Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Penampilan Baru


__ADS_3

Nyonya Sofia berkali-kali mengingatkan Leo untuk langsung pulang ke rumah Keluarga Gusta dan sekaligus langsung tinggal disana. Leo yang berusaha menghubungi Shasa, tidak mendapat satu jawaban pun. Yang dicari-cari, ternyata sedang sibuk dengan orang-orang yang dihadirkan Nyonya Sofia ke rumah, sampai-sampai Shasa tidak bisa sedetik pun menyentuh ponselnya.


Setelah menyelesaikan serangkain kegiatan mempercantik diri, Shasa bercermin tak percaya dirinya bisa berbeda seperti ini. Rambutnya tertata rapi dengan panjang yang pas dan sedikit bergelombang di bawahnya. Dia mendapat beberapa polesan di wajahnya yang semakin membuatnya terlihat cantik. Kuku-kuku kaki dan tangannya dirapikan dan dibuat begitu berkilau.


Shasa menyambut Leo dengan penampilan barunya di depan rumah. Leo menatap Shasa sejak dia keluar mobil. Leo mengkah mendekat. Shasa tersenyum manis menyambutnya. Shasa berharap mendapat pujian dari Leo hari ini karena penampilannya yang begitu berbeda.


"Aku menelponmu dan mengirimkan pesan beberapa kali ke ponselmu. Kenapa kau tidak menjawab?"


"Ah... Maaf. Seharian ini aku sibuk melakukan perawatan di rumah. Ponselku ada di dalam tas."


"Kan sudah ku bilang, pastikan kau mengangkat telponku di dering pertama. Aku hampir saja berlari pulang karena kau tak menjawabnya. Tapi mama mengakatan kalau dia dibersamamu."


"Maaf." Shasa merasa bersalah.


Keduanya melangkah masuk ke rumah bersama beberapa pelayan di belakangnya. Mereka berdua berjalan berdampingan. Leo melingkarkan lengannya di pinggang Shasa, mendekatkan tubuh Shasa ke tubuhnya. Leo membisikkan sesuatu.


"Kenapa penampilanmu seperti ini?"


Shasa jadi tidak percaya diri. "Apa aku terlihat aneh?"


"Aku jadi tidak ingin memperlihatkanmu pada orang lain kalau kau seperti ini."


Shasa menunduk malu. Dia tak bisa berkata apa-apa karena Nyonya Sofia yang mengatur semuanya.


"Kau terlalu cantik. Bisa-bisa orang lain tidak akan melepaskan pandangannya darimu." Leo tersenyum tipis pada Shasa yang jadi mendengus kesal karena Leo menggodanya.


*****

__ADS_1


Ruang makan Keluarga Gusta, yang biasanya hanya digunakan oleh Komisaris Gusta seorang, kini menjadi ruang makan untuk keluarga lengkapnya. Leo dan Shasa mulai tinggal di rumah Keluarga Gusta hari ini. Nyonya Sofia terlihat begitu antusias menyambut kepindahan anaknya.


Makan malam berjalan dengan mulus dan cukup sunyi. Entah karena mereka fokus dengan hidangan di depannya atau karena belum terbiasa berkumpul lagi. Lagi-lagi Nyonya Sofia yang memecah keheningan di ruang makan.


"Shasa, besok kita akan belajar etika di ruang makan, etika saat meminum teh dan etika saat bertemu orang lain. Aku sudah menjadwalkan ahli etika besok. Ayo kita bersenang-senang." Nyonya Sofia tersenyum riang.


'Apa? Itu sih namanya bukan bersenang-senang.' batin Shasa dengan senyum sedikit dipaksa.


"Ma, apa kau akan membuat istriku seharian sibuk hanya denganmu. Itu sangat tidak adil." Leo protes.


"Kau kan bisa bersenang-senang di malam hari bersama Shasa. Kalau siang hari, Shasa akan bersenang-senang bersama mama."


Sontak Shasa tersedak saat meminum air di gelasnya. Dia sampai terbatuk-batuk beberapa kali.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Leo mengambil sapu tangan di meja dan mengelap bibir Shasa yang terkena tumpahan air.


"Sofia, kau ini. Jangan bicara begitu." Komisaris Gusta berbisik pada Nyonya Sofia.


"Apa ada yang salah dengan kata-kataku?" Balas Nyonya Sofia berbisik.


"Kakimu sudah tidak apa-apa? Sofia cerita kalau kemarin kakimu terluka." Komisaris Gusta mengalihkan obrolan.


"Sudah tidak apa-apa, Pa. Sudah jauh lebih baik." Jawab Shasa dengan senyum manisnya.


"Besok Sam akan melakukan pemeriksaan terakhir. Aku akan pulang lebih awal untuk menemani pemeriksaanmu." Sahut Leo.


Mereka melanjutkan makan malam dengan nikmat. Setelah selesai menyantap hidangan penutup, masing-masing menuju ke kamarnya untuk beristirahat.

__ADS_1


*****


Leo sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Benar seperti dugaannya, pasti mama akan menyiapkan baju baru untuk mereka.


Shasa keluar dari ruang kloset dengan malu-malu. Dia merasa tidak nyaman dengan pakaian tidurnya. Leo heran melihat Shasa yang berjalan ragu-ragu seperti itu.


"Sayang, kamu kenapa?" Leo bertanya. "Kenapa pakaian tidurmu seperti itu?"


"Aaahhh... Aku juga tidak tahu kenapa pakaian tidurku begini semua." Shasa sedikit kesal karena Nyonya Sofia menyiapkan baju tidur se-seksi ini. "Bahkan, mama tidak membiarkan sehelai pun baju yang aku bawa untuk masuk ke kamar ini." Kata Shasa dengan nada sedih.


"Hahahaha... Pasti mama yang melakukannya. Kemari, sayang." Leo memanggil Shasa untuk naik ke kasur. Shasa pun bergerak naik ke kasur dan mengambil posisinya di samping Leo.


Shasa masih berusaha menutupi tubuhnya yang terlihat dari balik baju tidur transparan yang dipakainya.


"Tidak apa-apa sayang. Aku akan memelukmu semalaman agar kau tidak kedinginan." Leo masih berusaha menahan tawanya. Dia tak tahu apa yang dipikirkan mamanya sampai-sampai menyiapkan baju tidur se-vulgar ini untuk Shasa.


"Kau menggodaku? Aku jadi kesal!" Shasa malah makin kesal.


"Aku tidak menggodamu." Jawab Leo singkat. Kemudian dia mendekat wajahnya ke wajah Shasa. "Bukannya kau yang menggodaku dengan pakaian tidur ini?" Leo tersenyum nakal, membuat Shasa semakin kesal. Dia pun segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Leo tertawa kecil melihat tingkah laku Shasa. Kemudian, dia ikut tenggelam dalam selimut yang sama yang juga dipakai Shasa.


"Sini, sayang. Aku tidak akan melepaskan sedetik pun pelukanku sepanjang malam ini." Leo sudah memeluk Shasa dengan erat dari belakang. "Untung saja hanya aku yang bisa menemanimu di tempat tidur." Leo tertawa senang, sedangkan Shasa masih terus-terusan mendengus kesal hingga dia terlelap dalam pelukan Leo.


*****


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2