
Leo menyantap sarapan pagi bersama Shasa dari kamarnya. Shasa sedikit kecewa karena tidak bisa merasakan tidur di tenda. Namun mengingat kakinya yang sedang sakit dan tidak memungkinkan untuk menuju area kemah, Shasa masih cukup bisa menerimanya.
Selesai sarapan, mereka bersiap pulang. Bahkan, rombongan outing belum terlihat di ruang makan untuk sarapan karena mereka masih melakukan senam pagi bersama.
Mobil yang dikendarai asisten Haris melaju cepat membawa Leo dan Shasa kembali ke rumah. Lita juga ikut di mobil itu. Namun, di tengah jalan mobil mereka berhenti di sebuah tempat. Leo menggendong Shasa turun dari mobil, sedangkan asisten Haris dan Lita mengikuti dari belakang.
Mereka menyusuri sebuah gerbang besar dan kemudian telihat hamparan kebun teh. Leo membawa Shasa ke sebuah gazebo yang di depannya terdapat pemandangan gunung, pepohonan, dan juga beberapa paralayang yang sedang mengudara. Leo mendudukan Shasa di sebuah kursi di gazebo itu.
"Wahhh... Pemandangannya bagus sekali!" Shasa begitu senang bisa melihat pemandangan yang menyejukkan mata ini.
Leo menggeser kursinya mendekati kursi Shasa sehingga mereka duduk bersebelahan tanpa jarak. "Aku sudah bilang, kalau kau ingin berlibur, aku akan mengajakmu berlibur." Leo menyeringai menatap Shasa yang masih mengagumi pemandangan di depannya. "Kau suka?"
Shasa mengangguk-anggukan kepalanya cepat. Dia masih tersenyum senang dengan kejutan yang diberikan Leo ini.
"Kau harus berterima kasih padaku." Leo tersenyum bangga.
"Ish... Apa kau akan menghitung ini sebagai utang lagi?" Tanya Shasa sebal.
"Kau sudah pandai memberiku hadiah." Leo menggoda Shasa, mengedipkan sebelah matanya.
"Hahahaha... Sini, aku akan memelukmu." Shasa membuka lengannya ingin menyambut Leo.
Leo menggelengkan kepalanya. "Sekarang aku yang akan memberikanmu hadiah."
Shasa terdiam menatap Leo, berusaha memikirkan hadiah apalagi yang akan diberikan Leo padanya.
Sebuah ciuman mesra mendarat di bibir Shasa. Dia kaget dengan apa yang dilakukan Leo, tapi sepertinya dia mulai menikmatinya.
__ADS_1
Mereka menghabiskan waktu hingga siang hari di gazebo itu. Menyegarkan pandangan matanya yang sehari-hari hanya bisa menatap layar komputer. Udara sejuk menyelimuti mereka. Tak sedetikpun Leo melepaskan genggaman tangannya dari Shasa.
*****
Jet pribadi Nyonya Sofia telah mendarat dengan mulus. Kedatangannya ini memang dipercepat dari rencana awal. Nyonya Sofia datang bersama asistennya, Grace, dan beberapa pengawal.
Kepulangan Nyonya Sofia sudah terdengar sampai ke telinga para pengurus yayasan. Karena tak mau orang lain menyambut kepulangannya ini, Komisaris Gusta datang menjemput Nyonya Sofia di bandara. Dengan begitu, tidak ada yang berani menyela untuk langsung berinteraksi dengan Nyonya Sofia.
Nyonya Sofia langsung diantar ke mobil Komisaris Gusta. Terlihat tidak hanya mobil Komisaris Gusta yang terparkir disana. Tetapi, ada juga dua mobil lainnya yang mengapit mobil mewah berwarna hitam milik Komisaris Gusta.
"Sepertinya sekarang kau tidak sesibuk dulu ya? Sampai punya waktu untuk menjemputku." Nyonya Sofia memulai pembicaraan di dalam mobil.
"Hahaha... Pewarisku yang sedang menikmati kesibukan itu sekarang." Komisaris Gusta menyahut. "Kau tahu, para pengurus yayasan bersikeras ingin menyambutmu di bandara. Ketika aku bilang aku sendiri yang akan menjemputmu, tidak ada dari mereka yang berani lagi memikirkan rencana apapun untukmu."
"Mereka pasti sudah merindukanku. Hahahaha... Sudah lama sekali aku tidak lihat gaya kehidupan gila mereka." Nyonya Sofia berpikir sejenak. "Gusta, apa menurutmu gadis itu akan mampu menghadapi pergaulan pengurus yayasan?" Nyonya Sofia melirik ke arah Komisaris Gusta.
