
Shasa sudah berdiri di depan pintu rumah dengan senyumnya yang menawan. Dia menanti kedatangan Lita yang hari ini pulang dari rumah sakit. Sebuah mobil memasuki gerbang rumah Keluarga Gusta dan berhenti tepat di depan teras rumah. Lita turun dari mobil disusul Niko di belakangnya.
"Nyonya." Lita menyapa Shasa dan memberi hormat padanya. "Kenapa anda di luar begini?"
"Lita, selamat datang!" Sambut Shasa dengan riang. Kemudian, Shasa memeluk Lita. "Kau sudah baik-baik saja?"
"Aku sudah sehat, Nyonya." Lita tersenyum pada Shasa.
"Niko, kau lama sekali membawa Lita ke sini. Aku pikir kau berubah pikiran di tengah jalan dan mengembalikannya ke apartemen." Ledek Shasa. Dia pun menggiring Lita masuk ke dalam rumah.
Niko hanya menggeleng-geleng kepala menanggapi Shasa sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
Shasa dan Lita berhenti di depan sebuah kamar.
"Lita, ini kamarmu." Shasa membuka pintu kamar itu dan memasuki kamar yang cukup luas dan rapi.
"Nyonya, seharusnya anda tidak perlu repot-repot menyiapkan kamar untukku." Ucap Lita.
"Ah, tidak repot kok. Lagipula bukan aku yang menyiapkan, tapi Niko. Aku rasa dia sangat mengkhawatirkanmu. Pertama kalinya aku melihat wajah cemas Niko. Setelah sampai di rumah sakit dan melihatmu terbaring lemah, wajahnya berubah seperti ingin makan orang, lalu bergegas pergi mencari mangsanya." Balas Shasa.
Lita menatap Shasa dengan lekat, tetapi Shasa hanya membalasnya dengan tersenyum kecil.
"Sekarang, kau istirahatlah." Shasa menepuk bahu Lita pelan dan meninggalkannya di kamar itu.
Shasa melihat Niko dari depan pintu kamar Lita. Dia berjalan mendekati Niko. Ketika Niko melihat Shasa berjalan ke arahnya, Shasa memanggil Niko dengan jari telunjuknya, memintanya mendekat. Niko pun menghampiri Shasa.
"Anda memanggilku, Nyonya?" Tanya Niko.
"Kalau kau bantuanku, katakan saja." Ucap Shasa dengan senyum sombong.
"Bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu, Nyonya?" Niko heran.
"Untuk urusan Lita, kau pasti membutuhkan bantuanku. Selama kau bersikap baik padaku, aku akan membantumu semampuku."
"Apa aku pernah berbuat tidak baik pada anda, Nyonya?"
"Contohnya seperti sekarang ini. Kau menyebalkan dengan berpura-pura bodoh seperti ini." Shasa meledek. Dia pun meninggalkan Niko di tempatnya berdiri.
Niko mendengus sambil tersenyum kecil melihat Shasa melenggang meninggalkannya.
*****
__ADS_1
"Sayang." Leo masuk ke kamar setelah sibuk bekerja seharian. "Kau meminta Haris membelikanmu akuarium? Aku kan sudah janji padamu untuk membelikannya, kenapa masih meminta sama orang lain? Protes Leo.
"Tadi kau kan sibuk. Tidak apa-apa, sayang. Asisten Haris pasti senang melakukannya. Aku kan tidak meminta yang aneh-aneh." Shasa menenangkan Leo. "Sayang, sini deh." Shasa memanggil Leo seolah berbisik.
Leo mendekat ke arah Shasa ragu-ragu. Dia duduk di sofa samping Shasa.
"Kenapa?" Tanya Leo penasaran.
"Aku baru saja membantu memperbaiki hubungan Niko dan Lita." Ucap Shasa berbisik cekikikan.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku membuat Lita tinggal di sini. Padahal sebenarnya aku tahu kalau Niko yang menginginkannya lebih dulu. Dia memakai namaku untuk membujuk Lita."
Leo tertawa kecil. "Tidak usah ikut campur urusan mereka berdua. Berbahaya. Nanti kau kena sasarannya."
"Kenapa begitu?"
"Begini, menurutmu, kalau singa bertengkar dengan macan, siapa yang akan menang?"
Shasa berpikir keras. Dia tidak pernah melihat singa dan macan bertengkar, jadi dia tidak tahu jawabannya.
"Hahahaha." Leo tertawa melihat muka serius Shasa. "Kenapa kau menggemaskan sekali sih?" Ucap Leo sambil memeluk Shasa. Tiba-tiba, Leo merasakan gerakan mengejutkan dari perut Shasa yang mengenai perutnya.
