
Sudah sekitar dua minggu terakhir ini Shasa sibuk bekerja di kantor dan juga sibuk mengurus yayasan. Sebisa mungkin Shasa membagi waktu antara keduanya. Misalnya, pada saat jam makan siang, Shasa akan menyempatkan datang ke yayasan. Untung saja, lokasinya tidak jauh dari kantor Shasa.
Shasa tetap bersikeras mengajak para pengurus yayasan untuk mencoba hal baru untuk penggalangan dana. Dia berencana mengadakan festival budaya sebagai acara amal sekaligus bazar makanan khas daerah. Sebagian pengurus menyambut baik ide Shasa, tapi ada sebagian juga yang tidak sepenuh hati menjalankannya. Tetapi karena posisi Shasa sebagai ketua yayasan, mau tidak mau mereka mengikutinya.
Jika seorang relawan sosial tidak mau sibuk dalam menjalani tugasnya sebagai relawan, buat apa repot-repot ada di yayasan ini. Kalau hanya ingin menyumbang, cukup menjadi donatur saja kan beres. Tapi esensi pengurus yayasan bukanlah seperti itu. Mereka ada di yayasan ini untuk nama suami mereka. Jika para istri ini punya peran aktif di yayasan, mereka bisa jadi stimulus karir suami-suami mereka.
Shasa sering bercerita pada Leo tentang betapa sulitnya mengubah pola pikir pengurus yayasan. Mereka hanya terbiasa merayu suami-suami mereka untuk menyumbang sebanyak-banyaknya tanpa pernah berpikir ide yang lebih cemerlang untuk mengumpulkan dana.
Shasa juga pernah melihat dan bertanya-tanya tentang cara pengurus yayasan menjalankan suatu acara. Dalam beberapa acara besar, mereka akan membayar panitia acara eksternal untuk mengurusnya. Sedangkan untuk acara lainnya, mereka hanya mengurus hal-hal kecil. Shasa melihat ada hal-hal yang tidak pas di sini.
Shasa pernah tinggal di panti asuhan. Dia cukup mengerti bagaimana kerja seorang relawan di tempat-tempat seperti itu. Dia juga tahu posisi sebagai orang yang dibantu. Apa yang diharapkan, apa yang dipikirkan, dia mengerti itu.
Melihat kondisi inilah, Shasa memutar otaknya untuk mencoba hal-hal baru di yayasan. Meskipun besar tantangannya dalam menghadapi pengurus yayasan yang resisten, tapi Shasa percaya kalau mereka bisa berubah.
Tak hanya itu, Shasa terkadang tak habis pikir dengan level pembicaraan para pengurus yayasan. Mereka begitu mementingkan apa-apa yang dipakai seseorang. Tak jarang Shasa ditanya, baju-baju yang dia kenakan rancangan siapa, kosmetik yang dipakai berasal dari negara mana, salon apa yang dipilih Shasa untuk merawat tubuhnya, tas dan sepatu Shasa keluaran toko mana, pertanyaan-pertanyaan semacam itu acap kali dilontarkan para pengurus yayasan. Mereka juga tak jarang membicarakan soal perhiasan ini-itu. Mereka membandingkan apa yang dipakai seseorang dengan orang yang lainnya. Benar-benar di luar dugaan Shasa sebagai pengurus inti paling muda di sana.
Di dalam benak Shasa, penampilan atau harga barang yang dipakai itu bukan hal penting. Walaupun sekarang ini dia bisa membeli apapun yang harganya selangit menggunakan kartu khusus Keluarga Gusta, tapi tak pernah ada selintiran pun niat untuk melakukannya. Kalaupun Shasa menggunakan pakaian atau barang-barang yang harganya fantastis, itu karena dia dihadiahi oleh Leo atau Nyonya Sofia, dua orang yang sama-sama melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan atau sepersetujuan yang bersangkutan.
Dimana pun Shasa berada, dia selalu cepat mendapatkan teman baru. Namun di yayasan ini, rasanya susah sekali memiliki teman yang satu aliran. Sampai terkadang, Shasa curhat kepada Lita tentang apa yang dirasakannya pada para pengurus yayasan.
"Gaya hidup mereka terbentuk seperti itu, Nyonya. Padahal ketua-ketua yayasan terdahulu, tidak seperti itu. Anda bisa lihat sendiri dari Nyonya Sofia. Seperti apapun teman-temannya di yayasan, Nyonya Sofia tetap pada gayanya yang sederhana namun elegan. Aku rasa anda juga seperti itu, Nyonya. Anda tidak perlu menjadi seperti mereka hanya untuk bisa mendapatkan hati mereka." Terang Lita pada Shasa.
"Lalu, buat apa mereka seperti itu?" Tanya Shasa.
