
Leo sudah bersantai di kamar dengan laptop di pangkuannya. Shasa baru saja keluar dari kamar mandi dan sudah mengenakan pakaian tidurnya. Dia beranjak naik ke kasur mengambil posisi di sebelah Leo. Ditariknya selimut menutupi kakinya.
"Sayang." Panggil Shasa pada Leo.
"Ya?" Leo mengalihkan pandangannya dari layar laptop ke Shasa.
"Masih sibuk?"
"Sebentar lagi ya, sayang. Lima menit, ok?" Tanya Leo sambil mengacungkan lima jarinya pada Shasa.
Shasa mengangguk dan bersandar pada kepala kasur. Dia mengambil ponsel di meja kecil sisi kasur. Shasa melihat kembali foto-foto yang tadi dia ambil saat bersama teman-temannya. Shasa memandangi satu per satu wajah teman-temannya sambil sesekali tertawa geli.
Leo sudah menutup laptopnya dan meletakkan di meja kecil sisi kasur. Leo menoleh ke arah Shasa yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Sayang..." Panggil Leo.
Shasa menyadari kalau Leo sudah menatapnya. Dia meletakkan ponselnya kembali dan beringsut ke arah Leo yang langsung memeluknya hangat. Leo mengelus-elus lengan Shasa lembut.
"Sayang, besok aku akan datang ke yayasan."
"Memang aku sudah mengijinkanmu?"
"Sayang, aku sudah sehat segar bugar. Aku sudah bisa beraktivitas seperti biasa."
Leo berpikir sejenak. "Aku takut kau kelelahan lagi."
Shasa sedikit bergerak dan menatap Leo di sampingnya. "Sayang, aku kan sudah mengurangi kegiatanku. Lagipula, aku hanya akan ada di yayasan beberapa jam saja, tidak seharian penuh. Sudah lumayan lama mama selalu sendirian kesana."
"Memang mama mengeluh padamu?"
"Tidak tidak. Mama tidak pernah mengeluh padaku. Tapi, aku tidak enak saja karena membiarkan mama mengurus tugasku di yayasan. Mama kan juga punya kesibukan lain." Shasa mengembalikan lagi posisi duduknya seperti semula.
"Hemm... Baiklah." Leo pasrah. Leo mencium puncak kepala Shasa. "Sayang, lusa kita akan bertemu Sam dan dokter spesialis. Kita akan lakukan konsultasi pertama untuk program kehamilanmu."
Shasa mengangguk. Entah kenapa Shasa menjadi sedikit agak takut menghadapi dokter lagi. Dia takut mendengar hal-hal yang tidak enak. Dia takut kalau dokter mengatakan hal yang tidak Shasa harapkan.
"Kau sedang memikirkan apa?" Leo memecah lamunan Shasa.
"Ah, tidak, sayang. Ayo kita tidur saja. Kamu pasti capek, kan?"
__ADS_1
Mereka pun melewati malam itu dengan tidur yang nyenyak tanpa jarak. Leo tak melepaskan pelukannya pada Shasa dan membiarkan salah satu lengannya menjadi bantal hangat untuk Shasa.
*****
Setelah beberapa minggu meliburkan diri, Shasa akhirnya bisa datang lagi ke yayasan. Nyonya Sofia menggantikannya sementara waktu saat Shasa masih dalam masa pemulihan.
Shasa telah sampai di depan ruangan VIP. Dia memasuki ruangan itu bersama Lita yang mengikutinya di belakang. Di dalam ruangan, para pengurus inti sedang berkumpul sambil tertawa-tawa senang. Salah satu mereka menyadari kedatangan Shasa.
"Nyonya Shasa!" Panggil salah satu pengurus inti. Semua orang pun berdiri, memberi hormat pada Shasa dan menghampirinya.
Shasa tersenyum ramah pada mereka. "Apa kabar tante-tanteku semua?"
"Kami baik, Nyonya. Anda sendiri bagaimana? Sudah lama sekali kita tidak ngobrol-ngobrol. Terakhir bertemu di panti, kita juga tidak bisa mengobrol leluasa." Jawab salah satu pengurus inti.
Mereka memang bertemu Shasa saat kunjungan ke panti asuhan. Tetapi, karena Leo datang tanpa diduga-duga, mereka pun tidak bisa banyak mengobrol dengan Shasa.
"Tentu saja, aku baik. Tadi, kalian sedang apa? Kelihatannya senang sekali." Tanya Shasa penasaran.
"Ini, lho, Nyonya Renee sebentar lagi akan punya cucu. Anaknya yang belum lama menikah, sekarang ini sedang mengandung. Jadi, kami memberinya selamat tadi." Sahut salah seorang pengurus inti dengan antusias.
"Wah... Selamat ya Tante Renee. Aku turut bahagia juga." Shasa ikut memberi selamat.
"Betul, Nyonya. Semoga anda cepat mengandung lagi. Sejujurnya kami sedih mendengar berita keguguran anda. Aku yakin, Komisaris Gusta dan Nyonya Sofia juga merasa sedih dengan itu." Sahut pengurus inti yang lainnya.
"Hei, kau ini. Yang paling sedih dan kecewa pastinya adalah Presdir Leo dan Nyonya Shasa. Hamil itu kan ibarat hadiah. Tapi, belum sampai hadiah itu dinikmati, sudah diambil lagi." Sahut pengurus inti yang lainnya lagi.
