
Shasa menarik selimutnya sampai ke leher untuk menutupi tubuhnya yang tidak memakai apa-apa. Leo sudah terlelap setelah puas bermain dengan Shasa.
Shasa membaringkan tubuhnya di samping Leo, menatap mata lelaki di sisinya yang tertutup rapat. Garis wajahnya begitu sempurna, pikir Shasa. Dia memainkan jarinya di alis mata, bulu mata, hidung, dan bibir Leo yang entah sudah berapa kali mengecupnya.
"Anakmu pasti akan sempurna sepertimu." Gumam Shasa sambil mengelus pipi Leo. Yang disentuh dari tadi tidak bergeming. Sangat pulas dalam tidurnya.
Sepanjang malam itu, Shasa tidak berhenti memikirkan perihal anak. Apakah Leo benar menginginkan anak darinya? Berapa banyak anak yang dia inginkan? Apakah dia bisa memberikan anak pada Leo? Semua pertanyaan-pertanyaan itu tak henti berkeliaran di pikiran Shasa.
Selama ini Leo sering memberi Shasa hadiah-hadiah yang tidak terduga. Sebaliknya, Shasa merasa belum pernah memberikan apapun untuk Leo. Jika Leo memang menginginkan anak darinya, Shasa pikir itu akan menjadi hadiah terbesar darinya untuk Leo.
"Aku juga ingin sekali memiliki anak darimu. Hanya darimu." Gumam Shasa seraya memeluk Leo.
*****
Niko sudah berada di dalam ruangan Komisaris Gusta. Seperti biasa, dia melaporkan hal-hal yang ditemukannya kepada Komisaris Gusta.
"Seluruh berita tentang Nona, sudah dapat dikendalikan. Saya pastikan tidak ada pemberitaan yang buruk tentang Nona. Hanya saja, para wartawan akan semakin agresif untuk bertanya langsung pada Nona hal-hal pribadi yang tidak mereka temukan."
"Nyonya, bukan Nona. Dia sudah resmi menjadi istri Leo. Dia adalah Nyonya muda di rumah ini." Komisaris Gusta mengoreksi panggilan untuk Shasa.
"Ah, iya. Maaf, Tuan. Maksud saya, Nyonya muda." Niko mengganti panggilannya untuk Shasa.
"Bulan madunya bagaimana?"
"Sejauh ini berjalan mulus, Tuan. Meskipun Haris dan Lita mengetahui ada pengawal yang kita kirim, tetapi Tuan dan Nyonya muda tidak akan mengetahuinya karena sibuk dengan aktivitasnya berdua."
Komisaris Gusta tersenyum tipis dan mengangguk-angguk.
"Tuan, ada satu hal lagi. Meskipun kita bisa tetap menjaga Nyonya muda kemanapun dia pergi, tapi akan sulit untuk memantaunya saat dia ada di kantor. Kita tidak mungkin mengirim pengawal ke tempat kerjanya kan?" Tanya Niko.
"Hem..." Komisaris Gusta berpikir sejenak. "Pantau saja cctv disana dan pastikan para mengawal berjaga di posisinya."
"Baik Tuan."
"Hal yang disukai dan tidak disukai Leo mulai saat ini adalah semua hal yang berhubungan dengan Shafira. Jika kau melakukan hal yang membuat Shafira tidak nyaman, mungkin Leo tidak akan menyukainya. Kau mengerti kan?" Tanya Komisaris Gusta.
'Tentu saja, aku mengerti, Tuan. Kalau Tuan Leo tidak menyukainya, maka anda pun tidak akan menyukainya kan, Tuan? Satu wanita yang berpengaruh ke seisi rumah ini. Anda luar biasa, Nyonya muda.' jawab Niko dalam hati.
*****
Matahari sudah mulai mengintip dari balik gorden kamar Leo dan Shasa. Leo sudah meregangkan badannya di kasur, kemudian membuka matanya. Dia melihat ke sekeliling kamar, mencari Shasa dimana.
__ADS_1
"Sayang?" Leo memanggil-manggil Shasa beberapa kali. Dia beranjak dari kasur dan mencari ke sekeliling kamar dan kamar mandi. Mengetahui Shasa tidak ada di kamar, Leo langsung mengambil jubah tidurnya dan keluar kamar. Dia berjalan menyusuri beberapa ruangan di rumah itu.
"Sayang?" Leo melihat Shasa yang sedang duduk di kursi di area dapur. Dia sedang mengobrol dengan beberapa koki disana.
"Sayang, kamu sudah bangun?" Shasa otomatis bangkit dari kursi dan berjalan ke arah Leo. Koki yang ada di dapur saat itu memberi hormat pada Leo.
"Kalian menyuruh istriku memasak?" Tanya Leo curiga pada koki-kokinya.
"Tidak, sayang. Aku hanya ingin melihat cara mereka memasak. Mungkin saja aku bisa sedikit-sedikit belajar." Shasa menjawab pertanyaan Leo sambil tersenyum. Shasa pun membawa Leo menjauh dari area dapur dan kembali ke kamarnya.
"Kau tidak perlu belajar memasak. Percuma saja aku bayar banyak koki, kalau akhirnya kau juga yang memasak." Protes Leo.
"Hei, kau ini. Aku juga ingin sesekali memasak untukmu. Kalau aku tidak memasak, apa yang nanti akan aku banggakan di depanmu dan juga anak-anakku?" Balas Shasa.
Leo memicingkan matanya. "Kau tidak perlu repot-repot memikirkan hal itu. Banyak hal lain yang bisa aku banggakan darimu. Kau cukup temani aku saja seumur hidupmu dan pastikan kau selalu ada saat aku bangun tidur."
