
Leo sudah pergi ke luar kota beberapa hari ini. Shasa mencoba melepaskan diri dari kebosanannya dan kerinduannya pada Leo. Selama terpisah jarak, Leo selalu menyempatkan diri untuk menghubungi Shasa, baik melalui panggilan suara ataupun panggilan video. Meskipun begitu, Shasa masih saja merindukannya.
Shasa akan pergi bermain golf dengan para pengurus inti yayasan hari ini. Seperti biasa, Lita akan menemani Shasa seharian. Shasa masih cukup ingat bagaimana Nyonya Sofia mengajarinya bermain golf dulu. Shasa memang cukup tangkas dalam kegiatan-kegiatan di luar ruangan.
"Halo Nyonya Shasa." Sapa beberapa pengurus inti pada Shasa di depan lobby tempat bermain golf.
"Halo tante-tanteku." Balas Shasa dengan ramah.
"Setiap hari kau makin kelihatan cantik." Puji salah satu pengurus inti.
"Ah, terima kasih. Tante juga sangat cantik sekali." Balas Shasa.
"Katanya kalau seorang istri cantik, suaminya pasti sangat menyayanginya." Celetuk pengurus lainnya.
"Tante, lebih tepatnya, kalau seorang istri mengurus suaminya dengan baik, suaminya pasti sangat menyayanginya." Sahut Shasa.
Mereka pun tertawa, entah karena kalimat terakhir Shasa yang menohok atau untuk sekedar menutupi rasa canggung mereka di depan Shasa yang tak berhasil mengelabuinya.
Shasa cukup bersenang-senang bersama para pengurus inti ini. Setidaknya, Shasa bisa menghilangkan rasa bosannya di rumah. Para pengurus inti terlihat sudah bisa menerima Shasa seperti mereka menerima Nyonya Sofia. Senjata pujian untuk Shasa tak sedikit keluar dari mulut mereka hanya untuk mengambil hati Shasa. Sepanjang mereka bersama, Shasa tak henti menggeleng-geleng kepala kepada mereka yang tidak mau kalah satu sama lain dalam hal apapun. Kadang, hanya karena berbicara tentang topi atau kacamata saja, mereka sampai membawa-bawa nama desainer andalan mereka.
"Nyonya Shasa, kenapa aku tidak pernah melihatmu memakai perhiasan? Kau hanya memakai satu cincin di jarimu." Tanya salah seorang pengurus inti.
"Hahaha... Aku hanya menyukai perhiasan pemberian suamiku."
"Wah... Aku benar-benar iri. Bahkan suamiku saja tidak pernah membelikanku perhiasan dengan inisiatifnya sendiri. Dia hanya memberiku uang dan menyuruhku untuk membeli sendiri."
Shasa menyadari satu hal. Meskipun mereka bisa membeli barang apapun yang mereka sukai, semua dibeli oleh mereka sendiri, tanpa diketahui suami-suami mereka. Shasa mensyukuri betapa Leo masih memperhatikannya. Leo masih mau diajak berdiskusi jika Shasa ingin membeli sesuatu atau bahkan Leo lebih pandai membelanjakan Shasa barang-barang mewah.
Setelah puas bermain golf, Shasa berganti pakaian karena setelah ini Shasa akan mampir ke butik Nyonya Sofia. Shasa keluar dari ruang ganti dan berjalan menemui Lita yang sudah menunggu di lobby. Tiba-tiba muncul seorang pria menghadang Shasa.
"Nyonya." Pria itu memanggil Shasa dan memberinya hormat.
Shasa hanya menatap ke arah pria itu.
"Anda istri Presdir Leo kan? Aku beruntung sekali bertemu anda di sini."
"Ada apa ya?" Tanya Shasa heran.
__ADS_1
"Aku begitu kagum denganmu. Kau punya takdir yang luar biasa. Seorang yatim piatu yang diangkat derajatnya masuk ke dalam Keluarga Gusta."
Wajah Shasa berubah muram. Dia menahan kesal dan menatap pria itu tak bergeming.
"Presdir Leo punya selera yang aneh dalam memilih orang. Dia mempertahankan beberapa orang, tapi membuang beberapa orang lainnya."
Shasa mendengus. "Apa kau salah satu yang dibuang olehnya?" Tanya Shasa dingin.
"Aku tidak yakin dengan masa depan perusahaan di tangan Presdir Leo. Komisaris Gusta memilihku sebagai direktur, tetapi Presdir Leo bahkan hanya melihatku seolah aku ini pegawai rendahan."
"Apa kau begitu kesal hingga membabi buta seperti ini? Tadi kau menghinaku dan sekarang menghina suamiku. Suamiku tidak pernah salah menilai orang. Dia tahu harus berbuat baik pada siapa dan berbuat jahat pada siapa. Kau seharusnya memyadari kenapa suamiku melihatmu layaknya pegawai rendahan. Apa kau pernah berbuat sesuatu yang rendah?" Tanya Shasa dengan nada menghina.
