Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Pagi Pertama


__ADS_3

Shasa mendengar suara berisik di tidurnya. Dia mulai terbangun. Biasanya alarm ponsel Shasa yang setia membangunkannya. Shasa menyibakkan selimutnya dan turun dari ranjang. Dia membuka pintu dan melongok ke arah luar. Dilihatnya ada beberapa orang asing yang sedang membersihkan rumah. Shasa berjalan beberapa langkah ke depan. Dia juga melihat beberapa orang sibuk di dapur. Tiba-tiba seorang pria paruh baya berjalan dari arah teras ke arahnya.


"Selamat pagi, nona." Lelaki itu menyapa Shasa dan membungkukkan badan ke arahnya.


"Pagi. Bapak siapa ya?" Tanya Shasa bingung.


"Perkenalkan nona, saya Pak Yopi, kepala pelayan rumah ini. Tuan biasanya memanggil saya Pak Yo."


"Ah... Jadi bapak koki khusus itu ya?"


"Bukan nona. Saya kepala pelayan, yang mengatur semua kebutuhan rumah ini dan mengatur pelayan-pelayan yang bekerja untuk Tuan Leo. Di rumah ini memang ada beberapa koki khusus yang bertugas di dapur, dan beberapa pelayan yang mengurus kebersihan rumah."


"Oh... Begitu rupanya."


"Kami memang tidak tinggal disini karena Tuan Leo tidak menyukai banyak orang di rumahnya. Kami akan datang jam 5 pagi setiap harinya dan akan pulang sebelum Tuan Leo kembali. Namun, jika Tuan Leo meminta kami untuk libur ataupun bekerja lebih lama, kami akan mengikuti sesuai perintahnya."


"Ah, baiklah." Shasa sudah hampir berbalik menuju kamar, tapi dia malah berbalik lagi mengagetkan Pak Yo.


"Pak Yo tidak kaget melihatku ada disini? Bukankah ini pertama kalinya kita bertemu?" Shasa penasaran mengapa pelayan-pelayan ini seolah sudah mengetahui keberadaan Shasa di rumah.


"Saat kami datang tadi, Tuan memberitahu kami bahwa beliau telah menikah dan tinggal bersama istrinya disini. Tuan juga meminta kami melayani kebutuhan nona sebagai istri Tuan Leo."


'Kenapa aku merinding mendengar kata 'istrinya'? Meskipun memang benar aku istrinya.' batin Shasa.


"Sekarang dia dimana?"


"Setiap pagi, Tuan pasti berolahraga di ruang depan." Pak Yo menunjuk sebuah ruangan. "Setelah itu sarapan, kemudian mandi dan bersiap pergi ke kantor."


'aaaaaaaa... Banyak sekali yang tidak aku tahu tentangnya.' batin Shasa.


"Baiklah Pak, aku akan mandi dan bersiap."

__ADS_1


"Maaf nona, pakaian kerja anda untuk hari ini sudah saya siapkan. Untuk pakaian-pakaian lainnya, akan kami rapikan setelah nona berangkat nanti."


Shasa teringat kalau dia memang tidak membawa pakaian untuk kerja, terlebih karena Leo tidak mengijinkan barang-barang lamanya dibawa kesini. Hanya tersisa beberapa pakaian yang dia bawa sepulangnya dari kampung halaman.


"Oke... Terima kasih Pak Yo." Shasa tersenyum ramah dan kembali ke kamarnya.


Pagi itu Shasa berpikir keras tentang keseharian Leo. Biar bagaimana pun, dia ini istrinya. Dia merasa tak berguna karena tidak mengetahui apa-apa tentang kebiasaan sehari-hari Leo.


Shasa keluar dari kamar dengan pakaian rapi. Sarapan telah tersedia di meja makan. Baru kali ini Shasa melihat hidangan sarapan ala konglomerat. Tak lama, Leo keluar dari ruang olahraga dan berjalan ke arah meja makan.


