
Berita kelahiran anggota baru Keluarga Gusta mulai menyebar di kalangan petinggi perusahaan. Buket-buket dan papan bunga mulai berdatangan. Namun, Komisaris Gusta meminta Niko untuk membatasi tamu yang datang. Tidak seorang tamu pun diijinkan untuk bertemu langsung dengan cucu atau menantunya. Komisaris Gusta ingin memberikan privasi pada Shasa untuk menikmati waktunya sebagai ibu baru.
Lain halnya dengan kondisi di luar ruang perawatan Shasa yang cukup sibuk dengan penjagaan yang ketat, di dalam ruang perawatan justru terasa begitu damai. Komisaris Gusta dan Nyonya Sofia seperti tak pernah puas memandangi cucu pertamanya ini.
“Ma, apakah ruangannya harus dihias se-ramai ini?” Leo bertanya dengan heran karena Nyonya Sofia membawa beberapa orang untuk menghias ruang perawatan Shasa. Ada balon-balon yang ditata dengan cantik, pita-pita menjuntai serta beberapa vas berisikan bunga mawar berwarna biru dan putih yang tampak begitu segar.
“Leo, anakmu harus dibiasakan melihat yang indah-indah. Mulai hari ini, tidak boleh satupun hal buruk menghampirinya.” Jawab Nyonya Sofia santai tanpa berpaling dari bayi di hadapannya.
“Kau bisa mempercayakan anakmu pada kami, Leo. Kau sebaiknya memperhatikan Shafira lebih banyak. Dia membutuhkan perhatianmu.” Sahut Komisaris Gusta.
Leo menggeleng-geleng tak percaya. Kehadiran bayi kecil ini telah mengalihkan perhatian Komisaris Gusta dan Nyonya Sofia sampai-sampai keduanya hanya mementingkan sang bayi bahkan melupakan siapa ayahnya.
Shasa tertawa kecil melihat kebahagiaan besar yang menyelimuti orang-orang yang disayanginya ini. Shasa benar-benar bersyukur karena kehadiran anaknya membawa kebahagiaan dan kepuasan bagi banyak orang. “Sayang…” Shasa memanggil Leo sedikit berbisik. Tangannya mencoba mengisyaratkan untuk meminta Leo mendekat.
Leo menghampiri Shasa sambil tersenyum. Dia mengecup kening Shasa beberapa saat. Selesai melepas kecupannya, Leo memandangi wajah Shasa. Entah kenapa Shasa terlihat berkali-kali lipat lebih cantik dari biasanya. Seperti ada aura ibu baru terpancar dari wajahnya.
“Sayang, kau lihat, bagaimana mereka memperlakukan bayi kita?” Leo bertanya sambil tersenyum ke arah dua kakek-nenek dan cucunya yang sedang bercengkerama.
“Itu hal yang wajar, sayang. Mereka kan kakek-neneknya. Biarkan anak kita berkenalan dengan kakek-neneknya.” Jawab Shasa. “Aku pikir, kau satu-satunya pemenang di keluarga ini. Tapi sekarang, ada pemenang baru yang akan mengalahkanmu.”
“Maksudmu apa, sayang?” Leo heran.
“Mama dan Papa sangat menyayangimu. Kau selalu menjadi jagoan yang menang di rumah. Mama dan Papa bisa melakukan apapun untukmu. Tapi aku rasa, anak kita akan mengambil posisi itu darimu.” Jelas Shasa dengan senyum mengejek diwajahnya.
“Tidak apa jika itu anak kita. Aku akan memenangkan ibunya saja.” Goda Leo pada Shasa.
“Kau percaya diri sekali.” Balas Shasa sedikit mengejek.
Leo dan Shasa tertawa.
“Ah!” Shasa mengaduh.
“Kenapa, sayang?” Seketika Leo cemas.
“Tidak apa-apa, sayang. Sedikit nyeri saja.” Shasa buru-buru menjawab. Dia khawatir Leo akan bertindak bodoh hanya karena rasa sakit Shasa. “Sayang, aku belum menyusui anakku sejak tadi. Bagaimana caraku melakukannya?”
“Kau pikir, aku tahu caranya?”
*****
__ADS_1
Empat jam setelah Shasa memasuki ruang perawatan, seorang suster masuk ke kamar Shasa. Perawat itu datang untuk mengajari Shasa menyusui sang bayi.
Sudah hampir satu jam, Shasa belum kunjung mengeluarkan ASI-nya. Perawat mengatakan bahwa ibu yang baru pertama melahirkan, wajar jika kesulitan untuk mengeluarkan ASI-nya. Sang bayi juga sudah tampak gelisah karena tak kunjung mendapatkan ASI dari ibunya. Dua hal yang diperhatikan Leo. Satu, sang bayi tampak gelisah. Dua, Shasa terlihat meringis kesakitan yang entah Leo tidak tahu alasannya.
