
Shasa perlahan membuka kelopak matanya. Samar-samar, dia melihat Leo yang duduk di sofa memangku laptopnya. Melihat gerakan pelan Shasa, Leo menggeser laptopnya. Leo melihat Shasa yang sedang menatapnya. Leo meletakkan laptopnya di sofa dan segera ke sisi Shasa.
"Kau tidak apa-apa? Apakah ada yang sakit?" Leo terdengar sangat khawatir.
Shasa tersenyum lemah. "Aku haus." Kata Shasa pelan. Dengan cepat Leo menuangkan air ke gelas yang ada di meja samping ranjang. Dia mengangkat tubuh Shasa dan mendudukkannya bersandar pada kepala ranjang. Pelan-pelan dia mendekatkan gelas ke bibir Shasa.
Shasa tak henti menatap Leo yang terlihat begitu khawatir. "Kau tidak bekerja?"
"Tidak." Jawab Leo singkat sambil meletakkan kembali gelas di meja.
"Ah! Apa ini?" Shasa kaget melihat infus di tangannya.
"Cepatlah pulih. Jadi kau tidak perlu lagi memakainya." Leo menunjuk infus di tangan Shasa itu.
Kini mereka saling menatap. Terdiam. Seketika Shasa tersenyum melihat wajah Leo yang masih begitu khawatir.
"Maafkan aku, membuatmu membolos kerja hari ini."
"Aku tidak membolos. Tetapi aku ijin."
"Ijin? Ijin apa?" Shasa masih tersenyum kecil meledek Leo.
"Ijin merawat istrinya yang sakit." Shasa terperangah mendengar jawaban Leo. Entah kenapa, dia bisa merasakan ketulusan Leo saat ini.
"Mulai besok, kau tidak boleh lagi ke kantor menggunakan skutermu itu. Pulang-pergilah denganku. Kalaupun aku ada urusan mendesak, aku akan mengirim supir untukmu." Leo berbicara serius. "Kalau kau begini terus, kau akan membuat negara ini rugi."
"Aku? Membuat rugi negara? Bagaimana bisa?"
"Kau membuatku tidak bisa bekerja. Begitu banyak pekerjaan yang aku tinggalkan di kantor. Kalau begini terus, bisa-bisa perusahaan rugi. Kau pasti tahu kan, kalau perusahaanku mengalami kerugian, seberapa besar dampaknya ke negara ini."
"Aku tidak memintamu meninggalkan pekerjaan kan."
Leo tersenyum kecil. "Kenapa kau bodoh seperti ini sih?"
__ADS_1
"Kau sebut aku apa?" Shasa menaikkan nada bicaranya. Leo bangkit dari sisi Shasa.
"Mulai malam ini kau tidur disini. Jangan membantah. Aku akan panggil Pak Yo untuk menyiapkan makananmu." Leo keluar dari kamar.
'Apa-apaan! Dia memaksaku lagi? Huh!' Shasa mendengus kesal. Dia menatap sekeliling kamar. 'Kenapa dia membawaku ke kamarnya sih?!'
*****
Leo membawakan makanan Shasa di sebuah meja makan kecil. Dia duduk di sisi ranjang tepat di samping Shasa. Leo meletakkan meja itu di atas pangkuan Shasa. Shasa sudah mau mengangkat sendok untuk memulai makan, namun Leo menghentikannya.
"Tunggu." Leo mengambil sendok dari tangan Shasa. "Kau tidak mungkin makan dengan jarum tertusuk di tanganmu itu."
Shasa sudah mau tertawa mendengarnya. "Aku bisa kok. Tanganku baik-baik saja."
"Apanya yang baik-baik saja? Tadi kau sampai kaget begitu melihat infus di tanganmu. Aku suapin saja."
Shasa menahan tawa. Leo mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Apa kau tidak pernah sakit? Tidak pernah diinfus?" Tanya Shasa.
'Ternyata dia juga punya sisi bodoh ya. Hahahaha' Shasa tertawa girang di dalam hatinya.
Setelah selesai makan, Shasa masih bersandar di ranjang sambil menonton tv, sedangkan Leo kembali beraktivitas dengan laptopnya.
Shasa mulai merasa bosan. Dia mematikan tv dan menoleh ke arah Leo. Beberapa saat dia memandangi Leo yang sedang serius di sofa.
'Dia terlihat seperti orang yang berbeda kalau sedang santai di rumah begini. Tidak ku sangka, aku punya suami yang tampan ini.' Shasa menyunggingkan senyum di wajahnya.
"Sudah puas melihatku?" Suara Leo memecahkan lamunan Shasa. Leo menggeser sedikit laptopnya.
"Aku tidak melihatmu." Shasa tidak mengaku. Leo meletakkan laptopnya di sofa dan berjalan ke arah ranjang. Dia tidak duduk di samping Shasa, justru Leo malah naik ke kasur dan menenggelamkan dirinya di dalam selimut besar yang juga menyelimuti kaki Shasa. Shasa melonjak kaget melihat Leo yang berbaring di sampingnya.
"Aku jadi ingin tidur siang." Leo memiringkan badannya ke arah Shasa.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Shasa yang masih heran dengan kelakukan Leo.
"Kau tidak dengar? Aku ingin tidur siang. Kau tahu, aku tidak pernah tidur siang semenjak aku mulai bekerja. Aku menghabiskan waktu siangku untuk bekerja."
"Kalau begitu, bekerjalah, kau tidak perlu tidur siang." Shasa menanggapi.
Leo menggeleng. Dia sudah mulai memejamkan matanya. Perlahan, tangan Leo menggenggam tangan Shasa. "Tidurlah. Kau harus banyak istirahat. Kalau aku tidak tidur, kau akan terus memandangiku bekerja kan?" Leo tersenyum dengan matanya yang masih terpejam.
Shasa tersenyum lebar. 'Kok sekarang dia jadi narsis sih?' Shasa pun mulai berbaring dan tidur siang. Tangan mereka saling menggenggam satu sama lain sepanjang siang itu.
*****
Epilog:
Dokter Sam memeriksa kembali kondisi Shasa di sore hari. Infusnya telah habis dan kondisi Shasa juga sudah jauh lebih baik. Dokter Sam akan mencabut infus di tangan Shasa.
Saat dokter Sam perlahan menyentuh tangan Shasa.
"Apa yang kau lakukan Sam? Jangan pegang tangannya begitu." Leo protes.
"Bagaimana aku melepas infus ini kalau aku tidak boleh memegang tangannya, bodoh?"
"Mulai besok, aku akan mempekerjakan perawat wanita untukmu."
Dokter Sam tidak menggubris celotehan Leo. Shasa sedikit meringis ketika dokter Sam mulai mencabut jarum infus.
"Pelan-pelan Sam! Kau ingin menyakiti tangannya?" Teriak Leo.
"Kau ini berisik sekali! Aku sudah selesai." Dokter Sam menunjukkan jarum infus yang sudah dilepas. "Nona, selamat. Anda sudah mendapatkan lelaki berisik edisi terbatas." Dokter Sam memengadahkan tangannya ke arah Leo.
Shasa tertawa melihat Leo yang kesal dengan dokter pribadinya sendiri. 'Mereka ini seperti kucing dan tikus. Hahahaha! Lumayan dapat hiburan.' batin Shasa.
*****
__ADS_1
bersambung...