"Mereka seperti itu untuk menarik perhatian anda. Anda tahu? Semakin mereka menarik perhatian anda, semakin mereka mendapatkan hati anda. Jika mereka mendapatkan hati anda, sangat memungkinkan suaminya mendapat perhatian dari Presdir Leo. Presdir pasti mengingat teman baik istrinya."
"Tapi, mereka masih saja menentangku. Secara halus sebenarnya mereka menentangku. Kecuali satu orang. Nyonya Renee. Dia sangat terang-terangan memperlihatkan kalau dia tidak menyukaiku."
"Mereka seperti itu karena mereka tidak tahu dan tidak melihat seberapa besar cinta Presdir Leo pada anda. Jika mereka mengetahuinya, mungkin mereka akan langsung berputar pada anda."
"Apa pentingnya mengetahui itu?"
"Tentu saja penting, Nyonya. Karena suami anda adalah Presdir Leo, pemilik perusahaan tempat suami-suami mereka bekerja."
'Huh, apakah aku ini hanya bayangan suamiku?' batin Shasa.
Mobil Shasa telah sampai di lobby yayasan. Shasa segera turun diikuti oleh Lita di belakangnya. Shasa disambut dengan hormat oleh petugas-petugas di lobby. Dia segera melesat ke ruangan VIP. Shasa melihat para pengurus inti sedang sibuk dengan dirinya masing-masing.
"Halo semuanya. Apakah kita bisa mulai rapat festival budaya sekarang?" Tanya Shasa masih berdiri di tengah-tengah ruangan. Beberapa dari mereka ada sibuk menelpon, ada juga yang sibuk dengan laptopnya.
Belum ada yang menggubris. "Nyonya, maaf, sepertinya yang lain sedang sibuk untuk mengurus acara yayasan yang lain." Kata salah satu pengurus yang dirasa Shasa paling normal di antara yang lainnya. "Nyonya, saya bisa bergabung dengan anda untuk rapat festival budaya."
__ADS_1
Shasa tersenyum karena masih ada satu orang yang memihaknya yaitu Nyonya Nala. "Baiklah. Karena di sini semuanya sibuk, kita rapat di lantai lain saja bersama pengurus umum."
Selain pengurus inti, di yayasan ini juga ada pengurus umum. Biasanya mereka adalah istri para manajer senior XY Group.
Shasa dan Nyonya Nala pun meninggalkan ruangan VIP. Mereka bergabung bersama pengurus umum membicarakan perihal festival budaya yang akan dilaksanakan dua minggu ke depan. Shasa melihat para pengurus umum ini lebih normal dan kreatif dibandingkan pengurus inti. Shasa mulai menemukan nyawa yayasan dari orang-orang ini.
*****
"Haris, tanyakan pada Lita istriku dimana." Perintah Leo pada asisten Haris sesaat setelah menyelesaikan rapatnya.
Asisten Haris langsung membuka ponselnya dan menghubungi Lita. Setelah selesai berbicara dengan Lita, asisten Haris menutup telponnya.
"Nyonya sedang rapat di yayasan, Tuan."
"Baiklah. Kita ke sana. Aku ingin memberi kejutan padanya. Sudah lama sekali aku tidak pulang bersamanya."
Leo dan asisten Haris pun bergegas menuju ke yayasan. Jam pulang kantor memang sudah tiba. Leo sudah memperkirakan harusnya Shasa sudah menyelesaikan kegiatannya di yayasan.
Mobil Leo sampai di kantor yayasan. Para petugas lobby menyambutnya. Meskipun ini pertama kalinya Leo menginjakkan kaki di kantor yayasan, para petugas di sana sudah tahu betul siapa yang datang ini.
Leo menuju ke ruangan VIP. Berdasarkan yang asisten Haris tahu, para pengurus inti yayasan melakukan kegiatannya di ruangan itu. Leo memasuki ruangan VIP. Dia heran karena orang-orang di sana sibuk di mejanya masing-masing. Leo tidak melihat sedang ada rapat di ruangan itu. Tiba-tiba salah seorang pengurus inti menyadari kehadiran Leo.
"Presdir Leo!" Terkejut salah seorang pengurus inti berdiri dari kursinya.
"Dimana istriku? Bukankah kalian seharusnya sedang rapat dengannya?" Tanya Leo dengan curiga. Wajahnya terpasang dingin melihat para pengurus inti di ruangan itu. Tak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan Leo. Semua serentak gugup dan ketakutan karena sudah mengabaikan Shasa yang tadi mengajak mereka rapat.