"Kenapa kau hanya menatapi makanan-makanan itu?" Kedatangan Leo mengagetkan Shasa yang sedang mengagumi makanan di depannya.


"Kau sudah selesai? Tadi aku dengar dari Pak Yo kalau kau berolahraha setiap pagi." Leo mulai duduk di kursinya. Shasa pun menyusul duduk di hadapan Leo.


Mereka berdua mulai menikmati sarapannya.


"Oh iya, aku lupa. Skuterku. Aku akan membawa skuterku kesini. Boleh kan?" Shasa teringat skuter kesayangannya. Biar bagaimana pun skuter itulah yang mengantar Shasa setiap hari ke kantor.


"Hei, aku membelinya dengan uangku hasil jerih payahku sendiri. Itu skuter kesayanganku!"


"Kau panggil aku apa? Hei? Mulai berani berbicara tidak sopan rupanya." Shasa tergelak dan terdiam. Dia merasa bersalah karena sudah memanggil Leo dengan tidak sopan.


"Maaf..." Shasa menunduk.


"Kau tidak perlu ke kantor pakai skuter itu lagi. Berangkat bersamaku!"


"Apa? Tidak bisa begitu. Orang-orang akan tahu kalau aku menikah denganmu. Kau kan sudah berjanji menerima syaratku untuk tidak memberitahu pernikahan kita."


"Kalau begitu, Haris akan menyiapkan mobil dan supir untukmu."


"Itu juga tidak bisa." Balas Shasa cepat. "Orang-orang akan heran kenapa bisa skuterku berubah menjadi mobil hanya dalam beberapa hari."

__ADS_1


"Kau ini bagaimana? Ketika aku menikahimu, kau otomatis menjadi bagian Keluarga Gusta. Kalau ada yang tahu salah satu nyonya dalam keluarga itu pulang pergi dengan skuter, reputasi keluargaku akan dipandang apa?"


"Karena itu, jangan sampai ada yang tahu kalau aku istrimu."


"Secepat mungkin, aku akan membawamu ke keluargaku. Setelah itu, kau tidak bisa lagi menutupi status pernikahan kita."


Shasa terdiam. Fakta bahwa dia telah dinikahi oleh konglomerat ini, memang tidak bisa dihindari. Cepat atau lambat, status pernikahan mereka pasti akan diketahui orang-orang.


"Selama itu belum terjadi, biarkanlah aku hidup normal. Jika kita bertemu di kantor nanti, bersikaplah seperti biasa." Shasa sudah mengambil tas dan bangun dari duduknya. Dia beranjak pergi duluan ke kantor.


"Shasa, skutermu ada di parkiran basement. Mintalah kuncinya ke penjaga pos disana." Shasa langsung bahagia mendengarnya, sementara Leo masih meneruskan sarapannya.


Epilog:


Shasa sudah sampai di basement. Dia mencari-cari dimana skuternya. Tapi sejauh mata memandang, hanya ada mobil-mobil di basement itu. Kemudian seorang petugas jaga menghampirinya.


"Nona, ada yang bisa dibantu?"


"Aku mencari skuterku."


"Ah, anda pasti istri Tuan Leo. Mari saya antar ke tempat parkir skuter anda."


'Hah? Sebenarnya dia memberitahu ke siapa saja kalau aku istrinya? Apakah satu apartemen ini tahu kalau aku istrinya?' Shasa menggeleng-gelengkan kepala.


"Silahkan nona. Ini kunci anda." Petugas itu menunjukkan skuter dan memberikan kunci dengan sangat ramah.


'Apa!!!' Shasa tercengang melihat skuternya yang terparkir di slot VIP dengan space yang begitu besar. 'Bagaimana dia bisa senorak ini sih?!' Shasa kesal bercampur malu karena skuternya terparkir sejajar dengan mobil-mobil mewah. Pantas saja petugas itu langsung tahu ketika Shasa menanyakan skuternya karena memang satu-satunya skuter yang terparkir disana hanyalah milik Shasa.


*****


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2