“Suster, kenapa istriku terlihat kesakitan seperti itu?” Leo bertanya-tanya dengan dahinya yang berkerut.
“Maaf, Tuan. Ibu yang baru pertama kali menyusui bayi, mungkin saja merasa sakit ketika berusaha mengeluarkan ASI-nya.”
“Ah, sakit!” teriakan Shasa mengagetkan orang-orang di ruangan itu.
Nyonya Sofia bergegas membuka tirai yang tertutup untuk melihat kondisi Shasa. Di dalam tirai tertutup itu hanya ada Shasa, Leo, sang bayi, dan perawat.
“Shasa, tenanglah. Tarik napasmu pelan-pelan. Rasa sakit ini hanya pertama-tama saja. Tenanglah.” Nyonya Sofia mencoba menenangkan Shasa.
“Ma… sakit sekali.” Shasa terdengar ingin menangis.
“Suster, bisakah kami berkonsultasi dengan dokter laktasi?” tanya Nyonya Sofia sambil mengelus punggung Shasa untuk menenangkannya.
“Tentu saja bisa, Nyonya. Kami sudah menjadwalkan dokter laktasi untuk sore nanti. Dokter laktasi meminta kami untuk membantu Nyonya Shasa menstimulasi ASI-nya dulu.” Perawat itu menjelaskan dengan sopan.
“Kenapa harus menunggu sore? Bawakan dokter itu sekarang!” Leo mulai habis kesabaran. Dia juga gusar karena kesal melihat Shasa kesakitan tetapi dia juga tidak tahu harus marah atau bagaimana.
“Shasa, tenanglah. Jangan khawatir, kita akan tanyakan pada dokter cara termudah agar ASI-mu keluar.” Nyonya Sofia melirik Leo dan mengisyaratkan agar dia mengikuti Nyonya Sofia. Keduanya pun sejenak menjauh dari Shasa dan bayinya.
“Leo, kendalikan emosimu dengan baik.” Nyonya Sofia berbisik pelan pada Leo. “Shasa harus tenang dan tidak boleh stres. Kau harus menyemangatinya, bukan malah menambah suasana tegang.”
“Ma, bagaimana aku bisa tenang? Shasa kesakitan seperti itu yang bahkan aku pun tidak pernah ingin rasa sakit apapun mendarat di tubuhnya. Aku menjaganya dengan baik sampai tadi pagi dan sekarang aku merasa gagal.”
“Leo, Tuhan menciptakan wanita dengan kekuatan-kekuatan yang luar biasa. Itulah kenapa wanita melahirkan dan wanita menyusui anaknya. Tentu saja, Tuhan sudah memberikan kekuatan itu untuk semua wanita. Hanya saja, yang membedakan besar-kecilnya kekuatan itu adalah bagaimana wanita mampu bersabar dan ikhlas atas rasa sakitnya. Semalam Shasa melahirkan anakmu dengan segala rasa sakit yang ditanggungnya. Kau lihat? Dia mampu kan? Dia mampu karena dia ikhlas bahwa rasa sakit itu demi melihat anaknya lahir ke dunia. Saat ini, Shasa hanya butuh kesabaran untuk menyusui anaknya. Kita harus membantunya bersabar.” Nyonya Sofia menerangkan panjang lebar.
Leo menarik napas panjang. “Baiklah, Ma. Aku akan membantu menyemangati Shasa.” Tegas Leo. Nyonya Sofia mengangguk setuju dengan pernyataan Leo barusan.
*****
Usai berkonsultasi dengan dokter laktasi, Shasa harus mendapatkan beberapa perawatan khusus agar memperlancar ASI-nya. Dokter juga mengatur makanan yang harus Shasa konsumsi selama beberapa hari ke depan.
“Ma, aku bisa frustasi kalau seperti ini.” Leo menggerutu di depan Nyonya Sofia. Keduanya bersama Komisaris Gusta, duduk di sofa ruang perawatan Shasa, sementara Shasa bersama bayinya beristirahat. “Shasa terus-terusan menangis karena belum berhasil mengeluarkan ASI-nya. Bahkan, dia mengatakan kalau dia gagal menjadi seorang ibu. Bagaimana bisa, Ma, baru satu hari dia sudah mengatakan dirinya gagal? Yang paling aku benci, dia menangis setiap kali melihat bayinya.” Leo meneruskan lagi gerutuannya.
Nyonya Sofia memutar otaknya. Karena ini pengalaman pertama Shasa menjadi ibu, rasanya wajar jika dia merasa tertekan, apalagi karena kebingungan untuk memenuhi kebutuhan sang bayi.
