Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Kejutan


__ADS_3

Berita pertunangan pewaris XY Group tersebar begitu cepat ke seluruh negeri. Banyak media dan reporter mulai mencari tahu latar belakang Shasa. Meskipun nama Shasa telah tersebar di berbagai surat kabar ataupun berita televisi, masih belum ada yang bisa mendapatkan foto terbaru Shasa. Hanya ada beberapa foto lama yang didapatkan para reporter dari pencariannya.


Setelah memberikan pernyataan resmi mengenai pertunangan putranya, Komisaris Gusta enggan berkomentar ataupun menjawab pertanyaan publik tentang Leo dan Shasa. Rumah Keluarga Gusta dijaga begitu ketat. Sedikit orang yang keluar-masuk rumah besar itu.


Shasa dibombardir pesan masuk dari teman-temannya. Ada yang memberikan ucapan selamat atas pertunangannya dan ada juga yang bertanya-tanya tentang kebenaran berita pertunangan itu. Shasa pusing sendiri melihat pesan ataupun panggilan yang masuk ke ponselnya. Shasa duduk di sofa di dalam kamarnya dengan kaki yang diangkat ke sofa sambil disilangkan. Dia bahkan mematikan dering ponselnya yang tak henti sejak tadi. Dia juga terkejut dengan pengikut sosial medianya yang semakin membanjir.


Leo yang juga berada di kamar dengan laptop di pangkuannya, memperhatikan gerutuan-gerutuan Shasa yang mengutuk ponselnya sendiri.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Leo sambil sedikit tertawa.


"Aku jadi ingin membuang ponselku." Jawab Shasa frustasi.


"Kemari, sayang." Leo memanggil Shasa untuk mendekat.


Shasa pun bangkit dari sofa dengan wajah yang lelah dan langkah diseret. Dia beringsut ke sebelah Leo yang bersandar di kasur.


"Besok, aku akan minta Lita untuk menyiapkan ponsel baru. Kau bisa menggunakan ponsel baru hanya untuk orang-orang terdekatmu."


"Terus ini gimana?" Tanya Shasa sambil menunjuk ponselnya. "Teman-temanku banyak disini semua."


"Biarkan saja ponsel itu. Pilih saja temanmu yang kau rasa cukup dekat, lalu beri tahu ponselmu yang baru. Pastikan kau hanya memilih teman wanita."


"Ishh kau ini. Aku tidak bisa memilih berteman hanya dengan wanita saja. Terus akun sosial mediaku gimana ya?"


"Tutup akun sosial mediamu. Kalau papa menemukannya, dia pasti akan menutup akun itu tanpa persetujuanmu." Jawab Leo. "Tapi... Dia tidak mungkin tidak tahu kan kalau kau punya akun sosial media. Asistennya pasti sudah menemukannya."


"Maksudmu, orang bernama Niko itu?" Tanya Shasa penasaran.


"Kau tahu namanya?"


"Tentu saja. Pertama kali aku bertemu papamu waktu di kantor, Niko yang membawaku ke tempat Komisaris."


"Dia adalah orang kepercayaan papa. Dia memiliki mata dan telinga dimana-mana. Dia sangat kaku dan ketat dalam menjaga keluarga ini." Leo berbicara dengan serius. "Tapi kau tidak perlu khawatir. Dia tidak akan menyakitimu. Hanya saja dia akan sangat menyebalkan. Itulah kenapa aku tempatkan Lita di sisimu."


"Apa hubungannya dengan Lita?"


"Lita adalah mantan istri Niko. Keduanya sejak dulu sama-sama kaku dan ketat. Lita satu-satunya yang bisa memahami nenekku. Semenjak nenekku meninggal, Lita dipekerjakan sebagai kepala sekretaris XY Group. Satu-satunya yang bisa membaca jalan pikiran Niko, hanyalah Lita."


Shasa mendecak sambil menggelengkan kepalanya. Ternyata ada cerita yang begitu menarik dibalik para asisten yang mendampingi anggota Keluarga Gusta.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak menceritakannya padaku sejak dulu?"


"Tidak penting menceritakannya padamu. Memang apa yang ingin kau lakukan?"


"Mungkin aku bisa membantu mereka bersama kembali." Shasa tertawa kecil. Leo yang tadinya terdiam juga jadi ikutan tertawa. Dia tidak menyangka kalau Shasa akan merespon seperti itu dari ceritanya.


*****


Pagi harinya, Leo berangkat ke kantor bersama Shasa. Leo bersikeras untuk menurunkan Shasa di lobby kantor, bukan di lobby basement lagi. Toh sudah tidak ada yang perlu ditutupi lagi.


Shasa begitu gugup menginjakkan kakinya di kantor lagi. Bukan karena setelah cuti panjang, tetapi karena dia turun dari mobil presdir tempat dia bekerja dan bahkan dia adalah calon istri presdir itu. Dia tidak membayangkan akan secanggung apa dia di kantor.