Pria itu terlihat kesal. Namun, wajah Shasa tetap terlihat menantangnya, tak ada sedikit pun rasa takut. Shasa tidak tahu alasan kenapa pria ini mengajaknya bicara. Dia pun tidak tahu arah pembicaraannya.
"Kalau kau kesal, jangan lampiaskan pada orang yang salah. Kau harusnya kesal pada dirimu sendiri kenapa menjadi tidak berguna." tambah Shasa lagi.
"Nyonya." Tiba-tiba Lita memanggil. Lita melihat pria yang berbicara dengan Shasa. "Tuan, ada keperluan apa anda berbicara dengan Nyonya?" Tanya Lita curiga.
"Ah, tidak Lita. Aku hanya ingin menyapanya." Jawab pria itu tanpa memberitahu yang sebenarnya. "Nyonya, saya undur diri. Semoga anda bahagia selalu di dalam kehidupan anda." Pria itu memberi hormat pada Shasa, tetapi menatapnya penuh arti. Shasa hanya menatap dingin pria itu hingga dia menghilang dari pandangan Shasa.
"Nyonya, mobilnya sudah siap."
"Dia salah satu direktur anak perusahaan. Tetapi, belum lama ini Presdir memecatnya."
"Karena alasan apa?"
"Dia melakukan penggelapan uang perusahaan. Itulah kenapa Presdir menjadi sibuk belakangan ini. Presdir harus menyelesaikan masalah yang dibuat olehnya. Presdir Leo sangat tidak suka pada orang yang merusak reputasi perusahaan."
'Huh, pantas saja! Tidak terima dipecat, dia malah menjatuhkan orang lain.' batin Shasa kesal.
Kemudian, Shasa pun berangkat menuju butik Nyonya Sofia. Dia berusaha melupakan kejadian dengan pria tadi dan berharap kedatangannya ke butik bertemu Nyonya Sofia akan memperbaiki suasana hatinya.
Di perjalanan menuju butik, Shasa tiba-tiba saja menginginkan sesuatu.
"Lita, aku ingin jus mangga yang manis."
"Akan ku sampaikan pada koki di rumah, Nyonya."
__ADS_1
"Tidak tidak. Aku tahu kedai jus yang enak di dekat apartemen lamaku. Apa kita bisa mampir sebentar ke sana?"
"Nyonya Sofia pasti sudah menunggu anda, Nyonya."
"Aku hanya ingin jus di kedai itu. Boleh ya?" Shasa sudah merengek seperti anak kecil pada Lita.
'Nyonya, aku harap kau tidak mencari-cari alasan untuk pergi ke tempat lain.' batin Lita.
Mereka pun berputar arah menuju apartemen lama Shasa. Lita tidak punya pilihan selain menuruti keinginan Shasa. Lita tidak ingin mengambil risiko menolak rengekan Shasa, bisa-bisa Leo berlari pulang hanya untuk menuruti rengekan Shasa ini.
Sesampainya di kedai jus, Shasa sudah mau langsung beranjak keluar dari mobil.
"Nyonya, kau di sini saja, biar aku yang memesannya." Lita menahan Shasa agar tidak keluar dari mobil.
"Kenapa?" Shasa bertanya polos, tetapi kemudian dia mengerti. "Ah, baiklah. Pesankan aku satu gelas jus mangga, satu gelas jus jambu, dan satu gelas jus alpukat."
Alis Lita berkerut. "Banyak sekali, Nyonya? Anda ingin meminum semuanya?"
"Tidak. Untukku satu, untuk pak supir satu, dan untukmu satu." Jawab Shasa riang, tanpa dosa.
'Kau sudah menurut untuk tidak keluar dari mobil saja, sudah bagus Nyonya. Baiklah, aku akan menurutimu. Kau beli satu kedai itu pun aku tidak keberatan mengurusnya.' gerutu Lita dalam hati sambil keluar dari mobil.
*****
Epilog:
Dalam perjalanan menuju butik, Lita mengirimkan pesan pada asisten Haris.
Lita: Haris, ada pergerakan dari direktur Tandi. Dia mencuri berbicara dengan Nyonya tadi.
Asisten Haris: Apa yang mereka bicarakan?
Lita: Aku tidak tahu. Aku rasa Nyonya Shasa tidak suka melihatnya.
Asisten Haris: Aku akan mengurusnya. Kau pastikan saja Nyonya Shasa tidak berpergian ke tempat-tempat umum dan jangan lengah mengawasinya.
'Sepertinya aku baru saja melanggarnya. Membawa Nyonya Shasa ke kedai jus adalah sebuah pelanggaran bukan?' pikir Lita dalam hati.
__ADS_1
*****
bersambung...