasa bersiap ke depan rumah bersama Lita di sampingnya. Dia mengelus-elus perur besarnya dengan lembut. 'Sayang, kamu sehat-sehat ya. Mama tidak sabar akan melihatmu hari ini.' batin Shasa yang antusias tapi gugup.
Di depan teras rumah sudah ada sebuah mobil yang siap membawa Shasa serta ada beberapa mobil lain yang sudah berjajar di belakangnya. Ya, benar. Itu adalah mobil pengawal yang akan menjaga Shasa hari ini. Berlebihan memang, karena Komisaris Gusta semakin memperketat penjagaannya melihat kandungan Shasa yang semakin membesar. Shasa menghentikan langkahnya di depan pintu.
"Niko?" Shasa kaget melihatnya di depan teras rumah. "Kau sedang apa?"
Niko memberi hormat pada Shasa. "Tentu saja saya menunggu anda, Nyonya." Ucapnya datar.
Shasa langsung menoleh ke Lita. "Dia ikut kita hari ini?"
Lita mengangguk pelan. Dari wajahnya, Lita terlihat tidak menginginkan Niko ikut ke rumah sakit hari ini. Namun, Komisaris Gusta sudah memberi perintah yang tidak akan sanggup bagi Lita untuk menolaknya.
Ekspresi wajah Shasa tidak dapat diduga. Dia tersenyum kegirangan yang tidak mudah ditebak Lita ataupun Niko. 'Ah... Aku mendapat kesempatan lagi untuk membuat mereka dekat.' batin Shasa girang.
Mereka pun berangkat dan berada dalam satu mobil yang sama. Niko memegang kemudi mobilnya, sedangkan Lita duduk dengan tenang di samping Niko. Shasa memerhatikan mereka dari belakang, melihat keduanya bergantian, sambil memikirkan ide apalagi yang bagus untuk direncanakan.
Mobil Shasa telah sampai di rumah sakit. Shasa ditemani Lita dan Niko berjalan menuju ruang pemeriksaan khusus. Dokter Sam menyambut mereka di depan ruangan itu.
"Hai, Nyonya Shasa. Wah... Sepertinya asistenmu bertambah satu ya." Sapa dokter Sam yang melihat Lita dan Niko di belakang Shasa.
Shasa hanya tersenyum mendengar godaan dokter Sam untuk Lita dan Niko. "Apa aku terlambat, dokter?"
"Ah, tidak. Seorang anggota Keluarga Gusta tidak pernah terlambat. Ayo, masuk." Dokter Sam pun menggiring Shasa masuk ke ruang pemeriksaan khusus.
Lita juga ikut masuk ke dalam. Saat Niko ingin ikut melangkah masuk juga, Lita menghentikannya.
"Hei, mau ke mana kau?" Tanya Lita.
__ADS_1
"Aku mau masuk." Jawab Niko polos.
"Kau pikir, kau boleh masuk? Tunggu saja di luar." Lita bergegas masuk dan menutup pintu. Niko pun hanya menunggu dari luar ruangan.
Tak lama, Leo dan asisten Haris tiba di rumah sakit. Melihat Niko yang duduk di salah satu bangku di depan ruang pemeriksaan khusus, Leo menoleh padanya. Menyadari Leo yang baru tiba, Niko berdiri dari duduknya dan memberi hormat pada Leo.
"Kau di sini juga?" Tanya Leo bingung.
"Iya, Tuan. Tuan Gusta memintaku untuk ikut mengawal Nyonya."
"Ah, begitu. Jadi sekarang papa sudah meminta kalian mengawal Shasa terang-terangan ya."
"Tuan Gusta tidak ingin hal buruk terjadi dua kali pada Nyonya. Lagipula, karena Nyonya sudah tahu kalau Tuan Gusta mengirim pengawal untuknya, rasanya kami tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi."
Setelah mendengar penjelasan Niko, Leo masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Asisten Haris bergabung dengan Niko di ruang tunggu.
Di dalam ruangan, dokter mulai memeriksa kandungan Shasa.
