
Shasa benar-benar membuat repot seisi rumah Keluarga Gusta. Mulai dari pelayan-pelayan di rumah itu hingga asisten-asisten yang bekerja untuk anggota Keluarga Gusta, semua sibuk membantu Shasa mempersiapkan pesta piyama untuk malam ini.
Ruang tengah diubah menjadi panggung pentas dengan kursi-kursi yang diatur rapi seperti sebuah ruangan teater. Ada juga beberapa sofa di tengah-tengah kursi penonton di bagian depan yang akan digunakan oleh keempat anggota Keluarga Gusta. Di depan dan samping kursi serta sofa itu, ada meja kecil yang akan digunakan untuk meletakkan makanan ringan selama pesta berlangsung.
Shasa telah mengatur dekorasi hingga hidangan untuk pesta nanti. Semua koki mempersiapkan dengan teliti semua hidangan yang diinginkan Shasa. Beberapa pelayan dan petugas keamanan di rumah itu, membantu Shasa menghias ruang tengah di paviliunnya. Mereka memasang gorden merah untuk menambah kesan layaknya sebuah ruang teater.
Namun, pemilik acara pesta piyama malam ini, sedang berdebat dengan suami tercintanya.
"Aku kan punya banyak piyama, aku pakai yang lain saja." Protes Leo menolak piyama dari Shasa.
"Sayang, aku sudah memesan piyama ini sejak lama. Masa kau tidak mau memakainya sama sekali?" Balas Shasa menggerutu.
"Mana mungkin aku memakai piyama model seperti ini? Aku tidak masalah dengan warna ungu piyama ini, tapi aku bermasalah dengan motifnya."
"Sayang, ini cuma gambar kelinci saja kok. Lihat, kelincinya manis sekali kan? Aku sudah menyukai gambarnya sejak pertama kali aku melihat ini." Ucap Shasa gemas dengan motif kelinci di piyamanya. "Pakai ini satu kali saja, ya?" Shasa mulai manja.
"Istriku, kalau kau yang mengenakan piyama ini, mungkin kau akan terlihat lucu dan manis. Tetapi, kalau aku yang memakainya, pasti akan terlihat menggelikan."
"Kau ini terlalu merendahkan dirimu sendiri. Kau pasti juga akan terlihat lucu dan manis." Shasa meyakinkan Leo berkali-kali.
Leo menghela napasnya, tak sanggup lagi menghadapi Shasa. "Bayaran apa yang kau berikan padaku jika aku memakainya?" Tantang Leo.
Tiba-tiba Shasa mengecup bibir Leo. "Sudah. Itu uang mukanya." Jawab Shasa tersenyum.
Leo mendengus. "Sudah lama sekali kau tidak mengeluarkan jurus mautmu itu. Tapi, aku ingin kau membayar semuanya di muka, sekarang!"
Serangan balik pun dilakukan oleh Leo. Dia mencium balik bibir Shasa dan melucuti pakaiannya satu per satu. Aktivitas selanjutnya, silahkan ditebak sendiri ya. Egois sekali memang. Yang lain sibuk menyiapkan pesta, tetapi pemilik acaranya malah memulai pesta duluan di kamar, hahahaha.
*****
Niko sedang bekerja di salah satu sudut rumah utama. Dia serius sekali menatap layar laptopnya. Sesekali, dia mengecek ponsel yang diletakkan di samping laptop.
Nyonya Sofia baru keluar dari kamarnya. Dia melihat Niko yang sedang bekerja di dekat ruang tengah. Dia pun berjalan mendekati Niko.
Niko menyadari kalau Nyonya Sofia menghampirinya. Dia pun menutup layar laptopnya dan berdiri menyambut Nyonya Sofia. Niko memberi hormat padanya.
"Niko, kau sudah menyiapkan piyamamu?" Tanya Nyonya Sofia.
Niko tersenyum datar. "Mungkin saya akan membeli piyama nanti sore, Nyonya."
__ADS_1
"Ah, aku hampir tidak pernah melihatmu mengenakan pakaian tidur. Kau selalu mengenakan jas setiap hari." Nyonya Sofia tertawa kecil.
"Aku hanya memakai kaos dan celana biasa untuk beristirahat di kamar. Tadi, aku sempat mencari di internet apa arti yang sebenarnya dari piyama dan di sana mengatakan bahwa piyama adalah pakaian tidur dengan warna dan bahan senada antara baju dan celananya. Aku rasa, aku tidak memiliki pakaian tidur yang seperti itu." Niko tersenyum tipis.
"Astaga! Kaku sekali kau sampai mencari definisi piyama di internet. Kau kan bisa bertanya padaku atau siapa pun di rumah ini. Sama saja seperti Gusta yang pasrah meminta dipilihkan piyama olehku." Ledek Nyonya Sofia. "Sayangnya, Grace sudah menuju ke sini dari butik membawakan piyama untukku dan Gusta, tidak mungkin dia balik lagi ke sana. Bagaimana kalau Lita menemanimu untuk mencari piyama?"
"Tidak perlu, Nyonya. Aku akan mencarinya sendiri. Aku bisa menelepon desainer yang aku kenal untuk membawakanku piyama."
"Ish... Kau harus mencobanya dulu dan memastikan warnanya sesuai dengan yang kau suka. Tadi aku dengar, Lita juga mau mencari piyama untuknya. Sekalian saja. Kalian bisa saling bertukar pikiran juga." Bujuk Nyonya Sofia.
*****
Lita duduk terdiam di mobil Niko. Karena permintaan Nyonya Sofia, Lita terpaksa menemani Niko mencari piyama. Mereka menuju ke sebuah butik yang telah dipilih Niko.
