Impian Sang Presdir

Impian Sang Presdir
Pemeriksaan


__ADS_3

Hari ini dokter Sam bersama dengan dokter spesialis kandungan akan melakukan pemeriksaan awal sebelum program kehamilan Shasa dimulai. Shasa cukup tegang menjalani hari ini. Namun, kelihatannya Leo cukup tenang. Dia terus menggenggam tangan Shasa ketika masuk ke dalam rumah sakit. Mereka masuk ke dalam ruang pemeriksaan khusus.


Dokter memeriksa dengan teliti dan melakukan USG untuk melihat kondisi rahim Shasa. Dia juga menanyakan beberapa pertanyaan pada Shasa. Leo memperhatikan Shasa tanpa henti. Setiap apapun yang dokter lakukan pada Shasa, Leo pasti bertanya.


"Sayang, bisakah kau tidak bertanya dulu? Biarkan dokter memeriksaku." Protes Shasa.


Leo menarik napas dalam. "Aku hanya ingin tahu apa saja yang dilakukan dokter padamu dan apakah itu aman untukmu."


"Leo, sini ikut aku." Dokter Sam membawa Leo menjauh beberapa langkah. "Kau tenanglah. Nanti kau juga akan diperiksa."


"Aku? Yang akan hamil kan dia." Leo menujuk ke arah Shasa.


"Ish... Program hamil itu tidak hanya perempuannya saja yang diperiksa dan diatur segala sesuatunya. Kau pikir dia bisa hamil sendirian? Dokter perlu melakukan observasi pada suaminya juga."


Setelah pemeriksaan Shasa selesai, dokter juga menanyakan beberapa hal pada Leo tentang pola makan, pola tidur, dan kebiasaan Leo sehari-hari.


Dokter kandungan membicarakan hasil observasinya pada dokter Sam dengan serius. Dokter kandungan itu terlihat menunjukkan beberapa hasil USG Shasa. Kedua dokter itu kemudian menjelaskan hasilnya pada Leo dan Shasa.


"Berdasarkan hasil USG, kondisi rahim Nyonya Shasa sehat sehingga anda punya peluang cukup besar untuk hamil. Pemulihan pasca keguguran kemarin juga sangat cepat. Hanya saja diperlukan pola makan sehat dan teratur serta istirahat yang cukup. Nanti aku akan memberi resep beberapa vitamin untuk Nyonya Shasa. Hal yang sama berlaku juga untukmu, Leo."


Shasa cukup lega mendengar penjelasan dokter Sam. Setelah ini, Shasa dan Leo hanya perlu berusaha lebih keras lagi untuk memiliki anak. Semua akan bergantung pada usaha mereka.


*****


Nyonya Sofia bergegas masuk ke dalam mobilnya bersama Komisaris Gusta. Setelah perdebatan panjang mereka, akhirnya Komisaris Gusta mengalah dan terpaksa mengikuti keinginan Nyonya Sofia untuk menyusul ke rumah sakit.


"Setidaknya, kehadiran kita nanti adalah bentuk dukungan kita pada Leo dan Shasa. Leo itu sangat tidak berpengalaman dengan hal-hal seperti ini. Aku yang akan bantu memantau program kehamilan mereka."


"Mereka kan sudah dewasa, Sofia. Kalau mereka tidak mengerti, mereka pasti akan bertanya pada dokter. Aku khawatir mereka jadi tidak nyaman dengan kehadiran kita di sana."


"Gusta, kau harus sedikit lebih peduli. Berubahlah dari sekarang sebelum cucumu tiba nanti." Nyonya Sofia menyindir.


Komisaris Gusta hanya menggeleng-gelengkan kepala berusaha menahan kesal dengan tingkah laku istrinya. Niko dan Grace yang duduk di depan pun terlihat menahan diri menyaksikan pertengkaran Tuan dan Nyonyanya ini.


Nyonya Sofia dan Komisaris Gusta tiba di rumah sakit. Mereka langsung menuju ke ruangan dimana Leo dan Shasa berada.


Tepat sekali ketika Nyonya Sofia dan Komisaris Gusta sampai di depan ruangan, Leo dan Shasa baru saja keluar bersama dengan dokter Sam.


"Mama? Papa?" Leo terkejut bagaimana bisa Nyonya Sofia dan Komisaris Gusta ada di sini.

__ADS_1


"Sayang, sudah selesai pemeriksaannya?" Nyonya Sofia langsung menghampiri Shasa.


"Sudah, Ma." Jawab Shasa sambil tersenyum.


"Bagaimana Sam hasilnya?" Nyonya Sofia bertanya pada dokter Sam.


"Tante Sofia, anda tinggal mengatakan saja pada putra dan menantu kesayangan anda ini, berapa cucu yang diinginkan sebagai penerus Keluarga Gusta."


Nyonya Sofia tersenyum antusias. "Begitu ya? Itu artinya pemeriksaannya bagus." Nyonya Sofia tersenyum lebar. "Sam, lakukan yang terbaik."


"Baik, Tante Sofia." Jawab dokter Sam sambil mengangguk-angguk.


*****


Makan malam di rumah Keluarga Gusta berlangsung dengan sangat menyenangkan. Nyonya Sofia melihat Leo dan Shasa sudah mulai melupakan kesedihannya. Bahkan, Leo sudah bisa berbicara santai dengan Komisaris Gusta. Nyonya Sofia dan Komisaris Gusta sepakat untuk membuat suasana rumah lebih hidup demi Leo dan Shasa.