"Ish... Tugas macam apa itu?" Shasa meledek.
"Sudah... Ayo kita mandi." Ajak Leo.
"Kita? Tidak, aku sudah mandi." Jawab Shasa.
"Aku ingin mandi denganmu."
*****
Setelah selesai sarapan, Leo dan Shasa pergi berjalan-jalan ke luar. Mereka akan mengitari pulau dengan perahu cepat. Shasa begitu antusias dengan kegiatan ini. Apalagi saat perahu cepat berhenti di tengah-tengah laut dan mempersilahkan keduanya untuk menyelam di permukaan air laut yang jernih itu. Shasa terlihat bersemangat, tapi dia lupa kalau dia tidak bisa berenang.
Leo tertawa terbahak-bahak. Bagaimana bisa perasaan senang Shasa hari itu, membuatnya lupa kalau dia tidak bisa berenang. Shasa sedikit mengambek dengan Leo yang sudah mulai membasahi tubuhnya dengan air laut. Sedangkan, dia hanya bisa menonton dari atas perahu.
"Sayang, sini. Berpegangan saja padaku." Leo mengulurkan tangannya ingin menyambut Shasa.
Shasa hanya menatap tangan Leo yang terulur itu. Shasa berpikir harus menerimanya atau tidak.
"Sayang... Ayolah. Tidak perlu takut. Aku akan menjagamu." Leo merayu.
"Kau tidak akan menenggelamkanku kan?" Shasa curiga.
"Tidak mungkin. Bagaimana bisa aku menenggelamkan istriku?"
Shasa kadang masih saja manja seperti anak kecil. Membuat Leo semakin gemas padanya.
__ADS_1
'Kau tidak pernah punya rasa rakut menghadapi orang lain. Kenapa kau takut hanya dengan air laut ini? Hahahaha.' batin Leo.
Akhirnya Shasa mau turun juga. Pelan-pelan dia menurunkan badannya, sedangkan Leo bersiap memegang tubuh Shasa dari permukaan air laut.
Byurrr. Akhirnya Shasa menenggelamkan sebagian tubuhnya di air laut.
"Kalau kau mengenakan pelampung ini, kau tidak akan tenggelam." Leo mengencangkan pelampung yang dipakai Shasa. Shasa tidak melepaskan tangannya yang melingkar di bahu Leo. "Pak, berikan kacamata selamnya padaku." Leo berbicara pada instruktur selam yang berada di dekat perahu yang membawa mereka tadi.
Leo memakaikan kacamata selam pada Shasa dengan hati-hati.
"Sayang, kau bisa lihat aku kan?" Tanya Leo.
Shasa mengangguk-angguk.
"Sayang, kita hanya akan menyelam di permukaan saja. Kau tetap bisa bernapas dengan menggunakan alat itu. Bernapaslah dari mulutmu. Ayo kita coba." Leo menginstruksikan cara menyelam di permukaan laut pada Shasa.
Tak butuh waktu lama, Shasa sudah cukup lancar menyelam, meskipun tangannya tidak pernah melepaskan tangan Leo sedetik pun.
Mereka melihat beberapa ikan laut berwarna cantik berenang-renang dekat mereka. Ada juga terumbu karang dan semacam tumbuhan laut yang bergerak-gerak mengikuti air. Pemandangan luar biasa yang tidak pernah dilihat Shasa.
Setelah puas menyelam, mereka kembali ke pulau. Setelah perahu mendarat dengan aman, Leo menuntun Shasa turun dari perahu. Asisten Haris dan Lita sudah menyambut mereka. Jubah mandi telah disiapkan untuk keduanya beserta air minum dalam botol yang cukup besar.
"Tuan, tadi Nyonya besar menelpon ke ponsel anda." Kata Asisten Haris.
"Baiklah. Nanti aku akan menelponnya setelah mandi." Leo meneguk air minum. "Sayang, ayo kita pulang."
Mereka berdua berjalan menyusuri pasir pantai menuju rumah. Di tengah jalan, Leo menggendong Shasa ke dalam pelukannya, membuat Shasa teriak kaget. Kedua asisten mereka yang menyaksikan dari belakang hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Lita, apa dulu Niko juga seperti itu padamu?" Tanya asisten Haris menggoda Lita.
Lita memicingkan matanya pada asisten Haris. "Kau iri? Carilah pasangan untukmu sendiri." Lita balik menghina asisten Haris.
"Hahaha... Kenapa kata-katamu tajam sekali sih?" Balas asisten Haris.
"Haris, kau mengikuti Presdir dari awal. Sejak kapan dia jadi tergila-gila dengan Nyonya muda seperti itu?" Tanya Lita penasaran.
"Em... Sejak kapan ya?" Asisten Haris berpikir keras. "Entahlah, itu terjadi begitu cepat. Apakah sejak mereka pergi bersama ke taman hiburan? Atau sejak pertama kali mereka bertemu saat rapat? Entahlah. Yang aku tahu, Presdir pernah mengatakan kalau dia tidak akan pernah melupakan orang-orang yang membuat hidupnya berubah. Dan hanya sedikit orang yang mampu membuat hidup Presdir berubah. Pertama, Komisaris Gusta. Kedua, Nyonya besar. Ketiga, Nyonya muda. Dan dari ketiganya, hanya Nyonya muda yang mengubah hidup Presdir jadi se-bahagia tawanya sekarang."
Asisten Haris dan Lita memandangi betapa bahagianya kedua pasangan yang tak henti tertawa bersama sejak tadi, tepat di hadapan mereka.
*****
__ADS_1
bersambung...