"Kenapa bertanya padaku? Kau yang harus mengurusnya."
"Semakin cepat kita mengumumkan pernikahan, semakin mudah juga untukku. Aku tidak perlu lagi menjaga pernikahan sembunyi-sembunyi mereka. Itu sangat merepotkan. Sudah ada beberapa media yang aku hentikan karena menyoroti kehidupan Leo. Bahkan sudah ada reporter yang melihat Leo bersama gadis itu."
"Hem..." Nyonya Sofia menghela napas. "Aku memang tidak banyak menceritakan pada Leo tentang kehidupan di keluarga kita. Aku hanya ingin dia tumbuh normal seperti anak lainnya. Kau pasti tahu rasanya bagaimana hidupmu selalu diikuti orang kemana-mana. Itu sangat tidak nyaman. Tapi Leo memang tidak bisa menghindari itu."
"Aku ingin mengumumkan pertunangan mereka dulu. Setidaknya, para pejabat perusahaan dan kolegaku harus tahu bahwa Leo memang memiliki calon istri. Dengan begitu, tidak akan banyak reporter yang berasumsi tentang siapa gadis itu."
"Gusta, kau hebat sekali bisa menyembunyikan rapat tentang semuanya. Pasti asisten gila-mu itu kan yang mengaturnya?" Nyonya Sofia menyeringai.
"Huh, dia sangat pandai melakukannya Sofia. Semua tentangmu dan tentang Leo, hanya Niko yang bisa mengurusnya."
__ADS_1
Nyonya Sofia mendecak tak percaya. Dia tak percaya bahwa Komisaris Gusta memang tidak pernah luput mengawasi keluarganya sendiri.
"Mereka tinggal di apartemen kan?" Nyonya Sofia bertanya tetapi pandangannya mengarah keluar. "Aku akan membuat mereka tinggal di rumah bersama kita. Akan lebih mudah kalau kita tinggal satu rumah. Gadis itu akan memahami situasi di keluarga kita."
"Jika kau yang memintanya, Leo pasti setuju. Dia masih menjaga jarak denganku."
"Kau harus sedikit mengurangi gengsimu itu. Kau dan Leo itu sebenarnya saling menyayangi, tetapi saling tidak peka juga terhadap perasaan masing-masing." Nyonya Sofia menggelengkan kepalanya. "Jangan seperti itu juga terhadap cucumu nanti."
Komisaris Gusta seketika menoleh ke Nyonya Sofia. Entah kenapa mendengar kata cucu, hatinya bergetar bahagia.
"Aku tidak pernah menyia-nyiakan pewarisku, Sofia."
Komisaris Gusta terlihat begitu menantikan kehadiran pewaris berikutnya. Meskipun dia tak pandai mengungkapkan rasa sayang pada keluarganya, Komisaris Gusta tidak pernah luput untuk memberikan yang terbaik pada mereka. Senyum tipis muncul di wajah Komisaris Gusta. 'Sepertinya aku merindukan tangisan bayi di rumah.' bisiknya dalam hati.
*****
Epilog:
Asisten Haris dan Lita meninggalkan Leo dan Shasa yang sedang menghabiskan waktu di gazebo. Keduanya duduk di sebuah kursi panjang yang posisinya tidak terlalu jauh sehingga masih bisa mengawasi Leo dan Shasa.
"Haris, sepertinya Nona belum tahu banyak tentang kehidupan keluarga Presdir." Lita membuka suara.
"Aku rasa begitu. Tuan belum mau bercerita banyak tentang keluarganya. Tuan pasti menyadari perbedaan jauh antara kehidupan Nona dan kehidupannya. Tapi, Tuan tidak mau membuat Nona kaget dan memilih membuat Nona mengetahui dan belajar secara perlahan."
"Aku tahu kalau Nona pernah bertemu Komisaris Gusta. Aku pun sempat bertemu Komisaris Gusta dan asisten kepercayaannya. Beliau memintaku untuk tidak memberitahu Presdir perihal pertemuannya dengan Nona. Aku rasa Komisaris juga sedang mencari cara agar Nona mengerti tentang keluarganya."
"Asisten Komisaris Gusta, bukankah dia mantan suamimu?" Asisten Haris bertanya sambil melirik Lita.
__ADS_1
'Cih, Komisaris dan Presdir, keduanya sama-sama orang yang suka mencari tahu kehidupan orang lain.' batin Lita tanpa menjawab pertanyaan asisten Haris. Dia hanya memandang lurus ke depan.
bersambung...