
Sudah semingu ini Shasa bekerja dari rumah. Sangat membosankan karena dia tidak bisa bertemu dengan teman-teman kantornya. Di rumah pun, Shasa bekerja sendirian, hanya ditemani beberapa pelayan yang tak henti-hentinya menanyakan apa yang dibutuhkan Shasa. Leo memang menyuruh pelayan di rumahnya untuk selalu memastikan semua kebutuhan Shasa terpenuhi. Padahal yang dibutuhkan Shasa hanyalah udara segar dari luar rumah.
Karena bosan, Shasa mencoba main ke taman belakang yang terlihat dari balkon kamarnya. Tamannya begitu bersih dan segar. Banyak pepohonan, ada beberapa bunga yang ditanam disana, dan sebuah air terjun kecil buatan. Suara riak air terdengar begitu nyaman. Udaranya sejuk, bukan karena mesin pendingin ruangan.
"Aahh... Akan lebih bahagia kalau meja kerjaku terletak disini. Bekerja di alam benar-benar menakjubkan." Shasa mengelilingi taman itu dengan matanya. Kemudian, dia berhenti di satu titik pemandangan yang belum pernah dia lihat.
Komisaris Gusta sedang duduk di sebuah kursi taman dengan memegang buku di pangkuannya. Dia serius sekali membaca buku itu dengan kaca mata yang menggantung di wajahnya. Tampak seperti Leo kalau sedang membaca. Shasa tak sadar tersenyum. Melihat Komisaris Gusta sedamai itu adalah tontonan yang langka.
Shasa memberanikan diri mendekati Komisaris Gusta. Dia melangkah dengan pelan karena tidak ingin menjadi polusi suara baginya. Tiba-tiba saja, Komisaris Gusta mendongakkan kepalanya dari buku yang sedang dia baca. Dia menatap Shasa yang sedang menghentikan langkahnya.
Shasa tersenyum gugup. Entah kenapa, sampai saat ini dia masih saja gugup kalau berhadapan dengan Komisaris Gusta. "Pa..."
"Kau sedang apa? Memata-mataiku?"
"Ah, Tidak, Pa." Shasa mengibaskan tangannya dengan cepat.
"Lalu, kenapa berdiri disitu? Duduk sini." Komisaris Gusta menunjuk kursi lain di dekatnya.
Shasa pun melangkah mendekati Komisaris Gusta. Dia duduk di salah satu kursi taman tepat di hadapan Komisaris Gusta.
"Pekerjaanmu aman?"
Shasa kaget dengan pertanyaan Komisaris Gusta. Dia pikir Komisaris Gusta tidak akan bertanya duluan.
"Aman, Pa. Semuanya lancar."
"Hem..."
'Apa itu maksudnya?' gumam Shasa dalam hati.
"Sofia sedang mengurus pesta pernikahan. Acaranya kan sebentar lagi. Undangan juga sudah mulai disebar."
'Hah, undangan sudah disebar? Kok aku gak tahu ya?' batin Shasa.
"Kau boleh mengundang teman-teman dekatmu. Nanti Niko akan mengaturnya."
Shasa lega mendengarnya. Awalnya, seingat Shasa, Nyonya Sofia mengatakan kalau dia akan menyiapkan pesta pernikahan ini bersama Shasa. Tapi, selain bertanya tentang gaun pernikahan serta mencobanya, Shasa tidak pernah dilibatkan apa-apa lagi.
"Shafira, kau sudah melihat sedikit gambaran hidupmu setelah menikah nanti. Nama baikmu adalah nama baik suamimu. Nama baik kalian adalah nama baik keluarga ini. Jadi, berhati-hatilah dengan segala sesuatu yang kalian lakukan."
__ADS_1
"Iya, Pa. Aku sudah menyadarinya." Shasa tertunduk.
"Jangan terbebani. Nikmati saja dan lahirkan banyak pewaris untuk keluarga ini."
Uhuk uhuk uhuk. Shasa jadi ingin batuk sekeras-kerasnya. Pikirannya terfokus pada satu kalimat: lahirkan banyak pewaris. Sudah seperti satu perintah besar yang diucapkan begitu ringan oleh Komisaris Gusta.
*****
Persiapan pernikahan sudah hampir rampung. Nyonya Sofia sibuk sekali mengurusnya, tapi dia menikmatinya. Mulai dari gedung, dekorasi, katering, gaun, undangan, souvenir dan banyak lagi lainnya secara rapi diurus oleh Nyonya Sofia.
Beberapa kali teman-teman pengurus yayasan mencoba menghubunginya lewat telepon. Semenjak Nyonya Sofia tiba, dia memang belum sama sekali bertemu dengan teman-temannya. Sepertinya para pengurus yayasan ini sudah sangat merindukan Nyonya Sofia. Padahal bagi Nyonya Sofia, mereka hanya sedang mencari muka di depannya.
Karena ingin mengantar undangan pernikahan anaknya secara langsung kepada apara pengurus yayasan, Nyonya Sofia pun memutuskan untuk datang ke kantor yayasan perusahaan. Dia bersama asistennya, Grace, telah tiba di lobby kantor yayasan, disambut oleh para penjaga keamanan dan petugas resepsionis di lobby dengan hormat.