"Hahahaha... Sepertinya anakmu tidak mau kau dekat-dekat denganku." Shasa tertawa geli. "Aku tidak membayangkan akan ada satu lagi orang yang posesif sekali terhadapku."
"Hai, bayi kecil." Leo berlutut di depan Shasa, meletakkan wajahnya di depan perut besar Shasa. "Sebelum kau memiliki ibumu, aku sudah memilikinya duluan. Jadi, untuk saat ini, mengalahlah sedikit pada papamu." Leo mengelus-elus perut Shasa. Keduanya tertawa senang di sore yang sejuk itu.
*****
Lita memandangi sekeliling kamarnya. Tampak rapi dan tidak terlalu banyak barang. Lita duduk di pinggir kasurnya, merasai seprai halus yang tertata dengan rapi. Tercium wangi segar di seisi ruangan itu. Ah, dari vas bunga itu rupanya, gumam Lita. Lita menduga Shasa telah membuatkan satu rangkai bunga di dalam vas itu untuknya.
Lita berjalan ke arah lemari pakaian di kamarnya. Dia menggeser pintu lemari itu. Di dalamnya ada cukup banyak baju bergantung-gantung. Ada juga pakaian yang dilipat rapi dan tersusun di rak-rak lemari. Lita menutup kembali lemari itu.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya. Lita berpikir sejenak siapa yang mendatanginya. Dia pun berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Niko?" Lita kaget melihat Niko datang ke kamarnya.
"Ponselmu tertinggal di mobilku." Niko menyodorkan ponsel Lita ke tangannya.
Lita menyambut ponselnya. Dia diam sejenak, tak terpikir kalau setidaknya dia mengucapkan terima kasih pada Niko.
__ADS_1
"Kau suka kamarmu?" Tanya Niko.
Lita tersentak dan menatap Niko. "Ya... Kamarnya bersih dan rapi."
"Kalau kau perlu sesuatu, katakan saja pada pelayan."
Lita mengangguk pelan. "Niko, rasanya aku perlu menghadap Komisaris Gusta dulu kalau aku akan tinggal di sini untuk sementara waktu."
"Tidak perlu. Tuan Gusta sudah tahu dan dia pun sudah setuju kau tinggal di sini."
"Apa kau yang mengatakannya?"
"Semua yang terjadi di rumah ini, termasuk semut yang berjalan di dinding kamarmu, aku mengetahuinya. Tentu saja, aku melaporkan semua hal penting di rumah ini pada Tuan Gusta. Jika dia tidak menyetujuinya, kamar ini mungkin tidak akan dipersiapkan untukmu."
Lita mengangguk tanda mengerti.
"Kau tidak perlu merasa tidak nyaman di rumah ini. Ah, lagipula dulu kau juga pernah tinggal di sini bahkan tidur di kamar yang sama denganku, kan?" Niko tersenyum tipis.
Dulu waktu keduanya masih menikah, beberapa tahun pertama, mereka memang tinggal di rumah Keluarga Gusta. Setelah itu, keduanya memutuskan untuk tinggal di rumah mereka sendiri. Rumah Keluarga Gusta ini mengukir kenangan tersendiri bagi keduanya.
*****
Epilog:
Asisten Haris membawa sebuah akuarium dengan kedua tangannya. Dia membawanya dengan sangat hati-hati agar airnya tidak tumpah. Di dalam akuarium itu ada beberapa ekor ikan laut yang kecil-kecil dan berwarna cantik.
"Nyonya, ini akuarium anda." Asisten Haris meletakkan akuarium itu di meja kecil di kamar Shasa.
Saat itu Shasa yang sedang bersantai sambil bersandar di tubuh Leo, seketika bangun dan memandangi akuarium itu.
"Wah... Cantik sekali." Shasa mengagumi akuarium itu. "Apa saja nama-nama ikan ini, asisten Haris?"
Asisten Haris langsung kebingungan karena dia hanya membeli saja, tidak menanyakannya satu per satu. "Em... Aku tidak yakin, Nyonya." Asisten Haris gugup.
"Kau ini bagaimana? Apa kau tidak menanyakannya pada penjual ikan ini? Coba kau tanyakan. Aku juga ingin tahu tanggal lahir mereka. Aku akan mengingat tanggalnya dan merayakan ulang tahunnya."
'Astaga! Apa-apaan Nyonya ini? Penjual ikan itu juga belum tentu tahu kapan ikan-ikan kecil itu dilahirkan, kan?!' batin asisten Haris kesal.
Leo yang mendengarkan percakapan keduanya dari sofa, hanya tertawa cekikikan melihat betapa gugup dan jengkelnya asisten Haris menanggapi permintaan Shasa.
*****
__ADS_1
bersambung...