Senyum Shasa yang tadinya mengembang, berubah jadi datar. Entah kenapa, hatinya menjadi tidak enak mendengar kata-kata dari Nyonya Renee dan pengurus inti tadi.
Nyonya Nala melihat perubahan ekspresi Shasa. Dia berusaha menyudahi percakapan yang lama-lama menjadi canggung itu. Sama dengan Lita, yang sudah menatap tajam, mulut-mulut yang berbicara tidak enak pada Shasa tadi.
"Ayo, kita mulai saja rapatnya. Semakin cepat dimulai, akan semakin cepat juga selesai." Kata Nyonya Nala tersenyum.
Mereka langsung bergerak menuju ruang rapat. Shasa dan Lita lebih dulu ke ruang rapat. Nyonya Nala segera mengikutinya. Dia sedikit mengejar Shasa, menyamai langkahnya.
"Nyonya Shasa!"
"Iya, Tante Nala." Balas Shasa tersenyum. Langkah mereka sudah sejajar.
"Bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu?" Tanya Nyonya Nala ragu-ragu.
__ADS_1
"Tentu saja, tante."
"Tidak perlu mendengar hal-hal yang tidak penting. Biarkan orang lain berbicara apapun. Tetapi yang penting adalah jalan pikiran anda. Anda harus tetap berpikir positif."
Sepertinya Shasa mengerti arah pembicaraan Nyonya Nala. "Tante, terima kasih sudah mengatakan hal yang sangat ingin ku dengar barusan. Terima kasih sudah mengingatkanku." Shasa tersenyum pada Nyonya Nala. Nyonya Nala mengelus punggung Shasa lembut.
Rapat pengurus yayasan untuk mengurus pemberian beasiswa telah selesai dan berjalan cukup lancar. Setelahnya, Shasa tidak berlama-lama di yayasan dan langsung beranjak pulang. Di dalam mobil, Shasa memandangi jalanan di luar jendela dalam diam.
"Lita." Sekejap Lita menoleh ke arah Shasa yang masih memandang ke arah luar jendela mobil.
"Apa Leo dan kedua mertuaku kecewa padaku? Aku takut ditinggalkan oleh mereka." Shasa berbicara dengan datar.
"Nyonya, anda bicara apa? Tidak ada satupun yang meninggalkan anda. Anda harusnya menyadari kalau Presdir Leo justru semakin mencintai anda."
"Aku rasa apa yang dikatakan Tante Renee ada benarnya. Seorang anak akan menjadi pengikat antara seorang suami dengan istrinya. Aku belum memiliki ikatan itu dengan Leo. Masih memungkinkan dia meninggalkanku."
"Aku rasa kata-kata itu justru kurang tepat. Yang mengikat seorang suami dan istrinya adalah komitmen dan cinta mereka. Begitu juga yang terjadi pada anda dan Presdir. Komitmen untuk tidak pernah meninggalkan satu sama lain dan cinta dalam kondisi apapun, itulah yang mengikat anda dan Presdir."
"Lalu, kenapa kau bercerai dengan Niko? Apa karena kau tidak memiliki komitmen dan cinta?" Shasa menoleh ke arah Lita.
Lita tersenyum tipis. "Prinsip kami yang terlalu kuat. Tidak ingin saling memahami dan mengerti satu sama lain. Kekakuan dalam menghadapi segala hal. Aku rasa itu."
Shasa mencerna kata-kata Lita.
"Tapi, aku belajar banyak dari anda dan Presdir. Anda tahu? Banyak sekali hal yang berubah dari Presdir setelah bertemu anda. Presdir menyesuaikan banyak hal untuk anda. Dia tidak berusaha menjadi tinggi dan memilih menyamai posisi anda. Dia sangat berubah sekarang ini daripada saat awal aku bertemu dengannya. Apa lagi yang anda khawatirkan, Nyonya? Anda tidak perlu berbicara seolah anda tidak akan memiliki anak di kemudian hari. Dokter sudah mengatakan peluang anda masih cukup besar untuk hamil lagi."
"Hatiku tidak tenang, Lita."
"Seorang psikolog datang pada Presdir saat anda dirawat di rumah sakit. Psikolog itu mengatakan, anda mungkin saja mengalami gangguan psikis setelah keguguran anda. Stress atau mungkin depresi bisa saja terjadi pada anda. Tapi, apakah anda tahu, Presdir Leo melakukan setiap hal untuk mencegah semua itu terjadi pada anda. Keluarganya, para pengawal, para pelayan, teman-teman anda, diatur sedemikian rupa untuk tidak menciptakan hal itu terjadi."
"Begitukah?"
Lita mengangguk. "Tetapi, yang bisa melawan itu semua sebenarnya adalah anda sendiri. Pikiran dan hati anda harus selalu bahagia. Sekeliling anda hanya membantu saja. Jadi, aku mohon pada Nyonya, berpikirlah yang membuat hati anda bahagia saja."
"Lita, sepertinya aku menemukan kakakku." Shasa tersenyum pada Lita. Hati Shasa menjadi tenang mendengar kata-kata Lita. Dia seperti menemukan sosok seorang kakak di diri Lita.
*****
bersambung...
__ADS_1