__ADS_1
“Leo, kau sudah mengabari ibunya Shasa? Mungkin ibunya bisa membantu Shasa.” Usul Nyonya Sofia.
“Ah, iya! Aku lupa meminta Haris untuk mengabari ibu. Pikiranku sudah bercabang entah kemana.” Leo segera mengambil ponsel di sakunya dan mengetikkan sebuah pesan untuk asisten Haris.
Beberapa jam kemudian, empat orang perawat masuk ke ruangan Shasa. Mereka akan mulai mengajari Shasa untuk perlahan-lahan duduk. Shasa terlihat meringis beberapa kali, membuat Leo yang mengawasinya tak jauh dari ranjang Shasa, mengepalkan tangannya seolah menahan rasa ngilu yang dirasakan Shasa.
Dengan telaten perawat itu membantu Shasa duduk. Akhirnya, Shasa pun bisa duduk dengan normal. Beberapa orang dari perawat itu terlihat membicarakan sesuatu dengan Shasa. Setelahnya, keempat perawat itu pun keluar dari ruangan.
Leo segera menghampiri Shasa. “Masih terasa sakit?” tanya Leo cemas.
“Sedikit, sayang. Hanya sedikit saja. Lebih sakit lagi saat aku berusaha menyusui anak kita. Aku hampir putus asa.” Jawab Shasa sedih.
“Sayang, jika kau menyerah, bagaimana dengan anak kita?”
“Aku tidak menyerah. Aku hanya benci pada diriku sendiri.” Shasa semakin gusar.
Leo langsung memeluk Shasa untuk menenangkannya. “Sstt… sayang, tenanglah. Bersabarlah sedikit lagi.” Leo mengelus-elus belakang kepala Shasa. Leo menyadari pundaknya mulai basah. Dia pun melepaskan pelukannya. “Sayang, kau tahu kan? Aku benci kau menangis begini. Jangan menangis lagi. Kita sudah melewati banyak hal dengan mudah. Kita juga akan melewati ini sama-sama.”
Terdengar bunyi pintu bergeser. Asisten Haris tiba di ruangan Shasa bersama beberapa orang mengikuti di belakangnya. Mereka berjalan mendekati ranjang Shasa.
“Ibu!” Shasa terkejut senang melihat Ibu hadir di hadapannya.
“Shasa anakku…” Ibu langsung menghampiri Shasa dan memeluknya. Ibu menoleh ke sisi kanan Shasa. Ada sebuah ranjang kecil yang di dalamnya tertidur seorang bayi mungil. Ibu menatap Shasa dengan puas dan bahagia. “Kau sudah menjadi wanita sempurna hari ini. Mulai hari ini, ada nyawa yang bergantung pada detak jantungmu. Kau harus hidup untuk anakmu. Dia membutuhkanmu.”
“Ibu… aku…” Shasa menangis lagi.
“Sha, seorang ibu adalah kekuatan bagi anaknya. Kau harus lebih kuat dari anakmu. Kekuatan yang paling besar dalam tubuh seorang manusia adalah pikirannya. Karena itu, pikirkanlah yang baik-baik, maka tubuhmu akan merespon dengan baik. Sangat wajar bagi seorang ibu baru sepertimu, kesulitan menyusui. Tidak apa-apa. Semua ibu baru megalami itu. Tapi pastikan kau hanya memikirkan hal-hal yang baik saja. Pikirkan bagaimana bahagianya ketika kau menyusui putramu.” Ibu menceramahi Shasa dan membuatnya untuk tetap tegar.
“Kak Shasa, siapa nama keponakanku yang tampan ini?” celetuk Shabila yang memandangi pangeran kecil di ruangan itu dengan sumringah.
“Dia telah memenangkan hatiku bahkan sesaat setelah aku melihatnya. Dia memang terlahir sebagai pemenang.” Shasa tersenyum memandangi putranya.
“Niel. Aku akan memberi nama Niel untuknya. Dia akan menjadi pemenang di manapun dia berada.” Sahut Leo.
“Niel Gusta.” Ucap Komisaris Gusta melengkapi nama cucu sulungnya. “Haris, katakan pada Niko untuk mengurus dokumen kelahirannya, setelah itu kirimkan namanya ke kantor sekretaris perusahaan. Daftarkan namanya sebagai nama pewarisku. Alihkan aset yang telah aku siapkan atas namanya. Kabarkan kolegaku, sebentar lagi aku akan memperkenalkan cucuku pada jajaran direksi.” Satu perintah Komisaris Gusta seperti sebuah ketukan palu yang mengesahkan bayi kecil yang masih belum mengerti apa-apa itu, sebagai daftar putra konglomerat baru di negara itu.
*****
Bersambung…
__ADS_1