Petugas keamanan yang berjaga di lobby menyambut kedatangan Leo dan Shasa. Mereka memberikan hormat pada keduanya. Beberapa pegawai yang ada di lobby, juga memperhatikan mereka yang baru turun dari mobil dan berjalan menuju lift VIP. Shasa menjadi risih dengan tatapan orang-orang sekelilingnya, padahal dia biasa menebarkan senyum ramahnya pada orang-orang di kantor.


Setelah berhasil masuk ke lift VIP dengan aman, Shasa menghela napas lega. Leo yang ada di sampingnya, hanya tersenyum tipis melihat kegugupan Shasa.


"Kenapa kau gugup sekali? Seperti habis melakukan dosa saja." Leo menyeringai.


Shasa menoleh ke arah Leo. "Aku terlihat gugup ya?" Shasa tertawa kecil. 'Orang-orang melihatku seolah aku ini telah melakukan dosa karena menikahimu.' batin Shasa.


"Aku hampir memelukmu tadi karena kau gemetaran. Bersikaplah seperti biasa."


"Baiklah..."


"Apa aku perlu mengantar sampai ke tempat dudukmu?" Tanya Leo.


"Tidak tidak. Sampai sini saja." Shasa melangkah keluar lift.


"Aku akan menjemputmu saat jam pulang nanti."


"Tunggu saja aku di lobby."


"Baiklah, sayang."


"Ssttt! Jangan panggil aku begitu." Shasa menengok ke kanan-kiri memastikan tidak ada yang mendengar.


Leo tersenyum senang, kemudian menutup pintu lift.


Shasa berjalan dengan tenang, mencoba mengendalikan rasa gugupnya. Shasa membuka pintu ruangan dan melangkah masuk.

__ADS_1


'Astaga! Apa-apaan ini?!' Shasa terkejut luar biasa. Teman-teman kerjanya berbaris rapi di depan meja Shasa. Hiasan menggantung di langit-langit ruangan menyambut kedatangan Shasa.


"Selamat datang, Shasa!" Sambut mereka kompak dan kemudian memberikan hormat pada Shasa.


"Selamat atas pertunangannya, Shasa." Manajer Lim mengucapkan selamat pada Shasa dengan wajah yang begitu berseri-seri.


"Kalian ini sebenarnya sedang apa? Hahahaha" Shasa mengalihkan situasi aneh ini dengan tawanya. Tapi, tidak satupun dari teman-temannya yang ikut tertawa, hanya menatap Shasa sambil tersenyum.


Shasa berjalan mendekat. "Hei hei hei, kalian ini sedang drama atau apa?" Shasa menepuk bahu beberapa temannya. "Manajer Lim, jangan tersenyum seperti itu. Jika kau memasang wajah seperti ini, rasanya sebentar lagi aku akan diberi pekerjaan menumpuk." Ledek Shasa.


"Ah, begitukah? Tidak, Shasa. Aku tidak mungkin memberimu pekerjaan yang menumpuk. Kita kan satu tim, pekerjaan yang banyak bisa dibagi-bagi." Manajer Lim terdengar berbeda.


Shasa memicingkan matanya. Kemudian, dia mengalihkan pandangannya pada Tira. "Tiii... Maaf ya aku bikin kamu repot seminggu ini."


"Ah... Tidak apa-apa. Kenapa kamu sungkan seperti itu, Sha." Tira tersenyum pada Shasa.


Shasa menggelengkan kepalanya. 'Ada yang salah dengan sarapan mereka pagi ini.' gerutu Shasa dalam hati.


"Sudah sudah sudah. Lebih baik kembali ke tempat masing-masing. Mari kita bekerja dengan tenang." Sedetik kemudian semua orang kembali ke tempat masing-masing. Shasa tidak menduga kenapa teman-temannya jadi sepatuh ini.


Shasa duduk di tempatnya. Masih tidak percaya dengan kelakuan teman-teman kantornya ini.


"Ti..." Shasa memanggil Tira mendekat.


"Kenapa Sha?"


"Kalian pada kenapa sih?"


"Sha, mana mungkin kita memperlakukan calon istri presdir perusahaan ini sembarangan."


"Ishhh" Shasa tidak ingin diperlakukan berbeda. Ketika dia bekerja, dia hanyalah seorang pegawai, sama seperti yang lainnya.


"Sha, sekarang aku boleh bicara sebagai teman kan?" Tira bertanya ragu-ragu.


"Tentu saja. Seperti itu lah seharusnya."


"Jelaskan padaku apa yang terjadi padamu. Bagaimana bisa kau menikah dengan presdir Leo? Sejak kapan kalian dekat? Kau tidak melakukan hal-hal aneh kan smapai-sampai secepat itu menikah dengannya?" Tira bertanya dengan wajah serius.


'Aaaaa... Sebenarnya apa yang dipikirkan teman-temanku sih?!' batin Shasa menahan perasaan campur aduknya pagi ini.

__ADS_1


*****


bersambung...


__ADS_2