"Leo, kamu tidak ada rencana mengajak Shasa jalan-jalan ke rumah kita dulu?" Tanya Nyonya Sofia.


"Maksud mama, rumah kita di luar negeri?"


"Iya... Shasa kan belum pernah ke sana. Kalian bisa sekalian jalan-jalan juga."


"Kamu mau, sayang?" Tanya Leo pada Shasa.


"Lama-lama Shafira akan lebih senang jalan-jalan sama papa daripada sama kamu, Leo."


Sindiran dari Komisaris Gusta sontak membuat semua orang di meja makan itu jadi tertawa terbahak-bahak. Komisaris Gusta terlihat lebih luwes dari sebelumnya. Dia berusaha keras menjadi manusia normal yang punya selera humor dan mampu menghibur.


Setelah makan malam dan sesi mengobrol usai, Leo dan Shasa kembali ke kamar. Masing-masing dari mereka mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Leo naik ke kasur lebih dulu, mengecek ponselnya sebentar. Shasa tak kunjung keluar dari tempat ganti pakaian.


"Sayang. Kamu lagi apa? Kok lama sekali?" Leo berteriak tetapi matanya masih fokus pada ponsel di tangannya.


Shasa keluar dari tempat ganti pakaian. Leo terkejut melihat Shasa dengan pakaian tidur yang begitu seksi. Dia naik ke kasur dan mendarat di dada Leo.


"Sayang... Kamu sibuk ya?" Kata Shasa dengan nada menggoda. Tangannya sudah meraba-raba dada Leo.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Leo bingung karena Shasa tidak pernah provokatif seperti ini. Leo pun meletakkan ponselnya.


"Sayang... Kamu suka baju tidurku tidak?"

__ADS_1


"Sayang, sebenarnya kau ingin apa sih?"


Tidak menjawab pertanyaan Leo, Shasa malah naik ke atas tubuhnya, membuat Leo terkejut dengan kelakuan Shasa. Leo tersenyum tipis.


"Aku ingin memulai usaha kita untuk punya anak. Tapi, kau tidak mengerti sama sekali." Shasa menunduk di hadapan Leo.


"Hahahaha... Sayang, kenapa kau menggemaskan sekali sih?" Leo mencium Shasa habis-habisan. Dia menumpahkan semua kerinduannya pada Shasa. Leo menahan semua hasratnya untuk memberi ruang pada Shasa dalam masa pemulihannya. Tapi, kini Leo tidak biaa menahannya lagi. Lagipula, Shasa sudah menindihnya seperti ini, buat apa menolaknya juga.


Shasa menggerayangi tubuh Leo di mana-mana. Leo tak menyangka Shasa bisa menggodanya seperti ini.


"Kau ingin membuatku mati malam ini ya?" Leo masih sempat-sempatnya bertanya saat Shasa sedang menikmati aktivitasnya.


"Hahaha... Kenapa kau berbicara seperti itu, sayang? Aku ingin kau menikmati malam ini." Shasa menang telak dengan godaannya yang tak henti-henti.


Kedua sejoli itu merajut cintanya sepanjang malam. Kerinduan mereka tercurahkan semua tanpa tersisa.


*****


Epilog:


"Haris, apa pemeriksaannya sudah selesai?" Tanya Niko melalui ponselnya. Komisaris Gusta memberikan perintah untuk mengantarnya dan Nyonya Sofia ke rumah sakit. Niko seketika sibuk karena mengatur para pengawal Komisaris Gusta untuk bersiap pergi mengikutinya.


"Mereka masih di dalam ruang pemeriksaan. Aku tidak tahu berapa lama lagi pemeriksaannya akan selesai." Jawab asiaten Haris.


"Aku akan kesana membawa Tuan Gusta dan Nyonya Sofia. Mereka ingin menyaksikan juga pemeriksaan Tuan Leo dan Nyonya Shasa."


"Untuk apa?"


"Kenapa bertanya padaku? Tanya saja pada pasangan yang tak henti berdebat tentang anak dan menantunya ini."


Asisten Haris menahan tawanya. "Baiklah, Niko."


Niko menutup teleponnya. Asisten Haris benar-benar penasaran dengan karakter Niko dalam kehidupan pribadinya. Dia selalu terlihat tegas dan menakutkan. Asisten Haris tak bisa membayangkan bagaimana Lita bisa menikah dengan orang seperti itu.


"Lita, sebenarnya seperti apa sifat mantan suamimu? Aku benar-benar penasaran." Tanya asisten Haris dengan polosnya.


Lita menatapnya sinis. "Kenapa kau selalu membicarakan mantan, mantan dan mantan? Membahas mantan itu tak ada gunanya. Kau hanya akan membangkitkan masa lalu yang tidak ingin ku ingat. Kau sih, tidak pernah punya mantan. Benar-benar sangat tidak berpengalaman."


'Wah... Kenapa dia jadi baper begini? Mereka berdua sama-sama temperamen. Pantas saja cocok.' batin asisten Haris sambil menyembunyikan tawanya dari Lita.

__ADS_1


*****


bersambung...


__ADS_2