"Sayang." Leo memanggil Shasa.
"Dokter, apa bayinya sehat?" Tanya Leo.
"Bayinya sehat, Tuan. Hanya saja, posisi bayinya belum berada di posisinya yang semestinya. Namun, aku rasa beberapa minggu ke depan bayinya akan bergerak ke posisi yang pas."
"Posisi yang pas itu seperti apa, dokter?" Tanya Shasa.
"Posisi yang pas untuk dilahirkan itu, kepala bayinya ada di bawah." Jawab dokter.
"Dokter, lalu bagaimana dengan jenis kelaminnya?" Leo penasaran.
"Bayinya seperti mengumpat, belum ingin memberitahu kita." Dokter tertawa kecil mengatakannya. "Tapi, tadi saat dia sedikit bergerak, aku lihat sepertinya dia laki-laki."
Wajah-wajah bahagia terpancar dari calon ibu dan ayah itu. Terserah, laki-laki atau perempuan, yang penting sehat, begitu pikir Leo dan Shasa. Mereka jadi tidak sabar menyambut bayi pertama mereka.
"Nyonya, setelah ini, kita akan diskusikan rencana persalinan anda. Harus ada perencanaan yang matang apakah anda ingin melahirkan normal atau dengan cara operasi."
"Dokter, cara mana yang paling tidak menyakitkan?" Leo langsung bertanya menembak. Dahinya berkerut seperti sedang berpikir keras.
__ADS_1
"Masing-masing cara ada kekurangan dan kelebihannya, Tuan. Kalau melahirkan normal, mungkin rasanya sakit saat persalinan, tetapi pemulihannya cepat. Kalau melahirkan dengan cara operasi, mungkin Nyonya tidak merasa sakit saat persalinan karena dibius, tetapi pemulihannya lebih lama daripada melahirkan normal."
Mendengar jawaban itu, Leo yang menoleh ke dokter Sam. "Sam, bawakan semua referensi cara melahirkan beserta kekurangan dan kelebihannya. Aku akan pilih sendiri cara apa yang paling tepat. Satu gores luka saja tidak akan aku biarkan mendarat di tubuh istriku."
Dokter Sam langsung menyeringai. 'Kebodohannya muncul lagi. Kalau tidak mau sakit, tidak usah melahirkan saja!' gerutu dokter Sam dalam hati.
Shasa hanya menggeleng-geleng kepala mendengar kata-kata suaminya. 'Yang melahirkan, aku atau dia sih?!' protes Shasa.
*****
Epilog:
Saat perjalanan menuju rumah sakit, Shasa meminta Niko menghentikan laju mobilnya.
"Niko, berhenti sebentar."
Otomatis, Niko langsung minggir dari jalan besar yang sedang dilaluinya. Mobil pengawal di belakangnya pun ikut mengekor.
"Anda butuh sesuatu, Nyonya?" tanya Lita.
"Boleh pinjam ponsel kalian?" Shasa bertanya sambil menengadahkan tangannya, ingin menyambut ponsel mereka.
"Untuk apa, Nyonya?" tanya Niko heran.
"Pinjam saja dulu." Shasa mulai merengek. Keduanya pun memberikan ponselnya pada Shasa. "Aku ingin kita mengambil swafoto di sini. Aku akan menggunakan ponsel kalian masing-masing untuk mengambil foto. Kalian pasti tidak pernah swafoto kan?" Shasa sudah bersiap di posisinya untuk mengambil foto.
"Nyonya, sini aku bantu mengambil fotonya." Niko sudah ingin mengambil ponsel di tangan Shasa.
"Hei, kau juga ikut berfoto, Niko. Kau tidak tahu swafoto? Kita akan pakai kamera depan untuk mengambilnya. Tidak perlu repot-repot mencari fotografer."
Niko dan Lita hanya bisa pasrah mengikuti keinginan Shasa.
Niko mendesah pelan. 'Cepatlah anda melahirkan, Nyonya.' gumam Niko dalam hati.
*****
bersambung...
__ADS_1