*****
Shasa bersama pengurus yayasan melakukan rapat dengan serius. Mereka melakukan pembagian tugas. Shasa tidak peduli apakah pengurus inti akan terlibat atau tidak. Shasa hanya akan bekerja dengan orang-orang yang mau saja. Terserah untuk yang tidak mau terlibat, selama tidak mengganggu rencana Shasa. Kemudian, Lita masuk ke dalam ruangan rapat dan membisikkan sesuatu di telinga Shasa. Sontak, Shasa membelalakkan matanya. Dia pun segera mengakhiri rapat itu dan meninggalkan ruangan.
"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau Leo akan datang?" Tanya Shasa sambil berjalan menuju ruang VIP.
"Presdir tidak mengatakan akan datang, Nyonya. Tadi, dia hanya menanyakan keberadaan anda." Jawab Lita.
"Mulai sekarang, kalau Leo menghubungimu, beritahu aku."
"Baik, Nyonya."
Langkah sigap Shasa membawanya sampai di ruangan VIP dengan cepat. Dia menarik napas dan menghembuskannya sebelum masuk ke dalam ruangan. Shasa memasang senyum di wajahnya.
"Leo, kau datang?" Sapa shasa pada Leo yang sudah duduk di ruangan VIP bersama pengurus inti yang tidak ikut rapat.
__ADS_1
Leo langsung menghampiri Shasa. Dia memeluk pinggang Shasa dengan lengannya, membuat dirinya tak berjarak sama sekali dengan Shasa. Shasa pun jadi gugup dan malu karena Leo melakukannya di depan orang banyak.
"Sayang, apa kau meeting sendirian? Mereka ada disini, kau meeting dengan siapa?" Tanya Leo lembut.
Para pengurus yayasan pertama kalinya melihat bagaimana Leo memperlakukan Shasa. Mereka jadi gugup tak karuan.
Shasa tersenyum lebar sambil melepaskan lengan Leo dari tubuhnya. Shasa kemudian melingkarkan salah satu lengannya di lengan Leo.
"Sayang, tadi aku meeting dengan Tante Nala dari pengurus inti dan beberapa pengurus umum di ruangan bawah. Para pengurus inti yang tadi tidak ikut sepertinya sedang sibuk."
"Bagaimana bisa kesibukan mereka berbeda dengan kesibukanmu?" Tanya Leo curiga.
Shasa hanya mengangkat bahunya sedikit mengisyaratkan kalau dia tidak tahu.
Leo menatap para pengurus inti di hadapannya. "Kalian sedang memberontak pada istriku?" Tanya Leo dingin.
"Ti, tidak Tuan. Maaf, tadi kami memang sedang mengurus hal lain." Kata salah seorang di antara mereka dengan gugup.
"Sayang, jika kau membutuhkan pergantian orang di pengurus inti, lakukan saja. Kau seharusnya bekerja dengan orang yang ingin bekerja denganmu. Sekarang sudah sore, kau sudah harus pulang." Leo mengakhiri ucapannya dan menggenggam tangan Shasa erat, membawanya keluar dari ruangan itu. Shasa bahkan tidak sempat berpamitan dengan para pengurus inti.
Shasa pulang bersama Leo. Di dalam mobil, Leo masih mencecarnya dengan pertanyaan tentang pengurus inti.
"Sejak kapan mereka mengabaikanmu seperti itu?"
"Sayang, mereka bukan mengabaikanku. Mereka hanya sedang beradaptasi dengan kehadiranku. Aku tidak masalah mereka seperti itu. Aku bisa menemukan pengurus lainnya yang bisa bekerja sama denganku."
"Lalu, buat apa mereka jadi pengurus inti kalau kau hanya sibuk sendiri? Tidak bisa. Haris, berikan padaku daftar orang-orang tadi."
"Baik, Tuan."
"Sayang, apa yang ingin kau lakukan? Aku pikir itu hal yang wajar. Mereka masih mencerna kehadiranku yang begitu cepat dan setelah aku masuk ke sana aku membuat begitu banyak perubahan, mungkin mereka belum terbiasa." Jelas Shasa.
"Sayang, posisimu di yayasan sama seperti posisiku di perusahaan. Apa mungkin direktur-direktur di perusahaan memiliki tujuan berbeda dengan tujuanku sebagai presdir? Tujuan datang dariku, semua orang di bawahku, harus punya tujuan yang sama."
Shasa menghela napas. Dia sebenarnya malas berdebat karena sudah capek seharian.
"Sayang, aku lelah. Bisakah kita sudahi debatnya?" Shasa merajuk. Dia menyandarkan kepalanya di dada Leo sambil memeluknya.
Leo masih mendengus kesal, tapi kemudian dia membelai lembut kepala Shasa.
"Sayang, aku akan memantau kegiatanmu di yayasan. Aku tidak ingin orang lain memperlakukanmu seperti itu." Gumam Leo.
__ADS_1
*****
bersambung...