Setelah sampai, keduanya turun dari mobil dan memasuki sebuah rumah butik. Pemilik butik itu ternyata menyambut kedatangan keduanya.
"Hai, Niko. Selamat datang." Sapa pemilik butik yang berpenampilan sangat cantik bak model. Dia langsung menghampiri Niko dan mencium pipi kanan dan kirinya tanpa aba-aba. Niko hanya terbujur kaku tanpa ekspresi seperti patung. Lita yang melihat adegan itu, mendegus pelan dan menggelengkan kepalanya.
"Kau sedang mencari pakaian apa? Tadi petugas butikku mengatakan kau akan datang ke sini, aku langsung bergegas datang untuk menyambutmu." Pemilik butik itu tersenyum menggoda Niko.
"Aku sudah mengatakannya pada petugas butikmu. Kau tidak perlu repot-repot datang." Balas Leo dengan dingin dan datar.
"Ah, baiklah. Mari masuk." Wanita itu pun melenggang masuk sambil memanggil-manggil petugas butiknya.
Niko melirik Lita di sampingnya. Namun, Lita langsung melangkah mengikuti kaki wanita itu, membawanya masuk ke dalam butik. Niko mendesah pelan melihat Lita yang sudah menyusuri isi butik.
Wanita pemilik butik membawakan beberapa piyama ke hadapan Niko. Dia menjelaskan satu per satu bahan dan model dari piyama itu. Dia sudah seperti petugas pemasaran yang menjelaskan suatu produk dengan lengkap kepada pelanggannya, tentu saja ditambah dengan bumbu-bumbu bicara manja khas wanita yang sedang merayu lelaki.
Lita menatap wanita itu dan Niko bergantian. Dia menyilangkan kedua tangannya ke depan mendengarkan penjelasan sang pemilik butik. 'Sebenarnya apa hubungan kedua manusia ini?' batin Lita bertanya-tanya.
"Cukup! Kau tidak perlu menjelaskan lagi." Dengan tegas Niko menghentikan wanita itu berbicara. Kemudian, dia menoleh ke arah Lita. "Menurutmu, mana yang paling cocok untukku?"
Lita sempat heran karena Niko tiba-tiba bertanya pendapatnya. "Kau tidak akan suka pilihanku." Ucap Lita.
Niko pun berdiri dari duduknya. "Aku akan beli piyama yang dipilihkan dia." Niko mengatakan pada petugas butik sambil menunjuk Lita di sampingnya. "Kau juga pilihlah piyama yang kau mau. Aku akan tunggu di luar." Niko langsung keluar dari salah satu ruangan butik itu.
Lita mengerutkan alisnya, bingung dengan sikap Niko. Di sisi lain, wanita pemilik butik itu sedang cemberut menatap Niko yang melenggang keluar dan berganti menatap Lita dengan dingin di hadapannya.
"Aku pilih piyama yang ketiga untuknya." Lita bangkit dari duduknya dan sudah mau melangkah keluar. "Nona, apa kau tahu ukuran baju Tuan Niko untuk piyama ini? Aku rasa akan berbeda ukurannya dengan ukuran jas yang biasa dipakai Tuan Niko." Tanya salah satu petugas butik.
__ADS_1
"Kau punya ukuran Large? Niko mengggunakan ukuran Large untuk pakaian santainya." Selesai mengatakan itu, Lita langsung bergerak keluar.
'Bagaimana aku masih bisa mengingat ukuran pakaiannya sih?' batin Lita kesal sendiri.
Tak berapa lama, seorang petugas butik memberikan sebuah kantong belanja pada Niko. Niko tampak bingung menerimanya.
"Kenapa hanya satu?" Tanya Niko. "Kau tidak memilih piyama untukmu?" Niko melirik Lita.
Lita tidak merespon apapun untuk pertanyaan Niko. Dia hanya menatap ke luar jendela butik, tak tertarik dengan piyama atau apapun yang ada di butik ini.
"Bawakan piyama wanita untukku." Perintah Niko.
"Anda ingin model yang mana, Tuan?" Tanya petugas itu.
"Bungkus semua modelnya untukku yang berukuran Medium."
Lita tersentak menatap Niko. Dia menyipitkan matanya pada Niko yang baru saja mengejutkan Lita karena mengatakan satu hal tentangnya yang ternyata masih diingat Niko.
*****
Epilog:
Shasa dan Nyonya Sofia sedang mengobrol santai di ruang tengah rumah utama. Keduanya asyik sekali bercanda satu sama lain.
"Ma, kau tahu, aku sedang menjalankan sebuah misi." Ucap Shasa sambil tertawa kecil.
"Misi apa?" Nyonya Sofia penasaran.
"Aku sedang berusaha menjodohkan Niko dengan Lita kembali."
"Hah? Hahahaha... Berani sekali kau bermain-main dengan Niko." Nyonya Sofia tidak percaya dengan misi nekat Shasa. "Kalau Niko tidak menyukainya, bagaimana?"
"Ma, justru aku membantu Niko. Lelaki dengan seribu gengsi di dirinya, tidak akan maju-maju apalagi untuk menghadapi wanita yang kurang peka seperti Lita."
"Hahahaha... Apa mama harus membantumu juga?"
Shasa mengangguk-angguk antusias. "Lakukanlah apapun yang mama bisa untuk membuatnya bersama. Biar waktu yang menjawab. Kalau keduanya sama-sama pintar, pasti mereka bisa kembali lagi."
Menantu dan mertua yang sama-sama suka merepotkan orang. Kalau sudah bersatu begini, pasti banyak hal aneh dan unik yang akan terjadi.
__ADS_1
*****
bersambung...