Nyonya Sofia masuk ke ruangan pengurus inti yayasan, membuat kehebohan disana karena dia datang tanpa pemberitahuan lebih dulu. Semua menyambut Nyonya Sofia dengan antusias.
"Nyonya, kenapa anda tidak memberitahu dulu akan datang kemari?" Tanya seorang pengurus inti.
Nyonya Sofia hanya tersenyum. "Memangnya aku harus mengabarimu dulu jika aku ingin kesini?"
"Ah, bukan begitu Nyonya. Setidaknya kami bisa menyambut anda lebih baik lagi."
Seketika itu juga, seluruh pengurus inti yang berjumlah tujuh orang berkumpul di salah satu ruangan VIP. Ketujuh orang ini adalah para istri dari pejabat tinggi XY Group. Tentu saja, mereka bukan orang sembarangan. Nyonya Sofia menatap satu per satu para pengurus inti dengan sedikit senyum di wajahnya.
'Hahahaha... Mereka masih sama seperti dulu. Masih dengan penampilan glamor yang begitu mencolok mata.' batin Nyonya Sofia.
"Sudah lama sekali kita tidak berjumpa ya?" Sapa Nyonya Sofia.
"Nyonya, anda kelihatan semakin cantik dan muda." Salah seorang pengurus itu memujinya.
"Betul Nyonya. Kalau boleh tahu, kau memakai baju rancangan siapa hari ini?" Sahut yang lainnya.
Mereka memang seperti itu. Tidak ingin terlihat paling sederhana dan berlomba-lomba memiliki penampilan terbaik. Jika berkaitan dengan penampilan Nyonya Sofia, sekejap saja bisa menjadi tren. Jika pertanyaan wanita tadi dijawab oleh Nyonya Sofia, sudah pasti dalam beberapa jam kedepan, para istri itu akan memesan pakaian dari perancang yang sama.
Nyonya Sofia hanya membalasnya dengan tersenyum. "Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih pada kalian yang sudah sangat luar biasa menjalankan yayasan ini."
"Tentu saja. Aku melakukannya dengan sangat baik." Sahut Nyonya Renee dengan bangga, karena selama ini bisa dibilang dia menggantikan Nyonya Sofia aktif di yayasan.
"Kau berkoordinasi dengan sangat baik bersama asistenku, Renee." Balas Nyonya Sofia. Meskipun Nyonya Renee yang terlihat aktif, tetapi semua tetap diinstruksikan oleh Nyonya Sofia melalui Grace.
__ADS_1
Para pengurus yayasan yang lain baru mengetahui kalau selama ini Nyonya Renee berkoordinasi dengan Nyonya Sofia melalui asistennya. Itu artinya, otak dibalik jalannya yayasan ini tetaplah Nyonya Sofia.
"Aku ingin mengirimkan undangan kepada kalian. Ini undangan pernikahan anakku." Nyonya Sofia menyodorkan beberapa undangan pernikahan yang sangat elegan dan mewah.
"Wah... Selamat Nyonya Sofia! Sebentar lagi anda akan punya menantu."
"Kenapa anda tidak mengajaknya kesini Nyonya?"
"Apakah dia nanti akan bergabung juga di yayasan?"
Nyonya Sofia lagi-lagi tersenyum mendengar pertanyaan-pertanyaan itu.
"Leo tidak mengijinkanku membawa calon istrinya kesana-sini. Dia terlalu cantik untuk dilihat orang lain. Dan... Tentu saja, dia akan bergabung dengan yayasan. Setelah menikah nanti, dia masuk dalam anggota Keluarga Gusta. Tentu saja, sebagai wanita di Keluarga Gusta, dia memiliki hak untuk menjadi pengurus inti yayasan ini."
Semua orang di ruangan itu terdiam mendengar penjelasan Nyonya Sofia. Mulut mereka sudah tertahan untuk membicarakan calon menantu Nyonya Sofia. Apakah dia benar-benar cantik? Seperti apa penampilannya? Bagaimana gaya bicaranya?
"Aku harap kalian bisa menyambut menantuku dengan baik. Kalian pasti tahu kan, posisi dia adalah istri dari pewaris perusahaan tempat suami-suami kalian bekerja. Sudah pasti, dia bukan wanita biasa seperti yang kalian pikirkan." Kata-kata Nyonya Sofia ini membuat semua orang tercengang, kehabisan kata-kata untuk membalasnya.
*****
Epilog:
Nyonya Sofia menelepon Leo di dalam mobilnya yang sedang menuju pulang ke rumah.
"Sayang, kau bisa libur delapan hari setelah pesta pernikahan nanti kan?"
"Maksud mama? Cuti selama delapan hari atau cuti di hari ke delapan?"
"Cuti selama delapan hari. Mama sudah menyiapkan liburan untuk kamu dan Shasa. Bahasa romantisnya, bulan madu."
"Hahahaha... Ma, tidak perlu repot-repot. Aku sudah menyiapkan sendiri tempat bulan maduku. Aku sudah mempersiapkannya sejak lama."
"Hah? Kenapa kamu gak bilang?"
"Mama sendiri kenapa sudah mengatur semuanya tanpa memberitahuku? Ma, aku lebih suka mengurus hal-hal yang berhubungan dengan Shasa sendiri."
Ibu dan anak ini pada dasarnya sama-sama suka mengatur tanpa memberitahu yang bersangkutan.
*****
__ADS_1
bersambung...